
Dua hari kemudian, Laras, Mama Rita, Papa Han, Hesti dan juga Erland mengantarkan Arkana ke bandara. Siang itu juga, Arkan akan terbang ke Negara Belanda dimana tempat ia akan menjalani pengobatan.
"Hati-hati, mas," ucap Laras dengan pelan sembari menundukkan wajahnya.
"Hey! Kenapa nunduk? Kamu gak mau liat muka mas?" Arkan mengangkat dagu istrinya. Airmata yang sedari tadi sudah menganak sungai, akhirnya mengalir deras.
"Mas, hiks!" Laras mendekap tubuh suaminya itu. Ia begitu takut di tinggalkan.
"Jangan nangis, kalau kamu masih terus nangis. Mas gak jadi pergi," kata Arkan. "Semua ini berat, yank. Aku juga berat banget buat ninggalin kamu. Tapi percayalah, mas gak akan lama. Mas akan cepat pulang."
"Kalo nanti mas sembuh, cepat pulang ya. Jangan lupain Laras," kata Laras sembari menghapus airmata nya. Wanita itu memaksakan senyumannya.
"Yang full dong senyum nya, masa setengah-setengah!" Arkan mencium kening istrinya dengan lembut. "Mas gak akan pernah lupain kamu, kamu adalah alasan satu-satunya mas bisa bertahan sampai disini."
"Ma, Pa, Er dan Hesti. Aku titip Laras ya," kata Arkan. "Arkan pamit, doain Arkan berhasil dan bisa cepat balik kumpul sama kalian semua."
"Ya sayang, kami akan jagaian istri kamu. Kamu baik-baik disana, jangan mikir aneh-aneh. Laras disini bakal baik-baik aja," kata Papa Han, pria separuh baya itu memeluk tubuh putranya.
Rasa haru dan sedih menyelimuti perasaan mereka semua. Terutama Laras sebagai istri yang di tinggalkan dan tak tahu sampai berapa lama.
Setelah pesawat yang di tumpangi Arkan lepas landas, Laras kembali menangis. Hesti memeluk tubuh sepupunya itu, ia begitu tidak tega melihat penderitaan Laras.
"Mas Arkan, Hes," ucap Laras dengan lirih.
"Kamu harus kuat, doain Arkan berhasil dan bisa cepat pulang," kata Hesti.
"Selama Arkan di Belanda. Papa, Mama, Erland dan Hesti akan tinggal sama kamu," kata Mama Rita. "Kami semua bakalan temenin kamu."
"Sekarang kita pulang," ajak Papa Han pada mereka semua.
Dengan langkah berat, Laras mengikuti langkah Papa Han, Mama Rita, Erland dan Hesti menuju mobil.
***
Di sebuah rumah sakit pusat kota, seseorang baru saja siuman dari komanya.
__ADS_1
"Akkhhhh! Kepalaku," rintihnya sembari memegangi kepala. Orang itu berusaha bangkit dari ranjang pasien. Tapi, saat ia turun dan hendak berjalan di lantai, ia merasakan sakit pada kaki kanannya. Kali itu pun sulit di gerakan.
"Dokter! Dokter!" teriaknya dengan kencang. Hingga membuat beberapa orang perawat berlari tergesa-gesa menghampiri orang itu.
"Bapak sudah sadar?" dua orang perawat membantu pasien itu kembali ke atas ranjang.
"Apa yang sudah terjadi? Kenapa saya bisa ada disini? Dan kenapa kaki kanan saya sulit di gerakan?" pekik pasien itu.
"Tiga malam yang lalu, bapak mengalami kecelakaan dan koma," kata perawat itu. "Dan kaki bapak, mengalami patah pulang!"
Pasien itu menggeleng pelan. "Gak mungkin, ini semua gak mungkin," ucap pasien itu. "Panggilkan dokter!" teriaknya.
Maka, salah seorang perawat berlari keluar untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian, perawat itu kembali bersama dengan dokter.
"Dokter, tolong sembuhkan kaki saya!" pinta pasien itu.
"Maaf, pak. Saya tidak bisa memulihkan kaki bapak dalam waktu yang singkat," kata dokter itu. "Pemulihan kaki bapak membutuhkan waktu yang lama, bisa sebulan, dua bulan bahkan bertahun-tahun."
"Gak mungkin, semua ini gak mungkin dokter. Saya gak mau cacat!" teriaknya histeris. "Tuhan, apa ini hukuman? Apa ini karma mu?" pekiknya.
Pasien itu akhirnya diam. "Dokter ini benar, semua ini adalah pelajaran. Ini adalah hukuman atas semua dosa-dosa yang udah aku lakukan. Dosa yang telah aku perbuat pada Diana, pada Arkan, Erland serta Laras." pasien itu tenyata adalah Ramon, korban kecelakaan di jalan raya pada malam ia pulang dari kediaman Arkan dan Laras.
"Pak Ramon!" tegur Dokter pada Ramon yang terlihat murung. Dokter itu takut kalau-kalau Ramon tidak tahan dan menjadi depresi.
"Ya dokter, jangan khawatir! Saya baik-baik saja," kata Ramon. Dokter itu menjadi lega setelah mendengar perkataan Ramon. "Boleh saya pinjam ponsel?"
Dokter itu memberikan ponselnya pada Ramon. Ramon pun menghubungi seseorang.
"[Hallo!]" sahut seseorang yang ada di seberang telpon.
"[Jemput saya di rumah sakit pusat kota!]" Setelah berbicara singkat. Ramon mematikan sambungan telpon itu.
"Terimakasih, dokter!" Ramon mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.
Satu jam kemudian, orang yang di telpon Ramon tiba. Orang itu masuk ke dalam ruangan Ramon dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Tuan Ramon, maaf membuat anda menunggu lama," kata Orang itu sembari menundukkan kepalanya.
"Aku tidak menunggu lama," kata Ramon. membuat orang itu memandang nya dengan heran. Pasalnya, baru kali ini Ramon berbicara pelan padanya. "Tolong carikan aku tongkat!" pinta Ramon. Lagi-lagi orang itu semakin heran, Ramon yang selalu berbuat semaunya dan berlaku kasar, tiba-tiba meminta tolong.
Orang itu segera bergegas keluar, ia meminta tongkat kepada pihak rumah sakit. Tak lama kemudian, ia kembali dengan tongkat di tangannya.
"Tuan, ada apa sebenarnya? Kenapa tuan bisa sampai begini?" tanya orang itu pada Ramon.
"Ceritanya panjang, Ken. Mungkin ini semua teguran untukku," jawab Ramon. "Tolong bantu aku turun dari ranjang ini!" pintanya lagi.
Dengan segera, orang yang di panggil Ramon dengan sebutan Ken itu membantu Ramon turun.
"Tuan, sebaiknya pakai kursi roda saja," kata Ken yang merasa khawatir dengan keadaan Ramon yang terlihat tidak baik-baik saja.
Bagaimana tidak, kepala Ramon masih di balut perban, pelipis masih luka. Begitu pula dengan kaki dan tangannya.
"Aku pincang, bukan lumpuh!" timbal Ramon sembari tersenyum masam.
Ia berjalan dengan perlahan menggunakan bantuan tongkat. Ken begitu iba melihatnya, Tuan nya yang sombong dan arogant kini menjadi pria yang tidak berdaya.
"Ken, kau urus semua biaya perawatanku selama berada di tempat ini. Setelah itu, kita pulang," kata Ramon. Ken segera mengangguk dan pergi membayar seluruh tagihan rumah sakit.
Setelah itu, Kenzo menuntun Ramon keluar dari rumah sakit. "Bagaimana perusahaan sekarang?" tanya Ramon. Perusahaan kecil yang ia rintis dan di percayakannya pada Kenzo. Pemuda yang umurnya jauh di bawah Ramon.
"Alhamdulillah, sudah cukup baik dari tahun lalu," kata Kenzo. "Saat ini, saya masih berusaha untuk mengembangkan produk kita."
"Aku beruntung memiliki dirimu, Ken. Kau pemuda yang baik," kata Ramon.
Kenzo tersenyum, ternyata kecelakaan yang di alami Ramon, bisa merubah ke pribadian nya yang begitu buruk. "Semoga saja Tuan Ramon benar-benar berubah." batin Kenzo.
.
.
.
__ADS_1
Ceritanya, lari dulu ke Ramon dan yang lainnya yak! Masa iya, kita nungguin Arkan terus!