
Dari pagi hingga hari menjelang malam, Arkan tidak beranjak sedikit pun dari samping istrinya yang tidak sadarkan diri. Pria itu terus berdo'a dan ber sholawat di telinga istrinya.
Shallallah ala muhammad
Shallallah alaihi wasallam
Shallallah ala muhammad
Shallallah alaihi wasallam
Asyraqal albadru alayna.
Fakhtafat badrut tamami
Mitslahus nikma roayna .
qottuya wajha sururi..
Mama Rita, Papa Han dan Erland yang melihat hal itu begitu merasa haru. Mereka begitu kasihan pada Arkan dan Laras, begitu banyak ujian, halangan dan rintangan yang di temui dan lalui oleh kedua anak itu.
"Ya allah.. Berilah mujizat mu pada putra dan menantuku. Jangan uji mereka terus menerus seperti ini." Mama Rita mendongakan wajah nya, ia menahan airmata nya agar tidak lagi menetes. "Begitu banyak derita dan kepedihan yang mereka dapatkan dan rasakan selama menjalani bahtera rumah tangga, aku mohon ya allah. Berilah kebahagian untuk mereka."
Jam menunjukan pukul 18:24, Arkan yang baru saja selesai menjalankan ibadah shalat magrib di ruangan IGD itu, segera bangkit dan mencium kening istrinya.
"Bangun, sayang. Udah lewat waktu magrib, ayo bangun," ucap Arkan dengan lirih. "Bangun buat aku dan bayi yang ada dalam kandungan kamu. Dia belum makan dari pagi, emang kamu gak kasian?" airmata Arkan kembali jatuh dan menetes pada wajah istrinya.
Dari pagi hingga waktu magrib berlalu, Arkan pun sama dengan istrinya. Tidak makan apapun atau pun minum, Mama Rita dan Papa Han sudah berulang kali membujuknya untuk makan. Akan tetapi Arkan terus menolak. "Arkan gak akan makan, sebelum Laras sadar dan makan." Itulah kata-kata yang selalu Arkan ucapkan jika Mama Rita dan Papa Han memintanya untuk makan.
Perlahan, jemari dan juga pupil mata Laras bergerak. Sepertinya wanita itu sedang berusaha bangun dari alam bawah sadarnya.
"Ma-ma-mas.." sebutnya dengan pelan, suara itu nyaris tidak terdengar.
Arkan segera mendongakan wajahnya setelah merasakan ada pergerakan di dalam dekapan tangannya. "Sayang, kamu bangun?" Arkan menciumi jemari istrinya yang bergerak dengan perlahan.
"Jangan ambil bayi Laras, mas," ucap Laras dengan lirih. Masker oksigen yang terpasang, membuat suara lirihnya semakin tidak terdengar.
"Sayang, kamu ngomong apa?" Arkan mendekatkan telinganya pada wajah istrinya itu. Ia tidak dapat mendengar perkataan yang keluar dari mulut istrinya.
"Jangan ambil bayi Laras," ucap Laras.
__ADS_1
"Enggak yank, mas gak akan ambil. Mulai hari ini, kita bakal berjuang sama-sama," kata Arkan. Pria itu menciumi kepala istrinya. "Mas janji, mas gak akan bohongin kamu lagi."
Sudut bibir Laras tersenyum. "Kamu tunggu disini, mas panggilkan Dokter Danang!" buru-buru Laras bangkit dari kursi nya dan berlari menuju luar ruangan.
"Ada apa, Ar?" tanya Papa Han.
"Apa yang terjadi sama Laras?" Erland ikut panik setelah melihat Arkan berjalan dengan tergesa-gesa.
"Laras udah siuman, Arkan mau panggil Dokter Danang!" terang Arkan.
"Alhamdulillah kalau Laras udah sadar," kata Papa Han.
"Alhamdulillah, semoga Laras semakin membaik." tambah Erland pula.
"Kuat kan lah menantuku ya allah!" Mama Rita berdoa.
.
.
.
"Mas, kita mau kemana?" tanya Laras pada suaminya yang mendorong kursi roda nya menuju atas gedung rumah sakit besar itu.
"Ke atas!" jawab Arkan.
"Kok ke atas sih, mas? Laras takut, kan tinggi banget," ucap Laras pada suaminya.
"Jangan takut, kan ada mas yang jagain kamu dan bayi kita," kata Arkan. Dengan pelan, pria itu terus mendorong kursi roda istrinya.
Saat sudah sampai di atas gedung rumah sakit itu, Laras memegang erat tangan suaminya yang memegangi pundaknya.
"Mas, Laras takut. Kok gelap banget?" lirih Laras.
Tiba-tiba saja, satu persatu lampu yang ada di tempat itu menyala. Atas gedung itu sudah di hias sedemikian rupa dan terlihat begitu indah.
"SELAMAT ULANG TAHUN!" suara itu terdengar ramai sekali.
"Mas, ini?" Laras tersenyum haru. Ia menangis terisak.
__ADS_1
"Sayang, selamat ulang tahun.. Semoga di hari ulang tahun kamu ini, kamu di berikan tuhan umur yang panjang serta kesehatan, selamat ulang tahun sayang!" Arkan berjongkok di depan kursi roda istrinya sembari menyodorkan buket bunga mawar pada istrinya.
"Makasih mas, makasih banyak. Laras gak nyangka, Laras masih di beri kesempatan untuk merayakan hari lahir Laras yang 26 tahun ini." Laras memeluk erat leher suaminya. Ia semakin menangis haru.
Cukup lama ia menangis di dalam dekapan suaminya, setelah ia merasa lebih baik. Barulah yang lainnya mendekati Laras dan memeluk Laras satu persatu.
"Selamat ulang tahun, sayang. Papa do'akan semoga kamu di berikan tuhan umur yang panjang," ucap Papa Han, pria paruh baya itu mengecup kening anak menantunya itu dengan lembut.
"Selamat ulang tahun, sayang. Mama do'akan semoga setelah ini, tuhan mengangkat semua rasa sakit yang kamu rasakan dan mengganti rasa itu dengan kebahagian yang tak berujung." Mama Rita pula mencium kening dan pipi Laras dengan penuh rasa haru.
Saat giliran Erland yang mendekat pada Laras, semua orang di buat menangis sedih. "Selamat ulang tahun adek nya kakak, bahagia dong jangan nangis. Masa peringatin ulang tahun malah nangis, kan gak lucu. Full senyum!" Erland menyentuh bibir Laras jangan jari telunjuknya. Setelah itu, Erland beralih pada mata Laras. Ia menyeka airmata Laras yang terus menetes. "Hadiah dari kakak!" Erland mengeluarkan alat make up dari saku pakaiannya.
"Kak.." Laras menatap wajah Erland.
"Kamu harus cantik! Biar bibirnya gak kering, kamu harus pakek ini!" Erland mengoleskan liblam kepada bibir Laras. "Jangan nangis lagi, kamu pasti sembuh. Kakak yakin itu, setelah semua ini berlalu TUHAN bakal ganti dengan kebahagian yang berkali-kali lipat!" Erland menciumi wajah wanita itu. Erland mengatakan agar Laras jangan menangis, tapi sedari awal berbicara pada Laras. Dia lah yang menangis, airmata Erland menetes membasahi pipinya.
"Kakak juga jangan nangis," ucap Laras dengan lirih. Ia mengangkat tangannya untuk menghapus Airmata Erland. "Laras sayang sama kakak."
"Kamu gak sayang sama aku?" Hesti mendekat dan ikut mencium adik sepupunya itu. "Kamu kuat, kamu hebat. Kita pasti bisa rayain ulang tahun kamu lagi tahun depan!"
"Jangan nangis, aku gak mau liat airmata kalian semua terbuang untuk aku. Jangan bikin aku semakin lemah dengan airmata kalian semua." Laras beralih pada wajah sembab Hesti.
Semua orang segera menghapus airmata mereka. Setelah itu, Arkan mendorong kursi roda istrinya menuju meja di mana mereka meletakan kue ulang tahun Laras.
"Doa dulu dong sebelum tiup lilin dan potong kuenya," kata Hesti sembari memaksakan senyum nya.
"Ya allah.. Kalau bisa Laras meminta, Laras ingin umur yang panjang agar Laras bisa melahirkan dan mengurus anak Laras dengan penuh kasih sayang."
Setelah Laras berdoa dan meniup lilin itu. Laras merasakan mulas dan sakit pada perutnya. "Auhhhh.. Mas, tolongin Laras," lirih Laras.
"Sayang.. Kamu kenapa?" Arkan menyentuh perut istrinya.
"Laras!" panik semua orang. Arkan pun segera membopong tubuh istrinya turun dari atas gedung rumah sakit itu.
"Sayang, tolong bertahan!"
***
Dikit lagi, perjuangan Laras last ya!
__ADS_1