
Siang harinya, Erland menghubungi Papa Han. Ia ingin menceritakan masalah yang sedang di hadapi Arkan dan Laras.
"[Hallo, pa. Bisa ketemu gak sama Erland,]" kata Erland di sambungan telpon.
"[Kapan? Dimana?]" tanya Papa Handoko.
"[Di cafe X ya, pa. Siang ini, bisa gak? Ada hal penting yang mau Erland bicarain sama papa.]"
"[Ya udah, siang ini jam 13:45 ya!]"
"[Erland tunggu, ya pa,]" kata Erland. Setelah itu, ia memutuskan sambungan telpon itu.
Jam sudah menujukan pukul 12:37, Erland segera pamit pulang pada Arkan.
"Ar, aku pulang duluan ya. Badanku gak enak banget," kata Erland berbohong pada Arkan. Ia tidak mungkin memberi tahu Arkan, bahwa ia akan pergi menemui Papa Han.
"Iya, hati-hati," ucap Arkan yang sibuk pada laptop di hadapannya.
"Jangan pulang malam lagi, Ar. Kasian Laras selalu nungguin kamu sampe larut malam!" Erland menasehati Arkan sebelum ia pergi meninggalkan perusahaan itu.
Setelah itu. Erland segera meninggalkan perusahaan itu menuju Cafe X tempat yang ia sebutkan untuk bertemu Papa Han.
Saat Erland tiba di cafe itu, ternyata Papa Han sudah menunggu. Karena cafe x memang tidak jauh dari perusahan yang di pimpinan langsung oleh Papa Han.
"Udah lama, pa?" tanya Erland.
"Belum, baru aja," jawab Papa Han. "Apa yang mau kamu bicarakan sama papa? Kayak nya penting banget."
"Gini, pa. Ini semua tentang Arkan dan Laras," kata Erland dengan suara pelan.
"Ada apa sama Arkan dan Laras? Apa mereka bertengkar?" tanya Papa Han.
"Selama ini Arkan menderita impoten, pa," kata Erland. Suaranya menjadi semakin pelan.
"Apa?" kejut Papa Han. Mata pria separuh baya itu terbelalak. "Kamu ngomong apa, Er?" tanya Papa Han dengan airmuka yang sudah berubah.
"Erland ngomong yang sebenarnya, pa," kata Erland sembari memberikan selembar kertas pada Papa Han. "Er juga baru tau beberapa hari yang lalu, setelah Arkan dan Laras pulang dari acara makan malam di rumah. Gak lama dari itu, Laras nelpon Erland dan bilang kalau Arkan pingsan. Dan setelah di periksa, ternyata Arkan overdosis obat per*ngsang dengan dosis yang tinggi, pa!" jelas Erland.
Papa Han membaca selembar kertas yang di berikan Erland padanya. Kertas itu adalah laporan hasil pemeriksaan Arkan, Papa Han begitu tidak menyangka dengan apa yang di alami dan derita oleh putra dan menantunya.
"Masalahnya saat ini, pa. Arkan menyiksa dirinya sendiri dan juga Laras. Dia mulai memperlakukan Laras dengan buruk."
__ADS_1
"Papa akan kerahkan orang untuk mencari dokter terbaik di dunia ini. Arkan pasti akan segera disembuhkan!" Papa Han menatap lurus kedepan. Ia sangat syok setelah mengetahui semuanya, beruntung Papa Han tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Jika pria separuh baya itu memiliki riwayat penyakit jantung, sudah bisa di pastikan bahwa ia akan mengalami serangan jantung di tempat itu.
Diam-diam, seseorang yang ada di tempat itu menguping pembicaraan Erland dan Papa Han. Orang itu menyeringai. Setelah itu, orang itu pergi dari cafe X.
Di dalam mobilnya, orang yang menguping pembicaraan Erland dan Papa Han tertawa senang.
"Ini kesempatan aku," kata Orang itu. "Dengan begini, gak ada lagi alasan Laras buat nolak aku. Aku pastikan, malam ini Laras akan jadi milik aku seutuhnya!" Orang itu ternyata adalah Ramon.
Setelah mengetahui bahwa Arkan menderita impoten. Ramon menjadi sangat gembira, peluang nya untuk mendapatkan Laras menjadi semakin besar.
Malam itu juga, Ramon yang mengetahui bahwa Arkan selalu pulang larut. Sudah menyusun rencana untuk mendapatkan Laras.
***
Malam harinya, jam menujukan pukul 20:19 malam. Arkan masih berada di kantor, ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
"Akhirnya, dikit lagi kelar," kata Arkan pada dirinya sendiri. Jari-jarinya terus bergerak cepat pada keyboard komputernya.
Di satu sisi Arkan sedang sibuk mengerjakan sisa pekerjaannya. Di sisi lain, Laras sedang duduk di sofa ruang tamu. Dengan setia, wanita itu menunggu kepulangan suaminya. Tanpa ia sadari, bahwa ia sedang di incar oleh seseorang.
Tok tok tok! Terdengar suara ketukan pintu.
"Mas Arkan!" sebut Laras, dengan senyuman mengembang ia berjalan dan membuka pintu utama rumah itu.
"Hay!" sapa Ramon sembari mengangkat tangannya.
"Kak Ramon, kok bisa tahu tempat tinggal Laras dan Mas Arkan?" tanya Laras dengan takut, tangannya mencoba untuk mendorong dan menutup pintu rumah itu. Tetapi, Ramon menahan dengan lengan kekarnya.
"Kenapa di tutup? Hmm?" tanya Ramon. Ramon masih mencoba untuk bersikap sabar pada Laras. Pria itu masuk dengan paksa ke dalam rumah.
"Mas Arkan belum pulang," kata Laras. "Kakak bisa balik lagi kalau dia udah pulang!" Laras mundur perlahan dari hadapan Ramon.
Ramon melangkah menuju sofa yang ada di ruang tamu rumah itu. Ia duduk santai sembari menyandarkan punggungnya.
"Aku gak butuh sama Arkan, aku butuh sama kamu," kata Ramon, membuat Laras semakin takut.
"Ya udah, Laras bikin minum sebentar nanti kita ngobrol sambil nunggu Mas Arkan pulang," kata Laras dengan takut. Wanita itu segera pergi secepat mungkin dari dekat Ramon. Ia begitu takut melihat Ramon yang selalu menatapnya dengan tatapan berbeda.
Laras yang sudah berada di dapur, mencoba mengubungi nomer suaminya. Ia menelpon nomer itu berulang-ulang tetapi tidak ada jawaban. Lalu, dengan cepat ia mengirim pesan.
"[Mas pulang, ada Kak Ramon. Laras takut.]"
__ADS_1
Laras sengaja berlama-lama di dapur itu, ia takut dan bingung harus bagaimana?
Dan saat ia sadang bingung, tiba-tiba saja Ramon datang dan memeluk pinggangnya.
Dada Laras bergemuruh, tubuh nya bergetar. "Ras, kamu kenapa sih? Takut banget sama aku?"
"Kak, jangan kayak gini. Ingat! Laras istri dari temen kakak sendiri," ucap Laras sembari mencoba untuk melepaskan lengan kekar Ramon yang melingkar di perutnya.
"Aku gak perduli kamu istri siapa, yang pasti aku suka sama kamu dari awal kita ketemu." Ramon berbicara dengan napas berat di telinga Laras. "Sekarang, aku kasih kamu pilihan. Kamu mau bertahan sama Arkan yang gak berguna itu atau berhubungan sama aku yang di jamin bisa puasin kamu lahir dan batin?" Ramon mencoba untuk bernegosiasi pada Laras.
"Maksud Kak Ramon apa?"
"Aku tau, Arkan bukan laki-laki yang sempurna. Dia adalah laki-laki sampah yang udah nyiksa batin perempuan secantik kamu!"
Deg! Laras terkejut, dari mana Ramon tahu semua itu? Batin Laras.
"Meskipun Mas Arkan bukan pria yang sempurna, aku bahagia sama dia. Aku gak aka pernah ninggalin dan khianatin dia!" tegas Laras.
Ramon yang mendengar perkataan Laras, menjadi kesal. Dengan kasar, ia membalik tubuh Laras yang ada di dalam pelukannya.
"Jadi, kamu lebih memilih aku paksa dari pada dengan cara baik-baik!"
"Lepasin aku!" pekik Laras saat Ramon mencoba untuk mencium wajahnya.
Dengan sekuat tenaga Laras mendorong tubuh kekar Ramon. Hingga membuat Ramon terdorong, dengan cepat Laras lari dari area dapur itu. Ia berlari menuju ruangan kerja suaminya, di kuncinya pintu ruangan itu dan bersembunyi di dalamnya.
Tangannya yang gemetar, meraih ponsel yang ada di dalam saku piyamanya. Ia mencoba menghubungi Erland.
Erland yang baru saja selesai makan malam bersama Hesti, segera meraih ponselnya setelah melihat layar ponsel itu menyala.
"Siapa, bang?" tanya Hesti.
"Laras," kata Erland.
"[Hallo, Ras!]"
"[Kak, tolongin Laras. Laras takut,]" kata Laras dengan panik.
Duk duk duk! Ramon menggedor-gedor pintu ruangan kerja Arkan.
"Ras, buka! Aku tau kamu di dalam!" teriak Ramon dengan keras.
__ADS_1
"[Laras!]" panggil Erland yang ada di seberang telpon.
Bruk! Ramon mendobrak pintu ruangan itu.