
Setelah pulang dari rumah orangtua Erland. Arkan tidak bekerja, ia berdiam diri dirumah bersama istrinya.
Saat ini, Arkan sedang duduk di meja makan sembari memakan cake rainbow buatan istrinya. Sedangkan Laras, wanita itu berdiam diri di dalam kamar, entah apa yang ia lakukan.
Arkan sudah berulang kali memanggil istrinya itu, tapi tidak ada jawaban. Karena penasaran dengan apa yang di lakukan istrinya di dalam kamar. Arkan pun menyusul dengan membawa piring kue dan juga teh nya.
Di dalam kamar itu, Laras sedang tidur telungkup di aras ranjang. Di tangannya memegang ponsel, ia tersenyum bahkan tertawa gemas.
“Duh! Lucunya, jadi pengen,” kata Laras. Ia terus menatap layar ponselnya, sesekali ia menggeser layar ponsel itu. “Yang ini gemoy banget, ya allah!”
“Sayang, liat apa sih? Kok asik banget,” kata Arkan yang sudah duduk di tepian ranjang. Tepat di arah kaki istrinya.
“Ehhh! Enggak, gak liat apa-apa,” kata Laras. Ia mematikan layar ponselnya yang menyala itu.
“Liat dong,” kata Arkan.
“Enggak ada apa-apa, loh!” sembari tersenyum, Laras menyembunyikan ponselnya.
“Liat!” Arkan menaiki tubuh istrinya dan menggelitik perut Laras.
“Hahahaa! Ampun, geli mas!” teriak Laras, perempuan itu tertawa terbahak-bahak.
“Liat, mas pengen liat. Apa yang udah bikin kamu senyum-senyum sendiri,” kata Arkan. Ia terus menggelitik perut istrinya itu.
“Bwahahaa! Iya-iya, ini ponselnya!” Laras memberikan ponselnya pada Arkan. Arkan pun berhenti menggelitiki dirinya.
“Huh!” Laras bernapas lega.
“Kamu liat foto bayi?” tanya Arkan.
“Iya, lucu. Tadi gak sengaja buka aplikasi tik tok, dan nemu video bayi yang comel banget,” kata Laras. Napas nya masih belum beraturan karena habis di gelitik Arkan hingga tertawa terbahak-bahak. “Jadi Laras cari foto-foto bayi deh.”
“Kamu pengen punya anak, yank?” tanya Arkan. Air muka Arkan berubah begitu cepat.
Laras yang mengerti perasaan suaminya itu, menjawab dengan cepat. “Enggak, aku belum pengen punya anak. Laras masih pengen bebas kesana sini,” kata Laras. “Nanti, kalau kita punya anak. Aku gak bebas lagi berduaan dan jalan sama kamu, mas.”
Arkan sedikit lega mendengar jawaban istrinya itu. Meskipun ia sendiri sebenarnya ingin sekali memiliki anak, apalagi, usianya kini sudah berkepala tiga.
__ADS_1
.
.
.
Dua hari kemudian.
Di kediaman orangtua Erland. Erland dan Hesti tidak pernah akur. Seperti siang itu.
“Er, Hes, ibu sama ayah mau kondangan dulu,” kata Bu Rahayu. “Mungkin, ibu dan ayah pulangnya agak malam.”
“Iya, bu,” kata Hesti.
“Nanti, kalau kalian mau makan, beli aja di warung depan, ya!”
“Oke, bu. Sip! Jangan khawatir,” kata Erland.
Akhirnya, Bu Rahayu dan Pak Budi segera berangkat menuju tempat kondangan yang mereka sebutkan tadi.
“Hehehee! Kena kamu sekarang.” Batin Erland sembari memandang bokong semok Hesti yang bergerak menjauh dari hadapannya nya.
“Bikin apa?” tanya Erland sembari memeluk pinggang Hesti dari belakang.
“Astagfiraullah! Bikin kaget aja,” kata Hesti sembari menoleh pada pria yang telah menjadi suami dadakannya itu.
Hesti terdiam saat Erland meletakan wajahnya di bahu Hesti.
“Yang cabul siapa coba kalo kayak gini.” Batin Erland. Ia sengaja memeluk Hesti dengan sangat erat.
“Bang, bisa minggir gak? Aku haus banget,” kata Hesti.
“Kamu cuman haus banget, tapi aku ngebet banget,” kata Erland.
“Ngomong apa pula lah abang ini!” sungut Hesti.
“Kan kamu tau sendiri kalau aku cabul, jadi gak salah dong kalau aku ngebet kawin!” Erland berniat mengerjai Hesti. Ia ingin sekali melihat Hesti panik.
__ADS_1
“Cabul nya hebat kah? Kalau hebat, ayo kita coba,” tantang Hesti. Erland melotot dibuat nya. “Ayo kita ke kamar, kita kawin sekarang!”
“Kamu seriusan?” tanya Erland.
“Serius lah, masa bohong. Hesti tau kali, kalau abang itu sang*an!”
“Ckkk.. Aku pikir, dia bakalan takut. Ternyata otak nya bener-bener gesrek,” batin Erland lagi.
Hesti yang mengenakan celana levi's ketat sebatas paha itu, berjalan mendahului Erland menuju kamar. Di tangannya membawa cangkir besar berisi es teh. Tak lupa, ia juga memasukan banyak bongkahan es batu di dalamnya.
Dengan bodohnya dan tanpa curiga, Erland mengikuti langkah Hesti. Sesampainya di dalam kamar, Hesti meminta Erland untuk mengunci pintu kamar itu.
“Kau kunci lah, bang. Pintu kamar nya, nanti tiba-tiba ibu dan ayah pulang, kan kita malu,” kata Hesti.
“Iya terus apa lagi?” tanya Erland.
Hesti membuka lemari ia melemparkan kain ke atas ranjang, tidak tau apa gunanya kain panjang itu. Erland di buatnya meneguk ludah saat Hesti membuka pakaian atasnya dan meninggalkan dalaman nya saja.
“Hes, kamu seriusan? A-a-aku tadi bercanda loh,” kata Erland dengan gugup. Ini adalah kali pertamanya melihat seorang wanita dengan pakaian yang tidak utuh.
“Serius lah, makanya sini!” Hesti menepuk ranjang. Erland pun naik ke atas ranjang itu.
“Ckk! Udah kayak pemeran film dewasa aja, aku.” Batin Hesti. “Ku buat kau menyesal karena udah berani main cabul dengan aku!”
“Aku yang buka ya, bang. Abang pejamkan mata ae,” kata Hesti. Dengan jantung yang berdebar, Erland berbaring di atas ranjang itu. Istrinya begitu agresif, begitu pikir Erland.
Dengan pelan, sembari menyentuh dada Erland yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Membuat Erland merasakan geli yang aneh. Setelah selesai membuka pakaian atas Erland, Hesti pun menarik dasi kerja Erland yang tergantung di gantungan dekat ranjang itu.
“Hes, kok di ikat?” tanya Erland.
“Biar beda sama yang lain,” kata Hesti sembari mengikat tangan Erland. Mata Erland pun ia tutup menggunakan kain panjang yang ia keluarkan dari lemari sebelumnya. “Sekarang, aku buka ya, bang!” Hesti beralih pada celana selutut yang di kenakan Erland.
“Hehee! Mampus lah kau, abis ini. Anak puyuh kau pasti pingsan dan gak bisa bangun lagi.” Sembari menutup matanya, Hesti memasukan bongkahan es batu kedalam CD Erland.
“Oooow! Apa ini?!” pekik Erland saat merasakan dingin pada burungnya.
“Matilah kau! Rasakan, itulah upah dari kemesuman kau malam itu!” teriak Hesti. “Kau nikmati saja sampai es batu itu habis dan mencair! Aku nak ke dapur, masak untuk makan malam!” Hesti membuka pintu kamar itu dan keluar. Sedangkan Erland, ia terus bergerak di atas ranjang itu. Tangannya di ikat Hesti pada gagang sandaran ranjang. Sedangkan matanya di tutup oleh kain.
__ADS_1
“Hesti! Lepaskan aku, ku cekik kau!” teriak Erland dengan kesal. Ia tidak menyangka, bahwa istrinya itu tidak hanya bar-bar tetapi juga iseng dan jahilnya begitu di atas rata-rata atau bisa di sebut juga overdosis.
“Sialan! Gimana ini? Burungku pasti masuk angin,” kata Erland.