
Hari-hari di lalui begitu cepat. Dua bulan telah berlalu, tapi keadaan Arkan dan Laras tetap sama. Mereka berdua masih sama-sama berjuang, Laras sendiri selalu memberikan support dan semangat untuk suaminya. Meskipun Arkan sendiri sudah hampir putus asa dan tidak ingin lagi melanjutkan pengobatannya.
“Sayang, aku berenti aja ya. Aku udah capek,” kata Arkan. Rasa putus asa itu semakin menggerogoti jiwanya.
“Mas, kenapa mas kayak gini? Laras aja terus semangat dan gak putus asa. Kenapa mas dengan mudah nya putus asa kayak gini?” Laras menatap mata suaminya itu dalam-dalam. “Percaya dong mas, yakin kalau mas bisa. Kita bisa, kita mampu!”
“Aku tuh udah capek, aku capek dan malu. Sana sini gak ada hasilnya!” pekik Arkan. Baru kali ini, ia membentak istrinya. Bukan karena ia kesal pada Laras, melainkan kesal pada dirinya sendiri. “Aku udah berjuang setahun belakangan ini, tapi sia-sia! Yang kita lakuin gak ada hasilnya.”
“Kamu gak kasian sama aku, mas. Aku yang selalu percaya dan yakin, bahwa kamu bakalan sembuh!” Laras tersenyum kecut, jujur beberapa minggu belakangan ini. Ia lelah dengan sikap suaminya yang selalu uring-uringan lantaran rasa putus aja dalam hatinya.
Tanpa kata, Arkan menarik tangan istrinya dengan paksa menuju ruangan kerjanya. Laras hanya diam dan mengikuti, dadanya sudah semakin sesak. Bola matanya sudah berkaca-kaca.
Sesampainya di dalam ruangan kerjanya, Arkan melepaskan tangan istrinya. Ia berjalan ke arah lemari yang ada di pojok ruangan itu. Tampak, Arkan mengambil tumpukan kertas yang jumlahnya tidak sedikit.
“Hitung lembaran kertas ini!” Arkan memberikan tumpukan kertas itu pada Laras. Laras menangis di buatnya.
“Bukan sekali dua kali aku berusaha, tapi udah berkali-kali bahkan mungkin hampir ratusan dokter yang kita datangi, Laras! Kamu tau, semuanya gak ada hasilnya!” dada pria itu bergemuruh. Deru napasnya naik turun, bahkan matanya menitikan airmata.
“Mas,” ucap Laras dengan lirih. Lembaran kertas hasil tes Arkan berserakan dilantai ruangan itu.
“Aku kasian sama diri aku sendiri, aku juga kasian sama kamu yang selalu berharap kesembuhan aku yang mustahil ini!” terang Arkan. “Mulai saat ini, belajarlah membuka hati untuk orang lain!”
Plak!
Mendengar kalimat akhir suaminya, Laras melayangkan tamparan ke pipi pria itu.
“Ulangi, mas!”
Arkan memegangi pipinya. “Belajarlah membuka hati untuk pria lain!” Lagi, Arkan mengulangi perkataannya.
“Tega kamu sama aku, mas! Kamu suruh aku mengkhianati pernikahan kita, kamu suruh aku buka hati untuk orang lain setelah kamu mencuri perasaan ini! Tega kamu mas!” teriak Laras. Airmata nya dan juga airmata Arkan semakin deras mengalir.
“Aku mencintai kamu, Larasati! Sangat mencintai, tapi aku gak bisa liat kamu menderita setiap saat, menderita setiap malam,” kata Arkan. “Aku tau, meskipun kamu bilang kamu gak butuh semua itu, kamu akan tunggu aku sampai sembuh bahkan gak sembuh sekalipun. Aku tau betul kamu butuh semua itu, kamu selalu menahan hasrat itu sendirian! Aku gak sanggup liat penderitaan kamu.”
Laras memeluk tubuh suaminya dengan erat, ia begitu mencintai suaminya itu. “Mungkin kamu gak kekurangan nafkah lahir dan materi, tapi semua itu gak cukup tanpa nafkah batin. Aku gak bisa kasih semua itu buat kamu.” Suara Arkan terdengar semakin lirih.
__ADS_1
“Mas, tolong lihat aku! Aku butuh kamu, semua ini udah lebih dari cukup. Aku bahagia dengan semua keadaan kita, mas. Aku butuh kamu, tanpa kamu aku gak akan mampu bertahan.” Laras semakin terisak, Arkan ikut membalas pelukan istrinya.
Ini bukanlah kali pertamanya mereka berdebat. Dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini, mereka sering kali bertengkar. Dan masalah yang mereka ributkan adalah masalah yang sama, yaitu masalah rasa keputus asaan Arkan terhadap penyakit impotensi yang ia derita. Pada akhirnya, hubungan mereka tetap baik-baik saja setelah perdebatan panjang itu.
“Mas, kamu harus kuat. Kita pasti bisa,” lirih Laras. Arkan pun mengangguk, jemari Arkan menghapus sisa airmata yang ada pada wajah istrinya.
“Mas janji, ini yang terakhir kalinya. Maaf buat semuanya, maaf udah bikin airmata yang berharga ini selalu terbuang.” Arkan mencium lembut kedua mata Laras. “Sekarang, mas gendong ke kamar, ya!”
Arkan menggendong tubuh istrinya itu menuju kamar. Kedua anak manusia itu kembali berbicara santai, seletah melewati ketegangan yang panjang.
.
.
.
Sore hari, Laras yang sedang memasak. Mendapat telpon dari Hesti.
“[Iya, Hes. Kenapa?]” tanya Laras setelah mengangkat panggilan itu.
“[Nanti malam, ke rumah ya! Ada acara makan malam,]” kata Hesti.
“[Acara makan malam apa? Kok dadakan?]” tanya Laras.
“[Ish! Bawel banget, pokoknya datang aja sama Arkan!]”
Setelah itu, Hesti memutuskan sambungan telpon itu. Laras kebingungan dan penasaran dibuatnya.
“Hesti aneh,” kata Laras sembari meletakan ponselnya diatas meja makan. “Bikin penasaran aja!”
Maka, setelah Arkan pulang bekerja Laras segera memberitahukan apa yang disampaikan Hesti.
“Udah pulang, mas!” Laras mengambil tas suaminya. Mereka berdua berjalan memasuki rumah itu dengan bergandengan.
“Mas, istirahat dulu sebentar. Abis itu mandi,” kata Laras. “Udah jam 17:13, tadi kata Hesti. Kita di suruh kesana.”
__ADS_1
“Ngapain kesana?” tanya Arkan.
“Katanya, ada acara makan malam,” jawab Laras.
Maka, pada malam harinya. Arkan dan Laras menuju ke kediaman Erland. Kediaman yang tidak begitu jauh, hanya memerlukan waktu 10 menit saja untuk sampai disana menggunakan kendaraan mobil dengan kecepatan sedang.
Sesampainya disana, dahi Arkan berkerut. Pasalnya, ada mobil Papa Han juga disana. Yang artinya, pasti ada hal penting.
“Mas, ada mobilnya papa,” kata Laras.
“Iya, ada apa sih sebenernya?” heran Arkan. Dengan rasa penasaran, sepasang anak manusia melangkah berdampingan menuju pintu rumah itu.
“Asalamualaikum,” ucap Laras sembari mengetuk pintu rumah itu.
“Wa’alaikumsalam!” sahut suara dari dalam. Suara itu adalah milik Bu Rahayu, ibu dari Erland. “Kalian udah dateng, yuk masuk!”
Arkan dan Laras menyambut tangan Bu Rahayu lebih dulu. Setelah itu, barulah mereka masuk.
Bu Rahayu segera berjalan menuju dapur, di ikuti Arkan dan Laras di belakangnya.
“Nah, anak-anak papa udah datang!” sapa Papa Han dengan perasaan yang begitu senang. Sedangkan Mama Rita hanya diam sembari melirik Arkan dan Laras sekilas.
“Iya, pa. Maaf ya kami telat, jadi bikin kalian semua nunggu,” kata Laras. Ia memeluk papa mertuanya itu, begitu pula dengan Arkan. Tapi, saat Laras ingin memeluk Mama Rita, wanita setengah paruh baya itu menolak.
“Gak usah peluk,” kata Mama Rita. Laras pun hanya tersenyum canggung pada Mama mertuanya itu.
Karena sudah berkumpul semua, mereka pun memulai acara makan malam itu. Tapi,baru saja hendak memulai. Erland segera pergi meninggalkan meja makan dengan wajah yang berubah pucat.
.
.
.
Yang nunggu Arkan sembuh, sabar yak! Gak lama lagi kok!
__ADS_1
Nah! Sembari nunggu update, bisa mampir ke karya Kakak Online Neng yang ada di bawah ini!