
Di rumah sakit, Anita yang menunggu di depan ruang rawat. Terus menangisi keadaan Bu Yanti, ia begitu takut terjadi sesuatu kepada ibunya.
"Ya tuhan, semoga ibu gak apa-apa," ucap Anita dengan lirih. Gadis itu mondar mandir di depan pintu ruangan rawat ibunya.
Tak lama kemudian, Dokter yang menangani keadaan Bu Yanti, keluar dari ruangan itu. Anita pun segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan ibu saya, dokter?" tanya Anita dengan raut wajah yang begitu khawatir.
"Pasien belum sadarkan diri, mungkin sebentar lagi," kata Dokter itu. Setelah menjelaskan pada Anita, dokter itu segera pergi menuju ruangannya.
Anita pun segera masuk ke dalam ruangan rawat ibunya, ia duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien itu. Dengan setia ia menunggu ibunya itu sadar.
Beberapa saat kemudian, Bu Yanti mengerjakapkan matanya. Ia menyapu seluruh ruangan yang bernuansa putih itu dengan pandangan matanya.
"Bu, ibu udah sadar," kata Anita. Ia menggenggam tangan ibunya itu.
Bukannya merespon, Bu Yanti malah tertawa sendiri. Anita pun menjadi takut dibuat nya.
"Hahahaha! Rumahnya Ramhan di sita sama bank," kata Bu Yanti.
Baru saja tertawa, tiba-tiba Bu Yanti malah menangis. "Hiks! Maafin aku yang udah jahat sama anakmu."
"Bu, ibu kenapa?" tanya Anita. Gadis itu semakin menangis setelah mendengar perkataan ibunya.
"Diam! Kamu diam, bikin repot aja!" bentak Bu Yanti.
Anita yang cemas bercampur takut, segera keluar dan memanggil dokter.
"Dokter! Tolong ibu saya!" teriak Anita.
Dokter pun segera menghampiri Anita. "Dokter, tolong ibu saya. Dia jadi aneh setelah sadar dari pingsan nya," kata Anita. Gadis itu menarik jas putih yang di kenakan oleh sang dokter.
"Sabar, lebih baik kita lihat keadaan ibu kamu," ucap dokter itu.
Akhirnya, dokter itu mengikuti langkah Anita yang berjalan lebih dulu memasuki ruang rawat Bu Yanti.
Dokter segera memeriksa keadaan wanita separuh baya itu. Setelah memastikan keadaan pasien nya, dokter itu menjadi geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Bagaimana dokter?" tanya Anita.
"Mohon maaf, seperti nya Bu Yanti mengalami tekanan stress yang begitu tinggi hingga membuat ia menderita gangguan mental!" jelas dokter itu.
"Maksud dokter? Ibu saya mengalami gangguan jiwa? Begitu?" tanya Anita dengan rasa tak percaya. Ia begitu syok setelah mendengar penjelasan dokter.
"Benar," kata dokter itu. "Saran saya, sebelum semakin parah sebaiknya anda membawa ibu anda ke pusat rehabilitasi agar dapat segera di pulihkan."
"Tapi dokter, saya tidak punya uang," kata Anita dengan pelan.
"Jika anda memiliki BPJS, anda tidak perlu khawatir masalah itu," ucap dokter tapi Anita menggeleng cepat. "Jika tidak ada, maaf saya tidak bisa membantu!" terang dokter itu. Dokter itu menepuk pundak Anita dengan pelan, lalu keluar dari ruangan rawat Bu Yanti.
Sepeninggalan dokter, Anita menangis tersedu-sedu. "Hiks! Kemana aku cari biaya buat pengobatan ibu," ucap Anita, ia terus menangis. "Laras, Laras pasti mau bantuin aku." Anita menghapus airmata nya. Harapan dirinya satu-satunya adalah Laras, orang yang begitu baik dan selalu memaafkan meskipun sudah berkali-kali di sakiti.
Maka, Anita pun memanggil suster untuk menjaga ibu nya. Ia pun segera pergi keluar.
"Suster, saya titip ibu saya sebentar," kata Anita. "Nanti saya kembali lagi!"
"Iya, mbak!"
"Ada yang bisa kami bantu, mbak?" tanya karyawan toko itu dengan ramah.
"Gini, mbak. Saya mau jual gelang dan jam tangan saya, kira-kira laku berapa ya, mbak?" Tanya Anita sembari melepaskan gelang dan juga jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Coba saya lihat!" pinta karyawan toko itu. "Jam nya gak berani ambil mahal, mbak. Paling kuat 350 ribu. Tapi, kalau gelang nya kita ikutin pasaran harga emas sekarang!" jelas Karyawan toko itu.
Dengan berat hati, Anita merelakan gelang dan juga jam tangannya demi biaya pengobatan ibunya untuk sementara waktu saat ia pergi ke jakarta untuk menemui Laras.
Setelah menjual gelang dan jam tangannya, Anita segera kembali ke rumah sakit. Sore itu juga, ia memindahkan ibunya ke pusat rehabilitasi untuk penderita ODGJ.
Karena pusat rehabilitasi penderita ODGJ itu adalah rumah sakit kecil. Jadi, obat yang di konsumsi ibu nya tidak lah gratis. Ia harus membayar nya di muka.
Setelah memastikan ibunya di rawat dengan baik. Anita pergi menuju terminal, ia tidak perduli dengan hari yang sudah semakin sore. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar cepat sampai dan meminta bantuan dari adik sepupu nya itu.
Saat sampai terminal, ia kembali di buat bingung dengan sisa uang yang ada di saku celana nya. Ia merogoh saku celana itu dan melihat sisa uangnya.
"Yeahh! Tinggal segini lagi," ucap Anita dengan lirih, di tangannya ada uang yang berjumlah 122 ribu saja. Sisa membayar biaya rumah sakit ibu nya dan juga biaya pusat rehabilitasi yang menampung ibunya.
__ADS_1
Lagi! Anita harus menjual satu-satunya barang berharga yang ia miliki. Ponsel yang ada di saku celana nya akhirnya ia korbankan.
Anita segera mencari counter, ia akan menjual ponselnya itu.
Setelah sampai di counter, ia pun segera menawarkan ponselnya itu kepada pemilik counter tersebut.
"Bang, kira-kira harga second ponsel ini berapa?" tanya Anita sembari mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeans yang ia kenakan.
"Mau jual?" tanya abang pemilik counter itu.
"Iya," kata Anita.
"Walaupun bagus, abang gak berani ambil mahal. Tau sendiri kan, kota kita itu kayak apa? Takutnya barang curian," kata abang pemilik counter itu sembari tersenyum.
"Kira-kira abang berani ambil berapa?"
"12 deh, gimana?"
"Yeah, bang. Gak bisa tambah apa? Saya baru pakek ponsel ini dua bulanan, beli nya juga baru 3350 ribu," kata Anita.
"Abang tambah 100, kalau mau segitu kalau gak mau, ya udah!" ujar abang pemilik counter itu.
"Ya udah deh, bang. Jadi 13 ya," ucap Anita sembari memberikan ponselnya itu.
Abang pemilik counter itu segera mengambil ponsel Anita dan memberikan uang 1,3 juta pada harus itu. Setelah menerima hasil penjualan ponselnya, Anita hendak melangkah pergi. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, setelah mendengar anak remaja yang menawar ponsel nya yang baru saja ia jual itu.
"Ada barang baru gak, bang?" tanya remaja itu.
"Kebetulan nih, ada yang masih mulus!" ujar abang pemilik counter itu sembari mengeluarkan ponsel Anita dari dalam etalase.
"Beuhh! Ini mah beneran mulus, berapa nih bang?"
"2,5 juta, langsung abang lepas!"
"2,4 cash!" remaja itu mengeluarkan uang dari saku celana nya dan memberikan pada pemilik counter.
"Ya allah.. Tega banget," lirih Anita sembari menatap abang pemilik counter dan remaja yang baru saja datang itu.
__ADS_1