
Arkan meninggalkan pekarangan rumah Erland. Ia melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Laras ketakutan di buatnya.
“Mas, jangan kayak gini! Laras takut,” kata Laras sembari berpegangan pada bagian belakang kursi mobil itu. “Mas!” teriak Laras.
“Aku tuh kesal sama kamu, kamu selalu aja diam saat di hina dan di caci maki!” Arkana membentak istrinya. Ia kesal dengan istrinya yang selalu mengalah dan juga selalu maafkan kesalahan orang lain.
“Dia mama-mu, mas. Ibumu, orang yang udah lahirin kamu!”
Tak terasa, mobil Arkan sudah tiba di rumah. Arkan mengajak istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah.
“Ayo masuk,” kata Arkan.
“Kamu udah gak marah lagi, mas?” Laras menatap mata suaminya.
“Mas tu gak marah, tapi cuman kesel sama sikap dan sifat kamu yang selalu pemaaf!” terang Arkan. “Udah, gak usah banyak pikiran. Kita masuk, terus makan!”
“Tapi, aku gak lapar, mas,” ucap Laras dengan pelan.
“Makan, tadi kamu gak makan. Mulutnya mama bikin muak!”
Laras pun masuk ke dalam rumah bersama Arkan. Arkan menarik istrinya itu menuju dapur, terlihat pria itu mengeluarkan seluruh isi lemari makanan.
“Makan yang banyak, abis itu kita istirahat,” kata Arkan.
Dengan terpaksa, Laras pun memakan nasi dan lauk pauk yang di ambilkan oleh Arkan.
Saat isi piring itu tinggal separuh lagi, tiba-tiba Laras menangis.
“Hiks.. Hiks..”
“Sayang, kenapa kamu nangis?” tanya Arkan. Suaminya menjadi panik.
“Gak habis,” kata Laras sembari menghapus bulir airmata nya yang mengalir di pipinya.
“Astaga!” Arkan menepuk jidat. “Udah kalo gak abis, yang penting perutnya udah ke isi.” Arkan mengambil alih piring istrinya itu dan meletakkannya di ujung meja.
“Mas gak marah?” tanya Laras sembari mendongakkan wajahnya.
“Mas tu gak pernah marah, loh! Mas tadi paksa kamu makan, biar gak sakit. Di rumah Erland tadi, kamu gak makan apapun,” terang Arkan. “Kalo udah makannya, ayo kita istirahat!” ajaknya.
Laras bangkit dari kursi makan itu, dan mengikuti suaminya menuju lantai atas.
Sesampainya di kamar, tiba-tiba saja Laras di kejutkan dengan Arkan yang langsung memeluk dan mencium pipinya.
__ADS_1
“Mas,” ucap Laras dengan lirih.
“Sayang, malam ini aku mau coba lagi. Aku pengen sembuh, supaya kamu gak di hina mama lagi,” kata Arkan. Ia menciumi wajah istrinya dengan posisi yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
“Mas, Laras bersih-bersih dulu, ya. Lagian, kita juga kan dari luar rumah,” ucap Laras yang berada di dalam dekapan Arkan.
“Uhum! Mas juga mau ganti pakaian dulu,” kata Arkan.
Akhirnya, Arkan melepaskan pelukannya. Ia membiarkan istrinya membersihkan diri lebih dulu, sedangkan Arkan sendiri, ia membuka lemari dan memilihkan baju piyama untuk istrinya. Tak lupa, ia juga mengambil benda yang telah ia sembunyikan. Arkan memasukan benda itu kedalam saku celananya.
Setelah Laras selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi. Arkan memberikan piyama istrinya itu, dan setelahnya gantian ia yang masuk ke dalam kamar mandi dengan meneteng baju gantinya.
Laras segera berganti pakaian dan berbaring di atas ranjang king size miliknya dan Arkan. Cukup lama Arkan berada di dalam kamar mandi, tapi tidak keluar juga. Bahkan tidak terdengar suara apapun dari dalam kamar mandi itu.
Laras yang merasa sudah terlalu lama, segera bangkit dan memanggil suaminya. Ia berjalan menuju pintu kamar mandi dan mengetuk pintu itu.
“Mas, kamu ngapain di dalem? Kok lama banget?” tanya Laras. Tapi, tak ada jawaban.
“Mas!” panggilnya lagi.
Tok tok tok! Laras mengetuk pintu kamar mandi itu dengan keras.
“Mas!” teriak Laras. Masih sama, tak ada sahutan dari dalam kamar mandi itu.
“Ma-“ panggilan Laras terhenti. “Astagfiraullah! Mas Arkan!” pekik Laras sembari menutup mulut menggunakan kedua telapak tangannya.
Laras berjalan tergesa menghampiri Arkan. Suaminya itu sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamar mandi dengan mulut yang mengeluarkan busa.
“Mas, bangun! Kamu kenapa?” pekik Laras. Laras duduk bersimpuh sembari memeluk tubuh Arkan. “Mas bangun, kamu kenapa?” Laras menepuk-nepuk pipi suaminya. Tapi, sudah tidak ada respon tadi Arkan.
Mata Laras menyapu ruangan kamar mandi itu. Ia melihat sesuatu yang terletak di dekat bathup.
Laras menjangkau benda tersebut dengan tangannya, dan membaca label yang ada pada benda tersebut. Airmata nya mengalir dengan deras, ia melempar benda itu dengan kasar.
“Bodoh kamu, mas. Kamu bener-bener bodoh!” pekik Laras. Ia berusaha mengangkat tubuh suaminya dengan susah payah keluar dari kamar mandi itu.
“Kenapa kamu bisa sebodoh ini, mas,” ucap Laras.
Ia menghempaskan tubuh suaminya itu di pinggiran ranjang. Laras segera mencari pertolongan, ia menghubungi nomer Erland.
.
.
__ADS_1
.
Erland yang baru saja selesai menggosok gigi, segera keluar dari kamar mandi dan naik ke atas ranjang. Ia membaringkan tubuhnya di samping Hesti yang sudah lebih dulu terlelap.
Baru saja pria itu hendak memejamkan mata, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Erland pun bangkit dari ranjang itu dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas.
“Laras, ngapain nelpon malam-malam kayak gini? Apa udah terjadi sesuatu sama mereka setelah pulang dari sini tadi?” guman Erland. Pria itu segera menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
“[Hallo, Ras?]”
“[Hiks! Kak Er, bantuin Laras,]” ucap Laras yang ada di seberang telpon. Terdengar, ia sedang menangis.
“[Ras, kamu kenapa? Ada apa?]” mendengar Laras yang menagiar, Erland menjadi panik dibuatnya.
“[Mas Arkan pingsan, kak!]” timbal Laras.
“[Astaga!]” pekik Erland.
“[Tolongin Laras,]” kata Laras.
“[Kamu tenang, kakak kesana sekarang!]” Erland pun mematikan sambungan telpon itu. Ia segera membangunkan Hesti.
“Hes, bangun,” kata Erland sembari mengguncangkan tubuh Hesti.
“Ada apa, bang?” tanya Hesti pada suaminya dengan mata terpejam.
“Aku mau ke rumah Arkan, dia pingsan,” kata Erland. Mendelik lah mata Hesti.
“Aku ikut, ya!” ujar Hesti.
“Gak usah, kamu lagi hamil. Gak baik!”
Erland pun menyambar kunci mobilnya dan segera pergi, meninggalkan Hesti yang sedang kebingungan.
Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tujuh menit kemudian. Ia sampai di kediaman Arkan dan Laras, ia segera membuka pintu rumah itu dengan kunci duplikat yang ada padanya. Ia segera masuk dan menuju lantai atas.
“Laras!” panggil Erland.
“Kak Er, tolongin Laras. Tolong bantu Mas Arkan, Laras gak mau terjadi apa-apa sama Mas Arkan,” kata Laras.
“Kenapa Arkan bisa sampe kayak gini?” Erland mendekat dan menyentuh tangan Arkan.
“Hiks! Gak tau, Laras gak tau,” kata Laras. Wanita itu bingung harus menjelaskannya bagaimana pada Erland.
__ADS_1
“Jangan panik, kita bawa kerumah sakit sekarang!” Erland segera membopong tubuh Arkan dan membawanya keluar. Sedangkan Laras mengikuti langkah itu, karena terlalu panik dan takut kehilangan suaminya. Laras sampai lupa memakai alas kaki.