
Beberapa hari kemudian. Di kediaman Arkan dan Laras.
Arkan berubah total setelah kejadian waktu itu, ia selalu bersikap kasar pada Laras. Memarahi, membentak dan juga berkata kasar. Bukan tanpa alasan ia melakukan semua itu, ia hanya ingin membuat Laras tidak betah dan meninggalkan dirinya.
Seperti pagi itu, di meja makan. Laras sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya. Setelah selesai, ia segera menuju lantai atas untuk memanggil suaminya.
"Mas, sarapannya udah siap. Sarapan dulu sebelum berangkat," kata Laras sembari mendekati suaminya yang sedang memakai dasi kerjanya. Karena melihat suaminya yang begitu kesusahan, akhirnya Laras berinisiatif untuk membantu Arkan.
"Sini, mas. Biar Laras yang pasangin," kata Laras sembari berjalan mendekati suaminya itu.
"Gak usah, aku bisa sendiri!" cetus Arkan sembari melepas kembali dasinya. Pria itu segera menenteng tas kerja nya keluar dari kamar.
Laras hanya menggeleng pelan, "Sampe kapan kamu bakal terus pura-pura kuat kayak gini, mas?" batin Laras. Ia menatap sendu pada langkah Arkan yang keluar dari kamar.
Arkan yang keluar kamar, dan menuruni anak tangga. Berjalan tergesa-gesa, beberapa hari terakhir ia tidak pernah lagi sarapan di rumah.
"Mas, tunggu!" panggil Laras sembari mengejar suaminya. Tapi, Arkan sama sekali tidak menghiraukan.
Bruk!
"Auuhh!" pekik Laras.
Mendengar suara istrinya yang kesakitan. Arkan panik, ia segera melempar tas kerjanya dan segera menghampiri Laras.
"Sayang, kamu gak apa-apa?" tanya Arkan sembari meyentuh wajah istrinya. Terlihat, ia sangat panik.
"Aku gak apa-apa, mas," ucap Laras.
"Tapi kaki kamu luka," kata Arkan. Ia berusaha untuk membopong tubuh Laras.
"Sakitnya gak sebanding sama hatiku beberapa hati terakhir ini, mas!" Airmata Laras lolos begitu saja. Ia tidak dapat lagi menahan ke pura-puraan tegarnya.
Deg! Arkan menghentikan langkahnya di anak tangga rumah itu. Hatinya juga tak kalah perih dan sakit harus pura-pura membenci istrinya itu. Ia memutar bola matanya, guna menahan airmata nya yang hendak menetes.
Pria iru kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga. Ia membopong tubuh Laras, setelah sampai di kamar ia menurunkan tubuh istrinya ke atas ranjang dengan pelan.
Setelah itu, Arkan hendak kembali keluar kamar. "Mas, tunggu!" cegah Laras sembari mencekal pergelangan tangan Arkan.
"Mau apa lagi?" Arkan kembali bersikap dingin.
"Sarapan dulu sebelum berangkat," kata Laras. Sakit, itulah yang di rasakan Arkana saat melihat wanita yang ia cintai itu menangis.
"Ya!" sahut Arkan. Setelah itu, ia melepaskan tangan Laras yang memegang pergelangan tangannya. Arkan segera melangkah keluar dan menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Arkan benar-benar sarapan. Memang, ia sudah sangat rindu pada masakan istrinya. Tapi, ia hanya bisa menahan keinginan nya. Meskipun hanya untuk sarapan atau makan malam.
Setelah sarapan sedikit, Arkan segera mengambil tasnya yang tergeletak di lantai dan pergi bekerja.
__ADS_1
***
Di perusahaan, Erland sedang uring-uringan sembari menatap layar ponselnya.
"Kenapa?" tanya Arkan yang baru saja sampai. Ia heran melihat Erland yang tampak sangat kusut di pagi hari itu.
"Aku pengen ini, pengen itu, selalu di marahin sama Hesti!" gerutu Erland. "Coba aku gak nikah sama dia, gak akan kayak gini aku."
"Jangan ngomong kayak gitu, gak baik. Mending pernikahan kalian sempurna meskipun dadakan, lah aku?!" Arkan memaksakan senyumannya pada Erland.
"Abis gimana lagi? Aku tuh pengen banget makan ini!" tunjuk Erland pada Arkan. Ia menujukan gambar yang ada di layar ponselnya.
"Ke rumah," kata Arkan. "Tadi pagi, Laras masak itu. Tapi, aku cuman makan dikit."
"Kamu masih diemin dia?" tanya Erland.
"Iya, kayak gini lebih baik, kan?" Arkan kembali tersenyum kecut.
"Kamu pasti bakal nyesel udah perlakuin dia kayak gini, Ar! Aku jamin, kamu bakal nyesel seumur hidup kalau sampai terjadi sesuatu sama dia!" tunjuk Erland.
"Udah lah, kalau kamu pengen makanan itu!" tunjuk Arkan pada ponsel Erland. "Mending ke rumah, sekalian kamu tengok keadaan Laras, ya. Tadi pagi, dia abis jatuh di anak tangga."
Dengan kesal, Erland segera melangkah keluar dari ruangan kerjanya, meninggalkan Arkan sendirian. Ia kesal kepada Arkan yang begitu bodoh.
"Manusia bodoh," gerutu Erland. "Kalau sampe terjadi sesuatu sama Laras, akan lu beri Arkan pelajaran!"
Beberapa belas menit kemudian, mobil Erland berhenti di depan rumah Arkan dan Laras. Ia segera turun dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah itu.
Tok tok tok!
"Ras!" panggil Erland. Laras yang kebetulan sedang menyapu lantai ruang tamu, segera membuka pintu.
"Ehh, Kak Er," kata Laras. "Masuk, kak."
"Kaki kamu gak apa-apa?" Erland duduk berjongkok di hadapan Laras yang sedang menyapu. "Kata Arkan, kamu abis jatoh?" tanya pria itu.
"Enggak, kaki Laras gak apa-apa. Orang cuman lecet dikit doang," jawab Laras.
Mendengar jawaban Laras, Erland menjadi lega. Setelah itu, ia menyebut nama Laras dengan pelan. "Ras," sebutnya.
"Iya, kak. Kenapa?" tanya Laras pada pria yang sudah seperti kakak kandungnya itu.
"Hehehee!" Erland terkekeh kecil sebelum mengutarakan tujuannya datang ke rumah itu. "Boleh minta makan, gak?" tampak, Erland menggaruk tengkuk lehernya.
"Oh, makan." Laras segera meletakan sapu yang ada di tangannya. "Kakak mau makan apa? Biar Laras bikinin," Laras begitu antusias.
"Mau makan yang kayak gini!" tunjuk Erland pada layar ponselnya yang menyala. "Kata Arkan, tadi dia sarapan sama sambel ini!"
__ADS_1
Laras tersenyum kecil, rasa sedihnya sedikit terobati karena kehadiran Erland. "Ya udah, yuk kedapur. Biar Laras siapin," kata Laras.
Laras meminta Erland duduk di kursi makan. Sedangkan dirinya, segera mengeluarkan semua isi lemari makanan.
Ting! Bunyi notifikasi di ponsel Erland.
"[Istriku lagi ngapain?]" isi pesan yang masuk kedalam ponsel Erland.
"[Lagi berenang sambil mancing ikan lele!]" balas Erland.
"[Gimana sama kakinya? Gak apa-apa kan?]" tanya Arkan.
"[Stop! Jangan chat lagi, aku lapar jadi gak ada tenaga buat nekan keyboardnya!]"
"Tarok dulu ponselnya! Jangan kebiasaan main ponsel di meja makan!" tegur Laras. Dengan segera, Erland meletakan ponselnya dan meraih piring.
Air liurnya seakan menetes setelah melihat sambal ati ampela dan lalapan timun yang ada di atas meja makan itu.
Erland makan dengan sangat lahap, ia tidak merasa malu sedikitpun. "Ini enak banget, dari kemaren sore aku gak makan," kata Erland dengan mulut yang penuh.
"Pelan-pelan, kak," kata Laras. "Nanti tersedak!"
"Kalau kamu ada kerjaan yang lain, udah sana. Biar aku sendirian!" ujar Erland, ia tidak enak hati membuat Laras menunggunya.
"Iya, kalau gitu Laras tinggal ya!"
Laras pun segera pergi menuju ruang tengah, ia mengambil ponselnya dan menelpon Hesti.
"[Hallo, Hesti!]"
"[Iya, kenapa Ras?" tanya Hesti yang ada di seberang telpon.
"[Tolong dong, Hes. Kamu hargain sedikit Kak Erland, dia lagi susah loh!]" Laras langsung to the point pada intinya.
"[Maksud kamu apa, Ras?]" Tanya Hesti yang tidak paham.
"[Dari kemaren dia gak makan, kamu ngapain aja?]"
"[Oh, itu! Aku tuh kesel, dia tu banyak banget maunya. Mau ini, mau itu.]" jelas Hesti membuat Laras menghela napas berat.
"[Hes, seharusnya kamu seneng dan bersyukur. Karena masa ngidam kamu di ambil sama Kak Erland, kamu gak harus ngerasain mual di pagi hari sama malam. Kamu gak harus ngerasain sakit kepala, kamu gak harus ngerasain susahnya gak bisa tidur. Semua udah di ambil alih sama Kak Erland,]" kata Laras.
"[Iya, aku minta maaf. Abis ini aku janji, bakal perhatiin Bang Erland, aku gak akan marahin dia lagi,] ucap Hesti dengan pelan.
"[Seandainya kamu jadi aku sebentar aja, Hes. Mungkin kamu gak akan sanggup, hiks!]" terdengar isak tangis Laras di dalam sambungan telpon itu. "[Takdir kamu baik, dapat suami yang baik dan belum lama nikah udah di kasih tuhan kepercayaan. Bahkan disaat hamil, kamu gak harus capek-capek ngerasain yang namanya ngidam. Sedangkan aku?]" terbesit rasa kesal di hati Laras. Hingga ia menganggap bahwa takdir hidupnya tidaklah baik dan TUHAN tidak adil.
"[Aku minta maaf, abis ini beneran berubah.]"
__ADS_1