
Setelah hujan reda, Arkan segera mengajak istrinya itu ke perusahaan.
"Ayo yank, mumpung reda," kata Arkan. Pria itu memakai kan jaket tebal kepada Laras. Ia tidak ingin, istrinya itu kedinginan nantinya.
Laras tersenyum manis kepada suaminya yang begitu romantis. "I LOVE YOU!" kata-kata itu selalu terucap dari bibir Laras hanya untuk suaminya.
"I LOVE YOU MORE!" balas Arkan.
Cup! Suaminya itu tiba-tiba saja mengecup bibirnya dengan lembut.
"Kesempatan dalam kesempitan!" gerutu Laras sembari mengusap bibirnya.
"Abisnya, bibirnya bikin gemes. Pengen lagi dan lagi," kata Arkan.
"Jadi gak berangkat nya?" Laras sewot pada suaminya itu.
"Jadi yank!" timbal Arkan. "Ayo gendong, mas bawa ke mobil." Arkan menjongkok kan tubuhnya, agar istrinya itu bisa dengan mudah meraih lehernya.
Dengan senang hati, Laras pun naik ke punggung suaminya itu dan memeluk leher suaminya itu dengan erat.
"Jangan di cekek yank, nanti mas mati kamu kawin lagi," kata Arkan saat istrinya itu memeluk lehernya dengan begitu erat.
"Mas ngomongnya aneh!"
***
Anita terus menyusuri jalanan, ia tak perduli dengan cuaca hari yang sedang turun hujan gerimis. Ia ingin segera menemukan Laras dan meminta bantuan sepupunya itu agar membantu biaya pengobatan ibunya.
"Ya allah, semoga aja Laras mau maafin dan mau bantuin aku," ucap Anita dengan lirih. "Kalau bukan dia, sama siapa lagi aku minta tolong. Sama Hesti gak mungkin banget, dia kan bukan orang pemaaf."
Anita begitu menyesali semua perbuatannya yang selalu mengikuti cara ibunya yang salah. Kini, ia merasakan seperti Laras saat tinggal bersama dirinya dan juga ibunya dulu. "Jadi gini rasanya nahan Lapr dan haus? Kayak Laras dulu," gumannya. Tubuhnya menggigil, wajahnya pucat dan perutnya terasa lapar.
"Mas, berhenti!" pinta Laras tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Arkan sembari melambatkan laju mobilnya.
"Laras liat Kak Anita!" terang Laras saat melihat sosok yang ia kenal sedang berjalan di atas trotoar.
"Anita mana?" tanya Arkan.
__ADS_1
"Kak Anita, sepupu aku. Kakak nya Hesti!" jelas Laras. Wanita itu segera membuka pintu mobil telat setelah mobil itu berhenti.
"Sayang, jangan hujan-hujanan. Nanti kamu sakit!" Arkan mencegah istrinya itu untuk keluar dari mobil.
"Itu Kak Anita, mas. Laras gak salah liat!" Laras begitu kekeuh. Ia pun berlari ke arah trotoar dimana Anita berada.
"Kamu ngapain nemuin dia? Dia udah jahat sama kamu!" Arkan melarang istrinya untuk menemui Anita.
"Kak Anita!" teriak Laras. Anita yang berjalan sembari memeluk tangannya sendiri itu segera menoleh ke arah sumber suara.
"Kak Anita!" panggil Laras lagi.
"Laras? Itu kamu?" Anita memandang ke arah Laras yang masih berjarak beberapa meter darinya.
"Huh!" Laras menghembuskan napas nya. "Kak Anita ngapain jalan kaki hujan-hujanan kayak gini? Bibi mana?" tanya Laras.
Bukannya menjawab, Anita malah menangis. Ia tidak kuasa lagi menahan airmata nya. "Kamu gak takut sama aku? Kamu gak takut aku culik terus aku bawa pulang ke kampung?" Anita menatap wajah Laras dengan berderai airmata.
"Emang bisa? Orang kedinginan terus hampir mati kayak gini nyulik orang?" Laras menatap balik wajah Anita. "Lagian juga, Laras gak takut. Karena ada Mas Arkan yang selalu temenin Laras!" jelas Laras. Ia tidak sadar, bahwa saat ini Arkan sudah di belakangnya sembari memayungi dirinya.
"Kamu emang baik, entah karena bodoh atau apa?"
"Pinter nya!" Akhirnya, Arkan yang memayungi dirinya segera angkat bicara.
"Mas," ucap Laras dengan lirih. "Kasian Kak Anita."
Mendengar perkataan istrinya, Arkan hanya diam saja. Ia hanya menatap Anita dengan tatapan tidak suka nya.
"Kita ajak Kak Anita pulang ya, mas?" pinta Laras. Tapi, lagi-lagi Arkan hanya diam.
"Mas!"rengek Laras.
"Kita kan mau ke kantor, mana mungkin bawa dia!" lirik Arkan dengan begitu tidak suka.
"Ayolah, mas," ucap Laras dengan tatapan panuh harap.
Karena kasian dan tidak tega dengan istrinya. Akhirnya Arkan membiarkan Anita untuk ikut bersama mereka.
"Ya udah lah, kita gak jadi ke kantor!" Arkan segera mengajak istrinya itu untuk kembali ke mobil. Laras pun mengajak Anita yang sudah semakin menggigil itu untuk ikut.
__ADS_1
"Ayo kak," ajak Laras.
"Udah lah, ayok. Dia bisa jalan sendiri!"
Arkan merangkul tubuh istrinya itu dan berjalan kembali menuju mobil. Sedangkan Anita, gadis itu mengikuti dari belakang dengan perasaan tak enak hati.
Sesampainya di mobil, buru-buru Arkan melepaskan jas nya dan memakaikan jas itu pada istrinya. "Dingin, nanti masuk angin," ucap Arkan pada Laras.
"Iya mas," balas Laras.
Mobil Arkan memutar arah dan kembali ke kediamanan dirinya dan Laras. Karena memang jarak nya belum jauh, jadi hanya memakan waktu beberapa menit saja. Mereka sudah tiba kembali di rumah.
.
.
.
Laras meminta Anita membersihkan diri lebih dulu, ia memberikan pakaiannya kepada Anita. Arkan yang melihat hal itu, menjadi semakin tidak menyukai Anita. Pria itu pun diam-diam menghubungi Erland.
"Kak Anita mandi dulu, abis itu baru kita ngomong," kata Laras.
Setelah Anita mandi dan membersihkan diri. Laras mengajak Kakak sepupunya itu untuk di duduk kursi yang ada di area dapur.
"Sekarang kakak ceritain sama Laras. Apa sebenarnya yang udah terjadi sama Kak Anita dan bibi," kata Laras. dengan setia, Arkan selalu berada di samping istrinya. Ia takut, Anita menganggu istrinya itu.
"Kakak kesini mau minta tolong sama kamu, kakak mau minta uang buat biaya rawat ibu di pusat rehabilitasi ODGJ," jelas Anita.
"Loh, kok bibi di sana?" Laras terkejut setelah mendengar cerita sepupu nya.
"Uang yang kami dapat dari hasil meras kalian waktu itu udah habis, ibu ketipu sama penjual perhiasan bodong. Kakak juga baru tahu kemaren pas pegawai bank sita rumah, kakak kaget banget. Karena sebelumnya, kakak udah suruh ibu buat tutup hutang di bank dan juga lunasi hutang yang ada di juragan Karto. Tapi ternyata, ibu gak bayar atau pun cicil hutang-hutang itu sama sekali!" jelas Anita. "Kakak mohon, bantuin kakak. Kakak rela lakuin apa aja asal kamu bantuin urus pengobatan ibu." Anita begitu memohon pada Laras, bahkan ia kembali menangis.
"Itu namanya gak berkah. Kalau kata Erland UANG SETAN DI MAKAN JIN." kata Arkan dengan tatapan tak suka nya. "Tapi, beneran kamu rela lakuin apa aja?" Arkan angkat bicara.
"Iya, asal ibu bisa sembuh,"
"Kalau gitu, saya akan membantu ibu kamu dengan syarat, kamu harus mendekam di penjara untuk menebus semua kesalahan yang sudah pernah kamu lakukan pada istri saya!"
Tanpa pikir dua kali, Anita segera mengangguk. Apapun akan ia lakukan asalkan ibunya dapat di sembuhkan. Lagi pula, jika ia di penjara setidaknya bisa mengurangi sedikit dosa yang sudah ia lakukan pada Laras tempo hari. "Saya setuju!" sahut Anita dengan cepat.
__ADS_1
"Aku yang gak setuju!" sahut suara yang baru saja datang dan langsung menuju ke arah dapur itu. Ia adalah Hesti yang datang bersama Erland.