Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
PUTRA HASIL BENIH DARI RAMON!


__ADS_3

Masih di lingkungan kota Jakarta, seorang wanita muda kisaran umur 28 tahun. Sedang melayani pengunjung yang datang ke cafe tempatnya bekerja.


"Saya pesen ini, ini sama yang ini!" tunjuk seorang pengunjung pada menu yang ada dibuku.


"Di tunggu sebentar ya, mbak," kata wanita itu dengan ramah. Ia segera pergi dari hadapan pengunjung itu.


Tak lama kemudian, ia kembali lagi dengan nampan yang berisi pesanan pengunjung. "Silahkan di nikmati!"


Di luar cafe itu, Hesti menarik-narik tangan Erland agar cepat masuk kedalam cafe.


"Ayolah, bang. Hesti lapar banget," kata Hesti.


"Kamu lagi hamil, jangan buru-buru!" tegur Erland.


Karena melangkah dan berjalan sembarangan, akhirnya. Hesti berakhir pada pelayan cafe. Ia menabrak pelayan itu dengan keras. Hingga membuat pelayan cafe itu terdorong dan terjatuh.


"Hesti!" tegur Erland lagi.


"Auchhh!" rintih pelayan itu yang terduduk di lantai cafe. Pelayan cafe itu terus menundukkan kepalanya.


"Ahh! Tolong maafkan saya, saya gak sengaja, mbak," kata Hesti sembari membantu pelayan itu.


"Saya gak apa-apa, Nona," kata pelayan itu. Sembari bangkit dari lantai.


Erland begitu terkejut setelah melihat wajah pelayan cafe itu. "Diana!" sebutnya.


Deg! Diana tak kalah terkejutnya setelah melihat wajah Erland yang lebih 6 tahun itu tak pernah ia lihat.


"Kak Erland!" sebut Diana pula. Wanita itu hendak pergi meninggalkan Erland dan Hesti. Tapi, dengan cepat Erland mencekal pergelangan tangannya. Membuat mata Hesti melolot lebar.


"Abang, dia siapa?" tanya Hesti. Tapi, Erland tidak menjawab. Ia tetap menahan pergelangan tangan Diana.


"Mau kemana kamu? Banyak hal yang perlu aku tanyakan!"


Diana pun hanya bisa diam ssembari menundukkan kepalanya. "Bisa kan minta waktu kamu sebentar?" tanya Erland dan Diana mengangguk. Wanita itu melirik Hesti yang berwajah masam.


Melihat suaminya yang terus memegang tangan wanita yang tidak di kenal, Hesti hendak melangkah pergi. Ia begitu tidak suka dan juga kesal pada suaminya dan Diana.

__ADS_1


Erland yang begitu peka, segera mencegah langkah Hesti. "Sayang, kamu mau kemana?"


"Aku gak di butuhkan, jadi aku mau pulang aja," kata Hesti.


"Sayang, tunggu! Abang ada perlu sedikit sama dia. Ini menyangkut Ramon, bukan abang," jelas Erland kepada istrinya. Ia tahu, bahwa istrinya itu sedang kesal.


"Oh!" setelah itu, Hesti meninggalkan suaminya dan Diana. Tetapi bukan keluar cafe, melainkan menuju kursi cafe yang ada paling pojok.


"Mbak!" panggil Hesti pada pelayan. "Saya pesan ini, ini, ini, minumnya lemon tea dua."


Erland geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang berbeda dari wanita kebanyakan.


"Ayo ikut!" ajak Erland pada Diana. Diana pun mengekori Erland menuju meja di mana Hesti berada.


Di meja cafe itu, Erland mulai menanyakan yang ingin tanyakan pada Diana.


"Kemana aja kamu selama lebih 6 tahun ini?" tanya Erland pada Diana. Sedangkan Hesti, wanita hamil itu hanya menyimak obrolan suaminya dengan Diana.


"Aku pindah-pindah," kata Diana.


"Kenapa?" tanya Erland.


Hesti tersedak dibuatnya. "Uhuk-uhuk!" Hesti terbatuk-batuk.


"Minum yank," kata Erland sembari mengulurkan segelas air kepada istrinya. Setelah memberi air putih pada istrinya, Erland kembali bertanya pada Diana. "Berati, Ramon bener-bener gak tanggung jawab?" Diana mengangguk sebagai jawaban.


"Oh, ku kira tadi anak kamu, bang," bisik Hesti pada suaminya. "Kalau sampai anak kamu, ku bunuh dan ku mut*lasi!"


"Ngeri banget," kata Erland.


"Sekarang, kamu tinggal dimana?" tanya Erland lagi.


"Di belakang cafe ini. Di kontrakan," jawab Diana.


Cukup lama Erland dan Diana mengobrol dan di saksikan oleh Hesti. Tiba-tiba saja, seorang anak kecil laki-laki datang menghampiri Diana.


"Ibu!" panggil anak itu.

__ADS_1


"Radit, kenapa kesini?" tegur Diana kepada anak kecil itu, yang ternyata putra yang ia dapatkan dari benih Ramon.


"Radit di nakalin si kembar, mereka gak bolehin Radit masuk kedalam rumah," kata anak kecil yang di beri nama Radit itu.


"Ehh! Anak kamu udah gede, 6 tahun ya. Udah sekolah dong?" tanya Erland.


Diana tersenyum kecut dan menggeleng. "Loh? Jadi belum sekolah? Nanti ketuaan kayak si Arkan dulu, udah bangkotan baru masuk sekolah," kata Erland.


Erland ingat pada Arkan yang berumur hampir 8 tahun baru masuk SD, sedangkan dirinya sekolah baru berumur 5 tahun kurang. Makanya umur Erland dan Arkan selisih beberapa tahun.


"Gimana mau sekolah, daftar sekolah sekarang kan harus pakai KK dan juga akta kelahiran," kata Diana dengan pelan. Ia mengusap rambut kepala putranya. "Ayah Radit gak ada, gimana mau punya akta?"


"Sialan si Ramon! Kalau ketemu lagi, bakal ku sikat mukanya pakai sikat kakus!" guman Erland dan masih terdengar oleh istrinya.


***


Sudah seminggu semenjak kepergian Arkan, selama itu pula Laras selalu mengurung dirinya di dalam kamar. Di tengah keramaian rumah itu, ia merasa begitu kesepian. Padahal, dirumah itu ada Papa Han, Mama Rita, Hesti, Erland dan juga asisten rumah tangga yang ada di kediaman utama Sudradjat. Bahkan, orangtua Erland juga sering datang.


Bagi Laras, Arkan adalah dunianya. Tanpa kehadiran Arkan, hidupnya terasa sepi.


"Laras!" panggil Mama Rita sembari membuka pintu kamar itu.


"Iya, ma," jawab Laras sembari menoleh ke arah pintu.


"Yuk, kita makan malam dulu," kata Mama Rita.


"Laras gak lapar, ma," balas Laras.


"Gak lapar gimana? Kamu udah ngelewatin jam makan pagi dan juga siang," kata Mama Rita. "Ayo makan, kalau kamu sampai sakit. Arkan pasti akan menyalahkan Mama dan Papa. Nanti Arkan berpikir, bahwa kami gak mengurus kamu dengan baik." Mama Rita terus membujuk Laras, bahkan ia membawa-bawa nama Arkan agar menantunya itu mau makan.


Mendengar semua perkataan Mama Rita, Laras segera bangkit dari ranjang itu dan mengikuti langkah Mama Rita menuju lantai bawah.


Sesampainya di lantai bawah, tepatnya di area dapur. Laras segera duduk di kursi yang ada di samping Hesti.


Hesti mengisi piring Laras dengan nasi dan juga lauk pauk yang banyak. "Nih, abisin! Biar nanti pas Arkan balik, kamu gak kalah tembem sama aku," kata Hesti sembari tersenyum manis.


Laras terus diam sembari menyendok makanan yang ada di piringnya. Mama Rita, Papa Han dan Erland lega setelah melihat Laras telah menelan beberapa sendok makanan di piringnya.

__ADS_1


"Kak, Mas Arkan gak kasih kabar ya, ke kakak?" tiba-tiba Laras menanyakan suaminya pada Arkan.


"Bukan enggak, tapi belum, mungkin dia masih sibuk. Tau sendiri kan negara Belanda itu rame nya kayak apa?," kata Erland. "Nanti kalau dia udah kabarin, kakak bakal langsung kasih tau kamu." Laras hanya tersenyum masam setelah mendengar perkataan Erland.


__ADS_2