Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
DONOR DARAH & GINJAL UNTUK LARAS!


__ADS_3

Ramon menyingkirkan tangan istrinya yang melingkar di perutnya. Pria itu turun perlahan dari atas ranjang dan segera pergi menuju kamar mandi, tampaknya pria itu ingin membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai membersihkan diri, dengan susah payah ia memakai pakaiannya. Jam baru menujukan pukul 05:07 pagi, tapi pria iru sudah rapi dengan kemeja dan span dasarnya.


Tuk tuk tuk.. Suara ketukan tongkatnya mengetuk lantai kamar itu, membuat Diana sang istri terbangun dan terjaga dari tidurnya.


"Kak, mau kemana? Kok pagi-pagi udah rapi?" tanya Diana sembari menarik selimut dan menutup tubuh posolnya.


"Mau ke rumah sakit," kata Ramon. "Nanti nyusul ya, kamu tunggu Radit bangun dulu."


"Mau ngapain ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Diana sembari beringsut dan bersandar di sandaran ranjang itu. Ia meraih penjepit rambut dan menjepit rambut panjang nya.


"Laras," kata Ramon. "Udah waktu nya kakak tebus kesalahan kakak."


Mendengar nama Laras dan menebus kesalahan, Diana merasa cemburu. Akan tetapi, wanita itu tidak berani berkomentar. Ia takut dengan amukan Ramon tempo hari karena dirinya yang terus memaksa ingin memiliki anak dan memberi Radit adik.


"Kakak berangkat ya," pamit Ramon sembari mengecup kening istrinya itu. Akan tetapi, Diana hanya diam. Ia tidak menjawab perkataan Ramon. Ramon begitu paham dengan perasaan istrinya itu, tapi dirinya seolah tidak perduli.


"Saat ini, Laras jauh lebih penting," batin Ramon.


"Kakak berangkat sekarang, Kenzo udah nunggu di bawah!" pamit nya lagi. "Jangan lupa, nanti susulin ya. Ajak Radit."


Ramon pun segera keluar dari kamar itu. ia menuruni anak tangga rumah itu dengan perlahan. Di lantai bawah itu, sudah ada Kenzo sang asisten yang menunggu nya.


"Untuk apa ke rumah sakit sepagi ini, tuan?" tanya Kenzo.


"Laras butuh darah, dan golongan darah yang dimiliki oleh Laras adalah AB NEGATIVE sama seperti darahku," kata Ramon.


"Tapi kenapa tuan ingin mendonorkan darah tuan untuk wanita yang bernama Laras itu?" tanya Kenzo lagi. "Apakah wanita itu sungguh berarti?"


Ramon menatap tajam pada Kenzo yang banyak bertanya. "Ingat batasan mu, Ken!"


"Ma-ma-maaf, Tuan," Kenzo segera menundukkan kepalanya. Ia tidak ingin membuat mood Ramon menjadi buruk dengan semua pertanyaan yang ia lontarkan.


Kenzo pun segera mengikuti langkah Ramon menuju mobil. Kenzo pun mengendarai mobil nya menuju rumah sakit yang sudah di sebutkan oleh Romon. Yaitu rumah sakit milik SUDRADJAT.

__ADS_1


.


.


.


"Gimana? Sudah dapat?" tanya Dokter Jhonson.


"Udah kak, tapi cuman satu orang," kata Arkan. "Semoga cepat sampai." tambahnya.


Arkan harap-harap cemas, benarkah pria seperti Ramon akan membantunya? Tapi, Arkan rasa Ramon akan datang karena ia telah menyetujui permintaan Ramon. Bagi Arkan, kesehatan dan keselamatan Laras lebih penting. Toh! Meskipun ia menceraikan Laras, ia masih bisa melihat dan memiliki cinta istrinya itu.


"Seharusnya, dari jauh-jauh hari kalian dan semua pihak rumah sakit ini sudah menyiapkan segala nya untuk berjaga-jaga dengan hal-hal yang tidak di inginkan seperti ini!" Tegas Jhon. "Kalian kan tau, jika golongan darah AB NEGATIVE itu langka dan sangat jarang di temukan."


Semua orang terdiam, termasuk Papa Han dan Mama Rita. Benar yang di katakan oleh Jhon, seharunya mereka memang sudah siap-siap dari jauh-jauh hari. Karena penyakit Laras sudah lama mereka ketahui.


Tak lama kemudian, Ramon datang dengan Kenzo yang mengekori di belakangnya.


"Mau apa kamu kesini?" geram Erland yang tiba-tiba emosi setelah melihat kedatangan Ramon.


Mendengar perkataan Arkan, tubuh Erland yang awalnya menegang kini melemah. Emosinya lebur seketika setelah mendengar donor darah untuk Laras.


"Ar, aku ingin bicara," kata Ramon. "Berdua saja!" Ramon melirik Erland yang juga meliriknya.


Arkan mengangguk, pria itu segera mengikuti langkah Ramon yang berjalan pincang dengan bantuan tongkatnya menjauh dari posisi semua keluarga Arkan.


"Apa yang terjadi dengan kaki mu?" tanya Arkan.


"Biasa, dapat teguran," jawab Ramon.


Mendengar jawaban Ramon, Arkan termagu. Cara bicara Ramon sudah jauh berubah, pikir Arkan.


"Apa yang terjadi pada Laras?" tanya Ramon.


"Dia gagal ginjal, ginjal nya sudah begitu parah. Yang membuat dirinya semakin menderita ialah bayi yang ia kandung dan pertahankan selama ini," jelas Arkan.

__ADS_1


"Lalu, bayi itu?" tanya Ramon lagi.


"Ada, baru saja di keluarkan beberapa jam yang lalu. Maka dari itu Laras membutuhkan donor darah serta donor ginjal secepatnya."


"Kalau aku mendonorkan darah dan juga sebelah ginjalku untuk Laras, apa kompensasi nya?" Ramon tersenyum pada Arkan.


"Semua nya, apapun yang kau minta!" timbal Arkan.


"Termasuk Laras sendiri?" Ramon menatap wajah Arkan dengan intens.


"Ya! Aku lebih memilih menceraikan nya dari pada harus kehilangan dirinya untuk selamanya," ucap Arkan dengan pelan.


"Oke! Udah cukup," kata Ramon. "Kita lakukan transfusi darah dan pemeriksaan ginjalku sekarang!" Ramon berjalan lebih dulu menuju ruangan operasi Laras, meninggalkan Arkan yang membeku di posisinya.


"Dia bukan Ramon, Dia bukan Ramon yang dulu. Ramon yang sekarang, berbicara dengan begitu santai dan tenang tidak seperti Ramon yang dulu. Aku harap, dia benar-benar membantu istriku." batin Arkan.


"Dokter, segera periksa ginjal saya!" pinta Ramon.


Papa Han, Mama Rita, Erland dan juga yang lainnya di buat begitu terkejut dengan perkataan Ramon.


"Ramon, kamu serius?" Papa Han mendekati Ramon.


"Serius, om," kata Ramon. "Tapi, sebelum ginjal saya di ambil. Saya ingin bertemu dan berbicara dengan Laras, sebentar saja!" pinta Ramon kepada Papa Han.


Saat ini, Ramon sudah berada di dalam ruangan operasi Laras.


"Hey.. Wanita hebat, kamu harus kuat," bisik Ramon di telinga Laras. Ia berbicara pada orang yang sedang koma dan berharap orang itu dapat mendengar semua perkataannya. "Kamu harus tahu, kalau di luar ruangan ini ada pria yang rela mengorbankan kebahagian nya untuk kesembuhan kamu."


"Kamu harus kuat, aku yakin setelah ini kamu pasti sembuh!" Ramon menggenggam jemari Laras dengan erat. "Yang kuat ya, kamu gak sendiri. Sekarang aku yang bakal temenin kamu sampe sembuh di rumah sakit ini."


Ramon melepaskan genggaman tangannya, pria itu segera menghampiri Dokter Jhonson dan Dokter Danang untuk melakukan pemeriksaan lebih dulu.


Arkan dan yang lainnya, hanya bisa menatap dari luar ruangan itu. Mereka semua tidak di izinkan masuk ke dalam tuangan rawat Laras.


"Ar, apa yang kamu janjikan sama Ramon?" tanya Erland.

__ADS_1


"Gak ada, dia tulus mau bantu Laras," bohong Arkan. Ia tidak mungkin mengatakan semuanya pada Erland dan keluarganya. Ia tidak ingin, membuat keadaan semakin kacau.


__ADS_2