
Setelah Arkan membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia segera membereskan semua pakaiannya, pagi itu juga ia mengajak Laras pulang. Ia sudah tidak sabar untuk menguji coba barang berharga milik nya yang sudah di servis full itu.
"Ayo sayang, kita pulang," kata Arkan, tangannya sudah siap menarik koper pakaiannya dari dalam kamar hotel itu.
"Mas, Laras kan belum mandi," ucap Laras. "Badan Laras rasanya gerah banget. Dari kemaren sore gak mandi."
"Mandinya di rumah aja, mas udah gak sabar lagi," kata Arkan dengan kening berkerut.
"Kok mas jadi mesum begini?" Laras menatap suaminya dengan tatapan horor.
"Bu-bu-bukan gak sabar itu, tapi gak sabar pengen sampe rumah," kata Arkan sembari tersenyum malu.
"Laras mau mandi dulu pokoknya," kata Laras sembari memasuki kamar mandi. Meninggalkan suaminya yang berdiri di dekat pintu kamar hotel itu. Melihat Laras yang masuk ke dalam kamar mandi, Arkan jadi cemberut dibuat nya.
Arkan pun tidak jadi keluar dari kamar hotel itu, ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dengan setia, ia menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.
Laras yang berada di dalam kamar mandi, sudah selesai. Akan tetapi, ia bingung pasalnya tidak ada baju gantinya di tempat itu.
"Mas, baju ganti aku gak ada," kata Laras dari pintu kamar mandi itu.
"Tunggu, mas telpon Erland bentar!" ujar Arkan.
Dengan cepat, Arkan menelpon Erland. Ia memerintah Erland untuk membelikan pakaian untuk Laras di toko yang tidak jauh dari area hotel permata itu.
Tak lama kemudian, pintu kamar hotel itu di ketuk. Dan tampaklah Erland dengan sebuah paper bag di tangannya.
"Nih! Ganggu aja, orang masih tidur juga!" garutu Erland. Bagaimana tidak, kamar hotel yang di tempati Arkan dan Erland bersebelahan. Kini, jam masih menujukan pukul 06:12. Tapi, Arkan sudah menganggu nya dan meminta belikan pakaian.
"Gitu aja kok bawel banget, baru juga ku suruh beli pakaian!" cetus Arkan sembari menutup pintu kamar hotel nya.
Maka, Erland pun segera kembali ke kamarnya. Ia terus menggerutu karena kesal pada Arkan yang semakin seenaknya.
"Nasip jadi asisten!" gerutunya.
"Kenapa bang?" tanya Hesti yang masih berbaring di atas ranjang hotel dengan balutan selimut di tubuhnya.
"Si Arkan tuh! Pagi-pagk udah nyuruh abang buat beli baju ke toko!" cetusnya.
"Resiko itu bang, kalau abang gak mau di suruh-suruh, makanya jadi bos!"
__ADS_1
"Main lagi yuk?" ajak Erland tiba-tiba. Hesti melotot di buatnya.
"Hesti capek, bang. Lagian semalam abang buat Hesti tidur jam setengah satu, masa masih kurang," kata Hesti. "Gak kasian apa yang di dalam, liat nih! Perut Hesti jadi buncit begini karena abang."
"Dah lah, abang mau tidur lagi. Mumpung libur!" Erland naik ke atas ranjang dengan bibir cemberut. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh polos istrinya.
"Yeah! Ngambek lagi, yang hamil siapa yang sensi siapa?!" dengan cuek, Hesti turun dari ranjang itu dan menuju kamar mandi.
.
.
.
"Udah yank? Ayo kita pulang," ajak Arkan dengan tidak sabaran. Sudah seperti anak kecil yang memaksa untuk di belikan sesuatu.
"Kita pamit dulu sama Papa dan Mama," kata Laras.
"Aihh! Gak usah pamit, nanti mereka malah ikut pulang juga!" ujar Arkan. Membuat istrinya itu menghela napas pelan, meskipun begitu Laras tetap menuruti suaminya.
Arkan pun segera membawa istrinya pulang, tanpa pamit dengan kedua orangtua nya yang juga menginap di hotel itu.
"Booking tiga kamar dan seluruh aula ini, biaya nya masuk ke tagihan Handoko Sudradjat!" ujar Arkan pada pihak hotel permata itu. Pihak hotel hanya tersenyum dan menundukkan kepala mereka, mereka begitu mengenal keluarga Sudradjat dengan baik. Termasuk Arkan Sudradjat putra tinggal dari Handoko Sudradjat dan Rita Anjani.
"Mas, nanti mereka pulangnya gimana?" tanya Laras pada suaminya yang mulai jahil itu.
"Aihhh! Jangan pikirin mereka, yang penting kita cepet sampe rumah!"
Arkan pun mengendarai mobil Erland dengan kecepatan sedang menuju rumah yang sudah hampir 4 bulan ia tinggalkan.
Setengah jam kemudian, mobil itu berhenti di depan gedung berlantai dua. Rumah yang ia beli atas nama istrinya.
"Sayang ayok," kata Arkan sembari membuka kan pintu mobil untuk istrinya.
Laras pun keluar dari dalam mobil itu. Baru saja ia menginjakan kaki nya di rumput halaman rumah itu, tiba-tiba saja Arkan mengangkat dan menggendong tubuh kecil nya ala bridal style.
"Mas turunin, Laras bisa jalan sendiri," kata Laras.
"Hust! Jangan protes."
__ADS_1
"Mbok!" teriak Arkan. "Tolong keluarkan barang-barang Arkan dari dalam mobil!" pinta Arkan pada Mbok Nunung.
"Mang Udin, jemput Papa sama Mama di hotel pertama!" teriak Arkan pula. Laras menutup telinga nya, kuping nya terasa sakit mendengar teriakan suaminya itu.
"Lah dalah! Tuan muda udah pulang!" Mbok Nunung begitu riang melihatnya.
"Wah! Kapan Tuan muda pulang? Kok udah sampe aja?" heran Mang Udin.
"Malah pada berisik! Udah sana, pada pergi. Mbok ambil barang-barang Arkan, terus bawa ke kamar bawah aja! Mang Udin juga, sana susul Papa sama yang lainnya. Arkan mau istirahat!"
Arkan mengendong istrinya itu menaiki anak tangga. "Tunggu dulu!" Mang Udin menghentikan langkah Arkan.
"Apa lagi, mang?" Arkan mulai kesal.
"Bukan nya Non Laras di culik? Kok bisa sama Tuan muda?" heran Mang Udin.
"Gimana gak sama dia, mang. Orang dia yang nculik, dia sama Kak Eland ngerjain kami!" jelas Laras.
"Jangan ngomong lagi, sana pergi!" usir Arkan. Akhirnya, Mbok Nunung dan Mang Udin segera mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Arkan yang sudah tiba di kamar segera membaringkan tubuh istrinya dengan perlahan. Ia memandang wajah istrinya dengan senyuman yang terus terbit di sudut bibirnya, Laras pun membalas senyuman istrinya itu.
Cup! Arkan mengecup bibir istrinya dengan singkat.
Deg deg deg! Detak jantung Laras berdetak semakin kencang di buat Arkan.
"I LOVE U MY WIFE!"
"I LOVE U TOO MY HUSBAND! LOVE U MORE!" balas Laras. Arkan tersenyum puas, dengan detak jantung yang sama berdebar nya dengan Laras, Arkan pun menjelajahi wajah istrinya. Ia menciumi wajah Laras tanpa tertinggal sedikit pun.
"Eummm!" leng*h Laras saat Arkan mencium dan mengecup bibir nya.
"Sayang, kita main sekarang, ya?" bisik Arkan di telinga istrinya, Laras tidak merespon. Wanita itu hanya memejamkan matanya. Ia begitu enggan untuk membuka mata.
Melihat expresi istrinya, Arkan pun segera menciumi kembali area wajah Laras. Bahkan, ciuman itu turun ke area leher, ia mencium mengec*p bahkan menggigit kecil disana. Meninggalkan banyak jejak cinta, Laras di buat menggeliat kecil dan meleng*uh terus menerus olehnya.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG!