
"Mas kamu kenapa kok bisa kayak gini?" tanya Laras sembari menyentuh wajah suaminya.
"Mas gak kenapa-kenapa," kata Arkan. Pria itu memaksakan senyumnya.
"Gak kenapa-kenapa kok bisa sampe kayak gini, mas?"
"Kakak tadi yang udah mukulin dia, kakak panik lihat kamu pingsan," kata Erland yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan rawat Laras.
"Emang nya Laras kenapa?" tanya Laras.
"Gak kenapa-kenapa, kamu kecapekan," jawab Arkan. "Maafin mas ya, mas janji gak akan kekang kamu lagi. Mulai hari ini, kamu bebas mau ngapain aja."
Laras termagu, ia mencerna semua perkataan suaminya.
"Bilang sama mas, kamu pengen apa? Biar mas cariin?" tawar Arkan.
"Laras pengen kotak obat," kata Laras dengan pelan. Wanita itu terus menatap wajah suaminya yang membiru akibat pukulan Erland.
Mama Rita dan Papa Han hanya menatap anak dan menantunya itu. Begitu pula dengan Erland.
"Kenapa kalian diam, ma, pa, kak?" tegur Laras. Laras segera bangkit dari ranjang itu, tampak ia biasa saja. Karena rasa sakit dan nyeri pada pinggul dan punggung nya akan datang tiba-tiba, ia sendiri pun selalu menahan rasa sakit itu.
"Sayang, jangan banyak gerak. Kamu lagi gak sehat," kata Arkan. Ia mencegah istrinya yang hendak berjalan keluar dari ruangan rawat itu.
"Laras mau panggil dokter, mas," ucap Laras.
"Gak usah yank, mas gak apa-apa. Ini cuman lebam dikit doang," kata Arkan.
"Kita obatin pelipis mas, abis itu kita pulang," Laras keluar dari ruangan itu untuk memanggil dokter. Wanita itu tidak menghiraukan semua orang yang ada di ruangannya.
"Jangan sampai kamu bawa dia pulang dari sini!" ancam Erland sembari menarik kerah kemeja Arkan. Arkan hanya diam saja tanpa menjawab atau pun melawan.
"Mas," sebut Laras. Mendengar suara Laras, buru-buru Erland menyingkir dari dekat Arkan. "Sini, bibir sama pelipis nya Laras obatin."
Setelah selesai memberi obat merah pada wajah Arkan, Laras mengajak suaminya itu pulang. "Ayo mas, kita pulang," ajak Laras.
"Kita gak pulang, kita disini aja!" ujar Arkan.
"Tapi mas, Laras pengen di rumah aja," ucap Laras.
"Kenapa sih? Kalau di bilangin ngeyel banget!" bentak Arkan. "Sekarang balik ke sana! Istirahat dan jangan banyak gerak!" Arkan menunjuk ranjang pasien, ia meminta istrinya itu kembali beristirahat.
__ADS_1
"Iya mas, iya," kata Laras. Buru-buru wanita kembali berbaring di atas ranjang pasien itu.
Erland, Mama Rita dan juga Papa Han, hanya bisa menatap dua orang yang ada di hadapan mereka. Sebenarnya, mereka begitu kasihan pada Arkan. Akan tetapi, mereka lebih sakit melihat keadaan Laras yang menderita beberapa bulan terakhir ini akibat ulah Arkan.
Sedangkan Arkan sendiri, setelah membentak dan memarahi istrinya. Ia pergi meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, Laras masih tetap berada di rumah sakit. Wanita itu begitu heran dengan perubahan suaminya yang menjadi pendiam dan sering murung.
"Mas.." panggil Laras.
"Iya yank, kenapa? Pengen apa?" tanya Arkan sembari mengusap kening istrinya itu.
"Kenapa sih? Kok Laras gak boleh pulang?"
"Mas pengen kamu di sini sampe sembuh, sampe gak sakit lagi," kata Arkan.
Sesaat kemudian, Laras yang berada di atas ranjang pasien itu tidak bisa diam. "Aduh," lirih Laras.
"Punggung Laras gatel, tolong garukin dong mas," pinta Laras.
Tanpa kata, Arkan menggosok punggung istrinya itu dengan pelan. "*Apa saja efek sampingnya dokter?"
"Penderita gagal ginjal, memiliki beberapa tanda yang sering mereka alami. Diantara nya mengalami pusing, insomnia, meningkatnya frekuensi buang air, tekanan darah tinggi, gatal-gatal pada punggung dan juga bagian lainnya. Bahkan merasakan sakit dada dan nyeri berlebih pada pinggulnya*."
"Mas, Laras boleh peluk gak? Laras pengen di peluk," pinta Laras pada suaminya itu.
Arkan tersenyum kecil. Ia menarik istrinya itu kedalam pelukannya, mulanya Laras begitu tenang bahkan wanita itu memeluk pinggang suaminya di atas ranjang pasien itu dengan begitu erat. Hingga pada akhirnya, tangannya yang melingkar di pinggang Arkan terlepas dan hilang kesadaran.
"Sayang.. Bangun, mas mohon!" pekik Arkan. "Dokter!" panggil Arkan.
Dokter dan beberapa perawat datang, mereka segera menangani Laras yang tidak sadarkan diri. Setelah menangani Laras, Dokter Danang menghela napas berat.
"Gimana dokter? Tolong selamatkan istri saya!" Arkan memohon pada Dokter Danang dengan airmata yang terbendung di pelupuk matanya.
"Begi-" Baru saja Dokter Danang hendak menjelaskan semuanya pada Arkan. Tiba-tiba, Papa Han, Mama Rita dan Erland datang.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Laras?" tanya Mama Rita.
"Begini nyonya, penyakit gagal ginjal yang di derita pasien sudah semakin parah. Jadi secepatnya harus menjalani operasi pencangkokan!" jelas Dokter Danang.
"Selamat kan istrinya dokter, saya mohon. Saya akan menukar apapun asalkan istrinya bisa di sembuhkan!" Arkan terus memohon.
Erland yang semakin kasihan dengan kondisi itu, segera mengangkat tubuh Arkan yang bersimpuh di lantai rumah sakit.
"Bangun!" paksa Erland.
"Enggak Er, aku pengen Laras sembuh," kata Arkan. "Selama ini aku udah di buta kan sama perasaan khawatir aku sampe-sampe bikin dia menderita."
"Kami tidak bisa melakukan operasi pencangkokan itu," kata Dokter Danang.
"Kenapa dokter? Masalah donor ginjal? Ambil ginjal saya!" Arkan bangkit dan menarik jas putih yang di kenakan Dokter Danang. "Ambil ginjal saya DOKTER!"
"Maaf Tuan, tapi ini bukan masalah donor ginjal. Istri anda sedang mengandung, kami hanya bisa mengoprasi istri anda setelah mengeluarkan janin yang ada di dalam kandungannya!" jelas Dokter Danang.
Deg! Arkan terkesiap mendengarnya, begitupun Papa Han, Mama Rita dan juga Erland.
"Janin," guman Arkan.
"Cucuku," guman Mama Rita pula.
"Apa tidak ada cara lain, dokter?" Papa Han angkat bicara.
"Mohon maaf, untuk saat ini. Hanya itu jalan dan cara satu-satunya yang ada," kata Dokter Danang. "Takutnya, jika operasi nya kita tunda-tunda malah akan membahayakan nyawa kedua nya!" jelas Dokter Danang.
"Silahkan pikirkan lebih dulu, jika kalian semua sudah memikirkan nya matang-matang. Segera temui saya," ucap Dokter Danang kemudian. "Saya mohon pamit!"
Setelah dokter pergi, Arkan segera berlari ke ruangan rawat istrinya. "Mas bohong, katanya mau nemenin dan peluk Laras. Ehh, pas Laras tidur malah di tinggal," gerutu Laras yang sudah sadar dan duduk bersandar di atas ranjang pasien itu.
"Mas tadi kebelet buang air, jadi mas tinggal ke toilet," kata Arkan. "Ayo, sini mas peluk lagi." Airmata pria itu akhirnya lolos juga.
"Mas, kenapa nangis?" Laras mengangkat tangannya dan menghapus airmata suaminya.
"Maafkan mas yang udah bikin kamu susah, yang udah bikin kamu menderita. Selama kamu hidup sama mas, mas selalu menyakiti kamu dengan sikap dan sifat mas. Mas mohon maafkan semua kesalahan mas," ucap Arkan. Pria itu mendekap tubuh istrinya.
"Laras gak pernah marah sama mas, Laras ngerti dan seneng karena mas begitu perduli sama Laras," kata Laras.
"Kayak nya ada yang gak beres? Aku lihat juga, Papa dan Mama juga Kak Erland datang terus ke rumah sakit. Lagian kenapa aku harus di rumah sakit terus?"
__ADS_1
***
Yang mikir alurnya makin gak jelas, udah neng jelaskan ya! Tinggalkan aja gak apa-apa. Unfav aja! Itu lebih baik, dari pada coment bon cabe!