
“Berhenti memanggil saya dengan sebutan Mommy! Saya tidak pernah memiliki anak, saya bukan mommy kamu!”
Deg! Perkataan Mommy Jeny membuat hati Maya serasa di iris-iris menggunakan sembilu. Perih, itulah yang di rasakan oleh Maya saat ini.
“Maksud Mommy apa?” tanya Maya dengan gemlang. Ia menatap wajah wanita yang selama ini ia ketahui adalah Mommy-nya.
“Perkataan saya sudah jelas, saya tidak pernah memiliki anak! Saya memungut kamu dari jalanan.”
“Ternyata Maya salah menilai, pantas saja selama ini Mommy selalu bersikap dingin pada Maya dan berubah manis ketika Maya memberikan uang hasil Maya menjual diri Maya pada Mommy,” kata Maya. Airmata gadis itu berjatuhan membasahi pipinya.
“Mulai saat ini, kamu harus mendapatkan uang yang lebih banyak lagi dari biasanya,” kata Mommy Maya. “Anggap semua itu sebagai tebusan saya membesarkan dan menghidupi kamu selama ini! Dan ingat! Jangan pikir saya mengeluarkan kamu dari penjara dengan gratis!” Mommy Jeny mendorong kepala Maya.
“Kalian, perlakuan dia sesuka hati kalian!” perintah Mommy Jeny kepada kedua anak buahnya.
“Siap, Mom!”
“Mommy, apa belum cukup semua yang udah Maya lakukan selama ini untuk Mommy. Apa belum cukup hasil kerja Maya selama ini untuk Mommy!” teriak Maya sembari mengejar Mommy Jeny yang sudah berjalan dan berdiri di ambang pintu kamar itu.
“Tolong, mom. Beri Maya kasih sayang sedikit aja,” pinta Maya sembari bersujud di kaki Mommy-nya itu.
Mommy Jeny segera menepis dan mendorong tubuh Jeny hingga terjatuh di lantai. Setelah itu, Mommy Jeny keluar dan menutup pintu. Dia meninggalkan Maya bersama kedua anak buahnya.
Setela Mommy Jeny pergi, kedua pria itu segera memaksa Maya.
“Tolong jangan kayak gini,” pinta Maya. Tapi kedua pria itu terus mendesak dan memaksa Maya.
“Tolong berhenti!” teriak Maya. Membuat kedua pria itu memandang wajah sembab Maya. “Gak usah maksa, aku bisa sendiri!” dengan cepat Maya melepaskan kain yang melekat pada tubuhnya. Dan kini, tubuhnya sudah polos seperti bayi. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang itu, membiarkan kedua anak buah Mommy Jeny menjamah tubuhnya sesuka hati mereka.
Airmata terus menetes, ia menjadi teringat akan waktu di masa lalu. Di mana dirinya yang baru kengijak usia remaja, tepatnya menginjak pendidikan nya yang baru masuk kelas dua SMA. Ia di pinta Mommy Jeny berhenti sekolah, Mommy Jeny mengatakan bahwa tidak ada biaya untuk sekolahnya. ‘Mulai hari ini, Mommy tidak bisa lagi membiayai Maya sekolah. Jadi Maya berhenti sekolah saja, dan Maya bisa bantu Mommy kerja.’
Ternyata pekerjaan yang Mommy Jeny maksud adalah PSK. Semua Maya menolak, akan tetapi Mommy Jeny selalu membujuk dengan iming-iming yang begitu menjanjikan. Dan akhirnya, Maya setuju untuk melakukan pekerjaan hina itu.
.
.
.
Saat jam makan siang, Arkan mengajak istrinya untuk makan di luar.
“Sayang, yuk ikut, mas. Kita makan di luar,” kata Arkan pada Laras.
“Di mana di luar nya?” tanya Laras sembari bangkit dari sofa panjang yang ada di dalam ruang kerja Arkan.
__ADS_1
“Di cafe santuy!” Arkan menarik tangan istrinya. Dan mencium kening istrinya itu.
Mereka berdua pun menuju tempat yang di sebutkan. Sekitar 15 menit kemudian, mereka tiba di cafe itu.
Arkan mengajak istrinya itu masuk dan memesan makanan. “Mas, aku ke toilet sebentar, ya,” kata Laras.
“Jangan lama-lama!”
Laras pun berjalan menuju toilet, saat tiba di depan toilet. Tiba-tiba saja dua orang yang begitu ia takuti memanggil namanya.
“Laras!” panggil orang itu. Laras pun menoleh, ia di buat begitu terkejut dengan kehadiran dua orang yang entah dari mana asalnya.
“Bibi, Kak Nita!” sahut Laras. Tampak, Laras berjalan mundur dan hendak kabur.
“Bu, ternyata dia beneran Laras,” kata Anita. “Tangkap, bu. Jangan sampai lepas!”
Bu Yanti dan Anita pun mengejar dan menangkap pergelangan tangan Laras. Mereka menyeret Laras yang terus memberontak.
“Lepasin aku!” pekik Laras.
“Gak bisa, kami harus ikut pulang Ke Marang! Kamu harus nikah sama Juragan Karto!” tegas Bibi Yanti yang berdandan menor itu.
“Laras gak mau!” tolak Laras. “Mas Arkan!” teriak Laras dengan kencang. Dengan sigap, Anita menutup mulut Laras.
Arkan yang menunggu di kursi cafe menjadi cemas. Kenapa istrinya lama sekali, akhirnya ia pun memutuskan untuk menyusul istrinya.
“Lepaskan tangan kotor kalian dari tubuh istri saya!” suara lantang dan tegas Arkan menggema di ruangan itu. Spontan, Bu Yanti dan Anita melepaskan tangan mereka dari tubuh Laras.
“Mas.. Hiks! Mereka maksa aku buat ikut mereka pulang,” kata Laras. Ia menangis di dalam dekapan suaminya.
“Astaga, ganteng banget, bu. Pakaiannya juga pasti mahal banget!” bisik Anita di telinga ibunya.
“Kamu harus bisa dapetin laki-laki tajir kayak gitu,” kata Bu Yanti.
“Apa mau kalian?” tanya Arkan dengan nada datar dan dingin.
“Kami mau bawa di pulang ke kota Marang. Dia harus di nikah kan sama Juragan Karto, sebagai alat penebus hutang!”
“Istriku bukan alat tukar ataupun jual beli!” Arkan melolot tajam pada Bu Yanti dan Anita.
“Kami gak akan ganggu dia lagi, kalau kamu bisa bayar hutang-hutang itu,” kata Bu Yanti.
“Berapa jumlah hutang itu?” tanya Arkan.
__ADS_1
“200 juta!” sahut Anita dengan cepat. Membuat Bu Yanti tersenyum puas.
“Oke! Tapi setelah ini, saya tidak ingin melihat wajah kalian kalian lagi. Jika saya melihat kalian lagi, maka saya akan menjebloskan kalian kedalam penjara!”
“Gak jadi masalah, lagian kami juga gak sudi ketemu sama perempuan itu lagi!” tunjuk Anita pada Laras yang terus bersembunyi di dalam dekapan Arkan.
“Er! Siapkan uang 250 juta, dan bawa ke cafe santuy!” perintah Arkan pada Erland melalui sambungan telpon.
“Iya!” timbal singkat Erland yang ada di seberang telpon.
Kini, Arkan membawa Laras kembali ke kursi cafe. Dengan telaten, Arkan menyuapi istrinya di hadapan Bu Yanti, Anita dan pengunjung cafe.
“Enak banget hidup nya Laras, dapat suami ganteng, tajir pula,” kata Anita.
“Sebisa mungkin, kamu harus dapatin suami yang kaya suaminya Laras,” Bu Yanti terus menatap pada Laras dan Arkan yang duduk berselisih dua meja dari mereka.
Tadinya, Anita dan Bu Yanti ingin duduk di meja yang sama. Tetapi, Arkan langsung mengusir kedua wanita itu.
Tak lama kemudian, Erland datang dengan uang yang di sebutkan Arkan di dalam telpon. Tak hanya uang, ia juga membawa cek, agar Arkan dapat memilih.
“Ar, Ras, ini uangnya, ini cek nya!” Erland meletakan uang dan cek itu di atas meja. “Loh! Kamu kenapa?” Erland mencubit pipi kanan dan kiri Laras. Lagi-lagi, Bu Yanti dan Anita hanya dapat menatap dengan rasa tak percaya.
“Berikan uang ini kepada dua pengemis yang ada di depan sana!” tunjuk Arkan pada Bu Yanti dan Anita.
“Ehh, busettt! Pengemis apaan penampilannya begitu?” Erland geleng-geleng kepala.
“Pengemia elit!” sahut Arkan.
Erland pun segera berjalan menuju meja di mana Anita dan Bu Yanti berada.
“Kalian yang di maksud pengemis oleh Tuan Muda Arkana?” tanya Erland sembari menyandarkan sikutnya di meja makan cafe itu.
“Kalian ingin cash atau cek?” tanya Erland lagi.
“Cash aja,” kata Bu Yanti.
Erland pun memberikan uang itu pada Bu Yanti dan Anita tanpa basa-basi. Arkan dan Laras pun mendekat pada Erland.
“Di dalam tas itu, bukan 200 juta tapi 250 juta. Anggap yang 50 juta adalah sedekah dari Laras, istri saya!” cibir Arkan. “Semoga kalian memanfaatkan uang ini dengan baik!”
“Kalo menurutku sih! Gak akan bermanfaat, uang jin di makan setan!” Erland bergidik ngeri di hadapan mereka semua. Membuat Laras mengulum senyum.
Bu Yanti dan Anita tidak perduli dengan semua perkataan Erland dan Arkan. Bagi mereka, yang penting uang, uang dan uang!
__ADS_1
“Cepat pergi dari tempat ini, sebelum saya berubah pikiran!” usir Arkan.
Dengan secepat kilat, Bu Yanti dan Anita pergi meninggalkan tempat itu. Dan siang itu juga, mereka segera kembali ke kota Marang dengan perasaan yang begitu puas dan bahagia.