Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
KAWIN DADAKAN


__ADS_3

Pukul 03:17 dini hari, tepatnya sudah hampir subuh. Erland yang tidur di sofa terbangun karena merasa dingin. Tanpa sadar, ia pun pindah ke kamarnya.


Pria 29 tahun itu naik ke ranjang nya. Ia menarik selimut dan kembali tidur. Semakin menjelang subuh, hawa nya menjadi semakin dingin. Erland pun memeluk Hesti yang tidur meringkuk seperti anak kucing di ranjangnya itu. Karena merasakan hawa yang sama, Hesti pun menelusupkan wajahnya pada dada Erland.


Saat menjelang pagi, Ibu Rahayu bangun. Ia hendak mematikan lampu luar yang ada di rumah itu, tapi ia tidak melihat keberadaan putranya di ruang tengah.


“Waduh, kemana anak itu?” tanya Bu Rahayu pada dirinya sendiri. Wanita setengah paruh baya itu pun mengecek ke kamar. Alangkah terkejutnya wanita itu saat melihat kedua anak manusia yang berbeda jenis sedang tidur berpelukan di atas ranjang kamar itu.


“Astagfirullah! Ayah!” teriak panjang Bu Rahayu. Ia begitu terkejut saat melihat hal itu, Erland memeluk erat pinggang Hesti, dengan tubuh Hesti yang hanya berbalut gaun tidur pendek. Wajah Hesti pun di benamkan di dada putranya itu.


Erland dan Hesti terbangun setelah mendengar teriakan Bu Rahayu. Kedua anak manusia itu mengejapkan mata mereka, sesaat kemudian. Bu Rahayu kembali di buat terkejut, untung saja Wanita setengah paruh baya itu tidak memiliki riwayat penyakit jantung.


“Aaaaaaaaa!” teriak Erland dan Hesti bersamaan. Kedua anak manusia itu saling mendorong satu sama lain. Mereka begitu terkejut.


“Ada apa, bu?” tanya Pak Budi yang datang dengan tergesa-gesa.


“Anakmu sudah berani berbuat mesum, ibu lihat dengan mata kepala ibu sendiri. Dia memeluk Hesti dan posisi mereka sangat intim!”


“Hiks! Abang apain Hesti? Kenapa abang bisa tidur di sini?” terlihat, Hesti berubah panik, matanya pun berkaca-kaca. Gadis itu ketakutan setelah mendengar penjelasan Bu Rahayu. “Nyesel banget aku ikut kesini.”


“Aku gak ngapa-ngapain, bu. Erland juga gak tau, kapan Erland berpindah tempat,” kata Erland.


“Aduh, gimana ini? Kenapa aku bisa tidur di kamar sih?” batin Erland. Pria itu tampak terlihat bingung.


“Huhuu! Aku udah di apain sama dia? Apa aku udah gak suci lagi?” batin Hesti pula.


“Hesti! Kemari!” panggil Bu Rahayu. Dengan takut dan juga airmata yang terbendung di pelupuk matanya, Hesti mendekati Bu Rahayu. “Ibu gak tau, apa yang udah terjadi sama kalian berdua. Tapi, tadi ibu lihat kalian tidur satu ranjang dan saling berpelukan. Jadi, kalian akan ibu nikah kan pagi ini juga!”


“Hiks.. Hesti gak tau kapan si abang masuk ke kamar,” kata Hesti sembari menangis. Ia tidak berpikir sampai ke arah sana, ia juga tidak tahu kenapa dia dan Erland bisa berpelukan seperti itu.


“Erland! Ibu gak mau tau, kalian harus ibu dan ayah nikah kan pagi ini!”


Erland hanya mengerutkan kening. Ia menjadi pusing dengan semua itu, tidak tahu apa yang terjadi, tahu-tahu akan di nikah kan dengan gadis yang tidak ia kenal.


“Ayah, panggil penghulu dan beberapa orang saksi. Kita nikahkan mereka secara siri dulu, surat nikah mereka bisa menyusul,” kata Bu Rahayu. Pak Budi hanya mengangguk.


“Kalisn berdua jangan kemana-mana! Kalau sampai salah satu dari kalian kabur, awas aja!” ancam Bu Rahayu.


Akhirnya Hesti hanya bisa menangis ketakutan di dalam kamar Erland.


Hesti pun memutuskan untuk mengubungi Laras. Kebetulan Laras yang baru bangun tidur sedang memegang ponselnya. Ia begitu terkejut saat melihat beberapa panggilan dari Hesti sejak semalam. Sembari berjalan keluar dari kamar, ia mengirim pesan pada Hesti. Belum juga selesai mengetik pesan, panggilan dari Hesti kembali masuk.


Begitupun dengan Erland, ia mencoba menghubungi Arkan.

__ADS_1


“[Hallo!]” terdengar suara Hesti di seberang telpon.


“[Hallo, Hes kamu kenapa?]”


“[Huaaa! Aku di cabulin sama orang, sekarang malah di paksa nikah. Padahal aku baru aja sampe jakarta tadi malam,]”


“[Astagfirullah. Siapa yang cabulin kamu. Terus sekarang kamu dimana?]” tanya Laras dengan panik.


Arkan yang masih tidur, menjadi kesal karena terganggu oleh suara ponselnya.


“[Halo!]” pekik Arkan dengan kesal. Matanya masih sangat mengantuk.


“[Ar, gimana ini? Aku beneran dapat bidadari yang turun dari bus, pokoknya parah. Aku di paksa ibu dan ayah nikah pagi ini, tolongin aku dong!]”


“[Hah? Kamu ngomong apa?]” Arkan tidak jelas mendengar perkataan Erland.


.


.


.


Saat ini, Erland dan Hesti sudah di nikahkan secara siri. Hesti terus memeluk tubuh Laras.


“Ihihihiiik! Kak Erland orang baik kok, gak cabul,” kata Laras. Ia dan Arkan tak henti-hentinya menertawakan kedua orang yang kenal dan menikah dadakan itu.


“Ar, belikan aku rumah! Aku mau ajak dia pindah besok, biar dia tau seberapa cabul nya aku,” kata Erland yang tidak terima di katakan cabuk oleh Hesti. Bidadari bar-bar yang turun dari bus dan kini menjadi istrinya dalam waktu yang sangat dadakan.


“Bwahahahaja!” Laras tertawa terbahak-bahak. Untung saja, saksi dan penghulu yang hadir sudah bubar.


“Bu, kok bisa sih ibu nikahkan mereka dadakan kayak gini?” tanya Arkan.


“Sengaja,” kata Bu Rahayu. “Ibu tau dan percaya kalau mereka gak ngapa-ngapain. Erland kan emang biasa tidurnya pindah-pindah kayak gitu, orang kalau mati lampu aja dia suka pindah ke kamar Ibu dan Ayah.” Jelas Bu Rahayu.


“Terus kenapa ibu paksa mereka nikah? Padahal kan mereka aja gak saling kenal.”


“Dari pertama liat Hesti semalam, ibu udah suka karakternya yang jujur dan ceplas ceplos. Lagian kalau gak di giniin, Erland gak akan kawin-kawin!”


Setelah mendengar penjelasan Bu Rahayu. Melototlah mata semua orang, termasuk pengantin dadakan itu.


.


.

__ADS_1


.


Tok tok tok! Suara ketukan pintu rumah.


Seseorang membuka pintu rumah itu, dan tampak lah Ramon yang sedang berdiri di depan pintu rumah itu. Pintu rumah kediaman Sudradjat.


“Ehh, Den Ramon,” kata Mbok Nunung. Jujur saja, sebenarnya Mbok Nunung tidak begitu menyukai Ramon yang menurut Mbok Nunung sangat jelalatan.


“Arkan dan Laras ada, mbok?” tanya Ramon to the point.


“Ahh! Gak ada, mereka udah pindah rumah beberapa bulan yang lalu,” kata Mbok Nunung sembari mengamati gerak gerik Ramon.


“Pindah rumah, kenapa? Di mana mereka tinggal?” batin Ramon. Pria itu tidak menyangka, bahwa Arkan dan Laras tidak tinggal di rumah itu lagi.


“Mereka tinggal dimana, mbok?” tanya Ramon. Ia mencoba mencari informasi dari Mbok Nunung.


“Pasti mau cari kesempatan buat mengusik Non Laras.” Batin Mbok Nunung.


“Mbok gak tau mereka pindah kemana, wong Mbok gak pernah nanya-nanya ataupun ke tempat mereka,” kata Mbok Nunung. Wanita paruh baya itu berbohong pada Ramon.


“Kalau gitu, Ramon permisi dulu, mbok.” Pamit Ramon. “Nanti, Ramon cari Arkan ke perusahaannya aja.”


Maka, Ramon pun segera pergi meninggalkan kediaman Sudradjat.


.


.


.


Sembari nunggu up, mampir yuk ke karya kakak online Neng yang ada di bawah ini! Di jamin gak kalah seru.


Author: Muda Anna


Judul: Apa Salahku Tuan?


Ningtiyas Paramitha adalah gadis 18 tahun baru lulus SMK jurusan tata busana. Dia harus menerima takdir dinikahkan siri dengan paksa oleh ayahnya dengan lelaki dewasa berumur 30 tahun dan telah memiliki istri bernama Alfarizi Zulkarnain. Kontrak nikah selama lima bulan, tetapi Neng selalu mengalami kekerasan baik lahir maupun batin. Perlakuan suami sirinya selalu melampiaskan kekesalannya akibat kesalahan istri sahnya.


Setelah empat bulan berlalu Al meninggalkan Neng begitu saja, tanpa disadari Al meninggalakan benih janin di kandungan Neng. Akhirnya Neng meninggalkan desanya yang selama ini menjadi kebanggaannya, pergi ke Jakarta untuk merubah nasib dan menyongsong masa depan yang lebih baik bersama janin yang dalam kandungan.


Sayangnya takdir mempertemukan mereka kembali setelah delapan tahun berlalu. Dengan situasi yang berbeda, apakah mereka akan bersatu kembali setelah Al mengetahui memiliki keturunan. Apakah Neng menerima cinta Al?


__ADS_1


__ADS_2