Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
ARKAN CEMAS BERLEBIH!


__ADS_3

"Arkan!" Mama Rita melotot pada putranya yang berdiri di belakang Laras.


"Ma!" Arkan menatap mama nya itu dengan tatapan memelas.


"Gak baik cemas berlebih kayak gitu, Ar. Biarin Laras makan apa yang dia pengen," kata Mama Rita. "Kamu larang ini itu, kalau tiba-tiba dia malah sakit gimana?"


"Mama do'ain Laras sakit? Gitu maksud mama?" Arkan menatap Mama Rita dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Bukan gitu, ini semisalnya aja. Kalau sampai Laras sakit kamu pasti bakal merasa bersalah seumur hidup karena selama ini, kamu selalu kekang dia!"


"Ya udah deh, terserah Laras aja. Arkan cuman lakuin apa yang menurut Arkan baik buat dia dan calon anak Arkan." Arkan menghela napas berat, tampak pria itu berbalik badan dan pergi menuju lantai atas. Sepertinya ia kesal dengan semua orang yang mendukung semua yang di lakukan istrinya.


"Ma, Mas Arkan marah," kata Laras.


"Biarin sayang, selama ini memang salah mama. Sejak dia dalam kandungan, Mama selalu pilih-pilih makanan karena mama takut tejadi sesuatu sama dia yang mama kandung. Dan saat dia lahir ke dunia serta tumbuh besar, remaja hingga dewasa sekalipun. Mama masih tetap kekang dan larang dia makan sembarangan, mama gak pernah biarkan dia makan di luar ataupun makan makanan yang bukan buatan mama." jelas Mama Rita. Ia tidak menyalahkan Arkan, karena Arkan bersikap seperti itu berawal dari dirinya sendiri selalu ibu dari Arkan.


"Jadi gimana, ma?" Laras menatap mama mertuanya itu dalam-dalam.


"Udah biarin, nanti juga dia bakalan tegur kamu lagi," kata Mama Rita.

__ADS_1


"Ya udah deh, Laras mau balik aja ke kamar susulin Mas Arkan," ucap Laras sembari berjalan meninggalkan Mama Rita di dapur itu.


Mama Rita ikut pusing melihat Laras dan Arkan. Ia pusing pada putra nya sendiri yang terlalu berpikir negative pada semua hal.


Di dalam kamar, Arkan sedang duduk termenung di atas sofa. Ia begitu takut jika memikirkan hal-hal yang menyangkut kehamilan istrinya, apa lagi dari yang ia ketahui tentang perjalanan dan perjuangan kedua orangtua nya untuk mendapatkan dirinya bukan lah perkara yang mudah. Dan alasan di balik kenapa dirinya menjadi anak tunggal?!


"Mas.." panggil Laras sembari membuka pintu kamar itu dengan perlahan. Arkan hanya menoleh sekilas pada istrinya itu.


"Mas jangan marah," ucap Laras dengan lirih. Ia mendekati suaminya, akan tetapi suaminya itu seperti tak perduli. "Mas, ngomong dong! Laras takut kalau mas diem kayak gini."


"Mas tu males ngomong sama kamu, percuma! Semua nya percuma, kamu gak pernah dengerin omongan mas!" Arkan berbicara dengan nada tinggi pada istrinya.


"Kalau kamu ajak mas kesini supaya kamu bisa bebas karena ada yang belain. Ya udah, kamu tinggal di sini aja sama mama dan papa. Biar mas pulang aja!" Arkan bangkit dari atas sofa yang ia duduki dan hendak pergi.


"Mas, maafin Laras. Laras gak akan bandel lagi," ucap Laras. Melihat suaminya yang tidak main-main, Laras pun menangis.


Tanpa kata, Arkan terus melangkah menuju pintu kamar itu. "Mas!" pekik Laras, ia memeluk dan menahan tubuh suaminya itu agar tidak pergi dari kamar itu. "Laras gak akan makan dan minum apa-apa lagi, Laras gak akan banyak mau dan banyak tingkah lagi. Laras bakal turutin semua mau mas, semua yang mas omongin dan mas suruh."


"Beneran?"

__ADS_1


"Iya. ayo kita pulang aja. Laras gak jadi minap di sini," kata Laras.


Sebenarnya, Arkan begitu kasihan pada istrinya. Tapi, kecemasannya di dalam hatinya lebih besar dari pada rasa kasihan nya pada Laras.


Laras pun segera mengajak suaminya itu untuk pulang. Arkan terus mengikuti langkah istrinya yang bejalan menunduk.


"Ma, Laras pulang ya. Laras gak jadi minap," kata Laras dengan wajah yang terus menunduk. Ia berpamitan pada Mama Rita yang duduk di sofa ruang tengah rumah itu.


"Loh kenapa?" tanya Mama Rita. "Kamu kenapa nangis?" Mama Rita menangkup wajah anak menantunya itu. Laras hanya menggeleng pelan.


"Arkan! Kamu habis marahin Laras?" Mama Rita menatap Arkan dengan tatapan tajam.


"Enggak, tanya aja sama orangnya," kata Arkan dengan santai. "Ayo kalau mau pulang!" ajak Arkan pada istrinya itu.


Laras pun mengikuti langkah Arkan yang berjalan keluar dari rumah itu.


"Ar, kalau Laras mau minap. Biar aja dia tinggal," kata Mama Rita.


"Minap gimana, ma? Orang dia yang ngajakin Arkan pulang," ucap Arkan pada Mama Rita.

__ADS_1


"Ya udah lah, terserah kamu aja!" Mama Rita membiarkan Arkan dan Laras pergi dari rumah itu. "Aneh banget! Nanti kalau istrimu sakit, jangan pernah merengek atau nangis-nangis dan menyesal!"


__ADS_2