Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
AKU MUAK LIAT KAMU!


__ADS_3

Kini, Arkan sudah di tangani di UGD. Erland terlihat begitu panik, begitu pula dengan Laras. Tampak, wanita itu tak henti-hentinya berdoa dengan airmata yang terus mengalir dari kedua sudut matanya.


“Ya tuhan, tolong selamatkan Mas Arkan. Laras gak bisa tanpa dia,” ucap Laras.


Cukup lama Erland dan Laras menunggu di depan UGD. Akhirnya, dokter setengah paruh baya keluar dari UGD itu dan menghampiri mereka.


“Keluarga pasien?” Dokter itu bebicara pada Erland dan Laras.


“Saya kakaknya,” kata Erland.


“Saya istrinya, dokter!” sahut Laras pula.


“Mari ikut saya, ada yang hal penting yang ingin saya sampaikan,” kata Dokter itu. Setelah itu, ia berjalan masuk kedalam ruangannya.


Erland dan Laras mengikuti. Dan setelah sampai di ruangan dokter itu, kedua nya duduk di kursi yang ada di depan meja kerja dokter.


“Gimana, dokter? Apa yang terjadi?” tanya Laras dan Erland bersamaan.


“Pasien mengalami Overdosis karena terlalu banyak mengonsumsi Viagra,” kata Dokter itu sembari melirik Laras sekilas.


“Apa itu Viagra, dokter?” tanya Erland yang benar-benar tidak tahu. Setelah mendengar pertanyaan Erland yang terlontar pada dokter, Laras hanya bisa menundukkan kepalanya.


“Viagra adalah salah satu jenis obat per*ngsang,” kata dokter itu.


Deg! Erland begitu terkejut mendengarnya. Airmata Laras kembali menetes dengan derasnya.


“Lalu, bagaimana keadaan adik saya sekarang?” tanya Erland lagi.


“Alhamdulilah, tidak terjadi hal fatal pada pasien. Jika kalian telat sedikit saja, mungkin saraf-saraf di tubuhnya bisa tidak berfungsi atau bisa jadi menyebabkan kematian karena gagal jantung!” jelas dokter itu. “Viagra adalah obat dengan takaran dosis yang tinggi, pengguna obat ini bisa mengalami mual, muntah-muntah, pusing, pegal-pegal dan juga sakit pada bagian jantung. Tapi, saya heran kenapa pasien bisa mengonsumsi obat keras ini dalam jumlah yang tidak lazim?” Dokter itu menatap Laras dengan intens. Laras sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya, bukan takut dan malu pada dokter. Tapi, ia takut pada Erland.


“Laras!” tegur Erland. “Tolong katakan, ada apa? Kenapa Arkan bisa mengonsumsi obat itu?” tanya Arkan sembari menatap pada wanita yang ia anggap adalah adiknya yang sudah tiada.


“Laras, ayo cerita! Jangan diem,” kata Erland dan Laras hanya menggeleng. Erland mendekati dan menangkup wajah Laras dengan kedua tangannya. “Ceritain, jangan ragu. Ada kakak disini! Siapa tahu, kakak bisa bantu.”


“Laras, liat kakak!” tegas Erland.


“Hiks.. Mas Arkan Impoten, kak,” kata Laras dengan lirih. “Kami udah usaha tapi gak ada hasilnya.”

__ADS_1


“Impoten,” guman Erland. “Sejak kapan?” tanya nya pada Laras.


“Kata Mas Arkan, sejak dia masih SMA. Setelah kejadian kecelakaan,” jelas Laras. Erland menarik tubuh Laras kedalam dekapannya.


Lama Erland dan Laras menunggu di pojok ruangan UDG tempat Arkan di rawat. Akhirnya, pada pukul 02:16 dini hari, Arkana sadar.


Dengan perlahan, Arkan bergerak. Ia menyapu seluruh ruangan dengan pandangan matanya, ia melihat dimana Eland dan istrinya berada. Tampak, Erland yang tertidur dengan posisi bersandar pada tembok dan istrinya yang sedang melamun dengan wajahnya yang pucat.


Arkan merasa sangat kasihan pada istrinya, ia semakin merasa tidak berguna setelah kejadian sebelumnya. Melihat pergerakan istrinya, Arkan kembali pura-pura tidak sadarkan diri.


Laras berjalan mendekati suaminya itu. Ia duduk di samping ranjang pasien Arkan. Di genggamnya dengan lembut telapak tangan Arkan.


“Mas, sadar dong. Jangan bikin aku takut kehilangan kamu, aku gak bisa tanpa kamu, mas. Aku butuh kamu,” ucap Laras dengan lirih.


“Aku gak bisa kayak gini terus, aku harus bikin Laras benci dan menjauh dari aku. Aku pengen dia cari kebahagian yang sesungguhnya, bukan belenggu cinta yang penuh keterbatasan kayak gini.” Batin Arkan. “Meskipun aku gak siap buat kehilangan dia, tapi aku harus berusaha untuk kuat dan siap.”


.


.


.


“Ar, kenapa kamu sembunyiin semua ini? Kamu anggap kami apa?” Erland sangat menyayangkan semua yang telah di perbuat oleh Arkan.


“Aku malu, aku malu, Er. Semua ini berat, lagi pula awalnya aku berpikir, ini penyakit biasa yang akan hilang dengan sendirinya,” kata Arkan dengan pelan. Wajahnya masih sangat pacat. “Aku juga nyesel udah narik Laras ke dalam kehidupanku yang suram, aku nyesel. Dia perempuan yang baik, setahun lebih dia dampingin aku yang gak sempurna ini dengan setia dan penuh ketulusan, sedangkan aku. Aku gak bisa kasih kebahagian sedikit pun buat dia!” jelas Arkan. Tampak, sudut mata pria itu berair.


“Kamu udah coba cek?” tanya Erland.


“Udah, mungkin udah ada 100 dokter yang kami datangi dalam kurun waktu setahun terakhir, tapi semuanya sia-sia. Gak ada hasilnya sama sekali.”


Di saat mereka sedang mengobrol serius, Laras masuk kedalam ruangannya itu. Ia membawakan sarapan untuk suaminya dan Erland.


“Ini sarapan buat kakak,” kata Laras. Maka, Erland segera mengambil sarapan yang diberikan Laras dan menyingkir dari samping ranjang pasien, ia membiarkan Laras mengurus Arkan.


“Mas, sarapan dulu yuk,” ucap Laras pada Arkan yang menatapnya tanpa expresi. “Yuk, buka mulutnya!” Laras menyodorkan sendok berisi bubur itu kepada Arkan.


“Aku gak lapar,” tolak Arkan dengan nada dingin dan datar.

__ADS_1


“Dikit aja, mas. Biar cepet sembuh,” kata Laras. Ia memaksa suaminya itu agar mau makan.


Prak! Prang! Arkan menepis tangan Laras dengan kasar. Laras sendiri terperanjat kaget di buatnya, begitu pula dengan Erland.


“Aku udah bilang, aku gak lapar. Apa kamu tuli?” bentak Arkan.


“Mas, kenapa kamu kayak gini?” Laras menatap wajah Arkan dengan tatapan sendunya.


“Gak usah pura-pura baik sama aku, aku tau selama ini kamu cuman pura-pura baik dan simpati sama aku. Yang kamu butuhkan sebenarnya itu harta kan? Sama kayak saudara kamu yang dari kampung itu?” tuduh Arkan. Laras mengerutkan kening, ia bingung dengan suaminya yang tiba-tiba berubah, hatinya terasa sakit saat di sebutkan Arkan hanya menginginkan hartanya saja. “Kamu tau gak sih? Kalau selama ini aku tuh gak pernah suka sama kamu, tapi cuman pura-pura doang. Semua itu aku lakuin buat nutupin kekurangan aku.”


“Kenapa kamu ngomong kayak gitu, mas? Tega banget kamu sama aku,” ucap Laras. “Gak ada sedikitpun niat di hati aku buat ambil harta kamu, aku gak butuh semua itu, mas.”


“Kalau kamu emang gak butuh harta keluarga Sudradjat, lebih baik cepat tinggakan aku. Aku muak liat muka kamu yang sok polos itu!” tunjuk Arkan.


Karena merasa sakit dan kecewa, Laras berbalik dan meninggalkan Arkan bersama Erland di dalam ruangan itu.


Laras tidak benar-benar pergi, ia hanya keluar dan bersembunyi di balik pintu ruangan itu.


“Hiks.. Sakit banget, Er,” ucap Arkan. Pria itu menangis terisak. Sisi rapuhnya benar-benar tampak. Ia tidak kuasa menahan rasa sakit hatinya karena telah bicara kasar pada Laras.


“Ar,” ucap Erland. Pria itu meletakan piring sarapannya dan menghampiri Arkan di atas ranjang pasien. “Jangan kayak gini, kamu bukan cuman nyiksa diri kamu sendiri, tapi juga Laras!” jelas Erland. Ia mendekap tubuh sahabatnya itu dengan erat.


“Aku gak bisa kayak gini terus, aku harus buat dia ngerti dan pergi,” kata Arkan.


“Setahun lebih dia bertahan, buat kamu, buat cinta kalian. Kenapa sekarang kamu menyerah? Cara kamu salah,” kata Erland.


Laras yang mengintip semua itu semakin menangis, ia sudah tidak tahan melihat penderitaan Arkan. “Aku gak akan menyerah, mas. Aku akan buktikan kalau aku mampu bertahan, demi kamu dan demi cinta kita,” ucap Laras dengan lirih.


“Aku yakin, keajaiban Tuhan itu ada. Aku yakin, kamu akan sembuh suatu saat nanti.”


.


.


.


3 Chapter depan lagi, ya! Yuk kasih dukungan biar Neng makin semangat!

__ADS_1


Seng full dukungan sayang. Yen aku semangat berjuang! 🙂


__ADS_2