
Jhonson yang ada di Negara Singapura, segera bersiap-siap. Malam itu pula, ia akan kembali ke tanah air.
"Apa yang harus aku bawa?" Dokter muda itu sudah seperti orang bodoh. Ia menarik koper pakaiannya.
"Ahh.. Bukan koper, aku bukan mau liburan, Pakaianku di sana ada, pakaian anak manja itu pun bisa ku pakai," kata Jhon. Ia pun meraih tas obatnya. "Bukan ini, bukan! Di sana juga tersedia obat-obatan yang cukup."
"Apa yang harus aku bawa? Kalau aku terlambat, papa pasti akan marah-marah!"
"Passport!" Dokter Jhonson pun segera mengambil tas ransel kecil nya dan segera keluar dari apartemen yang ia tinggali. Dokter muda sekaligus saudara angkat dari Arkan itu segera pergi menuju bandara.
.
.
.
Jam menujukan pukul 03:17. Yang artinya, sudah hampir menjelang waktu subuh. Jhonson berlari menyusuri koridor rumah sakit milik Papa angkatnya itu. Keringat dingin membasahi tubuhnya, berlari dari parkiran hingga sampai tempat yang di sebutkan Dokter Danang, cukup membuat dirinya lelah dan tersengal-sengal.
"Astaga! Aku bisa serangan jantung kalau begini," guman Jhon.
"Pa, Ma!" panggil Jhonson saat sudah tiba di depan IGD tempat Laras di tangani.
"Jhon, kamu sudah sampai!" Mama Rita mendekati dan memeluk tubuh Jhonson. Pemuda yang sedari kecil ia urus, akan tetapi pemuda itu lebih memilih menjauh dan menempuh pendidikan nya dan meniti karir nya di luar negeri. Lantaran kecemburuan dan ketidak sukaan Arkan padanya.
"Baru aja, ma. Papa serem kalau marah, jadi Jhon langsung pulang sehabis papa telpon tadi," kata Jhon.
__ADS_1
.
.
.
"Sayang, kamu harus kuat. Bertahan ya!" Arkan menggenggam jemari istrinya. "Inget, ada aku yang nunggu kamu dan bayi kita di luar ruangan ini."
Kini, semua orang sudah berada di depan ruangan operasi.
"Kak, tolong lakukan yang terbaik," pinta Arkan pada Jhonson. Jhon hanya mengangguk sembari tersenyum kecil, Dokter muda itu hanya bisa menahan rasa khawatiran nya sendiri.
Setelah itu, Laras di bawa masuk kedalam ruangan operasi. Pintu ruangan pun tertutup rapat, semua orang pun hanya bisa menunggu di luar sembari berdo'a.
Satu jam kemudian, operasi telah selesai di lakukan. Suara tangisan bayi terdengar hingga keluar ruangan.
"Segera rawat dan urus bayinya!" perintah Dokter Jhonson kepada perawat pendampingnya.
"Dokter Jhon! Lihatlah, detak jantung Nona Laras melemah!" tunjuk Dokter Danang pada layar monitor.
"Gunakan Defibrillator! Jangan lambat!" Bentak Jhon pada Dokter Danang.
Jhonson bernapas lega saat melihat layar monitor yang menujukan detak jantung Laras kembali normal.
Dokter muda itu kembali fokus pada Laras. "Nona ini kehabisan banyak darah! Segera siapkan transfusi darah!" perintah Dokter Jhonson.
__ADS_1
Dokter Danang terdiam, ia bingung harus bicara bagaimana pada Dokter Jhonson.
"Kenapa diam? Cepat bergerak!" perintah Jhonson lagi.
"Maaf Dokter Jhonson. Nona Laras memiliki golongan darah yang langka, golongan darah Nona Laras adalah AB-!" jelas Dokter Danang.
"****!" Jhonson hanya melirik Dokter Danang sekilas dan segera berlari keluar dari ruangan operasi itu.
"Kak gimana?" tanya Arkan dengan wajah panik dan pucat nya.
"Cepat cari orang yang memiliki golongan darah AB-!" teriak Jhonson. "Istrimu membutuhkan donor darah!"
"Darah AB Negative adalah darah langka. Tidak banyak orang yang memiliki golongan darah itu," kata Papa Han. "Papa akan coba menghubungi pusat dan mencari ke rumah sakit lain." Pria separuh baya itu segera menepi ke sudut ruangan dan menghubungi semua pihak rumah sakit lain.
"Darah AB negative?" guman Arkan. "Aku tau orangnya, tapi aku gak tau dia dimana sekarang?" Arkan segera pergi menjauh dari ruangan itu. Ia merogoh saku celana nya dan meraih ponselnya.
Ia mencoba menghubungi seseorang, ia berharap nomer orang itu masih bisa di hubungi.
Tak lama kemudian, telpon itu pun tersambung.
"[Hallo.. Tolong aku, aku membutuhkan bantuan mu. Laras sedang koma dan butuh banyak darah, aku mohon tolong aku. Aku akan memberikan apapun sebagai gantinya,]" kata Arkan pada orang yang ada di seberang telpon.
"[Aku akan kesana sekarang, tapi sebagai gantinya. Jika istrimu sembuh, maka kau harus menceraikannya!]" orang yang ada di seberang telpon itu tersenyum smirk.
"[Oke! Aku setuju!]" timbal Arkan. "[Segeralah datang ke rumah sakit sekarang, dia membutuhkan darah itu.]"
__ADS_1
"[Oke!]"