Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
DI CULIK!


__ADS_3

Tap tap tap.. Langkah beriringan memasuki sebuah cafe. Suara tongkat serta bunyi drap sepatu kedua orang itu mengetuk-ngetuk lantai cafe.


"Ken, kita makan dulu ya. Saya udah lapar," kata Ramon. Ia dan Kenzo baru saja pulang dari perusahaan dan memilih mampir lebih dulu ke cafe x.


"Ya, Tuan!" Kenzo terus mengikuti langkah Ramon yang berjalan pincang menggunakan bantuan tongkatnya.


Sesampainya di dalam cafe, Kenzo memanggil pelayan cafe itu.


"Mbak!" panggil Kenzo.


"Ya, saya!" pelayan itu mendekat. Dan alangkah terkejutnya pelayan itu setelah melihat wajah yang selama ini ia tunggu dan cari-cari. "Kak Ramon!" sebutnya.


"Ramon diam terpaku di tempat, ia memandang wajah Diana dalam diam. Tapi sesaat kemudian, "Ken, kita pulang. Saya gak jadi makan," kata Ramon.


"Baik, Tuan!" sahut Kenzo dengan patuh. "Maaf mbak, gak jadi."


Ramon pun bangkit dari kursinya dan bejalan keluar dari cafe itu dengan tergesa-gesa. Ia begitu malu untuk bertemu dan berbicara dengan Diana.


Melihat Ramon yang hendak pergi, Diana segera mengejarnya.


"Kak Ram, tunggu!" teriak Diana. Ia melangkah cepat guna menyusul Ramon dan Kenzo yang sudah berada di luar cafe.


Wanita itu terus mengejar hingga parkiran. "Kak tunggu!" pinta Diana dengan begitu memelas.


"Maaf untuk segalanya Diana," ucap Ramon dengan lirih tanpa berani melihat ataupun memandang wajah Diana.


"Tolong kak, tolong dengarkan Dian. Tolong bantu Dian," kata Diana. Mata wanita itu berkaca-kaca menahan tangis.


"Bantu apa?" tanya Ramon.


"Tolong berikan hak anak Dian, agar dia bisa seperti anak lainnya yang bersekolah," ucap Diana. Jatuh sudah airmata nya.


Deg! Anak? Itu artinya, Diana tetap mempertahankan janin nya pada saat itu? begitu batin Ramon.


"Anak? Anakku?" tanya Ramon dengan wajah yang sulit di artikan.


"Iya, Dian mohon. Tolong berikan haknya, Dian gak menuntut apapun, dia cuman pengen Radit punya akta supaya dia bisa sekolah." tanpa ada rasa ragu dan malu, Diana bersimpuh di hadapan Ramon di tempat keramaian itu.


"Diana bangun lah, jangan kayak gini," kata Ramon. Pria itu berusaha untuk meraih tubuh Diana yang bersimpuh di kakinya.

__ADS_1


Melihat hal itu, Kenzo segera membantu Tuan nya. Ia mengakat tubuh Diana yang bersimpuh. "Nona, tolong jangan seperti ini!"


Diana bangkit dan tanpa di duga oleh Diana, Ramon malah memeluk tubuhnya dengan erat. "Maafin aku, maafin aku yang gak berguna ini, Diana! Aku begitu malu atas semua yang telah terjadi." lama Ramon mendekap tubuh Diana. Diana pun di buat semakin menangis olehnya.


"Dimana? Dimana anakku?" tanya Ramon kemudian.


"Ada di rumah, di belakang cafe ini," kata Diana.


"Kita kesana sekarang! Kita jemput dia," ucap Ramon. "Kamu mau kan? Ikut aku yang cacat dan gak berguna ini?" Ramon menangkup wajah Diana dengan kedua tangannya. Dengan perasaan haru, Diana segera mengangguk.


"Kita mulai semuanya dari awal, kita jalani kehidupan kita buat lebih baik kedepannya. Kamu mau kan?" Lagi, Ramon terus berbicara. Ia menahan rasa sakit di kaki kanannya yang terlalu lama bertegak dan menompang tubuhnya.


"Tuan, sebaiknya kalian mencari tempat duduk. Saya takut, kaki Tuan akan kembali bermasalah!" ujar Kenzo. Pemuda itu mengingatkan tuan nya.


"Kaki Kak Ram kenapa bisa sampai kayak gini?" tanya Diana.


"Ceritanya panjang, dan anggap ini teguran supaya aku bisa jadi orang yang lebih baik," jawab Ramon.


Akhirnya, Diana mengajak Ramon dan Kenzo berjalan menuju ke arah belakang cafe itu. Dimana kontrakan yang menjadi tempat tinggal dirinya bersama putranya.


"Kami tinggal di sini," kata Diana setelah sampai di kontrakan minimalis yang ia tinggali.


"Sebentar, Dian panggil," kata Diana. "Radit..!" panggil Diana, ia menyebut nama putranya itu.


"Iya, bu. Radit lagi salin," teriak anak itu dari dalam rumah. Tak lama,kemudian, anak kecil itu keluar dari dalam rumah dengan rambut basah dan juga wajah nya yang cemong oleh bedak.


"Anak ibu udah mandi?" Diana memeluk dan mencium putranya itu.


"Udah, udah ganteng gini," kata Radit. "Bu, om dua ini siapa?" tanya Radit sembari menujuk Ramon dan Kenzo.


"Di, dia anakku? Anak kita?" tanya Ramon dan Diana mengangguk.


"Boy, ini ayah. Aku ayahmu!" Ramon mendekati Radit dengan perlahan.


Ramon pikir, anak itu akan menghindari dirinya. Nyatanya dia salah, anak kecil itu ikut mendekat dan memeluk kaki nya.


"Beneran ayah Radit? Kalau gitu sekarang Radit punya ayah," kata Radit dengan begitu bahagia. "Ibu gak akan nangis lagi dong sekarang."


Deg! Diana terkejut mendengar perkataan putrinya. Jadi, selama ini Radit mengetahui bahwa dirinya sering menangis.

__ADS_1


***


"Ma, Laras pergi keluar bentar ya. Mau beli bahan kue buat papa besok," kata Laras pamit kepada Mama Rita. Pasalnya, besok adalah hari ulang tahun Papa mertuanya.


"Sama siapa? Mau mama temani?"


"Biar Laras sendiri aja, ma. Gak lama kok, abis itu Laras pulang," kata Laras. "Lagi pula, hari udah sore." tambahnya.


Akhirnya, Laras pergi ke toko terdekat dengan di antarkan oleh Mang Udin.


Beberapa menit kemudian, mobil yang di kendarai Mang Udin berhenti di depan toko yang menjual khusus alat dan bahan-bahan membuat kue.


"Mamang tunggu sebentar ya, Laras gak lama," kata Laras sembari membuka pintu mobil itu. Jujur saja, sebenarnya ia begitu malas untuk keluar rumah. Tapi, demi kejutan untuk Papa Han, yaitu papa mertua yang begitu ia sayangi. Ia pun memaksakan diri untuk keluar rumah.


Laras pun masuk ke dalam toko, ia memilih banyak sekali bahan-bahan untuk membuat kue. Setelah selesai, ia membawa keranjang belanjaan nya menuju meja kasir.


Setelah membayar semua belanjaannya, Laras keluar dari toko dan menuju parkiran dimana Mang Udin menunggunya.


"Mang, ayo," kata Laras di samping mobil itu.


"Udah Non?" tanya Mang Udin.


Belum lagi Laras masuk kedalam mobil itu, dua orang berbadan kekar menarik dan membiusnya. Kedua orang itu segera membawa Laras lari tadi tempat itu.


Mang Udin yang melihatnya menjadi ketakutan.


"Non Laras!" dengan terburu-buru, pria 42 tahun itu turun dari mobilnya.


"Tolong.. Tolong.." teriak Mang Udin pada semua orang.


"Ada apa ini, pak?" tanya salah satu orang.


"Tolong saya, majikan saya di culik," kata Mang Udin. "Ya allah, gimana ini?" Mang Udin menjadi begitu cemas. Ia pun memilih untuk menghubungi Papa Han dan juga Mana Rita.


"[Haloo!]"


"[Ya hallo. ada apa Din?]" tanya Papa Han yang ada di seberang telpon.


["Tuan, Nona Laras di culik di depan toko kue. Sekarang Udin gak tau harus bagaimana?]" jelas Udin dengan cemas.

__ADS_1


"Astagfirullah, Laras!" pekik Papa Han. Pria separuh baya itu buru-buru keluar dari kantornya dan meninggalkan semua pekerjaannya.


__ADS_2