Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
RINDU CINTAKU PADAMU!


__ADS_3

"Bagaimana dokter? Kira-kira butuh waktu berapa lama lagi untuk pemulihan saya secara total?" tanya Arkan pada Dokter Chandra Rawles yang menangani dirinya.


"Sampai ketahap ini, sudah semakin membaik. Pemulihan nya mungkin akan memakan waktu 1-2 bulan lagi," kata Dokter Rawles. "Akan tetapi, itu semua tergantung keinginan kamu sendiri. Jika keinginan kamu sangat besar untuk sembuh, maka bisa jadi minggu-minggu ini kamu bisa sembuh total!" jelas Dokter itu. Senyuman di bibir Arkan mengembang sempurna. Ia yakin, ia akan pulih secara total dalam waktu dekat ini.


Sore itu pula, Arkan pulang ke apartemen nya dengan perasaan yang begitu bahagia. Akhirnya, ia akan segera pulang. Ia dapat berkumpul lagi dengan istrinya.


Saat tiba di apartemen, ia kembali mengambil dan memeluk foto istrinya. "Tunggu aku sayang, aku bakalan cepet pulang. Kita bakalan kumpul sama-sama lagi." di peluknya foto itu dengan begitu erat.


Di bagian Negara itu, Arkan begitu merindukan istrinya. Begitu pula di tanah air, Laras mengurung dirinya di dalam kamar. Ia tidak keluar kamar lagi selepas pulang dari belanja bersama Hesti.


Jika di Belanda sore hari, maka di Indonesia sudah malam.


"Mas, kamu kemana? Kenapa kamu gak pernah kasih kabar sama aku? Apa disana kamu udah punya yang lain?" Airmata itu terus mengalir, menetes pada bingkai foto suaminya yang tersenyum lebar.


Song : Rindu cintaku padamu


Jarak yang memisahkan.. Engkau dan aku.. Terlukis sebuah rasa..


Berbingkai rindu.. Gelisah karenamu.. Ingin di dekatmu.. Suka dan duka bersamamu.. Rindu, rindu semakin rindu.. Cinta, cinta semakin cinta.. Aku di sini, kau di sana.. Rindu, rindu semakin rindu.. Cinta, cinta semakin cinta.. Rindu cintaku padamu.. Berharap esok hari.. Kita bersatu.. Menembus dinding waktu.. Menghalang rasaku..Gelisah karenamu.. Ingin di dekatmu.. Suka dan duka bersamamu.. Rindu, rindu semakin rindu.. Cinta, cinta semakin cinta.. Aku di sini, kau di sana.. Rrndu, rindu semakin rindu.. Cinta, cinta semakin cinta.. Rindu cintaku padamu..


Papa Han dan Mama Rita semakin tidak tega melihat keadaan Laras yang semakin hari semakin kacau.


Mama Rita semakin merasa bersalah atas apa yang pernah ia lakukan selama ini pada Laras. Gadis yang ia pikir adalah gadis yang tidak baik, nyatanya begitu mencintai anaknya. Begitu tulus kepada putranya.


Papa Han dan Mama Rita masuk ke dalam kamar itu. "Laras!" pangil Papa Han pada Laras sembari duduk di tepian ranjang itu.


"Papa," ucap Laras sembari menghapus airmata nya.

__ADS_1


"Yang kuat, gak baik seperti ini. Arkan akan terluka kalau sampai tau kamu seperti ini," kata Papa Han.


"Laras udah coba buat kuat, pa. Laras udah coba tapi Laras bener-bener gak mampu," ucap Laras di tengah isak tangisnya yang terdengar begitu pilu.


"Berjuanglah sama-sama, nak. Papa yakin, ada kebahagian yang menunggu di depan sana," kata Papa Han lagi. "Jalan kalian masih begitu panjang. Anggap semua ini sebagai ujian kalian untuk meraih kebahagian yang gak terhitung harganya."


Laras memeluk tubuh pria separuh baya itu, Papa mertua yang sudah seperti papa kandungnya sendiri. "Laras bakal coba, pa. Laras bakal coba lagi."


"Kamu harus kuat," ucap Papa Han sembari mencium pucuk kepala Laras. "Arkan pasti berhasil dan akan cepat pulang!"


Lama Laras berada di dalam dekapan Papa Han. "Sekarang, kamu tidur. Hari udah semakin malam, nanti kamu sakit kalau selalu begadang," kata Mama Rita.


"Iya, ma," Laras pun segera melepaskan pelukannya. Ia mencoba untuk memejamkan mata dengan di temani oleh Mama Rita dan juga Papa Han.


Setelah Laras terlelap, baru lah Papa Han dan Mama Rita meninggalkan anak menantu mereka itu.


Dengan semangat, Papa Han keluar dari kamar masih dengan piyama tidurnya. Pria separuh baya itu begitu penasaran dengan apa yang di masak di dapur rumah itu.


Pria separuh baya itu menuruni anak tangga. Saat tiba di dapur, ia tersenyum senang saat melihat Laras yang berkutat di dapur itu bersama Mbok Nunung.


"Duh-duh! Anak papa, pagi-pagi udah sibuk aja," kata Papa Han. "Udah beres semua belum nih? Papa udah laper banget."


"Kalau papa udah laper, sarapan aja duluan. Laras juga tinggal kupas timun lagi buat lalapan," kata Laras.


"Ahh.. Kalo gitu tanggung, Papa tunggu aja," kata Papa Han. "Papa mau makan pakek sambel terus lalapan timun."


Mama Rita, Hesti dan juga Erland ikut turun dari lantai atas rumah itu. Mereka semua senang melihat Laras yang tampil fresh dan semangat di pagi hari itu.

__ADS_1


"Wah, setelah sekian lama. Akhirnya Kakak bakal makan enak lagi," kata Erland sembari mendaratkan bokong nya di kursi makan.


"Emang selama ini gak enak makan?" tanya Hesti.


"Enak sih!" sahut Erland.


"Terus kenapa bilang setelah sekian lama akhirnya makan enak lagi?" cetus Hesti. Ibu hamil itu pura-pura kesal.


"Kan emang bener, setelah sekian lama abang baru makan enak lagi hasil masakan Laras," kata Erland.


Laras tersenyum kecil. Meskipun ia hanya berpura-pura tegar, tapi ia akan terus berusaha agar bisa dan mampu. Ia tidak ingin lagi membuat papa dan mama mertuanya itu susah dan sedih karena mengkhawatirkan keadaannya.


Ia akan selalu berpikir positif, dan semoga bisa mendapatkan hasil yang baik.


"Nah! Udah beres, ayok kita makan!" ajak Laras pada semua orang.


Papa Han, Mama Rita, Hesti dan Erland segera mengisi piring mereka dengan nasi dan lauk pauk yang banyak.


Mereka semua makan dengan sangat lahap. "Ras, ayo.. Kamu kok makannya dikit banget," kata Erland sembari menambahkan nasi serta lauk di piring Laras. "Kamu harus makan, jangan sampe pas Arkan pulang kamu kurus kering!"


"Iya, kami yakin gak akan lama lagi Arkan pasti pulang," kata Hesti dengan yakin.


Sebenernya Erland tau kabar Arkan. Tapi, pria itu sengaja menyembunyikan nya dari Laras. Tiga bulan sudah Arkan tidak menghubungi mereka, tapi malam tadi Arkan mengirim pesan. Bahwa ia akan pulang dalam waktu dekat-dekat ini.


"[Er, kalau gak ada halangan. Mungkin, minggu-minggu ini aku udah bisa pulang. Pengobatan ku berjalan dengan lancar dan tinggal menunggu pemulihan aja. Aku titip Laras ya, tolong perhatiin dan jagain. Jangan bilang ke dia kalau aku kasih kabar ke kamu, aku pengen bikin. kejutan buat dia!]"


Arkan mengirimkan rekaman pada Email Erland. Membuat Erland senang bukan main, akhirnya sahabatnya itu memberi dirinya kabar setelah sekian lama tidak ada kontak di antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2