Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
PETAKA IDE DARI ERLAND!


__ADS_3

Papa Han sudah tiba di rumah. Ia memasuki rumah itu dangan tergesa-gesa. "Ma.. Mama!" teriak Papa Han.


Buru-buru Mama Rita dan Hesti yang berada di dapur menghampiri Papa Han yang terus berteriak-teriak.


"Ada apa, pa?" tanya Hesti dan Mama Rita bersamaan.


"Laras di culik!"


"Apa?" pekik Hesti dan Mama Rita.


"Kata Mang Udin, dia di culik dua orang saat keluar dari toko dan mau pulang," jelas Papa Han.


"Astagfirullah! Jadi gimana ini, pa? Apa yang harus kita lakukan?"


"Kita lapor polisi!" ujar Papa Han.


"Gak bisa lapor polisi, Laras baru menghilang beberapa menit. Mana bisa?" Erland yang baru saja pulang, menyahuti perkataan Papa Han.


"Lalu gimana, Er? Papa takut terjadi sesuatu sama Laras."


"Kita kerahkan orang untuk mencari Laras!" ujar Erland. Papa Han mengangguk, pria separuh baya itu pun segera menghubungi anak buahnya. Dan meminta para anak buahnya berpencar untuk mencari keberadaan Laras dan juga meringkus dalang di balik penculikan itu.


"Kalau begitu, papa akan hubungi anak buah papa dan memerintahkan mereka untuk menyebar ke seluruh pelosok kota ini!" Erland hanya mengangguk tanpa berkomentar.


.


.


.


Laras yang pingsan, baru saja sadarkan diri. Perlahan ia mengejapkan matanya, tangannya memegangi kepalanya yang terasa pusing dan berat. Ia menatap ke sekelilingnya.


"Auchh! Di mana aku?" gumannya. Ia berteriak histeris saat menyadari keberadaannya. Tempat gelap dan tidak ada pencahayaan sama sekali.


"Tolong!" teriak nya. Ia beranjak dari atas ranjang tempatnya di baringkan. "Tolong! siapapun tolong aku!" teriaknya. Laras begitu ketakutan. Ia terus berteriak tapi tidak ada sahutan.


"Hiks.. Mas Arkan, Papa, Kak Er, tolongin Laras," ucapnya. Laras menangis terisak, tubuhnya bergetar hebat. Bayangan pelecehan yang sudah hampir terjadi dua kali padanya, membuat dirinya semakin takut.


"Laras dimana ini?" ia mencoba membuka pintu ruangan itu. Ruangan luas yang gelap, jika di perkirakan olehnya, tempat itu adalah kamar hotel.


"Siapa yang culik Laras? Mau apa mereka?"


Saat ia sedang larut dalam pemikirannya. Tiba-tiba saja pintu itu terbuka.


Crekkk!


Laras segera bangkit dari duduknya. "Siapapun tolong aku, aku mohon!" pinta Laras kepada orang yang baru saja datang.

__ADS_1


"Jangan berisik! Berhenti menangis," kata pria dengan suara yang besar dan lantang.


"Tolong lepasin Laras," pinta Laras.


"Diam! Kalau kamu gak mau diam, jangan salahkan kami, kalau kami akan menyakiti keluarga Sudradjat!" ancam pria itu. "Kami akan membebaskan kamu kalau keluarga Sudradjat dapat memenuhi permintaan kami!"


"Jadi kalian mau memeras Papaku!" teriak Laras dengan keras, membuat pria itu menutup telinga nya.


"Ehh, busyet dah! Ini menantu Sudradjat suaranya melengking amat." batin Pria itu.


Laras tidak dapat melihat wajah pria itu, karena keadaan ruangan itu sangat lah gelap. Sudah seperti suasana di malam hari.


"Aku gak akan biarin kalian nyakitin keluargaku!" teriak Laras lagi. Karena tidak tahan mendengar teriakan Laras yang begitu melengking, akhirnya pria itu meninggalkan Laras sendirian di dalam ruangan gelap itu.


"Buka pintunya!" teriak Laras lagi. Tangisnya yang tadi terdengar pilu, kini berubah menjadi kemarahan. Ia tidak terima dengan perkataan pria itu tadi yang mengatakan akan menyakiti keluarga Sudradjat.


"Bajingan! Buka pintunya!" teriaknya lagi.


Dalang penculikan yang mengintai dari rekaman CCTV yang ada di ruangan itu, tersenyum puas setelah mendengar teriakan Laras yang penuh emosi. Meskipun tidak dapat melihat tapi dalang penculikan itu bisa mendengar teriakan Laras di dalam kegelapan.


"Tuan, dia terus memberontak," kata anak buah dari dalang penculikan itu. "Dia tidak lagi menangis seperti yang tuan katakan tadi."


"Dia perempuan yang baik, dia akan melakukan apa saja untuk melindungi orang-orang yang ada di sekelilingnya," kata dalang penculikan itu. "Hari sudah sore, kabarkan kepada salah satu keluarga Sudradjat untuk datang ke Aula hotel berlian malam ini. Tepat jam setengah delapan malam, jangan sampai telat!"


"Siap, Tuan!"


***


"Pa, ada nomer baru telpon!" ujar Erland sembari memperlihatkan layar ponselnya pada Papa Han dan Mama Rita.


"Angkat! Siapa tahu kabar dari orang-orang yang mencari Laras," kata Papa Han.


Erland pun mengakat telpon itu dan menglouspaker panggilan itu.


"[Hallo!]"


"[Jika kalian ingin wanita itu selamat, siapakan uang 1M dan bawa ke aula hotel permata, malam ini jam setengah delapan malam tepat. Jika tidak, riwayat wanita ini akan tamat! Jangan lupa, kalian semua harus datang tanpa terkecuali!]"


Setelah itu, orang di seberang telpon memutus sambungan itu. Membuat Papa Han mengumpat kasar.


"Bajingan! Bangsat! Jika sampai terjadi sesuatu kepada anak menantuku, akan ku habisi mereka semua.


"Bang, kok kamu gak panik kayak biasanya sih?" tanya Hesti dengan tatapan curiga pada suaminya. Pasalnya, jika menyangkut dengan keselamatan Laras, Erland akan pasang badan paling depan. Tapi sekarang, Erland seperti begitu tenang dan tidak ambil pusing.


"Gak panik gimana? Gak liat apa, dari tadi aku telpon sana telpon sini buat nyuruh orang untuk cari Laras!" cetus Erland dan membuat Hesti bungkam.


"Kayak ada yang aneh di sini. Biasanya Bang Erland bakalan panik banget kalau tahu Laras dalam bahaya, apa lagi ini penculiknya minta tebusan yang gede banget," batin Hesti. "Apa Bang Erland ada hubungannya sama penculikan ini? Tapi, untuk apa?"

__ADS_1


Tak terasa, hari sudah hampir malam. Jam menujukan pukul 18:45. Papa Han, Erland, Mama Rita dan juga Hesti sudah bersiap untuk datang ke hotel permata yang di sebutkan di telpon. Tak lupa, mereka juga telah membawa uang tebusan seperti yang di minta.


"Yakin Er, gak usah telpon polisi?" Papa Han berbicara pada Erland yang melarangnya untuk menghubungi polisi.


"Yakin, pa. Percaya sama Erland!" sahut Erland meyakinkan.


Tak terasa, mereka sudah tiba di parkiran hotel permata bintang lima itu. Mereka begitu heran dengan keadaan hotel permata itu begitu sepi.


"Yakin kamu Er?" tanya Papa Han lagi.


"Yakin, pa!" sahut Erland lagi.


Di satu sisi, Papa Han, Erland dan yang lainnya memasuki aula hotel itu. Di sisi lain, Laras sedang di paksa untuk bepindah ruangan. Lampu seluruh ruangan itu sudah menyala, tapi Laras masih merasakan gelap karena matanya di tutup oleh kain hitam.


"Laras mau di bawa kemana?" teriak Laras.


Tapi, semua orang yang ada di dekatnya tidak ada yang menjawab. Mereka semua diam, Laras dan juga rombongan Papa Han di tujukan ke satu tempat yaitu ujung dari aula hotel permata.


Sesampainya di aula itu, satu-satunya orang yang ada di ujung aula itu berdiri dengan membelakangi semua orang.


Saat semua orang sudah datang, orang itu membalikan tubuhnya. Ia tersenyum kepada semua orang.


"Anak setan!" Maki Papa Han.


"Anak Dajjal!" maki Mama Rita pula.


Papa Han dan Mama Rita mendekati Arkan yang berdiri tidak jauh dari posisi mereka. Kedua orang separuh baya itu menjambak-jambak rambut Arkan.


"Ampun ma, pa. Semua ini idenya Erland. Dia juga yang udah gagalin anak buah papa buat nyari Laras yang Arkan culik tadi siang," kata Arkan. "Papa tau gak? Anak buah yang papa telpon tadi siang, orang yang sama yang udah nelpon Erland sore tadi!" jelas Arkan. Ia tidak rela dan tidak ikhlas di aniyaya sendirian.


"Posisiku ikut gak aman, mendingan aku kabur," Guman Erland sembari melangkah mundur dengan pelan dari belakang istrinya.


"Mau kemana kau, bang? Kau juga harus rasakan derita Arkan!" Hesti menarik kemeja bagian depan suaminya.


"Ayolah Hes, sakit kepalaku kalau di jambak-jambak kayak Arkan tuh!"


Laras yang berada di antara mereka hanya diam, ia terus menatap wajah suaminya yang meringis menahan sakit karena di jambak dan di pukul oleh Mama Rita dan Papa Han.


.


.


.


Arkan pulang kak!


Yuk absen coment!

__ADS_1


__ADS_2