
Seminggu kemudian, keadaan Ramon sudah membaik. Pria itu sudah bisa bergerak meskipun masih terbatas, bukan tanpa alasan gerakan Ramon di batasi oleh Dokter Jhonson. Cidera pasca kecelakaan yang di alami oleh Ramon lah yang menjadi pemicunya.
Ramon memang di tempatkan satu ruangan dengan Laras, itulah salah satu syarat yang di ajukan Ramon kepada seluruh keluarga Arkan. Tanpa keluarga Arkan tahu, bahwa Ramon sudah memberikan syarat utama pada Arkan sendiri.
"Ma-ma-mas.." lirih Laras dengan mata yang masih terpejam. "Ma-mas.."
Ramon yang berada di ranjang nya, segera memaksa turun setelah mendengar suara lirih Laras. Karena begitu gembira melihat Laras sadar, pria itu sampai melupakan tongkatnya. Ia menapak kan kakinya di lantai ruangan itu dan berjalan perlahan ke arah Laras sembari memegangi pinggangnya.
"Mas.." lirih Laras lagi.
"Di dalam sadar, kamu selalu ingat Arkan, keadaan koma seperti ini pun, yang ada di dalam hati dan pikiran mu juga hanya ada Arkan," batin Ramon.
Pria itu pun segera berjalan keluar dan meninggalkan Laras di ruangan itu.
"Dokter!" panggil Ramon.
Arkan dan yang lainnya segera bangkit dari posisi mereka masing-masing.
"Ar, Laras udah sadar. Dia nyari kamu," kata Ramon.
"Laras.." Mendengar kata Sadar, Arkan segera. berlari masuk ke dalam ruang rawat VIP itu.
Setelah Arkan masuk ke dalam ruangan rawat itu, Erland berdiri menghampiri Ramon yang sempoyongan.
"Ram! Di mana tongkatmu? Kenapa kau berjalan tanpa tongkat?" Erland menahan beban tubuh Ramon dan membawa kembali pria itu ke ranjangnya berada di sisi kiri ruangan rawat Laras.
"Dari tadi juga, aku gak pakai tongkat," terang Ramon. "Kayak nya aku sembuh, Er. Ini mujizat Tuhan!" Ramon tersenyum kecil.
"Udah lah, jangan banyak mikir. Mending istirahat!" Erland membawa tubuh Ramon kembali ke atas ranjang.
Satu jam kemudian, Laras sudah selesai di periksa. Keadaan wanita itu sudah membaik, membuat semua orang merasa lega dan bahagia terutama Arkan dan Ramon.
"Mas, kamu kok jelek sih!" Laras meraba wajah suaminya yang begitu kusut. "Kamu gak mandi-mandi, ya?" terka Laras.
"Mandi lah, yank," ucap Arkan. "Cuman akhir-akhir ini, gak ada lagi yang pakein minyak rambut, parfum, lotion dan lain-lain."
__ADS_1
"Mana anak kita?" tanya Laras dengan pelan.
"Anak kita ada, tapi di dalam incubator. Dia gak boleh di bawa kemana-mana," jawab Arkan. "Dia kecil, sayang. Bibirnya kayak bibir kamu." Arkan menangis, pria itu menempelkan hidungnya pada hidung istrinya.
"Maafin mas, setelah ini mas harus pergi. Demi nyawa kamu, mas harus tinggalin kamu. Karena janji adalah hutang." batin Arkan.
Ramon yang menyaksikan semua itu, segera memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin ikut-ikutan menangis.
"Mas, kok nangis sih?"
"Mas nangis bahagia, mas bahagia karena akhirnya kamu dan anak kita sama-sama selamat. Mas bahagia, sayang." Arkan semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas, kok ada Kak Ramon? Dia kenapa?" Laras menatap Ramon yang pura-pura tidur di atas ranjangnya.
"Dia yang udah nyelamatin nyawa kamu," kata Arkan dengan jujur. "Kamu bisa bertahan dan selamat berkat donor darah dan ginjal dari dia." Arkan tersenyum kecil pada istrinya. Di balik senyum suaminya itu, ada kecemasan dan juga ketakutan yang berlebih tengah di rasakan olehnya.
"Jadi, ini ginjal Kak Ramon?" Laras meraba bekas operasi pencangkokan ginjal. "Kak Ram yang udah kasih ginjal nya? Hiks.. Laras udah bahayin nyawa orang lain." Laras kembali menangis.
"Jangan menangis, mas gak mau lagi liat airmata kamu setelah ini," ucap Arkan. "Senyum sayang, bahagia. Karena pengorbanan kamu gak sia-sia, kita punya putra, kita punya anak dan kamu udah berhasil melewati maut." Arkan memeluk kepala istrinya.
Ramon yang berpura-pura tidur, sudah semakin tidak tahan. Pria itu pun memiringkan tubuhnya dan diam-diam menyeka airmata nya.
Arkan pun menenangkan Laras, ia meminta Laras untuk beristirahat. Setelah memastikan Laras tertidur, Arkan menyelimuti tubuh istrinya itu dan hendak melangkah keluar.
"Ar, aku ingin bica-" belum lagi Ramon menyelesaikan kalimat nya, Arkan sudah memutusnya lebih dulu.
"Sabar ya, Ram. Sekarang jam 11:47, aku minta waktunya sebentar lagi. Nanti tepat jam 13:00 aku bakal bilang ke semua orang," ucap Arkan dengan pelan sembari mengusap sudut matanya yang berair. Setelah itu, ia melangkah dengan lebar menuju ke luar ruangan itu.
"Ar!" panggil Ramon.
Ramon pun segera menghubungi Kenzo.
"[Hallo, Ken!]"
"[Ya, Tuan. Saya?]" timbal Kenzo yang ada di seberang telpon.
__ADS_1
"[Bawa Diana dan Radit ke rumah sakit, sekarang. Laras sudah melewati masa kritis nya,]" kata Ramon.
"[Lalu?]" bingung Kenzo.
"[Aku ingin memberi tahu sesuatu pada Diana , semoga dia paham dan bisa berlapang dada.]"
Semakin bingung lah Kenzo di buat oleh Ramon.
Arkan segera pergi menuju tempat yang sepi, tempat yang sepi di rumah sakit itu ialah toilet. Arkan memasuki salah satu toilet rumah sakit dan menangis disana.
"Ya Tuhan! Kenapa ujian ini selalu datang, kenapa? Apakah ini memang sudah jalan takdir hidupku dan Laras? Tapi kenapa rasanya harus sesakit ini?" Arkan memukul dadanya berulang-ulang. Ia merasakan rasa sakit yang teramat perih, ia belum siap untuk kehilangan istrinya. Ia tidak ingin menceraikan Laras.
"Haruskah aku ingkar janji sama Ramon?" Arkan mulai berpikir kotor dan berniat untuk mengingkari janjinya. "Gak bisa, dia udah selamatin Laras. Laras bertahan sampai saat ini, karena berkat Darah dan Ginjal milik Ramon. Aku gak boleh ingkar janji." Arkan pun bangkir dan menyeka airmata nya, pria itu membasuh wajahnya dan kembali keluar.
Setelah itu, ia keluar dari toilet dan bergabung pada seluruh keluarga nya yang duduk dengan setia menunggu keadaan Laras hingga membaik.
"Ma, pa, kalian semua yang ada di sini. Arkan mau ngomong sesuatu," kata Arkan.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Papa Han.
"Gak di sini, pa. Arkan bakal bilang nya di dalam ruangan rawat Laras dan Ramon," ucap Arkan dengan pelan. "Ada hal penting yang harus Arkan sampaikan."
Kini, semua orang sudah berada di dalam ruang rawat Laras dan Ramon. Mereka semua menunggu dengan begitu penasaran akan hal yang akan di sampaikan oleh Arkan.
Di koridor rumah sakit itu, Diana dan Kenzo berjalan dengan tergesa-gesa. Diana terus berteriak pada Kenzo untuk berlari agar lebih cepat sampai.
"Ken, ayo cepet!" teriak Diana.
Di dalam ruangan itu.
"Begini, Arkan mau bilang kalau Arkan mau pi-" Ramon memotong perkataan Arkan lebih dulu.
"Ar, jangan di terusin. Aku lagi nunggu seseorang, aku gak mau ada ke salah pahaman di sini nantinya," kata Ramon sembari menatap semua orang.
"Kamu mau ngomong apa sih, mas? Jangan bikin kami semua penasaran?" Tanya Laras dengan pelan.
__ADS_1
Brakk! Pintu ruangan itu di dorong dengan kasar.
"Kak!"