
Arkan kembali ke ruangannya dan menyusul istrinya yang berada di dalam kamar ruangan itu.
"Sayang.." panggil Arkan pada istrinya yang tidur di ranjang.
"Hmmm.." sahut Laras dengan malas.
"Maafin mas ya, mas gak punya maksud apa-apa larang kamu ini dan itu. Mas cuman gak mau kamu sakit, bayi kita kenapa-kenapa," jelas Arkan. Ia ikut berbaring di atas ranjang dan memeluk perut rata istrinya.
"Laras gak marah," kata Laras dengan jutek.
"Kalau gak marah, jangan jutek dong. Masa sama suami ketus kayak gitu!" Arkan menyingkap gaun istrinya dan menciumi perut istrinya itu.
"Beneran gak marah, tapi mas harus janji nurutin permintaan Laras yang satu ini!" ujar Laras sembari menahan geli di perutnya yang terus di ciumi suaminya. Jambang halus suaminya itu sungguh meresahkan.
"Mas gak bisa janji, mas takut kamu minta yang aneh-aneh," kata Arkan. Pria itu takut istrinya akan meminta hal aneh dan mustahil untuk di lakukan.
"Dengerin dulu!" protes Laras. "Laras pengen minap di rumah papa dan mama," kata Laras.
"Itu doang gak ada yang lain?"
"Iya, itu doang udah cukup. Laras gak mau yang lain lagi," kata Laras sembari tersenyum licik. "Hehehee.. Rasain Mas Arkan, Laras bakal ngadu sama mama dan papa. Laras yakin, habis ini Mas Arkan gak akan bisa berkutik." Batin nya.
"Ya udah, nanti pulang kerja kita langsung ke rumah mama dan papa," ucap Arkan. Pria itu tak henti-hentinya menciumi perut sang istri. Bahkan ia sengaja menempelkan jambang halus nya itu di perut Laras.
"Mas udah ah, geli!" Laras menyingkirkan wajah suaminya itu dari perutnya. "Nanti Laras ngambek lagi nih!" ancam wanita itu.
Mendengar kata ngambek, Arkan segera menghentikan ke jahilannya.
"Jangan kemana-mana ya, mas mau kerja sebentar," kata Arkan. "Nanti, abis rapat kita langsung ke rumah mama dan papa."
"Iya, udah sana pergi! Laras males banget liat muka mas!" usir Laras pada suaminya itu. Jika suaminya di depan matanya, wanita itu akan mengusirnya. Dan jika suaminya itu pergi, maka ia akan mencarinya dan menangis. Sungguh wanita hamil yang merepotkan.
"Ya ampun yank, mas di sini di usir. Ntar mas keluar malah nyusulin!" Arkan melangkah pergi keluar dari dalam kamar itu.
Dan benar saja, Arkan yang pergi dan baru tiba di ruang rapat. Bahkan baru mendaratkan bokong nya di kursi kebesarannya, Laras yang datang dengan di antarkan oleh seorang OB masuk begitu saja ke dalam ruang rapat.
"Mas, Laras ikut mas aja," kata Laras dengan manja. Ia berjalan menuju ke arah suaminya.
__ADS_1
Arkan pun rapat sembari memangku istrinya, Erland yang duduk di kursinya begitu senang cekikikan dan mengejek CEO arogant yang mati kutu jika di samping istri cantiknya.
"Teruskan! Jangan gunakan mata kalian untuk mengurusi dan mengamati orang lain!" tegas Arkan pada semua bawahannya.
"Maaf Tuan!" Semua bawahannya itu segera menundukkan kepala dan fokus pada tugas mereka masing-masing.
"Sayang, jangan galak-galak," bisik Laras. "Nanti anak kita, gedenya galak juga kayak kamu."
"Bagus kalau dia galak, biar bisa jadi pemimpin seperti papi nya yang hebat," kata Arkan sembari menatap layar laptop yang ada di hadapannya.
Akhirnya, rapat itu berjalan dengan dramatis. Tanpa ada keributan atau cacian dari Arkan seperti biasanya. Semua staf dan karyawan bernapas lega, termasuk Erland. Karena biasanya, akan banyak drama yang terjadi selama rapat berlangsung karena Arkan yang selalu meributkan hal-hal sepele.
"Er, apa jadwal ku habis ini?" tanya Arkan pada Erland.
"Gak ada lagi," jawab Arkan.
"Ya udah, aku mau antar Laras ke rumah mama dan papa. Kamu tetap tinggal di sini!"
"Oke!" sahut Erland.
"Heheee.. Berhasil kak," bisik Laras pada Erland yang berada di sampingnya.
"Ngapain kalian berdua?" tegur Arkan.
"Bisik-bisik lah, apa lagi?" cetus Erland.
"Hihihihik!" Laras terkikik. "Ayo mas! Gendong!" pinta Laras pada suaminya itu.
Akhirnya, Arkan pun menggendong istrinya menuju luar perusahaan. Ia segera mengantarkan istrinya itu ke kediaman orangtua nya.
Setelah setengah jam menempuh perjalanan setengah jam dengan jarak tempuh yang lambat, akhirnya mobil Arkan berhenti di pekarangan rumah keluarga Sudradjat yang begitu luas.
Dengan cepat, Laras membuka pintu mobil dan berlari kecil menuju rumah itu. Ia segera mendorong pintu dan masuk lebih dulu.
"Ma.. Mama!" panggil nya papa Mama Rita.
"Iya, mama di belakang!" sahut Mama Rita dari arah belakang rumah. Entah apa yang di kerjakan wanita separuh baya itu di area belakang.
__ADS_1
Arkan yang ikut masuk belakangan, segera menuju lantai atas untuk berganti pakaian. Sedangkan Laras, wanita hamil itu masuk ke area dapur. Ia membuka kulkas besar yang ada di dapur.
"Waowww.. Ada Es cendol," kata Laras dengan pelan. "Ma, Es cendol nya Laras ambil ya!" teriak Laras pada Mama Rita.
"Iya," kata Mama Rita yang ternyata sudah berada di area dapur itu.
"Hehee.. Maaf ya ma, Laras teriak-teriak kayak orang hutan," kata Laras sembari mengambil segelas es cendol itu dan berjalan menuju meja.
"Eummm.. Segernya, ma. Enak," kata Laras. Sepertinya wanita itu begitu menikmati es cendol itu. Bahkan ia tidak perduli dengan kemarahan Arkan yang akan ia terima.
"Mama tinggal ganti baju dulu ya, baju mama basah abis bersihkan kolam renang sama Mbok Nunung," kata Mama Rita.
"Iya, ma." Setelah Mama Rita pergi, Laras mengeluarkan ponselnya, ia memfoto cendol itu dan mengirimkannya pada Erland dan juga Hesti.
'Enak, ada mama yang jadi pawang Mas Arkan.' pesan yang di ketik Laras dan ia kirimkan pada Erland dan juga Hesti.
Saat es cendol itu tinggal setengah gelas, Arkan baru turun dari lantai dan menghampiri istrinya yang duduk di meja dapur sendirian.
"Sayang, mama tadi mana?" tanya Arkan. "Astaga! Kamu makan apa lagi?" mendengar perkataan suaminya, Laras menjadi jengkel setengah hidup.
"Es cendol!" sahut Laras.
"Jangan sembarangan yank, gak baik! Gak sehat buat bayi kita!" tegur Arkan.
"Laras udah bilang sama mama," kata Laras.
"Jangan di minum lagi, buang yang itu!" perintah Arkan.
"Mama!" panggil Laras, ia sengaja karena mata nya melihat sosok Mama Rita yang berjalan ke area dapur itu. "Ma, Laras Gak di bolehin Mas Arkan makan apa pun!" adu Laras.
"Malah ngadu," ucap Arkan sembari menatap istrinya itu dengan wajah lesu.
"Laras gak mau lagi ikut mas pulang, Laras mau tinggal di sini aja," kata Laras sembari bangkit dan menghampiri Mama Rita. "Ya, ma. Laras tinggal di sini aja."
"Iya, mau di sana di sini kan sama aja," kata Mama Rita.
__ADS_1
"Beda ma, di rumah Mas Arkan siksa Laras terus," kata Laras. "Masa Laras mau makan ini, itu gal boleh. Ini juga, cendolnya di suruh buang!" Adu Laras.
"Arkan!" Mama Rita melotot pada putranya yang berdiri di belakang Laras.