Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
ARKAN DAN HESTI BERHATI BATU!


__ADS_3

"Aku yang gak setuju!"


"Hesti!" sebut Laras.


"Pokoknya aku gak setuju, kalau sampe kalian berdua bantuin dia. Apapun alasannya!" tegas Hesti sembari mendekat ke arah meja makan dengan perut buncitnya. Ia di dampingi oleh suaminya.


"Hesti, jangan kayak gitu!" ujar Laras.


"Kamu gak ingat! Dia udah jahat banget sama kamu, udah berapa kali dia berniat jual kamu, dia dan juga ibunya yang udah hampir bikin kamu di perk*sa sama Juragan Karto waktu itu!" Hesti mengingatkan Laras atas semua perlakuan buruk yang sering di terima oleh adik sepupunya itu.


"Aku minta maaf," ucap Anita dengan lirih.


"Udah lah, Hes. Lagi pula Kak Anita udah menyesali semua perbuatan dia di masa lalu," kata Laras.


"Astaga! Pokoknya aku gak setuju kalau sampe kamu bantuin dia!" cetus Hesti dengan begitu tidak suka. "Masalah penjara, itu memang tempat yang pantas buat dia!" Hesti menunjuk-nunjuk wajah Kakak kandungnya itu.


Anita menangis terisak dengan wajah tertunduk. Ia begitu menyesali semua perbuatannya. "Aku minta maaf, aku bakal lakuin apa aja," ucap nya dengan lirih.


"Maaf maaf! Dikira maaf situ bisa balikin keadaan!" cetus Hesti.


"Hes, udah lah!" tegur Laras. Laras mendekati Anita dan memeluk tubuh kakak sepupunya itu.


"Ras, tolong maafin aku," kata Anita.


"Laras udah maafin kakak, Laras gak pernah menyimpan dendam. Kak Anita tetaplah saudara Laras," ucap Laras. Tutur sapa Laras yang begitu lembut dan halus, membuat Arkan semakin mencintai wanita itu.


"Gila! Ini gila, Laras emang gak waras!" Hesti yang kesal, segera meninggalkan semua orang menuju ruang tengah.


Arkan pun ikut menjadi tidak setuju untuk membantu Anita, setelah mendengar penjelasan Hesti yang mengatakan bahwa istrinya itu pernah hampir di perk*sa akibat Anita dan Bu Yanti.


Pria itu hendak meninggalkan Anita dan Laras di dapur itu, sedangkan Erland, pria itu hanya diam saja.


"Mas, Laras mohon bantuin Kak Anita!" pinta Laras pada suaminya.


"Enggak!" timbal Arkan sembari mengangkat kedua tangannya.


"Laras mohon, mas. Kali ini aja, kasian Bibi Yanti," ucap Laras. "Walaupun dia gak perlakukan Laras dengan baik, tapi berkat dia juga Laras masih hidup sampai saat ini. Dia yang udah urus Laras setelah ayah dan ibu Laras meninggal!" teriak Laras. Airmata wanita itu mulai berjatuhan.

__ADS_1


Anita semakin menangis setelah mendengar perkataan Laras. Ia tidak menyangka, Laras masih mau berbaik hati pada dirinya dan juga ibunya yang selalu memperlakukan dirinya Laras dengan buruk.


Arkan seakan tak mendengarkan teriakan dan tangisan istrinya. Pria itu malah menyusul Hesti di ruang tengah rumah itu.


"Mas!" pekik Laras.


"Ras, udah. Kakak ngerti, suami kamu dan Hesti pasti sulit buat maafin kakak. Karena kejahatan yang udah Kakak dan Ibu lakuin emang begitu banyak dan besar," kata Anita yang mulai pasrah. Ia sadar, tidak mungkin ia memaksa dan membuat hubungan Laras dan suaminya menjadi renggang.


"Mas Arkan pasti mau bantuin kak, Laras bakal berusaha," ucap Laras.


"Dek, udah." Erland mendekati Laras dan memegangi bahu wanita itu.


"Kak, tolongin Laras. Laras pengen jengukin bibi," ucap Laras sembari memeluk tubuh Erland.


"Kakak gak berani, kamu tau sendiri kan? Arkan itu kayak apa?" Erland mengusap rambut Laras telat di hadapan Anita.


Anita hanya memandang Laras dan Erland. Kedekatan keduanya membuat perasaan Anita merasa haru. "Orang lain aja perlakuin Laras dengan begitu baik. Tapi, kami yang saudaranya selama ini, selalu memperlakukan dia dengan begitu buruk." batin Anita.


"Kakak bujukin!" pinta Laras.


"Kakak bakal coba," ucap Erland. Ia menuntun Laras menuju ruang tengah untuk menemui Arkan dan Hesti yang duduk berjauhan di ruangan itu.


"Jangan paksa aku, Er. Aku gak akan bantuin perempuan itu!" tegas Arkan.


"Mas tolong, dia bibiku satu-satunya. Dia satu-satunya orang yang udah urus Laras setelah Ibu dan Ayah meninggal," ucap Laras dengan begitu sedih. Demi apa ia memohon sampai seperti itu pada suaminya? Hanya demi seorang wanita yang selama selalu menyakiti dan melukai hatinya bahkan sampai ke fisiknya.


"Jawaban mas yang terakhir! Mas gak akan bantuin perempuan itu!" tegas Arkan.


"Hes, aku mohon! Dia ibumu, kakak kandungmu, Hes," kata Laras. Ia beralih pada Hesti yang sibuk pada ponselnya.


"Aku gak akan bantu! Aku gak mau, kamu sadar gak sih! Mereka itu udah jual kamu, bahkan setelah kamu menikah pun. Mereka minta ganti rugi sama Arkan!" Hesti mengingatkan Laras atas kejahatan yang sudah di perbuat kakak dan ibunya. "Mikir sedikit, baik boleh tapi bodoh jangan!"


"Kamu sama Arkan sama! Sama-sama berhati batu!" Laras mulai tidak sabaran, ia sudah lelah membujuk bahkan mengiba. "Kalau mas gak mau bantu, Laras bakal pulang sendiri ke Lampung. Laras bakal ikut Kak Anita pulang!" Ancam Laras.


Arkan dan Hesti hanya membiarkan Laras pergi dari hadapan mereka. Mereka pikir, Laras hanya mengancam saja dan tidak akan nekat.


Beruntungnya, Erland terus mengikuti langkah Laras. Karena ia takut, sosok wanita yang seperti adiknya itu terluka.

__ADS_1


Laras kembali ke area dapur. Anita di buat terkejut dengan Laras yang kembali dan menarik tangannya tiba-tiba.


"Ayo kak! Kita pulang ke Lampung, Mas Arkan sama Hesti gak mau bantu," kata Laras. "Tanpa mereka pun, Laras yakin kita bisa sembuhin bibi!"


"Ras, jangan kayak gini. Gak baik buat hubungan kamu dan Arkan," ucap Anita. "Kakak bisa pulang ke Lampung sendirian. Kakak masih punya uang kok, jadi kamu gak usah ikut."


"Pokok nya Laras ikut, Laras mau lihat keadaan bibi," kata Laras yang begitu cengeng tetapi keras kepala.


Dengan perasaan takut, akhirnya Anita mengikuti langkah Laras yang menarik tangannya menuju keluar rumah itu.


Erland terus mengikuti langkah Laras dan Anita. Laras memanggil taxi yang lalu di tepian jalan raya.


"Kak, sini uangnya!" pinta Laras pada Anita. Anita pun memberikan uang yang berjumlah 735 ribu yang ada di saku celananya.


"Laras pakek buat bayar taxi ya, nanti Laras ganti," kata Laras. Wanita itu memang tidak membawa apapun, ponsel apa lagi uang cash. Akan tetapi, banyak barang berharga yang melekat di tubuhnya. Barang berharga yang jika di lihat sekilas seperti barang biasa saja tapi berharga ratusan juta.


"Bodoh nya Arkan!" umpat Erland yang membuntuti taxi yang membawa Laras dan Anita.


Taxi yang di tumpangi Laras berhenti di mall pusat kota. Ia menarik terus menarik tangan Anita seperti menarik anak kecil, ia takut Anita akan pergi dari nya lantaran takut pada Arkan.


"Mau ngapain kita ke toko perhiasan?" tanya Anita dengan pelan.


"Jual ini!" Laras membuka genggaman tangannya. Di telapak tangannya itu ada sebuah gelang berwarna putih. Anita yang v tidak tahu gelang apa yang ada di tangan adik sepupunya itu hanya diam saja.


"Saya mau jual ini!" Laras meletakan gelang itu ke atas etalase. "Kira-kira berapa?" tanya Laras. Ia tahu, barang-barang yang di belikan suaminya itu bukan lah barang-barang murahan.


"632 juta!"


Mata Anita membola penuh, ia begitu terkejut mendengar harga yang di sebutkan oleh pemilik toko perhiasan itu.


"Kalau tukar boleh? Sama barang sejenis tapi yang harganya di bawah gelang ini!" tanya Laras.


"Boleh, mau yang kayak mana?" tanya pemilik toko perhiasan itu.


"Yang sejenis, soalnya saya butuh uang gak sebanyak itu," kata Laras.


"Yang ini, nona. Harga nya 511 juta, di bawah gelang yang ini!"

__ADS_1


Akhirnya, setelah menukar gelang pemberian suaminya itu, Laras mengajak Anita pergi meninggalkan toko itu. Tapi, baru saja ia keluar dari toko itu, seseorang menarik tangan kedua wanita itu menuju sudut ruangan.


__ADS_2