
Di dalam ruangan itu, tinggalah Arkan dan Laras saja. "Mas, Laras sembuh kan?" wanita itu menyentuh wajah suaminya.
"Iya sayang, lantaran Kak Jhon, darah dan ginjal dari Ramon. Tuhan udah angkat semua penyakit kamu, gak hanya itu. Tuhan pun memberikan kita seorang anak," kata Arkan, pria itu menahan tangan istrinya yang berada di wajahnya. "Sekarang mas percaya, kalau Tuhan akan selalu memberikan balasan atas kebaikan yang sudah seseorang lakukan. Contohnya kamu, kamu selalu berbuat baik sama semua orang. Dan di saat kamu yang membutuhkan sesuatu, maka Tuhan mengirimkan seseorang itu untuk membantu kamu."
"Iya, mas. Laras begitu bersyukur, Laras masih di berikan Tuhan kesembuhan," kata Laras. "Mas, boleh gak? Kita ke Lampung kalau nanti keadaan Laras udah jauh lebih baik dan Bayi kita udah bisa di bawa berpergian?"
"Boleh sayang, boleh banget," kata Arkan. "Mulai sekarang, mas gak akan kekang kamu lagi. Mas sadar, rasa sayang dan kecemasan mas itu salah. Mas udah bikin kamu menderita."
"Laras udah boleh turun belum dari sini?" tanya Laras.
"Gak tau," ucap Arkan. "Mas tanya sama Kak Jhon dulu ya." Arkan pun keluar dari ruangan itu dan memanggil Jhonson.
Tak lama kemudian, Arkan kembali ke ruangan itu dan di ikuti oleh Dokter Jhonson di belakangnya.
"Hi, adek ipar!" Sapa Jhonson sembari tersenyum manis pada Laras.
"Jangan genit-genit kak, cukup mama dan papa aja yang kakak goda," kata Arkan.
"Astaga, Arkan! Udah bangkotan masih aja cemburuan," kata Jhonson. "Sebenarnya, yang patut cemburu itu aku. Kamu yang udah ambil Mama dan Papa ku! Karena apa? Aku hadir 4 tahun lebih dulu dari pada kamu!" jelas Jhonson.
"Mas.." panggil Laras. "Dokter Jhon ini siapa? Kok panggil papa dan mama?" tanya Laras.
"Dokter hebat ini, nama Jhonson. Dokter yang udah keluarin bayi kita dan juga operasi kamu," kata Arkan. "Dia kakak dari mas," terang Arkan.
"Kakak angkat yang pas!" sahut Jhonson dengan cepat. "Nanti kalau di bilang anak papa dan mama, dia pasti nangis-nangis lagi dan ngurung diri di dalam kamar." ledek Jhon.
"Kak, udahlah.. Itu kan dulu, waktu Ar masih kecil," kata Arkan.
"Kecil apaan? Kamu suka ngusir aku dulu, udah mau masuk SMP loh! Waktu aku kelas 2 SMA, kerjaannya nangis mulu! Makanya aku pilih sekolah ke LN!" jelas Jhonson.
"Heheee.. Maaf," ucap Arkan. "Tapi Arkan baru tau kalau bukan anak papa dan mama waktu Arkan udah masuk SMA loh."
__ADS_1
"Udah ahhh.. Lupain, sekarang mending anter istri kamu lihat anak kalian," kata Jhonson. Tak terasa, bibirnya terus mengomel akan tetapi tangan dan matanya memeriksa luka operasi Laras.
"Sekarang Laras punya banyak kakak cowok," kata Laras. "Ada Kak Er, Kak Ram dan juga Kak Jhon."
Arkan pun membopong tubuh istrinya dari atas ranjang pasien itu. Dan menduduk kan nya perlahan di atas kursi roda.
"Hati-hati, Ar. Istrimu masih belum boleh banyak bergerak, luka pasca operasi nya belum kering," kata Jhon.
"Iya, kak," balas Arkan.
Arkan pun mendorong kursi roda istrinya itu dengan perlahan. Jhon mengikuti suami istrinya dari belakang dengan pelan.
Sesampainya di ruangan bayi itu, Arkan menujukan bayi mereka.
"Subhanallah.. Liat mas, dia gerak. Dia bayi Laras?" Laras menangis haru, ingin rasanya dia menyentuh dan memeluk bayinya itu. "Mas, Laras pengen gendong dia." Laras menatap suaminya itu dengan penuh harap.
"Belum boleh, sayang. Dia harus tetap di dalam sana, dia terlalu kecil dari bayi pada umumnya, sayang," ucap Arkan dengan pelan.
"Tunggu beberapa minggu lagi, baru kita peluk dan cium dia," kata Arkan. Pria itu duduk di samping kursi roda istrinya. Sepasang suami istri itu menatap haru bayi mereka yang begitu kecil. Bayi yang terlahir hanya seukuran botol minuman ABC. Begitu jauh jika di bandingkan dengan ukuran bayi yang terlahir normal.
"Sebenernya, minggu depan udah boleh di bawa pulang. Keadaan bayinya juga sehat kok," kata Jhon tiba-tiba.
"Beneran, kak?" Laras memastikan pendengaran nya.
"Iya, beneran," kata Jhon.
"Mas, denger itu," Laras menatap suaminya. "Kalau aja mas bisa bikin lompat hari kayak mas bisa pecat karyawan semau mas, udah Laras suruh buat lompatin hari," kata Laras.
"Aneh kamu, yank." Arkan menjadi gemas pada istrinya itu.
"Laras serius, kalau bisa udah Laras suruh. Biar kita bisa cepet kumpul sama-sama," kata Laras sembari tersenyum bahagia. Senyum yang selama ini di rindukan oleh Arkan.
__ADS_1
"Oiya, tanggal dan bulan lahirnya. Sama kaya kamu," kata Arkan.
"Iya kah, mas?" Laras menatap tak percaya. Karena setelah kejutan ulang tahunnya itu, ia mengamuk dan di buat tak sadarkan diri oleh Dokter Danang.
"Iya, coba tanya sama Kak Jhon. Tanggal berada bayi itu di lahirkan," Arkan menatap Jhon yang berdiri di sampingnya.
"Tanggal 28 Agustus," kata Jhon.
"Iya, hari ulang tahun Laras. Berarti tahun depan, Laras ulang tahun barengan sama bayi kita, mas." Laras semakin bahagia.
"Iya, sayang," kata Arkan sembari mendekatkan wajahnya pada istrinya dan menempelkan hidungnya di hidung Laras.
"Kak Jhon, Laras masih bisa punya anak lagi gak sih?" tanya Laras tiba-tiba. Maka, melolot lah sepasang mata Arkan.
"Apa?" tanya Jhon. Sepertinya, pria yang berstatus sebagai seorang dokter itu begitu syok mendengar pertanyaan Laras. Tampaknya, wanita yang sehabis meregang nyawa itu tidak memiliki rasa takut dan rasa trauma.
"Laras masih bisa hamil kan? Operasi ginjal Laras gak ada efek nya sama rahim Laras kan?" Laras begitu serius. Ia memang sungguh-sungguh bertanya.
"Itu sih tergantung suami kamu, kalau dia HMMM.. Ya masih bisa lah," kata Jhon. "Lagi lupa gak masalah sih, asal tunda dulu sampai beberapa tahun kayak perempuan yang lahiran Cesar pada umumnya!" jelas Jhon.
"Berarti masih bisa, mas," kata Laras. Wanita itu begitu senang, karena penyakit dab operasi nya tidak berpengaruh pada rahim nya.
"Ras, ini cuman saranku aja, ya. Kalau menurutku, jangan mikirin nambah anak dulu deh sekarang," kata Jhon.
"Kenapa kak?" tanya Laras.
"Kamu yang menderita, kamu yang sakit, kamu yang koma. Tapi, jantung mereka semua termasuk aku jadi ikut disco tau gak! Aku yang jalanin operasi kamu, hampir ikut mati di dalam ruangan operasi itu." jelas Jhon.
"Maaf ya, gara-gara Laras kalian semua ikut susah, ikut repot dan ikut pusing," ucap Laras dengan pelan.
"Hehee.. Jangan gak enak hati ya, aku bilang gitu karena aku juga sayang sama kamu. Kamu dan Arkan itu, sama-sama punya tempat disini!" Jhonson menyentuh dadanya sendiri. "Kalian adikku, keluargaku!"
__ADS_1