
Setelah merasa kenyang, Laras menatap mama mertuanya. "Ma, ini sisanya gimana?" Laras berbicara dengan pelan sekali.
"Udah, biar jadi urusan mama. Nanti mama buang ke tong sampah di depan!" ujar Mama Rita. Wanita separuh baya itu tersenyum sembari mengusap kepala menantunya.
"Buruan, ma. Udah jam 11:17 ini, bentar lagi manusia batu pulang," kata Papa Han. Pria itu menyebut putranya dengan sebutan batu.
"Makasih ya, ma, pa," ucap Laras sembari menatap kedua mertuanya bergantian.
"Jangan sungkan sayang, Mama dan papa akan selalu sayang in kamu," kata Mama Rita. "Tolong maafkan Arkan ya, dia keliru."
"Laras gak pernah marah sama Mas Arkan, ma. Laras gak nyalahin dia, karena Laras tau dia lakuin semua ini karena sayang dan perduli sama Laras dan juga bayi yang ada di dalam kandungan Laras," ucap Laras. Wanita itu tersenyum tulus kepada mertuanya.
"Kamu disini dulu sama papa, mama mau buang semua ini. Nanti ketahuan sama Arkan, bisa repot kita semua!" Buru-buru Mama Rita mengumpulkan semua bungkus dan kotak makanan yang ada di meja makan itu. Wanita separuh baya itu segera membawa semua bungkus dan kotak makanan itu keluar dan membuangnya di tong sampah yang ada di luar gerbang rumah itu.
Benar saja, tak lama setelah itu. Arkan kembali, tampak pria itu turun dari mobil nya dengan membawa sekotak makanan di tangannya.
"Ada mama dan papa, ngapain mereka?" guman Arkan sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
"Sayang.." panggil nya pada istrinya itu.
"Iya mas!" sahut Laras sembari bangkit dari duduknya.
Papa Han dan Mama Rita hanya menatap sedih pada menantu mereka itu. Sudah berulang kali mereka menasehati Arkan, tapi Arkan begitu keras kepala dan menganggap dirinya selalu benar.
"Ada mama dan papa, ngapain mereka?" tanya Arkan pada istrinya yang berdiri di hadapannya itu.
"Iya," kata Laras. "Mereka jengukin Laras doang."
"O," Arkan hanya membulatkan bibirnya. "Kamu gak mandi?" Arkan melihat piyama tidur yang di kenakan istrinya.
"Malas mandi, dingin," kata Laras.
"Oiya, ini makan siang kamu," kata Arkan. "Yuk, mas siapin!" Arkan merangkul istrinya berjalan menuju dapur.
Sesampainya di meja dapur, Arkan segera mengambil piring, sendok dan garpu di rak. Ia segera mengeluarkan isi kotak yang ia bawa.
Lagi dan lagi, Nasi putih dan sepotong daging goreng. Laras hanya tersenyum kecut pada papa dan mama mertuanya.
"Ar, kamu gak boleh giniin Laras. Gimana dia mau sehat kalau setiap harinya kamu kasih daging, roti, susu, ikan, itu-itu doang!"
"Iya, Ar. Istrimu butuh makanan 4 sehat 5 sempurna!" tambah Papa Han.
__ADS_1
"Arkan tau mana yang baik dan buruk, pa, ma. Akan gak mau Laras asal makan dan bikin dia sakit," kata Arkan.
"Di bilangin ngeyel! Mama do'ain semoga kamu bakal nyesal se nyesal nyesalnya!" geram Mama Rita.
"Udah ma, pa, Laras gak apa-apa kok," kata Laras menengahi perdebatan antara mertua dan suaminya. Dengan terpaksa, Laras memakan makanan itu meskipun perutnya sudah kenyang.
"Mas bikinin susu dulu, ya!" ujar Arkan sembari menyelipkan anak rambut istrinya ke telinga wanita itu.
"Cara kamu salah, Ar!" batin Papa Han.
"Jangan sampai kamu menyesal kalau sampai terjadi sesuatu sama istri dan anakmu," batin Mama Rita pula.
***
Satu bulan kemudian, di kediaman Erland dan Hesti.
"Bang, perut Hesti mules banget," kata Hesti. Wanita hamil itu mengguncangkan lengan suaminya. "Auhh.. Bang!" pekik Hesti.
Sudah sedari siang wanita itu merasakan mulas di perutnya, akan tetapi ia tidak memberi tahu siapapun, termasuk suaminya. Tapi, malam ini rasa mulas itu semakin sering datang.
"Bang, bangun!" pekik Hesti.
"Perut Hesti sakit, kayak mau pipis terus kayak mau pup juga," kata Hesti. "Auchhh.. Sakit bang."
"Kayak nya kamu mau lahiran yank, kita ke rumah sakit sekarang!" Erland panik. Pria itu segera melompat dari atas ranjang. Erland segera meraih kunci mobilnya dan menuntun istrinya itu keluar kamar.
"Aduh! Mestinya Ibu sama Ayah pindah kesini aja, biar gak kayak gini jadinya!" Gerutu Erland. Ia benar-benar panik, dengan pelan ia mendudukan bokong istrinya di kursi samping kemudi dan memasangkan sabuk pengaman.
"Sakit, bang," lirih Hesti dengan keringat yang keluar dari pori-pori wajahnya.
"Sabar yank, kita ke rumah sakit sekarang," kata Erland. Ia segera menancap gas mobilnya menuju rumah sakit.
Di jalanan itu, Erland menyempatkan diri untuk menghubungi orangtua nya dan juga Arkan.
"Bang, masih lama gak sih!" guman Hesti. "Hesti pipis nih, Hesti ngompol."
"Jangan pikirin ngompol, pikirin bayi kita," kata Erland. "Jangan sampe keluar di jalan."
"Aduh, abang!" pekik Hesti.
"Iya, abang di sini!" Erland mengelus perut istrinya itu dengan tangan kirinya.
__ADS_1
"Abang jangan ngomong terus, Hesti jadi pusing!" pekik Hesti lagi.
"Dari tadi juga, abang ngomongnya cuman sahutin omongan kamu loh yank," kata Erland.
"Diem bang,"
"Iya, abang diem gak ngomong lagi," kata Erland.
Erland pun diam, tapi saat ia diam. Istrinya itu malah marah-marah.
"Aucchhh.. Gak punya pikiran kali abang ini, istri lagi kesakitan malah diem aja," gerutu Hesti. "Pas bikin aja maksa-maksa, giliran kayak gini. Hesti sendiri yang rasain sakitnya!"
"Ya allah, yank. Abang harus gimana ini? Kalau bisa, bukan cuman ngidamnya yang abang ambil alih, tapi sakit lahirannya juga," kata Erland.
"Ya udah, tambah lagi kecepatannya. Celana Hesti udah basah, nanti jadi bauk pesing!"
"Itu bukan pipis yank, tapi ketuban. Kamu tuh gak ngompol!" jelas Erland.
Karena terlalu fokus pada istrinya yang terus merintih menahan sakit, Erland pun melewati rumah sakit begitu saja.
"Yank, kita tadi mau kemana?" tanya Erland pada istrinya dengan wajahnya yang begitu cemas.
"Rumah sakit, bang. Rumah sakit!" pekik Hesti.
"Lah! Rumah sakitnya udah kelewat!" celetuk Erland sembari meringis karena di tatap istrinya dengan tatapan tak bersahabat.
"Bangkek kau bang, mau bunuh anak dan istri," kata Hesti. Wanita itu tampak begitu kesal pada suaminya yang begitu menjengkelkan.
Buru-buru Erland memutar balik mobilnya dan kembali ke arah rumah sakit. "Panik abang tuh!" timbal Erland pada istrinya.
Setelah sampai di rumah sakit, Erland segera membopong tubuh istrinya memasuki rumah sakit itu. "Dokter! Suster!" teriak Erland.
Dokter dan suster berlari menuju ke arah Erland yang membopong istrinya. Para suster itu tergesa-gesa mendorong brankar.
"Ikut kau bang, jangan biarkan Hesti lahiran sendiri," kata Hesti sembari menggenggam jemari Erland dengan erat.
"Iya, abang gak akan pergi dari samping kamu," Erland terus berlari mengikuti cepatnya brankar yang membawa istrinya menuju ruangan bersalin.
"Sakit kali lah bang, rupanya gak semudah dan seenak bikinnya," kata Hesti dengan kening berkerut.
Dokter dan suster yang mendorong brankar itu hanya mengulum senyum dan geleng-geleng kepala.
__ADS_1