Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
TAMAK & SERAKAH


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Laras sudah telponan dengan Hesti.


“[Hey, nona! Pagi-pagi udah telponan, gak di marah tuh ama suami?]” tanya Hesti.


“[Enggak lah. Kenapa dia mesti marah?]”


“[Secara logika, ini jam berapa? Pagi-pagi udah nelpon aku, emang gak siapin dia sarapan?]”


“[Jam 6 pagi, aku udah beres loh! Tinggal nunggu dia bangun, pakaian kerjanya juga udah aku siapin kok, Hes,]” kata Laras lewat sambungan telpon itu.


Cukup lama mereka mengobrol di pagi hari itu, akhirnya Hesti pamit berangkat bekerja pada Laras.


“[Ras, kita sambung chatingan aja, ya. Aku mau siap-siap terus berangkat kerja,]” kata Hesti.


“[Iya deh, aku juga mau bangunin Mas Arkan kalo gitu.]” akhirnya, panggilan itupun berakhir.


Hesti meletakan ponselnya dan keluar kamar dengan handuk yang bergantung pada lehernya. Ia pergi menuju kamar mandi yang ada di pojokan dapur. Tanpa Hesti tahu, ternyata Ibu dan kakaknya menguping pembicaraannya dan Laras melalui sambungan telpon itu.


“Bu, ternyata Laras masih hidup,” kata Anita, kakak dari Hesti.


“Iya, kita harus susulin dia ke jakarta. Kalau dia gak mau balik ke sini, kita minta tebusan aja sama orang yang uda jadi suaminya itu!” ujar Bu Yanti, ibu dari Hesti dan Anita. Juga Bibi dari Laras.


“Ide bagus tuh, bu.” Akhirnya, kedua manusia tamak dan serakah itu memutuskan untuk pergi ke jakarta di mana tempat Laras tinggal, tanpa sepengetahuan Hesti.


“Sore ini aja, bu. Kita pesan jasa travel,” kata Anita kepada ibunya itu.


“Kamu yang pesen, jangan sore-sore. Biar besok pagi kita bisa langsung nemuin Laras,” ucap Bu Yanti.


“Ibu gak usah khawatir! Pokoknya semua beres.” Anita mengacungkan jempol kepada ibunya itu. Sembari menghubungi jasa travel yang akan mengatar mereka ke jakarta sore itu juga.


Setelah Hesti kembali dari kamar mandi, Bu Yanti dan Anita pura-pura tidak terjadi apa-apa. Mereka berdua segera pergi dari rumah itu seperti biasanya.


“Kalian berdua mau kemana?” tanya Hesti sembari mengusap wajahnya.


“Mau keluar lah, cari sarapan!” cetus Anita. Sembari berlenggok melewati Hesti.


“Huhhhh! Dasar nenek sihir, gak bisa di ajak ngomong baik-baik.” Laras segera masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian.


.


.


.

__ADS_1


“Pak, tolong pinjam telponnya sebentar,” kata Maya pada salah satu petugas penjaga lapas.


“Untuk apa?” tanya petugas polisi itu.


“Saya mau mengubungi Mommy saya, saya mau kasih tau dia. Kalau saya di tahan di sini,” jawab Maya pada petugas itu.


Polisi itu pun memberikan ponselnya kepada Maya. “Jangan lama-lama! Cukup 3 menit saja.” Tegas petugas polisi itu. Akhirnya, Maya pun segera menekan tombol angka di ponsel petugas polisi itu dan menghubungi Mommy Jeny.


“[Hallo, Mommy! Ini Maya, mom,]” kata Maya pada Mommy Jeny sesaat setelah panggilan itu terhubung.


“[Iya, kenapa?]” Tanya Mommy Jeny yang ada di seberang telpon.


“[Mommy, tolong bebasin Maya dari sini mom. Maya takut,]” Maya benar-benar menangis karena ini adalah kali pertamanya ia merasa begitu tertekan.


“[Oke! Kamu tunggu aja, besok Mommy akan kirim orang untuk membebaskan kamu dari sana!]”


“[Bener ya, mom. Maya tunggu,]” kata Maya. Binar bahagia begitu terlihat jelas dari matanya. Ia tidak tahu, bahwa ia akan lepas dari tahanan penjara dan masuk ke dalam tahanan yang di ciptakan oleh Mommy angkatnya itu.


.


.


.


Setelah menerima panggilan itu, Mommy Jeny pun bangun dan beranjak turun dari ranjangnya.


“Zai!” panggil Mommy Jeny dengan suara yang menggema di dalam ruangan kamarnya itu.


“Ya, madam. Saya!” Pria yang di panggil dengan ssnutan Zai itu datang dengan tergesa ke kamar Mommy Jeny. “Ada apa?” tanya Zai.


“Cari pengacara handal, untuk mengeluarkan Maya dari penjara!” perintah Mommy Jeny pada Zai.


“Siap, madam!” sahut Zai cepat. Setelah itu, Zai segera mengajak kedua temannya untuk mencari pengacara seperti yang di ucapkan Mommy Jeny


“Setelah ini, aku akan membuat Maya menghasilkan madu yang banyak untukku! Aku tidak akan memperlakukan dia dengan istimewa lagi.” Mommy Jeny menyeringai. Ia sudah menyiapkan kejutan yang tidak akan pernah di bayangkan Maya meski di alam mimpi sekalipun.


.


.


.


“Mas, jadikan nanti pulang kantor kita cek up kesehatan kamu?” tanya Laras pada suaminya. Kini, mereka berdua berada di meja makan.

__ADS_1


“Jadi dong. Masa enggak,” kata Arkan. Ia makan dengan sangat lahap. Membuat Laras tersenyum puas.


“Kalau gak ada perubahan berobat sama Dokter Heru, kita cari dokter lain, ya!” ujar Arkan. “Kita kan udah empat kali kesana. Tapi, mas belum ngerasain perubahan apapun.”


“Iya, mas semangat terus. Jangan nyerah, Laras yakin suatu saat mas pasti bakal sembuh!” Laras menggenggam jemari Arkan. Ia selalu memberi kekuatan dan semangat pada suaminya itu.


“Makasih ya, kamu udah mau terima kekurangan aku,” kata Arkan. “Aku bersyukur bisa memiliki kamu yang begitu baik dan tulus.”


“Aku juga bersyukur bisa milikin lelaki hebat kayak kamu, mas. Kamu adalah laki-laki yang paling hebat dimata aku, laki-laki yang mampu bertahan dan berjuang sendirian selama bertahun-tahun tanpa ada seorang pun yang tahu penderitaan yang kamu alami!”


“I LOVE YOU!” tiga kata yang terucap dari bibir Arkan. Selalu mampu membuat hati Laras merasa bahagia dan berbunga-bunga.


“I LOVE YOU MORE!” balas Laras. Kedua anak manusia itu saling melempar senyum.


Sebagai istri, Laras tidak pernah mengeluh pada suaminya yang tidak sempurna itu. Begitu pula Arkan, ia selalu menghormati dan selalu mendukung apapun keputusan istrinya.


“Udah, jangan senyum terus. Abisin sarapannya, nanti mas telat,” kata Laras.


“Emang kalo telat kenapa? Orang bos nya aku, jadi suka-suka aku lah!” timbal Arkan. Jawaban suaminya itu, membuat Laras geleng-geleng kepala.


Setelah sarapan, Arkan pamit berangkat ke kantor pada Laras. Laras pun mengatar suaminya itu sampai di pintu depan.


“Mas berangkat dulu, ya. Nanti jam duaan mas pulang, dan kita berangkat buat cek up sama Dokter Heru,” kata Arkan.


“Iya, mas!” sahut Laras. Arkan pun mencium kening istrinya dengan lembut sebelum ia pergi menuju mobilnya yang terparkir.


Setelah mobil suaminya itu meninggalkan pekarangan rumah, Laras kembali masuk dan mengunci pintu rumah itu.


“Dengarkan lah.. Di setiap malam aku berdoa, bersujud dan lalu aku meminta.. Semoga kita bersama! Dengarkan lah.. Di sepanjang malam aku berdoa, cintaku untuk mu selalu terjaga.. Dan aku pasti setiaaa..!”


Dengan perasaan yang begitu bahagia, Laras terus bernyanyi sembari menaiki anak tangga rumah besar itu.


.


.


.


BERSAMBUNG!


***


Sembari nunggu update, bisa mampir di karya kakak online neng yang ada di bawah ini, ya!

__ADS_1



__ADS_2