
"Kak!" Diana dan Kenzo masuk dengan paksa ke dalam ruang rawat itu.
"Sayang.." sebut Ramon sembari tersenyum kecil.
"Diana!" sebut Erland, Bu Rahayu dan Pak Rahman.
"Ar, aku udah nikah, sama Diana," kata Ramon. "Laras, kenalin ini Diana, istriku." Ramon menatap Laras lalu beralih pada Istrinya.
Laras hanya tersenyum kecil sembari memandang Diana yang berada di hadapan Ramon. "Dian, itu Laras!" tunjuk Ramon. "Perempuan yang kakak bilang waktu itu."
"Lalu? Maksud kamu gimana? Mau kamu apa?" tanya Arkan sembari menatap Ramon dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Aku gak mau ada masalah dan salah paham di sini," ucap Ramon. "Sayang, aku minta ke ihklasan dan pengertian kamu. Bahwa, aku udah donorkan satu ginjal aku buat Laras. Perempuan yang udah bukain pintu hatiku dan mataku, hingga aku bisa berubah dan mengenal Tuhan seperti saat ini. Dia adalah orang yang bikin kehidupan aku lebih baik, dia adalah orang yang bikin aku ingat sama kamu, dialah orang yang udah bikin aku sadar atas semua kesalahan yang udah pernah aku lakukan." Ramon menjeda perkataan nya sejenak.
"Aku berharap, dengan adanya darahku yang mengalir dan juga satu ginjalku yang ada di tubuhnya. Bisa mengurangi sedikit rasa trauma dia atas dosa yang udah aku lakukan." Ramon menyeka airmata nya.
"Kak, kalau kakak lakukan semua ini atas dasar kata maaf. Laras udah lama maafin Kak Ramon," ucap Laras dengan airmata yang terus menetes. Begitu pula dengan Arkan. "Laras gak pernah dendam dan benci sama kakak."
"Ar, maafin aku ya! Aku gak serius buat misahin kamu dan juga Laras. Aku cuman pengen tau, sekuat dan sebesar apa cinta kalian. Dan ternyata, sulit untuk memisahkan kalian, kalian saling terikat satu sama lain. Kamu dan dia saling rela berkorban, bahkan Laras, dalam keadaan koma pun selalu menyebut nama kamu, Ar." terang Ramon. "Aku berharap, setelah ini Tuhan gak kasih kalian ujian lagi. Aku pengen lihat kalian bahagia kayak Erland dan istrinya!" tunjuk Ramon pada Erland dan Hesti.
Arkan mendekati Ramon dan memeluk tubuh pria itu dengan erat. "Makasih, Ram. Makasih banyak.." Arkan semakin menangis. "Di, aku harap kamu bisa mengikhlaskan ginjal suami kamu untuk istriku." Arkan beralih pada Diana. Diana yang juga mendapatkan pelukan dadakan dari Arkan, hanya bisa terpaku. Pria yang dulunya selalu bersikap kasar padanya semasa sekolah, kini memeluk nya dengan begitu erat dengan tubuh bergetar.
"Insyaallah Dian ikhlas kak, Dian ikhlas kalau memang suami Dian ikhlas," kata Diana. Ia tidak tahu apa permasalahan semua orang ini di awal, tapi ia akan mencoba menerima dan menghargai apa yang sudah menjadi keputusan suaminya.
Ramon di buat terkejut dengan Erland yang tiba-tiba ikut mendekat dan memeluk nya dengan erat.
"Er," lirih Ramon.
"Terimakasih, kamu udah nyelamatin adikku. Aku gak tau, mungkin tanpa kamu Laras gak akan bisa kayak gini," kata Erland.
"Sama-sama, Er. Lagi pula semua ini gak ada apa-apa nya kalau di bandingin sama kesalahan yang udah aku lakukan di masa lalu," ucap Ramon.
__ADS_1
"Maafin aku ya, Kak Er," ucap Diana dengan lirih. "Maafin semua kesalahan aku dan Kak Ramon."
Kenzo yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa berdiri di depan pintu ruangan itu seperti patung. Ia tidak mengenal siapapun di sana kecuali Ramon dan Diana. Bahkan, pria itu hanya bisa menahan rasa penasarannya pada sosok Laras yag tertutup tubuh banyak orang.
"Tuan!" panggil Kenzo pada Ramon.
"Iya, Ken?" timbal Ramon.
"Apa saya boleh meminta sesuatu?"
"Kamu minta apa? Kalau kamu minta jodoh, aku gak bisa kabulin," kata Ramon.
"Bukan, tuan. Saya hanya ingin meminta, tolong suruh mereka semua menyingkir. Saya ingin melihat wajah Nona Laras yang sering tuan sebut-sebut namanya," kata Kenzo.
Mendengar semua perkataan Kenzo, maka orang yang ada di dalam ruangan itu segera menepi ke sudut-sudut ruangan dan memberikan ruang untuk Kenzo, Pria kaku yang seperti batu.
"Oh, pantas saja. Dia cantik sekali meskipun sedang sakit," guman Kenzo. Laras tersenyum kecil mendengar gumanan itu.
"Kak!" sungut Diana.
"Maaf, Tuan. Saya bukan Rahwana yang tega menculik istri tetangga!" terang Kenzo.
"Ken! Jadi maksudmu aku seperti Rahwana yang sudah menikung istri tetangga?" Mata Ramon melotot lebar pada Kenzo.
"Maaf, tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu," ucap Kenzo sembari menundukan kepalanya.
"Hahahahaha! Ramon kena mental," Erland terbahak. Tak hanya Erland, yang lainnya pun ikut tertawa. Bahkan Laras pun ikut tersenyum lebar.
"Kali ini, Rahwana nya salah tikung. Jadi gagal," kata Papa Han. Mendengar kata Papa Han, Diana menjadi malu. Karena ia adalah salah satu hasil tikungan Ramon dari Erland.
"Abang!" panggil Hesti pada suaminya.
__ADS_1
"Iya, yank?" Erland melirik pada istrinya yang berada di sudut ruangan.
"Hesti lapar," kata Hesti.
"Hah?" kejut Erland.
"Berhubung Laras udah hampir sembuh, rasa lapar ini udah mulai datang, bang. Cacing pun mengerti di mana masa bahagia dan sedih," kata Hesti.
"Kalian semua cari makan aja dulu, lagian kayak nya hari udah lewat jam makan siang," kata Arkan pada semua orang. "Biar aku yang jagain Laras dan Ramon di sini."
"Kamu tungguin aja Laras sendiri disini, aku mau ikut cari makan juga," kata Ramon sembari turun perlahan dari ranjangnya.
"Minggir.. Minggir!" usir Kenzo pada semua orang. Pria kaku itu hendak membantu Ramon berjalan.
"Ken, aku bisa berjalan sendiri," kata Ramon sembari berjalan perlahan di lantai ruangan itu.
"Kak, kaki kakak sembuh?" Diana berjongkok dan memegangi kaki kiri suaminya.
"Iya, ini semua karena Laras," kata Ramon. Mata pria itu menatap Arkan yang menatap ke arah kakinya. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya pada Laras.
"Jangan kedip-kedip mata, Ram. Nanti ku colok mata mu." kata Erland yang diam-diam memperhatikan kelakuan Ramon.
"Mataku gak buta, masa kedip aja gak boleh," ucap Ramon. "Ayo, kita cari makan." Ajak Ramon Diana.
"Ken, nanti jemput Radit ya. Kasian dia, udah kangen banget sama ayah nya," kata Diana pada Ramon.
"Radit dimana?" tanya Ramon sembari berjalan keluar dari ruangan itu.
"Dian anter ke tempat guru ngaji nya tadi pagi," jawab Diana. "Lagian, udah terlanjur Dian anter ke tempat ngaji. Ken baru dateng jemput." terangnya.
"Yok.. Kita keluar semua, biarin Laras istirahat," kata Pak Rahman. Akhirnya, semua orang keluar dari ruangan itu dan tinggalah Laras hanya bersama Arkan saja.
__ADS_1