
“Selamat siang! Ada yang bisa saya bantu?” seorang Resepsionis bertanya dengan ramah pada seorang pria yang baru saja datang ke perusahaan anak cabang SUDRADJAT GRUP.
“Arkana ada?” tanya orang itu yang tak lain adalah Ramon.
“Oh, maaf, pak. Tuan Arkan hari ini tidak datang,” kata Resepsionis itu. “Kalau bapak ada perlu, silahkan kembali lagi esok hari!”
“Jadi begitu!” Ramon yang meyandarkan siku nya di meja resepsionis itu menaik turunkan alisnya. Resepsionis wanita itu tersipu malu dibuatnya. Penampilan Ramon yang begitu cold dan menarik itu membuat resepsionis salah tingkah.
“Iya, pak,” kata Resepsionis itu.
“Kalau begitu, gak usah bilang kalau ada saya yang mencari. Biar besok, saya datang lagi kesini untuk beri dia kejutan.” Ramon membalikkan tubuhnya dan pergi dari tempat itu.
“Baik, pak!”
Ramon menuju parkiran dan memasuki mobilnya. Ia pergi dari perusahaan itu dengan kesal, entah kenapa? Ia sering kali uring-uringan tidak jelas setelah mengenal Laras, bahkan setelah bertemu Laras, ia jadi tidak tertarik lagi pada wanita lain seperti sebelumnya.
.
.
.
Hesti yang merasa kasihan pada Erland, segera kembali ke dalam kamar. Ia membuka kain penutup kepala suaminya dan juga ikatan tangannya.
Erland tidak bergerak sedikit pun, Hesti panik di buatnya. Wanita itu menempelkan kepalanya di dada Erland.
“Alamak! Si abang pingsan atau mati?” Hesti menjadi begitu panik.
“Bang, bangun! Tolong maafkan Hesti, Hesti cuman iseng tadi,” kata Hesti. Wanita itu memeluk tubuh Erland yang tidak bergerak. “Jangan tinggalkan Hesti, bang. Masa sebelum kita buat anak, Hesti udah jadi janda.”
“Es batunya masih ada apa, ya?” batin Hesti. “Bersihkan kah? Tapi gimana caranya?” Hesti mundur perlahan dari dekat Erland yang tidak bergerak ataupun merespon di tempatnya.
Tangan Hesti sudah bergerak perlahan menuju CD Erland. Tangan gemetar, tidak seperti saat dia iseng tadi. “Ya tuhan, kalau burungnya beneran mati. Gak berguna lagi dia jadi suami,” kata Hesti. Dengan memejamkan mata, ia menyentuh CD bagian depan suaminya. “Aman, es nya udah abis. Semoga burungnya gak demam.”
Setelah memastikan aman, Hesti kembali ke arah wajah Erland. “Bang, bangun dong. Hesti bener-bener menyesal, Hesti janji gak akan ngulangin lagi. Tapi abang bangun, nanti kalau ayah dan ibu pulang, Hesti bilang apa?” wanita itu memeluk lengan Erland dengan perasaan yang begitu was-was.
Bruk! Grep!
Tiba-tiba, Erland bergerak dan memutar tubuhnya dan Hesti. Hesti begitu terkejut di buatnya, ternyata suaminya itu hanya berpura-pura.
__ADS_1
“Sekarang, kamu gak bisa kabur!” Erland mengungkung tubuh istrinya. Ia mencium sekilas pipi chuby Hesti.
Deg deg deg! Seakan copot jantung Hesti. Ini adalah kali pertamanya dia berdekatan dan di cium oleh seorang pria, selama ini ia memang tidak pernah berpacaran. Sama hal nya dengan Laras.
“Bang, lepasin Hesti. Hesti minta maaf,” kata Hesti. Matanya terus menatap wajah Erland yang ada di depan wajahnya.
“Gak mau! Kamu harus buat burung ini sadar dari pingsan nya,” kata Erland.
“Hesti cuman iseng, bang,” kata Hesti. “Ahh!” suara itu lolos begitu saja dari bibir Hesti saat Erland mencium dan menj*lat daun telinganya.
“Bang, udah. Hesti minta maaf.” Tanpa mendengarkan permintaan maaf dari Hesti. Erland yang berada di atas tubuh istrinya itu, segera membuka paksa baju kaos yang di kenakan istrinya.
“Bang, jangan!” protes Hesti saat bibir Erland menyapu seluruh area wajah dan lehernya.
“Ahhh.. Bang.” Dengan cepat, Erland membungkam bibir Hesti yang terus mend*sah dengan bibirnya.
Tangan nakal Erland terus bergerak ke area di bawah sana, ia mencoba membuka kancing celana jeans Hesti dan menurunkannya.
“Udah, jangan!” teriak Hesti. Erland yang sudah terlanjur merasakan panas pada tubuhnya, melakukan apa yang di lakukan Hesti padanya tadi. Ia mengikat kedua tangan Hesti.
Hesti menangis saat Erland mulai melepaskan semua kain yang melekat pada tubuhnya. Wanita itu begitu takut, ia takut suami dadakannya itu hanya memanfaatkan dirinya, terlebih lagi mereka hanya nikah siri.
Bibir Erland terus bergerak, ia mencium, menj*lat bahkan mengh*sap kulit leher serta dada Hesti. Meninggalkan banyak jejak disana, Hesti hanya bisa menyesali perbuatan iseng nya yang memancing singa lapar itu. Ia tidak dapat berbuat apa-apa selain pasrah dan menangis.
Erland yang tidak tega, menghentikan aktivitasnya. Ia melepaskan ikatan tangan Hesti dan memeluk tubuh itu.
“Aku gak akan pernah ninggalin kamu, kamu istriku dan selamanya bakal jadi istriku,” kata Erland. “Kita urus pernikahan kita secepatnya.”
“Abang mau nerima Hesti? Abang gak akan tinggalkan Hesti?” tanya Hesti sembari memeluk leher suami dadakannya.
“Iya,” kata Erland. “Tapi, tolong jangan buat burung ini pingsan lagi.” Erland kembali mendorong tubuh Hesti.
Maka, mau tidak mau, rela tidak rela. Hesti membiarkan suaminya itu. Toh! Yang awalnya memancing suaminya itu adalah dirinya sendiri!.
“Auchhh! Sakit, bang,” kata Hesti saat Erland mulai memasukan barangnya itu ke dalam milik Hesti.
“Tahan sedikit, kamu bisa pegang punggung mas keras-keras,” kata Erland dengan napas yang memburu. “Kata orang, sakitnya sebentar abis itu enak!”
“Akkkhhh! ABANG!” pekik Hesti saat benda itu sudah masuk dan membuka segelnya. Erland memainkan nya dengan sangat pelan dan juga hati-hati. Makin lama, Hesti pun makin merakan relax dan lebih tenang.
__ADS_1
“Assalamualaikum!” karena tidak ada sahutan, Bu Rahayu dan Pak Budi segera masuk ke dalam rumah itu. Mereka yang pamit pulang agak malam, malah sudah pulang. Padahal jam menujukan pukul 16:57 sore. Yang artinya jam 5 kurang 3 menit.
Bukan tanpa alasan mereka pulang sore, tapi karena tamu undangan di tempat itu sepi.
“Ahhh.. Bentar lagi, Hes!” suara des*han Erland terdengar hingga ke ruang tengah dan dapur.
“Ayah! Mereka berdua buat cucu sore-sore begini,” kata Bu Rahayu dengan pelan. Padahal sebelumya, Bu Rahayu berniat ingin memanggil pengantin dadakan itu.
“Anak mu sengaja nunggu kita gak ada di rumah, mungkin,” kata Pak Budi. “Ibu kan tau sendiri, kalau rumah ini gak kedap. Orang bisik-bisik aja kedengeran.
Di dalam kamar itu, Erland yang baru saja akan mencapai puncaknya, memeluk tubuh Hesti dengan erat. Begitupun dengan Hesti, ia merasakan hal aneh. Sudah beberapa kali ia merasakan ingin buang air kecil, dan nyata nya bukan buang air, melainkan ia mencapai kl*m*ks nya.
“Ahh!” des*h kedua nya setelah Erland mengakhiri permainannya. Cairan putih yang bercampur warna merah keluar dari milik Hesti. Tampak, wanita itu segera menarik selimut. Ia benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda dan baru pertama kali ia rasakan.
“Jam berapa, bang?” tanya Hesti pada Erland.
“Jam 5,” kata Erland. “Tidurlah, nanti pas waktu magrib, abang bangun kan.”
Erland segera memakai celana dan kaosnya. Ia merasakan haus yang luar biasa, dengan segera ia keluar dan menuju dapur. Sesampainya di dapur, ia terperanjat kaget saat melihat ibu dan ayahnya duduk di meja makan sembari mencicipi masakan Hesti yang sebelumnya di buat.
“Ehh! Ibu, ayah. Kapan pulangnya?” tanya Erland sembari mengusap tengkuk lehernya.
“Tadi,” kata Bu Rahayu.
“Hehee!” Erland tertawa canggung. Pria 29 tahun itu tampak malu dan salah tingkah.
“Ambil, apa yang kamu butuhkan,” kata Pak Budi.
“Iya, lagian ibu sama ayah, gak denger apa-apa kok!”
Semakin malu lah, Erland di buat kedua orang setengah paruh baya itu. Dengan secepat kilat, Erland membuka kulkas. Ia mengambil sebotol air mineral, sebotol jus dan juga keranjang buah. Ia pun segera pergi menuju kamar dengan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.
“Heheheee! Putra kita malu,” kata Bu Rahayu sembari bersandar pada dada Pak Budi.
.
.
.
__ADS_1
Sembari nunggu update, bisa mampir dikarya kakak online Neng yang ada dibawah ini ya!