
Beberapa hari kemudian, masih di daerah Lampung. Malam itu, Arkan dan Laras sedang berembuk di kamar mereka berdua. Rencananya, mereka akan mengadakan acara syukuran Baby Samudra di kampung itu. Sebenarnya, daerah itu bukan lagi kampung tapi bisa di bilang kota kecil.
"Rencana papi, sebelum kita pulang ke Jakarta. Papi mau adakan syukuran Samudra dan mengundang para anak yatim piatu di kampung ini. Sekalian kita berbagi juga," kata Arkan. "Jadi, gimana menurut mami?"
"Em.. Bagus, mami setuju," kata Laras sembari tersenyum lebar.
"Kalau mami setuju, besok pagi kita bicarakan sama Papa, Mama dan yang lainnya," kata Arkan. "Siapa tahu juga, Erland sama Hesti mau ikutan juga." tambahnya. Mulut Arkan terus berbicara, tapi tangannya juga tidak berhenti bergerak dan merayap di tubuh istrinya.
"Tangan papi, tolong di kondisikan!" tegur Laras sembari menahan tangan suaminya yang hendak menjalar ke dalam gaun tidur yang ia kenakan.
"Ayolah, yank.. Mas mohon, sebentar aja ya. Please.." Arkan memohon sembari menyentuh perut istrinya itu.
"Mas tu bohong, mana ada sebentar kalau udah main. Pasti mainnya lama dan gak berhenti kalau hari belum menjelang subuh," kata Laras.
"Sekarang janji, sekali main aja," ucap Arkan dengan pelan. Sembari mencumbu dan menciumi wajah istrinya itu dengan bibirnya, bahkan tak hanya mencium. Pria itu menyapu wajah istrinya itu dengan lidahnya.
Jika sudah seperti itu, Laras pun hanya bisa pasrah. Karena menolak pun percuma, ujung-ujungnya ia tetap kalau dan berakhir di jadikan kuda liar oleh suami mesum nya itu.
"Duh.. Suamiku CEO Mesum," gerutu Laras sembari mendongakan lehernya yang terus di cumbu oleh suaminya itu.
"Pintunya di kunci!" tunjuk Laras. "Jangan sembarangan, banyak orang loh di luar."
"Iya, yank.. Hehehe.." Arkan terkekeh sembari bangkit dan berjalan menuju pintu. Setelah menutup pintu, ia kembali baik ke atas ranjang.
"Turun aja, jangan disini. Gangguin Samudra tidur," kata Laras sembari turun dari atas ranjang.
"Masa di bawah," gurutu Arkan. "Sakit lah, yank."
"Mau gak? Kalau gak mau, Laras tidur aja!" ancam Laras.
"Iya-iya, mas mau," buru-buru Arkan membentang karpet dan juga menurunkan kasur lantai dari atas lemari. "Sini, yank. Udah siap nih!" Arkan meminta istrinya itu mendekat padanya.
Baru saja istrinya itu melangkah dan menapakan kakinya di atas kasur lantai itu, Arkan dengan tidak sabaran menarik tubuh Laras dan mengungkungnya.
Tidak perduli terdengar oleh orang-orang du luar kamar itu, Arkan terus saja mebggauliy istrinya itu. Lagi-lagi Arkan berbohong, yang janjinya hanya sebentar dan sekali, nyatanya menjadi lama dan juga berkali-kali.
"Ahhhh.. Mas, udah dong.." lirih Laras. Bukannya menghentikan gerakannya, Arkan malah membungkam bibir istrinya itu dengan bibirnya.
__ADS_1
Dari pukul 21:47 malam, Arkan hanya memberi sedikit jeda istirahat kepada Laras. Seperti pria hipers3x, Akran terus bermain di atas tubuh Laras. Pada pukul 00:19 dini hari, Arkan baru benar-benar membiarkan istrinya beristirahat.
"Auchh.." lirih Laras sembari meremas pinggiran kasur lantai tempatnya berbaring. Karena terlalu lama di jadi kan kuda, Laras pun merasakan sakit pada punggungnya dan nyeri di bagian area bawah nya.
"Yank, kamu kenapa?" Arkan mecium pipi istrinya dengan lembut. Laras yang lelah dan juga kesal, segera mendorong tubuh suaminya itu agar menjauh dari dekatnya.
"Pergi sana!" usir Laras. Wanita itu sudah hampir menangis karena kesal pada suaminya. "Mas bohong terus, gak ngerti apa kalau tulang-tulang Laras jadi kayak mau rontok. Pinggul Laras juga rasanya nyeri." jelas Laras.
Mendengar keluhan istrinya yang bersungguh-sungguh itu, Arkan pun memeluk tubuhnya dengan paksa. "Mas minta maaf, yank. Abis ini mas bakal berusaha buat kontrol kemauan mas," ucap Arkan.
"Mending mas minggir, Laras mau istirahat," usir Laras. Ia mendorong tubuh Arkan dan berusaha bangkit dari kasur lantai itu dan kembali ke atas ranjang.
Wanita itu benar-benar ke susahan dan kepayahan, suaminya sudah benar-benar menjadi pria yang mesum dan juga hyper.
"Yank, jangan marah. Mas minta maaf, mas obatin ya. Atau mas pijitin?" tawar Arkan. Pria itu buru-buru memakai dalaman nya dan ikut naik ke atas ranjang. Tanpa memperdulikan suaminya, Laras menarik selimut untuk menutup seluruh tubuhnya, untuk memakai pakaiannya lebih dulu saja, wanita sudah seperti tidak sanggup lagi.
Arkan yang tidak ingin di rajuk'i istrinya itu, segera merayu dan membujuk dengan cara memijat seluruh tubuh Laras dengan pelan menggunakan minyak kayu putih.
"Jangan ngambek ya, yank. Mas janji, habis ini kalau main gak lama-lama lagi," ucap Arkan, akan tetapi sudah tidak ada respon dari istrinya. Wanita itu benar-benar langsung terlelap begitu saja.
.
.
.
Keesokan paginya, semua orang sudah berkumpul dan sarapan di meja makan, kecuali Laras.
"Dimana Laras?" tanya Anita.
"Belum bangun," jawab Arkan dengan santai.
"Pasti di jadikan kuda semalaman!" terka Mama Rita.
"Pasti Laras lagi ngambek, makanya gak bangun jak segini," ucap Hesti. "Kalau Hesti yang jadi Laras, udah Laras plorot burung nya sampe lemes dan gak bernyawa!" Mata Hesti mendelik pada Erland.
"Ihhh.. Horor banget," kata Erland dengan dahi berkerut.
__ADS_1
"Lagian, kalian lelaki gak ngertiin banget!" sungut Hesti. "Hesti yakin, kalau Hesti nurut kayak Laras. Abang juga bakalan sama kayak dia!" tunjuk Hesti pada Arkan yang seperti tidak memiliki telinga. Pria itu terus menyendok dan memakan isi piringnya.
"Berarti kakak dapat bonus plus-plus ya," bisik Ramon pada Diana.
"Bonus plus-plus apaan?" tanya Diana dengan serius.
"Istri kakak punya 2 kartu As," kata Ramon. "Di ranjang gan-AS dan pinter bikin pu-AS!" Celetuk Ramon. Diana pun menjadi tersipu setelah mendengar pujian dari suaminya itu.
"Kapankah Drama rumah tangga ini berakhir?" guman Jhonson.
"Tuan, sebenernya kuda yang di maksud Nona Hesti dan suaminya itu apa?" tanya Kenzo kepada Ramon.
Maka, mendelik lah mata semua orang yang ada di area dapur itu dibuat oleh Kenzo.
"Anita nih, tu ada dua cowok jomlo. Kalau misalnya di suruh milih, kamu pilih yang mana?" celetuk Mama Rita tiba-tiba.
"Uhukk.. Uhukk.." Kenzo dan Jhon terbatuk-batuk setelah mendengar perkataan Mama Rita yang tertuju kepada mereka berdua.
Anita yang juga terkejut, lebih mendahulukan memberi segelas air pada Kenzo yang ada di seberang nya. "Minum!" Anita memberikan air itu pada Kenzo.
Sembari mengambil gelas itu, Kenzo menatap wajah putih dan bersih Anita dalam-dalam. "Cantik," itulah yang di ucapkan Kenzo dalam hati.
"Buruan di minum," kata Anita dengan wajah khawatir nya.
Jhon hanya terdiam, ia meraih gelas yang ada di hadapannya dan meneguk nya hingga tandas. Padahal, posisi Jhon ada di samping Anita. Tapi sepertinya, Anita lebih perduli sama pada Kenzo.
"Aku udah kenyang," kata Jhon sembari bangkit dari duduknya dan pergi menuju ke belakang rumah.
"Ada yang terbakar, tapi gak gosong," ucap Hesti dengan pelan.
"Kak Jhon patah hati," guman Erland.
***
Cerita ini, sudah akan berakhir. Dan Kisah Kenzo, Anita dan juga Jhonson. Akan kita ulas dalam buku baru dengan judul (KETIKA HATI YANG MEMILIH).
Tapi, Neng gak tahu! Mungkin ceritanya bakal rilish di awal bulan depan.
__ADS_1