
Di dalam mobil. Arkan bertanya pada istrinya itu dan pura-pura tidak tahu apa yang di berikan istrinya itu pada Anita. "Apaan tadi yang di masukin ke baju Anita?"
"Enggak. Gak masukin apa-apa," kata Laras sembari menyengir kuda.
"Jangan bohong, mas tau loh! Mas liat tadi," kata Arkan.
"Heheee.. Laras ketauan," Laras menampakan deretan gigi putihnya pada Arkan. "Laras cuman tambahin uang yang mas kasih ke Kak Anita 2 juta tadi, yang buat Kak Anita cari kontrakan. Laras tambahin 1 juta buat dia makan sambil cari kerja," jelas Laras.
Untung saja, uang yang ia dapatkan dari hasil tukar tambah gelangnya sudah di ambil alih oleh Erland. Jika tidak, mungkin uang itu juga akan di berikan oleh Laras pada Anita.
"Bagus, ternyata istri mas ini begitu rendah hati," kata Arkan. "Mas beruntung bisa milikin kamu, semoga semua yang kamu lakuin jadi berkah buat keluarga kita."
"Amin ya allah!" sahut Laras dengan cepat. Wanita itu mengaminkan perkataan suaminya.
.
.
.
Hari-hari berlalu, tak terasa waktu dua bulan telah terlampaui. Arkan dan Laras semakin lengket dan selalu bersikap romantis dimana saja. Tak kenal tempat dan juga waktu, membuat semua orang yang melihat dan menyaksikan kemesraan mereka merasa iri.
Malam harinya, jam menunjukan pukul 02:27 dini hari. Laras tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya, wanita itu memegangi perut dan beralih pada tenggorokannya.
"Kok laper ya?" guman nya. Ia melirik suaminya dan membangunkan pria itu. "Mas, bangun!" Laras menggoyangkan lengan suaminya dengan pelan.
"Mas, bangun dong! Laras laper, Laras pengen mie ayam!" Karena suaminya itu sulit di bangunkan. Laras pun meninggikan suaranya dan menggoyangkan lengan suaminya itu dengan keras.
"Kenapa sih yank?" Arkan bangkit dari posisinya sembari mengucek matanya.
"Mas, Laras laper," ucap Laras dengan manja.
"Mas ambilin makan sebentar," kata Arkan, pria itu hendak bangkit dari ranjang.
"Laras pengen mie ayam," kata Laras.
__ADS_1
"Duh yank, kamu kok aneh-aneh sih! Ini jam setengah 3 loh. Mana ada yang jual mie ayam jam segini?" Arkan kembali berguling di atas ranjang itu dan menarik selimut.
"Ya udah, kalau mas gak mau beliin. Laras beli sendiri aja!" ancam Laras sembari turun dari ranjang itu. Wanita itu segera meraih ponselnya mengambil selembar uang seratus ribu lalu memasukan kedalam saku baju tidurnya.
Arkan pikir, istrinya itu hanya mengancam. Jadi, ia diam saja karena begitu mengantuk. Ia pun menjadi terkejut saat ia memanggil istrinya itu tapi tidak ada sahutan.
"Ya allah! Jangan-jangan dia nekat keluar!" Arkan segera melompat dari atas ranjang dan membasuh muka menuju kamar mandi.
Pria itu menyambar kunci mobilnya yang berada di atas nakas. Ia berlari menuruni anak tangga dan melihat pintu rumah itu sedikit terbuka.
"Kenapa istriku aneh begini?" dengan panik, Arkan mengeluarkan mobilnya dari garasi.
Ia menyusuri jalanan itu dengan perlahan sembari menoleh ke kanan dan kiri jalanan. "Ya allah, yank." Arkan menghentikan mobilnya tepat satu meter dari posisi Laras yang duduk dengan menekuk lututnya di pinggiran trotoar.
"Sayang!" Arkan yang sudah turun dari mobil, segera mendekati dan menyentuh bahu istrinya dengan pelan. "Kenapa nangis? Hmmm!"
"Laras cuman pengen mie ayam loh. Tapi mas gak denger dan gak mau cariin," ucap Laras dengan pelan.
"Bukan nya mas gak denger dan gak mau cariin, tapi kan ini masih malam. Coba lihat, ada orang gak? Ada kendaraan yang lewat gak? Gak ada kan!" Arkan menatap sekeliling area jalanan yang lengang itu.
"Kan bisa keliling mas, pasti ada," kata Laras. "Laras pengen banget makan mie ayam." pintanya dengan begitu penuh harap kepada suaminya.
Arkan pun menuntun istrinya itu masuk ke dalam mobil. Ia pun berkeliling kompleks elit itu, bahkan tak sampai di situ. Arkan pun mengantarkan istrinya itu ke tempat pedagang kaki lima yang biasa mangkal jualan.
"Tuh, gak ada kan? Jadi gimana sekarang?" tanya Arkan pada istrinya.
"Kita ke rumah mama, papa," ucap Laras.
"Sekarang?" tanya Arkan.
"Tahun depan," sungut Laras.
"Iya-iya, jangan ngambek. Kita ke rumah mama, papa sekarang!" Arkan segera memutar arah dan segera melaju ke kediaman utama Sudradjat.
Dua puluh menit kemudian, mobil Arkan tiba di depan kediaman Sudradjat. Ia segera mengajak istrinya itu untuk turun, tapi Laras malah menggeleng.
__ADS_1
"Mau apa lagi?" tanya Arkan dengan sabar. Ia tidak ingin istrinya itu menjadi marah dan merajuk sepanjang hari.
"Mau gendong," ucap Laras dengan begitu manja. Arkan tersenyum sembari geleng-geleng kepala. Ia segera membopong istrinya itu ala bridal-style menuju area belakang rumah.
Pria itu menggedor-gedor pintu belakang rumah itu. "Mbok! Mang!" panggil Arkan, ia yakin bahwa Mang Udin dan Mbok Nunung pasti sudah bangun jam ssgitu, maka dari itu ia memilih menuju pintu belakang.
"Mbok!" teriak Arkan, ia tidak sadar bahwa istrinya itu sudah tertidur di dalam dekapannya.
"Kok kayak suara Den Arkan?" Mbok Nunung memastikan pendengaran nya.
"Mbok Nunung, Mang Udin! Buka pintunya!" teriak Arkan.
Buru-buru, Mbok Nunung berjalan ke arah pintu dapur dan membuka pintu itu.
"Ya allah, Non Laras kenapa?" tanya Mbok Nunung dengan panik.
"Gak kenapa-kenapa, mbok. Dia tidur," kata Arkan. "Arkan naik ke lantai atas dulu ya, nanti Arkan turun lagi. Sekalian mau minta bantuan mbok!"
Mbok Nunung hanya mengangguk sembari menatap heran pada kedua anak manusia itu.
Di lantai atas, Arkan segera membaringkan tubuh istrinya itu ke atas ranjang dengan perlahan. Ia menyelimuti tubuh istrinya, setelah itu ia kembali keluar dan menemui Mbok Nunung.
"Mbok!" panggil Arkan.
"Iya, den. Ada apa?" tanya Mbok Nunung sembari mendekat.
"Mbok bisa bikin mie ayam gak?" tanya Arkan. Ia begitu berharap bahwa Mbok Nunung bisa membuatkan istrinya itu mie ayam.
"Buat apa mie ayam?" tanya Mbok Nunung.
"Buat Laras, Arkan tuh udah keliling dari jam setengah 3 tadi loh. Cuman buat cari mie ayam yang Laras pinta," kata Arkan.
"Walah-walah.. Non Laras ngidam ini," ucap Mbok Nunung dengan wajah yang begitu bahagia.
"Maksud mbok? Laras hamil?" tanya Arkan.
__ADS_1
"Iya kayak nya!" ujar Mbok Nunung. "Mending, Den Arkan ke rumah Kang Somat aja, minta langsung buat kan mie ayam spesial sama dia. Kan bentar lagi pagi, pasti sekarang dia lagi siap-siap buat jualan keliling!" jelas Mbok Nunung.
"Kalau gitu, Arkan telpon Dokter Ilyas dulu. Biar dia periksa Laras, abis itu baru deh Arkan pergi ke rumah Kang Somat!" Dengan begitu semangat, Arkan menelpon Dokter Ilyas selaku dokter keluarga Sudradjat.