
Laras geleng-geleng kepala. "Ini enak mas, dijamin bersih," kata Laras pada suaminya yang pemilih itu.
"Kenapa?" tanya Bang Seger sang pemilik rumah makan itu.
"Gak apa-apa bang, suami Laras jarang makan makanan kayak gini," jawab Laras.
"Lucu ya kalian, dapat suami cocok sama karakter masing-masing. Suami kamu makannya pemilih sama kayak kamu yang makannya dikit, lah si Hesti dapat suami yang modelnya kayak kambing lepas kandang. Bwahahaha!" Bang Seger tertawa terbahak.
Mendengar kata kambing, mata Erland dan Hesti melolot ke arah Bang Seger yang duduk di kursi paling pojok bagian meja rombongan Arkan.
"Ayo makan mas, katanya tadi laper," ucap Laras pada suaminya itu dengan pelan. "Laras suapin deh, di coba dulu."
Arkan pun membuka mulutnya, ia menerima suapan istrinya itu.
"Ganteng-ganteng manja banget," ucap seseorang pelanggan pada temannya.
"Bukan orang sini kayaknya," kata temannya pelanggan rumah makan itu.
"Yank, udah ah! Pedes banget," kata Arkan sembari meraih botol aqua yang ada di hadapannya.
"Kamu tuh makan nya tadi pagi loh mas, ini udah sore," ucap Laras. Wanita itu terus memaksa suaminya.
"Pesenin mas roti aja sama susu," bisik Arkan. Laras melotot dibuatnya.
"Gak malu apa?"
"Ya kalau gak susu, teh aja gitu," kata Arkan.
__ADS_1
Akhirnya, Laras memesankan suaminya itu roti dan secangkir teh hangat. Bang Seger pun di buat tertawa oleh permintaan Laras.
"Hahahaa, aneh suami kamu!" ledek Bang Seger.
"Diam bang, nanti dia marah," kata Laras.
Jika Arkan tidak ingin makan, maka terbalik dengan Erland. Hesti malah di buat malu dengan tingkah suaminya itu.
"Bang, pelan-pelan. Malu betul Hesti abang buat," kata Hesti.
"Ar, kamu tadi gak mau kan? Ikan nya aku ambil ya, biar gak mubazir." Erland mengambil isi piring yang ada di hadapan Arkan. Pria itu sama sekali tidak mendengarkan perkataan Hesti.
Hesti garuk-garuk kepala di buatnya. "Abang, Hesti malu," kata Hesti lagi.
"Sekali ini doang kita kesini, nikmatin aja lah!" sahut Erland.
Anita makan seperti biasanya, ia makan tidak banyak seperti Hesti. Jadi, ia makan ala kadarnya sama seperti kebiasaan Laras.
Setelah roti dan teh pesanan Arkan datang, Arkan segera memakan dan meminum nya.
"Ini baru enak," kata Arkan sembari mencelupkan roti itu ke dalam teh nya.
Hari sudah semakin sore, Anita kebingungan harus mengajak Laras, Hesti, Arkan dan juga Erland beristirahat dan tidur dimana.
"Ada hotel gak di sekitar sini?" tanya Arkan. Ia sudah sangat lelah kesana-sini seharian.
"Gak ada, adanya losmen yang ada di deket pantai tanjung setia," kata Laras kepada suaminya itu.
__ADS_1
"Ya udah, yuk kita kesana sekarang!" ajak Arkan. Akhirnya, mereka semua segera menuju losmen yang di sebutkan oleh Laras.
Arkan bernapas lega saat sudah tiba di losmen, pria itu segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang losmen.
"Keras yank," kata Arkan tiba-tiba. Mata Laras melotot lebar mendengar perkataan suaminya. "Ranjangnya, yank. Pikiran mu mesum aja."
"Lagian mas ngomongnya setengah-setengah," kata Laras.
"Gara-gara ranjang ini, mas jadi inget pertama tidur satu ranjang sama kamu di kontrakan," ucap Arkan. "Dulu, mas tuh nahan pegel-pegel di punggung mas. Tapi mas gak berani bilang, karena mas gak mau di suruh pulang. Terus lama kelamaan, mas jadi biasa tidur di ranjang itu." jelas Arkan. Demi bisa bersama dengan Laras, ia sampai menahan pegal di punggungnya karena tidur di atas dipan kayu.
Arkan terus bercerita tanpa ia sadari, Laras yang bersandar di dadanya sudah tertidur pulas.
"Ya allah, yank. Mas di kacangin," ucap Arkan dengan pelan. Ia pun mengusap-usap rambut istrinya dan membiarkan wanita itu tidur di dadanya.
Tak lama kemudian, Arkan pun ikut terlelap. Kedua anak manusia itu tidur dengan berpelukan. Arkan mendekap tubuh istrinya yang bersandar di dadanya itu. Sedangkan tangan istrinya, mendekap lehernya dengan erat.
Jika Arkan dan Laras sudah terlelap di kamar yang mereka tempati. Lain lagi halnya dengan Hesti dan Erland.
Hesti di buat kesal oleh suaminya yang tidak bisa dan bertingkah seperti anak kecil. Bagaimana tidak? Sudah lebih setengah jam, Hesti menggosok dan mengusap punggung suaminya itu.
"Aihhh! Ayo dong yank, atas dikit!" Perintah Erland.
"Ya ampun bang, Hesti udah ngantuk loh," kata Hesti.
"Ayolah sebentar lagi, sampe abang tidur!"
"Sampe tidur sampe tidur, udah setengah jam Hesti gosok. Tapi abang gak tidur-tidur!" protes Hesti. Ia sudah begitu mengantuk, tapi suaminya itu tidak juga tertidur.
__ADS_1
"Pakek cinta dong yank, jangan sambil kesel kayak gitu," kata Erland. Sesekali, pria itu mulai menguap.
Beberapa saat kemudian, Erland pun terlelap. Hesti pun menjadi lega di buatnya.