
Seharian Arkan berpikir bolak balik, kini ia sudah mengambil keputusan. Ia sudah memutuskan untuk menyelamatkan nyawa istrinya.
"Nyawa Laras lebih penting, masalah anak aku sama dia bisa adopsi nantinya. Maafkan Papi sayang, bukan nya papi gak sayang sama kamu. Kalau bisa memilih, papi akan tukar nyawa kalian dengan nyawa papi." batin Arkan, ia mengusap perut istrinya. Sekuat tenaga, pria itu menahan isak tangisnya.
Arkan menyeka airmata nya, ia turun perlahan dari ranjang pasien itu dan menemui orangtua nya serta Erland yang menunggu di luar ruangan.
"Gimana, Ar? Kamu udah mengambil keputusan?" Papa Han berbicara pelan pada Arkan.
"Udah, pa," kata Arkan.
"Apa keputusan kamu?" tanya Mama Rita dengan nada datar pada Arkan. Tampak nya, wanita separuh baya itu masih kesal dan marah pada putranya.
"Arkan udah putuskan untuk mengeluarkan janin yang ada di kandungan Laras," ucap Arkan dengan lirih bahkan nyaris tidak terdengar. "Arkan gak mau kehilangan Laras, Arkan gak bisa tanpa dia. Masalah anak, Arkan bisa adopsi nanti."
"Papa tau, ini adalah keputusan yang sulit. Tapi, kamu sudah mengambil keputusan yang tepat, besok pagi kita bisa segera meminta Dokter Danang untuk mengeluarkan janin itu agar Laras bisa segera melakukan operasi pencangkokan ginjal nya."
Laras yang sedari awal hanya berpura-pura tidur dan menguping semua pembicaraan itu menjadi menangis terisak. Ia begitu tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Gak mungkin, semua ini gak mungkin," ucap Laras dengan lirih. "Mami gak akan biarkan siapapun pisahin kita, kamu anak mami dan apapun yang terjadi mami bakal pertahankan kamu." Laras mengusap perutnya. Ia menjadi semakin sedih setelah mendengar keputusan suaminya.
"Mas Arkan tega, dia tega mau bunuh bayi nya sendiri. Padahal butuh proses dan waktu yang lama aku nunggu sampe hamil kayak gini," lirihnya.
Karena tidak ingin ketahuan, Laras kembali ke ranjang pasien nya dengan perlahan. Ia kembali merebahkan dirinya di ranjang itu. Wanita itu terus menangis tanpa suara, ia mengusap perutnya dengan lembut.
"Aku gak akan biarin kalian ambil bayiku!" Jika suaminya sudah memantapkan hati untuk mengeluarkan janin itu dari kandungannya. Laras pun sudah memantapkan hatinya pula untuk mempertahankan janin itu, apapun yang terjadi.
"Aku akan pertahan janin ini, sampai aku memang benar-benar gak mampu lagi bertahan. Aku yakin, kau akan menjagaku TUHAN."
Mendengar suara langkah kaki, Laras cepat-cepat menyeka airmata nya dan pura-pura memejamkan matanya.
.
.
.
__ADS_1
Saat ini, Erland sudah pulang ke rumah nya.
"Gimana keadaan Laras, bang?" tanya Hesti pada suaminya yang baru saja pulang.
"Iya, Er. Gimana keadaan Laras?" tanya Bu Rahayu yang menggendong putri Hesti dan Erland yang di beri nama Hanindya Azaria Bella.
"Arkan udah ambil keputusan, bu. Besok pagi, janin yang ada di kandungan Laras akan di keluarkan, supaya Laras bisa melakukan operasi pencangkokan ginjal nya." jelas Erland.
"Astagfirullah, ya allah.. Kasian sekali, Laras pasti sangat syok kalau tau semua ini," kata Bu Rahayu.
"Laras.." Lirih Hesti. Wanita itu merasa tuhan tidak adil pada sepupunya itu, kenapa orang yang begitu baik seperti Laras selalu saja di beri ujian yang begitu berat?
"Erland juga bingung, Erland takut Laras gak bisa terima semua kenyataan ini," kata Erland dengan wajah murung. Hatinya begitu sakit melihat Laras menderita.
"Kita doakan aja, semoga setelah ini keadaan Arkan dan Laras akan jauh lebih baik. Percayalah nak, tuhan gak akan uji hamba nya di luar batas kemampuan," kata Bu Rahayu sembari tersenyum.
"Kalau Erland jadi Laras, Erland udah pasti gak akan sanggup dan langsung menyerah dengan keadaan, bu," ucap Erland sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Laras perempuan yang kuat, Laras pasti bisa lewatin semua ini, bang," kata Hesti dengan airmata yang sudah menetes.
Pagi itu, Arkan sudah menandatangi surat perjanjian atas tindakan yang akan di lakukan oleh dokter.
"Selamat pagi, Nona Laras," sapa Dokter Danang sembari tersenyum ramah.
"Pagi, dokter," balas Laras.
"Kita periksa dulu tensi nya, ya. Abis itu suntik vitamin," kata Dokter Danang.
Laras menatap suaminya, Dokter Danang dan beberapa perawat yang mendampingi Dokter Danang menanganinya.
"Laras tau, bukan suntikan vitamin yang mau dokter kasih ke Laras," kata Laras dengan santai sembari tersenyum.
"Maksud kamu apa, yank? Kok ngomong gitu?" Arkan mencoba untuk tetap tenang. "Dokter Danang cuman mau kasih kamu suntikan, biar kamu dan calon bayi kita cepet sehat."
"Bohong kamu mas!" tunjuk Laras. Senyum ke pura-puraan itu akhirnya berganti dengan tetesan crystal bening. "Kalian mau bunuh anak aku!" pekik Laras.
__ADS_1
"Nona Laras bicara apa?" Dokter Danang pun pura-pura tidak mengerti dengan perkataan Laras.
"Jangan pura-pura dokter, saya tau semuanya!" pekik Laras. Wanita itu segera beringsut dan turun dari ranjang pasien itu, ia meraih pisau buah yang ada di meja samping ranjang pasien nya.
"Sayang, tenanglah. Jangan kayak gini," kata Arkan dengan wajah panik. "Tolong lepas pisau nya, kamu bisa luka."
"Suruh Dokter Danang keluar mas! Kalau gak, Laras bisa nekat!" ancam Laras. "Gak ada seorang pun yang boleh bunuh bayi Laras!"
"Sayang, mas mohon. Ini yang terbaik buat kamu, tolong ngertiin mas!" Arkan memohon pada istrinya itu.
"Kalau mas kasih maksa, Laras pastikan kalau mas gak akan pernah liat Laras lagi!" Laras menempelkan pisau kecil itu pada urat nadi nya.
Mendengar keributan, Papa Han dan Mama Rita segera masuk ke dalam ruangan rawat Laras.
"Laras, apa yang kamu lakukan, sayang?" Mama Rita mencoba mendekati anak menantunya itu.
"Jangan mendekat, Mama juga sama kayak mereka. Mama mau bunuh anak Laras!"
"Sayang, semua ini kami lakukan demi kebaikan kamu. Kami begitu mencintai dan menyayangi kamu," kata Papa Han. Pria separuh baya itu ikut membujuk Laras.
"KELUAR! SEMUANYA KELUAR!" pekik Laras dengan kencang. "Kalau kalian gak keluar, Laras bakalan nekat. Laras gak perduli lagi sama dosa dan pertanggung jawaban Laras sama TUHAN!" pisau itu sudah mengenai kulit Laras, hingga membuat kulit itu sedikit tersayat dan mengeluarkan darah.
"Semua nya keluar!" perintah Papa Han. Dokter Danang dan beberapa perawat pun keluar lebih dulu dari ruangan itu.
"Sayang.." panggil Arkan sembari mendekati istrinya.
"Jangan deketin Laras," kata Laras tanpa menatap ke arah suaminya.
"Mas lakuin semua ini karena terpaksa, mas gak mau kehilangan kamu," ucap Arkan dengan lirih. "Mas gak bisa tanpa kamu."
Papa Han dan Mama Rita pun ikut pergi keluar, mereka meninggalkan Arkan dan Laras berdua saja di dalam ruangan itu.
"Mas bukan nya gak sayang sama anak kita, mas juga sulit untuk memilih. Tapi, mas berpikir anak bisa kita dapat dari adopsi, tapi kamu.. Kamu gak akan bisa tergantikan, mas bertahan sampai disini karena kamu. Kamu lah alasan mas bertahan dan berjuang," ucap Arkan. Pria itu sudah semakin dekat dengan istrinya, ia merengkuh tubuh Laras yang mulai melemah. Di peluknya tubuh itu dengan erat.
"Laras mohon mas, biarkan Laras perjuangkan bayi kita. Laras pengen rasain jadi seorang ibu, tolong izinkan Laras melahirkan," ucap Laras sembari menjatuhkan pisau yang ada di tangannya. Tangisnya terdengar begitu pilu.
__ADS_1
"Aku mohon, jangan ambil bayiku."