
Setelah mengubungi Dokter Ilyas. Arkan segera keluar dari area dapur itu melalui pintu belakang. Ia bergegas menuju kediaman Kang Somat, penjual Mie ayam keliling yang tinggal di belakang kompleks lingkungan gedung elit yang di tinggali keluarga Sudradjat ataupun warga mampu lainnya.
Saat Arkan baru memasuki mobilnya, ia teringat sesuatu dan kembali turun lalu menemui Mbok Nunung lagi.
"Mbok!" panggil Arkan dari pintu dapur.
"Apa lagi, Den?"
"Mobil gak bisa masuk kan, mbok? Bukannya rumah Kang Somat itu di belakang gedung ini, masuk gang kecil?" tanya Arkan. Ia mengingat lingkungan yang di tempati Kang Somat, karena saat masih remaja. Ia sering kabur mengajak Erland dan bersembunyi di balik gedung-gedung menjulang tinggi itu.
"Iya, mobil gak bisa masuk," kata Mbok Nunung.
"Terus gimana, mbok?" tanya Arkan lagi.
"Jalan kaki, atau naik motor," jawab Mbok Nunung.
"Jalan aja deh, malas banget Arkan buka garasi!" Arkan pun segera kembali keluar dan pergi berjalan kaki. Sebenarnya pria itu memiliki motor trabas di dalam garasi rumah itu, akan tetapi ia begitu malas untuk mengeluarkannya.
Jam sudah menujukan 04:57, yang artinya hari sudah menjelang siang. Arkan baru tiba di kediaman Kang Somat, rumah bata dan kayu sebagian.
Tok tok tok! Arkan mengetuk pintu rumah itu.
"Permisi!" teriak Arkan dengan wajah dan tubuh yang berkeringat panas dingin.
"Ya sebentar!" sahut suara dari dalam. Suara itu milik perempuan, mungkin istri Kang Somat. "Loh! Pagi-pagi kok Den ini sampe kesini?" Istri Kang Somat begitu terkejut saat melihat putra tunggal dari keluarga Sudradjat berada di depan pintu rumahnya subuh-subuh.
"Kang Somat nya ada, bi?" tanya Arkan sembari menyeka keringatnya.
"Ada, ayo masuk den!" ajak istri Kang Somad.
Arkan pun mengikuti langkah istri Kang Somat memasuki rumah itu. Istri Kang Somat pun mempersilahkan Arkan duduk di kursi plastik yang ada di dalam rumah itu. Tapi, Arkan tak kunjung duduk. Pria itu malah memandang ke seluruh penjuru rumah. Istri Kang Somat pikir, Arkan jijik dan tidak suka duduk di kursi plastik yang ada di rumah mereka, secara kan Arkan adalah anak pengusaha konglomerat di kota itu.
"Bi, maaf saya bukan mau duduk. Tapi mau mie ayam," kata Arkan. Menganga lebar lah mulut istri Kang Somat.
"Mi-mi-mie ayam? Untuk apa den?" tanya istri Kang Somat.
"Untuk istri saya, udah dari jam setengah tiga tadi saya berkeliling!" jelas Arkan.
"Masyaallah! Ya udah, bibi buatkan dulu." buru-buru Istri Kang Somat pergi menuju dapur, menemui Kang Somat yang sedang menyusun bahan jualannya di gerobak.
Arkan terus mengikuti langkah istri Kang Somat menuju dapur. Sesampainya di dapur itu, istri Kang Somat segera memanggil suaminya.
"Pak, bawa masuk lagi pak panci nya," kata wanita setengah baya itu.
"Lah kenapa to, buk? Wong baru aja bapak susun," kata Kang Somat dengan logat jawa nya yang kental.
"Ini ada Den Arkan," kata istri Kang Somat. "Istrinya pengen mie ayam!"
__ADS_1
"Walah.. Den Arkan anaknya Tuan Handoko?" mendengar nama itu, Kang Somat buru-buru mengangkat kembali panci dagangannya. Pria separuh baya itu tidak ingin Arkan menunggu lama, sudah begitu banyak kebaikan yang di lakukan oleh Papa Han untuk keluarganya.
Akhirnya, setelah mie ayam pesanan Arkan jadi, Kang Somat segera memberikannya. Tanpa kata atau ucapan terimakasih, Arkan mengambil dua bungkus pesanan mie ayamnya, dan merogoh saku piyamanya.
"Makasih ya, bi, mang!" Arkan memasukan sesuatu ke dalam genggaman Kang Somat setelah itu, Arkan berlari pergi.
"Den, apa ini? Gak semua hal bisa aden bayar pakai uang!" teriak Kang Somat pada Arkan yang sudah keluar dari rumah itu. "Anak ini dari kecil gak pernah berubah." Kang Solat membuka dan melihat sesuatu yang ia genggam.
"Masyaallah, pak. Duq mangkok mie ayam di hargai segini," kata istri Kang Somat.
"Anggap rezeki anakmu sekolah, bu. Kita gak mungkin mengembalikan uang ini kepada Den Arkan. Bisa mengamuk dia!"
.
.
.
Saat pagi hari, barulah Arkan tiba di rumah. Ia segera mengambil mangkok, sendok dan garpu. Pria itu segera menuju lantai atas untuk menemui dan membangunkan istrinya.
"Sayang, bangun. Ini mie ayam nya," ucap Arkan dengan pelan sembari mengusap pipi istrinya itu dengan gemas.
"Mas.." Laras bangun dan langsung menduselkan wajahnya di dada Arkan. "Mana mie ayam nya? Laras laper banget."
Arkan segera memindahkan kepala istrinya ke atas bantal, lalu dengan cepat ia memasukan sebungkus mie ayak itu kedalam mangkok.
"Mas, mangkoknya ganti! Laras pengen mangkok yang besar, biar dua-duanya Bumm di campur jadi satu!" pinta Laras. Arkan tersenyum dan kembali bangkit dari ranjang itu, pria itu segera kembali ke lantai bawah dan kembali lagi dengan mangkok yang lebih besar dan juga sebotol air mineral.
"Emmm.. Enak," ucap Laras sembari menyendok kuah dari mie ayam itu. "Mas mau?" tawar Laras.
"Enggak!" Arkan menutup mulutnya, ia tidak ingin mencoba atapun memakan masakan dari luar rumah.
Laras terus menyendok kuah dari mie ayam itu dan juga memakan sayuran hijau yang ada di dalamnya.
"Sayang, buruan di makan. Mas sengaja tadi minta di banyakin ayam nya sama Kang Somat, biar kamu kenyang."
"Udah mas!" Laras memberikan mangkok mie ayam itu kepada Arkan.
"Loh! Kok gak dimakan?" Arkan melihat isi mangkok itu yang masih untuk mie dan dagingnya. Hanya kuah dan sayuran hijau nya saja yang sudah habis.
"Laras kan gak pengen mie sama ayam nya, Laras cuman pengen sawi sama kuah nya aja," kata Laras sembari menyodorkan botol air mineral pada Arkan. "Mas sih! Masa minta sawi nya dikit banget!" protes Laras.
Mama Rita dan Papa Han yang sedang menuruni anak tangga, begitu terkejut setelah melihat kedatangan Dokter Ilyas yang memasuki rumah itu.
"Dokter Ilyas, pa. Mau ngapain dia!" tanya Mama Rita kepada Papa Han.
"Gak tau, mending kita samperin!" Papa Han dan Mama Rita segera bergegas menghampiri Dokter Ilyas.
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan Handoko dan Nyonya Rita!" sapa Dokter Ilyas dengan ramah.
"Selamat pagi, dokter!"
"Ada apa ini dokter? Kenapa pagi-pagi sekali datang kemari?" tanya Papa Han.
"Tuan muda Arkana yang menghubungi saya subuh tadi," kata Dokter Ilyas.
"Loh! Tapi Arkan gak tinggal sama kami lagi," ucap Mama Rita.
"Tapi, tadi dia menelpon dan mengatakan, bahwa saya di suruh kemari untuk memeriksa istrinya," kata Dokter Ilyas. "Saya tidak mungkin salah dengar, karena dia menyebutkan rumah Papa!"
"Dokter gak salah dengar!" sahut Arkan dari lantai atas rumah itu. "Cepat naik dokter, saya udah gak sabar!"
Buru-buru Dokter Ilyas, Papa Han dan Mama Rita pergi menuju lantai atas.
Sesampainya di lantai atas itu, Laras di buat terkejut karena tiba-tiba Dokter Ilyas memeriksa dirinya.
"Mas, kenapa bawa dokter? Laras gak sakit!" jelas Laras dengan takut dan hampir menangis.
"Sayang, mas cuman mau mastiin sesuatu," ucap Arkan dengan lembut.
"Laras takut, Laras gak sakit kok," kata Laras, tapi wanita itu tidak berontak atapun memarahi Dokter Ilyas yang menyentuh perutnya dan memeriksa denyut nadinya.
"Nona, kapan terakhir anda mendapat tamu bulanan?" tanya Dokter Ilyas.
"Mas," ucap Laras sembari menatap suaminya. Ia takut karena ada Mama Rita, dan juga Papa Han.
"Di jawab dokternya," kata Arkan sembari tersenyum pada istrinya itu.
"Sebulan yang lalu," jawab Laras dengan pelan.
"Kalo gitu, buat mastiin. Nona buang air dulu ke kamar mandi, dan pakai alat ini!"
"Tespack!" Dengan semangat, Laras segera bangkit dan menuju kamar mandi. Ia baru paham maksud dari suaminya dan juga Dokter Ilyas.
Tak lama kemudian, Laras keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang berseri-seri.
"Gimana sayang?" Arkan dan Mama Rita segera menghampiri Laras.
"Papa, jangan dimakan. Itu udah sisa Laras!" bukannya menjawab suami dan ibu mertuanya. Laras malah memandang ke arah Papa Han yang duduk di sofa sembari memakan mie ayam yang sudah di aduk-aduk oleh Laras.
"Gak apa-apa, papa tahu kok kalau ini punya kamu. Tapi papa suka mie ayam, apa lagi ini banyak daging dan potongan ati nya!" jelas Papa Han sembari menyendok daging dari mie ayam itu.
"Sayang gimana?" tanya Arkan dengan kesal. Ia kesal menunggu jawaban dari istrinya itu. Tanpa menjawab, Laras memberikan tespack itu ke telapak tangan suaminya.
"Ma, ini gimana?" tanya Arkan yang tidak mengerti.
__ADS_1
"Alhamdulillah.. Istri kamu hamil, sebentar lagi mama bakalan punya cucu!" Mama Rita tertawa girang setelah melihat dua garis biru di tespack itu.
"Alhamdulillah ya allah!" Arkan mengucap syukur pada tuhan.