Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
SELAMATKAN ISTRI SAYA DAN JANIN NYA!


__ADS_3

Dengan wajah memelas dan airmata yang terus mengalir, Laras memohon pada Arkan. "Ya mas? Laras mohon, biarkan Laras berjuang," kata Laras. "Coba mas pegang!" Laras meletakan telapak tangan suaminya itu di permukaan perutnya.


Arkan semakin menangis, pria itu menjadi benar-benar dilema dan menjadi semakin sulit untuk memilih. "Dia bayi kita, dia respon semua yang kita omongin mas. Dia tau, mas ngerasain dia gerak? Dia gerak karena dia hidup mas, dia juga pengen hidup sama kayak kita."


"Akhhhhh!" Arkan yang memeluk istrinya itu berteriak dengan kencang. "Mas harus gimana? Mas gak mau kehilangan kamu, mas juga sekarang gak bisa keluarin bayi ini!" pekik Arkan.


"Kasih Laras kesempatan, mas. Laras mohon," suara Laras semakin Lirih. Wanita yang berada di dalam dekapan suaminya itu, mencoba untuk menyentuh wajah suaminya. Akan tetapi, baru saja sampai ke wajah itu. Tangannya terjatuh dan terkulai lemas. Laras kembali hilang kesadaran.


"Sayang.. Laras.." Arkan menepuk pipi istrinya dengan perlahan. Tetapi, istrinya itu sudah tidak merespon. "Mbok, tolong buka pintu mobil Arkan!" teriak Arkan. Pria itu benar-benar menjadi panik setelah melihat keadaan istrinya.


Buru-buru Mbok Nunung berjalan keluar dan di ikuti oleh Arkan yang menggendong tubuh istrinya.


"Mbok, pegangin Laras ya. Kita ke rumah sakit," kata Arkan. Mbok Nunung pun mengangguk, wanita separuh baya itu pun tak henti-henti nya menangis.


Seperti orang yang sudah kehilangan akal, Arkan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan sudah beberapa kali mobil Ferrari berwarna merah itu menyerempet pembatas jalan dan hampir menabrak kendaraan yang ada di hadapannya.


"Ya tuhan, kenapa lambat sekali!" gerutu Arkan, ia merasa mobil nya itu melaju dengan begitu lamban.


Sesampainya di rumah sakit, Arkan kembali membopong tubuh istrinya dan masuk ke dalam rumah sakit sembari berteriak-teriak.


"Dokter! Dokter Danang!" suara Arkan menggema di koridor rumah sakit itu. "Dokter!"


Arkan berlari menuju IGD tempat istrinya biasa di tangani.


"Dokter, tolong segera sembuhkan istrinya. Selamatkan dia dan kandungannya," pinta Arkan pada Dokter Danang yang sudah berada di hadapannya. Dokter Danang menatap wajah Arkan dengan lekat, setelah itu Dokter Danang segera masuk ke dalam ruangan IGD itu.


Dokter Danang pun memeriksa keadaan Laras. Sedangkan di luar ruangan itu, Arkan mondar mandir sembari terus mengusap airmata nya yang menetes dengan kasar. Perasaannya begitu kacau, ia begitu takut kehilangan dan begitu takut di tinggalkan.


"Arkan, bagaimana keadaan Laras?" Papa Han dan Mama Rita menghampiri Arkan dengan tergesa-gesa.


"Dia pingsan lagi, pa," jawab Arkan. "Arkan gak nyangka, selama ini dia bohongin kita. Dia gak konsumsi obat penggugur janin yang selama ini kita kasih ke dia." jelas Arkan.

__ADS_1


Maka, melolot lah mata Papa Han dan Mama Rita di buat nya.


"Apa? Gimana bisa dia gak konsumsi?" Mama Rita bertanya.


"Arkan juga gak tau, tapi tadi dia bilang gak akan ada satupun orang yang bisa singkirkan bayi nya. Dia tahu kalau kita semua bohongin dia dan mau gugur kan kandungannya secara halus." jelas Arkan lagi.


"Ya allah, tolong selamatkan menantuku," ucap Mama Rita.


"Jadi, gimana keputusan kamu? Mau mengeluarkan janin itu secara paksa atau membiarkan nya, Ar?" tanya Papa Han. Tampak, pria separuh baya itu memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.


"Arkan gak bisa memilih, pa. Istri dan anak Arkan, Sama-sama berarti. Apalagi, selama ini Laras udah berjuang sendirian mempertahankan janin itu demi kita," kata Arkan.


"Maksud kamu apa, Ar?" tanya Mama Rita.


"Hiks.. Dia pertahankan bayi itu buat Arkan, dia pengen kasih Arkan anak. Juga buat mama, papa. Dia rela dan ikhlas meninggalkan dunia ini, asal dia bisa kasih mama dan papa cucu, seperti yang kalian ingin kan dan impikan selama ini."


"Papa gak meyangka, dia begitu perduli sama kita. Sampai rela mengorbankan nyawanya," ucap Papa Han dengan pelan.


Di dalam IGD tempat Laras di tangani.


"Dokter, detak jantung pasien semakin melemah," kata salah satu perawat pendamping.


"Pasang masker oksigen!" Perintah Dokter Danang. Perawat pun segera memasang maker oksigen pada Laras yang tidak sadarkan diri.


"Bagaimana ini? Kerusakan ginjal nya sudah semakin parah. Jika terus seperti ini, pasien bisa mengalami kelumpuhan ataupun kehilangan nyawa." guman Dokter Danang.


"Dokter, detak jantungnya semakin lambat," tunjuk perawat itu pada layar monitor.


"Siapkan Defibrillator! " perintah Dokter Danang lagi.


Dokter Danang dan dua orang perawat pendampingnya panik, keringat pun sudah membasahi pori-pori ketiga wajah orang itu.

__ADS_1


Nit.. Nit.. Nit..


"Lihatlah, Dokter! Detak jantung pasien kembali normal!" salah satu perawat itu menujuk layar monitor. Perawat itu membuka maskernya dan tersenyum lega.


"Alhamdulillah.. Semangat hidupnya lah yang mampu membuat dirinya bertahan hingga saat ini," kata Dokter Danang.


"Dia begitu luar biasa, dokter. Bertahan dan berusaha sendirian untuk melawan kematian."


"Saya juga heran, di dalam keadaan sakit seperti ini. Kenapa bayi yang ada di dalam kandungannya terus bergerak aktif dan mampu bertahan?" heran perawat yang satunya lagi.


"Ini semua ke ajaiban TUHAN. Tuhan maha mengetahui, maha pemberi dan juga maha mengasihi." Dokter Danang menyeka keringatnya dengan lengan jas putih yang ia kenakan. "Tolong, kalian pantau dan awasi! Saya ingin menemui keluarga Sudradjat yang sudah menunggu di luar sedari tadi."


"Baik dokter!" timbal dua perawat itu bersamaan.


Dokter Danang pun segera membuka pintu IGD dan keluar dari ruangan itu.


"Dokter, bagaimana keadaan istri dan janin nya?" tanya Arkan sembari menghampiri dan menyentuh tangan Dokter Danang.


"Alhamdulillah, keadaan pasien sudah kembali stabil walaupun sempat drop," kata Dokter Danang. "Istri Tuan Arkana begitu luar biasa dan hebat."


"Apa saya boleh masuk dan menemani istri saya?" tanya Arkan.


"Silahkan, tapi kalian semua tidak boleh masuk. Masuk lah dengan cara bergantian agar pasien tidak merasa terganggu!" terang Dokter Danang. "Kalau nanti sudah selesai, tolong temui saya di ruangan saya!"


"Baik dokter," kata Arkan. Pria itu pun segera masuk ke dalam IGD tempat istrinya di rawat dan di tanganni.


"Sayang.." Arkan mendekati istrinya dan mencium kening wanita yang terbaring tak sadarkan diri itu. "Kamu yang kuat, ya. Mas akan pernah lagi bohongin kamu. Kita bakal perjuangkan bayi kita sama-sama, kamu gak sendirian lagi sekarang. Ada mas, mas juga pengen berjuang!" Arkan menangis terisak. Ia tidak perduli dengan dua orang perawat yang ada di dalam ruangan itu.


"Bangun yank, ayo kita sharing. Kita ngobrol masalah bayi kita," ucap Arkan. "Ka-ka-kamu.. Kamu pengennya cewek apa cowok? Nanti kalau cewek, pasti cantik, penyayang, baik hati dan juga memiliki jiwa sosial yang tinggi kaya kamu." Arkan terus berbicara.


Sudut bibir Laras yang memakai masker oksigen itu sedikit bergerak. Airmata menetes di sudut matanya.

__ADS_1


"Sayang, kamu denger mas?" Arkan kembali mencium kening istrinya dan menyentuh sudut mata istrinya yang mengeluarkan cairan cristal bening.


__ADS_2