
Keesokan harinya, Bu Yanti dan Anita sudah tiba kembali di Kota Marang. Mereka sangat senang karena berhasil mendapatkan uang yang banyak dengan mudah.
“Yes, kita bisa shopping sampe puas,” kata Anita sembari membuka tas yang berisi banyak uang itu.
“Bener banget, ibu pengen beli perhiasan biar tetangga kita pada iri.” Bu Yanti dan Anita mengeluarkan uang itu dan melegakannya ke atas meja ruang tengah rumah mereka.
“Tapi, kerjaan suaminya Laras itu apa ya, bu? Dia bos besar kah?!”
“Ibu gak tau, dan gak usah di pikirin. Yang penting kita udah berhasil dapetin uang banyak,” kata Bu Yanti.
“Oh! Jadi kalian abis dari Jakarta! Kalian meras suami Laras?!” tiba-tiba Hesti merebut dan membanting tas uang yang ada pada Bu Yanti dan Anita.
Tampak, Hesti begitu murka pada Ibu dan Kakak nya itu. “Tega banget ya, kalian!” tunjuk Hesti pada Ibu dan Kakak nya.
“Seharunya kamu bersyukur, setelah ini kamu gak akan capek-capek lagi kerja buat aku dan ibu!” Anita memungut uang yang berhamburan di lantai ruang tengah rumah itu.
“Kalian emang kayak B*BI!” Hesti berjalan melewati Ibu dan Kakak nya itu menuju kamar.
Gadis itu mengemasi pakaiannya dan memasukannya ke dalam tas. Ia sudah tidak tahan lagi kepada dua orang siluman yang berwujud manusia itu.
“Aku harus minta maaf sama Laras dan suaminya. Aku gak mau Laras salah paham, dan mengira kalau aku yang udah kasih tau dua setan itu kalau dia masih hidup,” ucap Hesti dengan perasaan yang dongkol.
Hesti pun menggendong tas ransel kecilnya dan juga menarik koper pakaiannya.
“Mau kemana kamu?” tanya Anita pada adiknya yang sudah bersiap untuk pergi.
“Kemana aja, asal gak tinggal sama Dajjal kayak kalian!” tunjuk Hesti. Ia sudah sangat muak dengan tingkah Ibu dan Kakak nya yang makin keterlaluan.
“Bilangin ibu sendiri Dajjal, durhaka kamu!” tunjuk Bu Yanti pada anaknya itu.
“Gak perduli aku!” cetus Hesti. “Lagian, kalian emang gak punya pikiran. Ingat, bu! Ini rumah peninggalan kedua orangtua Laras, semua ini milik mereka. Tapi ibu dan kakak, selalu nyiksa dia. Selalu perlakukan dia gak baik.”
“Udah, kalau mau pergi, sana pergi. Gak usah ceramah,” kata Anita.
“Ingat! Karma itu ada dan nyata. Suatu saat kalian akan mendapatkan karma itu,” kata Hesti dengan emosi yang menggebu-gebu. “Di saat kalian kesulitan, jangan pernah berharap dan berpikir untuk menemui aku dan Laras lagi!” tegas Hesti. Setelah itu, ia menarik kopernya keluar dari rumah itu. Dan memanggil ojek untuk mengantarnya ke terminal.
“Mau kemana, Mbak Hesti?” tanya salah satu tetangganya. Saat melihat Hesti menaiki ojek.
“Mau nengokin Laras di jakarta, bu,” kata Hesti.
“Bang, terminal ya. Ngebut dikit, udah mau jam 2 ini,” kata Hesti pada Kang Ojek.
.
__ADS_1
.
.
Di perusahaan anak cabang SUDRADJAT GRUP. Saat ini, Arkan dan Laras sedang tidur di dalam kamar yang ada di Rungan Arkan..
“Mas, uang segitu kok kamu kasih gitu aja ke mereka?” tanya Laras pada suaminya. Saat ini, ia sedang berbaring di kaki Arkan.
“Uang segitu gak ada apa-apa nya, kalo di bandingkan sama aku,” kata Arkan. Mendengar perkataan Arkan, Laras segera beringsut dan memeluk leher suaminya itu.
Mata Laras menyapu setiap inci wajah suaminya dengan kedua bola matanya yang bertatapan teduh itu.
“Mas,” ucap Laras lirih sembari menyentuh bibir suaminya dengan ibu jarinya.
“Kenapa? Hmmm!” Arkan menahan tubuh istrinya yang sudah duduk di pangkuannya itu. Bukan ia tidak peka dengan keinginan istrinya itu, tapi ia tidak ingin mengecewakan istrinya saat berada di ujung permainan dan terpaksa harus menghentikannya.
“A-a-aku aku boleh cium? Hehee!” Laras nyengir kuda. Napasnya sudah naik turun.
“Cium aja,” kata Arkan.
Setelah mendengar perkataan Arkan, Laras segera memagut bibir suaminya itu dengan lembut. Dengan perlahan pula, Arkan mulai membuka bibirnya itu. Ia membalas ciuman istrinya seperti biasa. Ia tidak ingin istrinya itu bermain sendiri.
“Sayang?” panggil Arkan.
“Emmm!”
“Laras gak butuh sampe di situ, Laras cuman pengen kayak biasanya aja,” kata Laras yang membenamkan wajahnya di ketika Arkan. “Bantuin aku.” Pintanya.
Dengan segera, Arkan mengangkat tubuh istrinya yang duduk di atasnya itu dan membaringkan tubuh itu di atas ranjang.
Yang di maksud Laras biasanya, adalah OR*L **** yang biasa di lakukan Arkan padanya. Sudah hampir setengah tahun mereka menikah, pastilah bukan perkara yang mudah bagi Arkan dan Laras. Meskipun Laras belum pernah melakukan hubungan yang sesungguhnya, tetapi ia normal dan sehat. Jadi, ia bisa merasakan napsu dan keinginan itu.
Arkan menggerayangi tubuh istrinya itu dan membuka kain yang melekat di tubuh Laras. Arkan mencium dan meng*cup bagian-bagian tertentu pada tubuh Laras. Laras seperti cacing kepanasan di buatnya.
“Ahhh..!” des*han panjang Laras, saat suaminya bermain di area nya menggunakan jari. Arkan terus memainkannya sampai pada puncak klim*ks istrinya itu.
“Maafin aku, sayang,” ucap Arkan setelah ia selesai dan menutupi tubuh istrinya itu dengan selimut. Laras hanya menggeleng sembari tersenyum. Napas yang tadi naik turun, kini sudah lebih rileks.
“Jangan bilang maaf lagi, mas. Udah pilihan hati kita untuk berkomitmen dalam pernikahan ini, jadi apapun itu kita harus melewatinya sama-sama.
“Istirahat, kalau kamu capek. Tidurlah, nanti jam pulang. Mas bangunin kamu,” kata Arkan. Pria itu turun dari ranjang dan membersihkan wajah dan juga tangannya ke kamar mandi. Setelah selesai, ia membenarkan kemejanya.
Sebelum keluar dari kamar itu, ia menciumi wajah istrinya bertubi-tubi. “Tidur sayang, mas masih ada kerjaan sedikit lagi.”
__ADS_1
“He’em!” Laras pun memasukan kepalanya ke dalam selimut dan segera memejamkan mata.
.
.
.
Malam harinya, Hesti baru saja turun dari terminal. Jam sudah menujukan pukul 20:47 malam.
“Bangke! Tau gini, aku naik travel aja tadi. Naik bus lama betol sampe nya!” gerutu Hesti sembari berjalan dengan menarik kopernya. Berbicara toxic, itulah kebiasaan Hesti.
“Udah malam kek gini, tidur dimana pula, aku. Masa mau tidur di trotoar, yang pas bangun pagi-pagi besok, aku di kira cewek cantik yang depresi karena di tinggal kawin sama kekasih, makanya tidur di pinggiran jalan.” Hesti terus berceloteh tidak jelas di jalanan itu.
“Huaaaaa! Jangan mati sebelum nikah!” teriak Hesti saat sebuah mobil hitam melaju ke arahnya.
Ckitt! Mobil itu mengerem mendadak tepat saat beberapa centi lagi menyentuh tubuh Hesti.
“Oeii! Gila kau, ya!” teriak pengendara itu sembari membuka pintu mobil dan kaluar dari mobilnya.
“Anjirr! Masih idup rupanya aku,” kata Hesti sembari menyentuh pipinya yang chuby.
“Bisa minggir enggak!” pengendara mobil itu menarik tangan Hesti ke atas trotoar.
“Jangan narik-narik, bang. Nanti ku teriaki pencabulan, bari tau rasa!” cetus Hesti.
“Kamu!” tunjuk orang itu. “Muka kamu kok kayak gak asing, ya! Kayak mirip sama!” pengendara itu tampak berpikir.
“Kayak Mirip sama Tajaswi prakash artis india yang cantik dan gemoy itu kan?” dengan bangganya, Hesti mengatakan dirinya mirip artis india di hadapan orang yang tidak di kenal nya itu.
“Huuuu! Matamu soak!” pengendara itu menoyor kepala Hesti yang sedikit pendek dari nya.
“Kamu mau kemana sih? Malam-malam kayak gini, sendirian pula. Emang kamu gak takut di culik sama O-“
“Woy! Ayo, aku numpang mobil kamu buat cari penginapan. Atau ikut ke rumahmu juga boleh!” teriak Hesti yang sudah berada di dalam mobil pengendara itu dan duduk di kursi samping kemudi.
“Luar biasa ini perempuan!” pengendara itu menepuk jidat. “Apes banget aku malam ini.”
“Kamu tadi masuk dari mana? Perasaan pintu sebelah sana terkunci?” tanya pengendara itu.
“Bangke! Punyamu kan kebuka, ya masuk dari sana lah! Emang dari mana lagi!” Hesti seperti tidak punya rasa takut dan malu.
Mendengar kata punyamu! Pengendara itu melihat resleting celananya dan juga kancing pakaiannya.
__ADS_1
“Abah! Mesum pikiran kau, ya?” kini gantian, Hesti lah yang menoyor kepala pengendara itu menggunakan kelima jarinya.
“Mesum efek kelamaan ZUMLU!” sahut pengendara itu.