
Setelah Arkan puas menciumi wajah dan area leher istrinya. Ia pun kembali berbisik di telinga Laras.
"Yank, mas buka, ya!" bisik nya dengan suara berat. Laras hanya mengangguk pasrah.
Arkan pun segera melepaskan gaun istrinya dengan tida sabaran. Setelah itu, ia melepaskan kemeja biru tosca yang ia kenakan, ia melempar pakaian istrinya dan juga pakaiannya dengan asal ke lantai kamar mereka.
"Ahhhh! Auu!" des*h Laras saat suaminya itu menggigit dan mengh*sap pucuk bukitnya.
Arkan terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada Laras, membuat Laras merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Arkan!" pekik suara yang semakin mendekat di lantai atas itu. "Anak kurang ajar, pulang gak pamit bikin orang panik!"
"Bahaya, ada mama. Kalau gak bertindak bakal gagal aku main sama istriku!" Arkan segera melompat dari ranjang itu dan mengunci pintu kamarnya.
"Hehehee! Kalau udah kayak gini, gak akan ada yang ganggu lagi." Akan terkekeh, ia berjalan kembali ke arah ranjang sembari melepaskan sabuk yang melekat di span dasar yang ia kenakan.
"Kenapa yank?" tanya Laras dengan pelan.
"Mama teriak-teriak di luar, kayak nya dia marah gara-gara kita pulang gak pamit," kata Arkan. Ia memeluk dan mencium bibir istrinya dengan lembut.
"Jangan bahas yang lain lagi, yank. Mas udah gak tahan," kata Arkan. Pria itu segera melepaskan span nya dan juga dalaman yang masih melekat di tubuh istrinya.
"Mas, jangan!" Laras menahan kepala suaminya yang sudah dekat di area bawah sana.
"Diem, yank!" Arkan mendorong tangan istrinya. Arkan menyapu area istrinya dengan lidah dan bibirnya. Laras mend*sah dan menjerit kecil di buatnya.
"Mas jangan di sana, itu kotor!" cegah Laras dengan suara lirih.
"Enggak apa-apa yank, kata Dokter Chandra or*l **** bisa meningkatkan gairah!" balas Arkan. Pria itu terus bermain tanpa menghiraukan perkataan istrinya itu.
Ia terus bermain hingga puas, tak lama kemudian. Laras mencapai puncak untuk pertama kalinya.
"Mas, Laras mau pipis," ucap Laras dengan suara serak.
__ADS_1
"Pipis aja yank, keluarin," kata Arkan. "Kita main sekarang, ya." Arkan pun menunggangi tubuh istrinya.
Laras sudah menunggu keberhasilan suaminya itu, tapi nyatanya suaminya itu sudah mencoba berulang-ulang dan hasilnya gagal.
Satu kali, dua kali, tiga kali bahkan sampai ke empat kali. Arkan belum juga berhasil.
"Aihhh! Gak bisa-bisa yank," gerutu Arkan yang sudah mulai kesal.
"Sabar, mas. Namanya juga yang pertama kali," kata Laras pada suaminya. Ia meminta suaminya itu terus mencoba dan bersabar.
"Kayak nya mas gak sembuh deh," kata Arkan yang sudah lesu. Laras menjadi kasihan melihat suaminya yang sudah beberapa kali gagal itu.
"Coba lagi, mas. Pelan-pelan, biar Laras ikut bantu," ucap Laras dengan lirih.
Mendengar perkataan istrinya, Arkan kembali semangat dan mencobanya kembali.
Laras membuka kakinya lebar-lebar, agar mempermudah akses suaminya untuk membuka segel miliknya itu.
"Auchhh... Sakit, mas!" pekik Laras saat suaminya itu hampir berhasil merobek sel*put darah miliknya. "Aucchh!" pekik tertahan Laras, kini batang milik Arkan sudah terbenam sempurna di bawah sana.
Jengkel, malu, geli, dan kesal bercampur jadi satu di hati Laras. Bagaimana tidak? Suaminya itu sampai bertanya pada Erland.
Tidak pakai acara berlama-lama, Arkan segera memompa tubuh istrinya dengan pelan. Dan semakin lama gerakan itu semakin cepat, membuat rintihan yang tadi terdengar menyedihkan kini berubah menjadi des*han indah yang keluar dari bibir Laras. Arkan pun begitu puas di buatnya.
Setelah setahun lebih menikah, akhirnya pagi itu ia bisa memenuhi kewajiban nya sebagai suami.
Lama mereka bermain, akhirnya Arkan menuju puncaknya untuk yang pertama kali. Ia pun melepaskan miliknya dari milik Laras, ia tersenyum puas saat melihat cairan putih yang menyatu dengan cairan berwarna merah yang mengalir dari milik istrinya.
"Makasih sayang, udah jadiin mas yang pertama. Mas beruntung banget memiliki kamu, kamu adalah wanita yang sempurna, kamu adalah dunia mas. Wanita hebat yang mampu bertahan untuk pria sepeti mas," Arkan memeluk erat tubuh Laras dengan tubuhnya yang lengket oleh keringat.
Laras membalas perkataan suaminya itu dengan senyuman. Ia juga begitu bersyukur bisa menjaga kehormatannya dan menyerahkan mahkota itu pada pria yang sangat ia cintai. Yaitu suaminya, Arkana Sudradjat pria yang ia kenal dengan cara yang tidak terduga dan juga begitu singkat.
"Kalau gak ada kamu, mas gak tau bakal gimana jadinya hidup mas," kata Arkan. "Seumur hidup, mas cuman mencintai satu orang di dunia ini yaitu kamu. Meskipun nanti kita mati, mas bakal minta di hidupkan kembali dan di takdirkan bersama-sama lagi.
__ADS_1
"Aku juga hanya mencintai satu orang, mas. Yaitu kamu, ARKANA-KU!" Laras membalas pelukan suaminya. Kedua anak manusia itu berpelukan erat sekali, seakan-akan takut terpisah dan kehilangan satu sama lain.
Setelah beristirahat, Arkan kembali mengulangi permainan nya lagi dan lagi. Hingga membuat Laras begitu kewalahan dan juga kelelahan.
"Mas, kamu gak capek apa?" tanya Laras yang sudah begitu lelah. Mengangkat kakinya saja sudah seperti tidak mampu.
"Mas kuat sayang, mas kan pengen cepet bikin kamu hamil," kata Arkan dengan semangat.
Laras meringkuk dengan tubuh polos berbalut selimut. Wajah nya sudah mulai pucat, tubuhnya terasa begitu lelah.
"Mas, Laras pengen!" ujar Laras.
"Kamu pengen lagi, yank?" tanya Arkan dengan begitu antusias.
Mata Laras mendelik lebar. "Mas kok mesum banget sih sekarang," ucap Laras dengan kesal. Wanita itu mengerucutkan bibirnya.
"Loh, kok mesum yank? Kan kamu yang pengen!"
"Laras pengen makan dan minum, mas. Bukan kawin!" cetus Laras. "Laras gak makan dari semalam loh, mas. Kemaren pas Laras di kurung di kamar hotel itu, Laras cuman makan sedikit." Jelas Laras.
"Hah? Maafin Mas ya, mas ambilin makan sekarang," kata Arkan. Pria itu segera bangkit dari atas ranjang dan memakai celana piyama dan kaos oblong.
Pria itu membuka pintu kamar yang sebelumnya ia kunci. Setelah itu, ia segera keluar dari dalam kamar dan menuju lantai bawah dengan tergesa-gesa.
Sesampainya ia di lantai bawah, ia segera membuka lemari makan. Dan mengeluarkan semua isi makanan yang ada di lemari itu.
Arkan mengambil piring di rak, tapi ia tampak berpikir. "Kalau pakek piring, isinya dikit. Kayak nya mending pakek nampan, isinya bisa banyak terus bisa barengan juga kan!"
Akhirnya, Arkan meletakan kembali piring yang sudah ia pegang ke tempat semula. Ia beralih pada nampan besar, di isinya nampan itu dengan nasi dan lauk pauk yang banyak. Tak lupa, ia juga mengambil satu botol air putih dan satu botol jus orange dingin. Ia segera meninggalkan area dapur itu dengan membawa nampan dan juga mengepit dua botol di ketiak nya.
"Ehh! Buat apa, Ar?" tanya Hesti yang kebetulan sedang menuruti anak tangga.
"Buat energi!" sahut Arkan dengan singkat.
__ADS_1
Hesti hanya mendelik dan melongo mendengar nya.