Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
BANGUN JOE! AKU CUMAN PUNYA KAMU DI DUNIA INI!


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, keadaan Laras masih sama seperti tempo hari. Wanita itu masih terus mengkonsumsi obat pereda nyeri dan yang lainnya. Hanya saja, ia selalu membuang obat penggugur kandungan di saat suaminya lengah.


"Lima bulan sayang, sisa empat bulan. Semoga tuhan selalu melindungi kita," ucap Laras dengan lirih sembari mengusap perutnya yang sudah membuncit. "Mumpung papi gak ada, yang ini buat jatah siang!" Laras memasukan satu butir obat penggugur kandungan itu kedalam wastafel dan menyiramnya.


Setelah itu, dengan perlahan ia kembali ke meja makan. Laras pun segera menelan pil yang lainnya.


"Sayang, udah makan san minum obat belum?" Tiba-tiba saja, Mama Rita yang turun dari lantai atas menghampiri Laras yang duduk di kursi makan dapur rumah itu.


"Udah, ma. Barusan aja," kata Laras. "Nih!" tunjuknya pada toples dan tablet obat yang ada di atas meja.


"Kalo udah makan dan minum, sekarang kamu istirahat dan tidur siang," ucap Mama Rita.


Laras menganggukkan kepalanya, wanita hamil itu bangkit perlahan dari kursinya dan pergi menuju kamar.


Mama Rita tersenyum saat melihat keadaan Laras cukup membaik dan tidak seperti dua bulan yang lalu. "Syukurlah, keadaan Laras sudah jauh lebih baik. Semoga ada keajaiban dari mu Ya-allah."


Laras masuk ke dalam kamarnya, tak lupa ia selalu mengunci pintu kamar itu jika ia berada di dalam.


Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu, ia tidak ingin mertuanya mengetahui apa yang ia lalukan dan terjadi di dalam sana.


"Duh, perasaan tadi udah minum obat. Tapi kok punggungku gatel-gatel lagi ya?" guman Laras sembari menggosokkan punggungnya pada tembok kamar. "Makin gatel aja."


"Yank!" panggil Arkan yang baru saja pulang dari kantor. Dua bulan terakhir, Arkan selalu bolak balik dari rumah ke perusahaan. Ia selalu memantau keadaan istrinya itu dua jam sekali. "Yank, buka pintunya."


"Iya, mas. Sebentar!" sahut Laras dari dalam kamar. Wanita itu berjalan menuju pintu dan mrmbulanta.


"Kenapa kalau kamu di dalem, pintunya di kunci terus sih, yank?" heran Arkan, tampaknya pria itu mulai curiga dengan sikap istrinya.


"Aduh.." Laras mencoba menggaruk punggungnya.


"Gatel lagi?" Arkan segera mendekati istrinya dan menyingkap pakaian istrinya itu. "Astaga! Ini kamu garuk pakek apa kok sampe merah gini?" Arkan mengusap punggung istrinya itu dengan lembut.


"Laras gosrokin ke situ!" tunjuk Laras. "Heheeee!" kekeh nya.

__ADS_1


"Jangan aneh-aneh, yank. Bisa luka ini!" Arkan geleng-geleng kepala. Ia segera menuntun istrinya itu ke arah ranjang. "Sini, duduk sini. Biar mas yang gosok nya!" Arkan meraih bedak yang ada di atas nakas dan mengusap punggung istrinya itu dengan sangat pelan dan hati-hati.


"Udah dua bulan, tapi kenapa obat yang di berikan Dokter Danang gak bekerja ya? Aku takut banget, keadaan Laras semakin memburuk." Batin Arkan. Ia begitu heran dengan janin yang ada di dalam kandungan istrinya yang tampak baik-baik saja.


.


.


.


Di tempat Mommy Jeny, yaitu tempat maksiat yang berkedok hotel. Telah terjadi pemukulan terhadap Joe.


Buk.. Buk..


"Cepat katakan, Joe? Dimana kamu sembunyikan Maya?" Bentak Mommy Jeny pada Joe, pemuda yang selama ini selalu membantu Maya dengan cara diam-diam.


"Saya gak tahu!" Timbal Joe.


"Tinggal ngaku aja kok susah banget," kata Mommy Jeny. "Kalau kamu mau mengaku, maka Mommy akan membebaskan kamu dari sini. Bahkan Mommy akan memberikan keuntungan untuk kamu." bujuk Mommy Jeny tepat di hadapan Joe yang tersungkur di lantai gudang tempat terjadinya pemukulan itu.


'Plak!' "Kurang ajar kamu!" Mommy Jeny geram dan langsung menampar wajah Joe.


"Jangan harap.. Jangan harap saya akan buka mulut, lebih baik saya mati di tempat ini!" Pemuda yang berkulit hitam manis itu tersenyum mengejek pada Mommy Jeny yang tepat di depan wajahnya. "Sudah cukup kalian semua menyiksa Maya di tempat ini."


"Hajar dia! Biarkan dia merasakan sakitnya meregang nyawa di tempat ini!" perintah Mommy Jenny.


"Lakukan lah, lakukan.. tapi saya pastikan, dalam waktu satu jam kemudian. Tempat ini akan hancur. Hahaaa!" Joe tertawa sumbang, Luka di tubuh dan wajahnya, bahkan darah yang juga mengalir dari pelipis juga tangannya seperti tak ia rasakan.


Di satu sisi Joe sedang menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Di sisi lain, Maya sedang menuju ke kantor polisi. Gadis itu berjalan tergesa-gesa dengan membawa bukti kejahatan Mommy Jeny.


Sesampainya di kantor polisi, ia segera melaporkan Mommy Jeny dan para anak buahnya.


"Pak, saya mau melaporkan markas prostitusi online yang berkedok hotel bintang lima, bahkan bukan hanya itu, di dalam gedung itu juga adalah rumah perjudian," kata Maya sembari menyerahkan ponsel Joe yang ia bawa kepada petugas kepolisian itu.

__ADS_1


Singkat cerita, Maya kembali ke markas Mommy Jeny dengan beberapa petugas yang mengiringinya. Beberapa petugas itu memakai makanan biasa.


Tak hanya beberapa petugas itu saja, di belakang anggota kepolisian yang lain sudah bergerak untuk mengepung tempat itu.


"Perhatian! Tempat ini sudah di kepung!" pengeras suara di aktifkan.


Mendengar suara itu, Mommy Jeny dan para anak buahnya menjadi terkejut. Mereka tidak menyangka, tempat mereka akan di grebek seperti itu oleh polisi.


"Maya berhasil," kata Joe.


"Sialan! Semua ini ulah kamu dan anak pembawa sial itu rupanya!" Mommy Jeny menatap marah pada Joe. "Habisi dia! Setelah itu, kita pergi melalui pintu belakang!"


"Hahaha.. Meskipun kalian membunuhku, aku akan mati dalam keadaan puas dan juga tenang. Karena kalian sudah berhasil di singkirkan." Joe terus tertawa meskipun keadaannya sudah sangat memprihatinkan.


'Jleb!' salah satu anak buah Mommy Jeny menusuk Joe dengan sebilah pisau kecil.


"Akkkkhhh!" erang Joe sembari memegangi perutnya.


"Baron, cepat! Masih ada yang harus kita urus!" Mommy Jeny menarik anak buahnya itu. "Kita harus menyelamatkan harta kita!"


Pria yang bernama Baron itu segera mengikuti langkah Mommy Jeny menuju kamar. Kedua orang itu hendak menyelamatkan harta Mommy Jeny dan berniat kabur dari tempat itu.


"Akhhhh!" Joe yang berada di dalam gudang itu terus mengerang kesakitan.


"Joe.." teriak Maya sembari berlari menuju gudang. "Joe.."


"No-no-nona.. Joe ada disini," suara Joe terdengar semakin pelan. Darah terus mengalir dari perutnya, membasahi telapak tangannya serta lantai ruangan itu.


Crekk! Maya mendorong pintu gudang itu.


"Joe!" pekik Maya. "Maafin aku, Joe. Maafin aku, gara-gara aku kamu jadi kayak gini," Maya menangis sembari mendekap tubuh Joe.


"Sa-sa-saya se-se-senang bi-bi-sa membantu dan me-me-melindungi No-na." setelah berbicara seperti itu, Joe hilang kesadaran.

__ADS_1


"Joe, bangun. Aku mohon bangun, aku cuman punya kamu di dunia ini!" Pekik Maya. "Tolong! Tolong!" Teriak Maya. Dua orang polisi pun masuk ke dalam gudang itu.


__ADS_2