
Bruk! Ramon mendobrak pintu ruangan itu.
"Laras.. Ayo keluar, aku janji gak akan lakuin hal buruk sama kamu," kata Ramon sembari berjalan masuk kedalam ruangan kerja itu.
"[Laras, hallo! Apa kamu masih disana?]" Erland terus memanggil-manggil Laras yang berada di seberang telpon.
Melihat langkah Ramon yang semakin dekat pada posisinya, Laras semakin ketakutan. Tubuhnya semakin bergetar hebat.
"Mau sembunyi kemana lagi, kamu? Hmmm!" Ramon tersenyum smirk pada Laras yang duduk dengan menekuk kedua lututnya di balik lemari besi tempat Arkan menyusun semua berkas dan buku-bukunya.
"Kak Ramon, Laras mohon jangan kayak gini," pinta Laras dengan wajah yang begitu memelas.
"Aku udah ajak kamu bernegosiasi dari awal. Tapi kamu selalu menolak aku," kata Ramon sembari menarik tubuh Laras dengan paksa.
"Lepasin, kak. Jangan!" pekik Laras.
"[Ramon! Bajingan!]" maki Erland yang mendengar semua itu dari sambungan telpon.
"Ada apa, bang? Laras kenapa?" tanya Hesti kepada suaminya.
"Ramon di rumah Arkan, Laras dalam bahaya. Abang harus kesana sekarang!" Erland segera berlari keluar dari dalam rumah. Membuat Hesti ikut panik.
"Bang, Hesti ikut. Hesti mau lihat keadaan Laras," kata Hesti pada suaminya.
"Kamu lagi hamil, ini udah malam dan gak baik buat kandungan kamu!" ujar Erland yang sudah berada di dekat mobilnya.
"Bangsat! Kuncinya ada di dalam!" teriak Erland dengan kesal. Pasalnya, ia tidak membawa kunci mobilnya. Pria itu kembali berlari masuk ke dalam rumah, ia mengambil kunci mobilnya yang berada di atas meja ruang tengah.
"Kamu masuk, kunci pintunya. Besok pagi, kalau abang gak pulang kamu bisa susulin!"
Erland segera meninggalkan istrinya didepan pintu rumah mereka.
Di satu sisi Erland sedang tergesa-gesa menuju kediaman Arkan. Disisi lain, Laras sedang berusaha lepas dari dekapan Ramon.
"Lepasin Laras!" pekik Laras sembari memberontak. Ramon terus memaksa Laras dan meminta wanita itu diam.
"Diam lah! Aku janji, setelah ini bakal nikahin kamu. Kamu tinggalkan Arkan yang gak berguna itu!"
"Kamu gila! Kamu pria gak waras!" teriak Laras. Wanita itu menarik paksa tangannya yang di genggam erat oleh Ramon.
Bleduk! Laras yang menarik tangannya dengan sekuat tenaga, terdorong dan membentur lemari besi tempat menyusun berkas-berkas milik suaminya.
"Auuuuhh!" rintih Laras.
"Laras, kamu gak apa-apa?" Ramon kembali mendekati Laras. Pria gila itu terlihat panik setelah melihat Laras yang meringis sembari memegangi pinggangnya.
"Pergi, aku mohon," kata Laras. Ia sudah tidak tahan lagi berpura-pura tegar, airmata nya sudah mulai menetes. Rasa takut sudah menggerogoti jiwanya.
"Aku aku gak bermaksud buat nyakitin kamu. Aku sayang sama kamu, aku gak bisa tanpa kamu," kata Ramon. Ia mendekap paksa tubuh Laras. Laras semakin menangis di buatnya.
__ADS_1
"Akhhhhh!" pekik Ramon. Tiba-tiba saja, Laras yang berada dalam dekapan nya menggigit bahunya dengan sangat keras. Spontan, ia melepaskan tubuh Laras dari dekapan nya.
Melihat Ramon sedikit lengah, Laras segera bangkit dari lantai itu dan berlari keluar dengan menahan rasa sakit pada kaki dan pinggangnya.
"Sialan! Kamu gak bisa di baikin sama sekali, aku bakal tunjukkin siapa aku sebenarnya!" pekik Ramon sembari bangkit dari lantai itu dan mengejar Laras.
Laras berlari menuju lantai atas, niatnya ingin bersembunyi di pojokan rumah itu, tempat yang jarang di tempati. Tapi, baru sampai di puncak anak tangga. Ramon sudah kembali mengejarnya.
"Mau kemana kamu?" bentak Ramon sembari menarik tangan Laras.
"Ampun kak, Laras mohon jangan kayak gini," kata Laras.
"Aku gak peduli lagi kamu mau ngomong apa!" lagi, Ramon mulai berbicara kasar pada Laras.
"Auuhhhh!" Laras merasakan sakit pada lengannya yang di cengkram oleh Ramon. Ramon pun mengakat paksa tubuh Laras menuju lantai atas rumah itu.
"Lepasin!" Laras memukul-mukul tubuh bagian belakang Ramon, tapi Ramon seperti tidak merasakan sakit dari pukulan Laras.
Brak! Ramon mendorong keras pintu kamar milik Arkan dan Laras. Ia menghempaskan tubuh Laras dengan kasar ke atas ranjang.
"Kamar ini akan menjadi saksi bisu penyatuan kita," kata Ramon sembari melepaskan dan melempar jaketnya. Ia naik ke atas ranjang itu .
"Jangan, aku mohon!" Laras beringsut dari ranjang itu sembari terus memohon dan mengiba. Ramon tidak merasa kasihan sedikitpun pada Laras, pria itu terus maju dan mengungkung tubuh Laras di bawah tubuhnya.
Ramon menciumi paksa wajah dan leher Laras dan meninggalkan jejak di area leher jenjang dan putih mulus itu, membuat wanita itu menjerit dan menangis frustasi.
"Hiks! jangan!" pekik Laras dengan tangis yang terdengar pilu.
Rasa obsesi nya sudah membutakan hati dan perasaannya. Ia begitu mengingkan Laras, istri dari teman nya sendiri.
"Jangan!" Laras menahan pakaian bagian depannya yang sedang dibuka paksa oleh Ramon.
Erland yang sudah tiba, segera memasuki rumah itu dan menuju lantai atas. Ia yakin betul, bahwa Laras pasti ada di lantai atas rumah besar itu.
"Bajingan!" pekik Erland saat sudah tiba di lantai atas dan melihat perbuatan bejat Ramon.
Bruk! Erland mendekat dan menarik tubuh Ramon dari atas tubuh Laras dengan kasar dan memukul wajah pria itu berulang-ulang. Setelahnya, Ia menghempaskan tubuh Ramon ke lantai kamar itu.
"Kak Er, Laras takut," ucap Laras dengan lirih sembari mundur dari ranjang itu.
Erland menatap Laras dengan tatapan iba. Pria itu meraih selimut untuk menutupi tubuh bagian atas Laras yang sudah hampir terbuka total.
Erland memeluk tubuh Laras. "Jangan takut, ada kakak di sini! Kakak gak akan biarin kamu pergi untuk kedua kalinya dari hidup kakak."
"Kamu tunggu disini, kakak bakal kasih pria bejat ini pelajaran!" Erland melepaskan pelukannya pada Laras, ia beralih pada Ramon yang terduduk di lantai sembari tersenyum mengejek pada Erland.
Erland yang begitu emosi, segera menuju ke arah Ramon. Dan terjadilah perkelahian antara kedua orang itu.
.
__ADS_1
.
.
Arkan yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya. Segera membuka ponselnya yang mode senyap itu, ia melihat beberapa panggilan dan pesan dari istrinya.
Ia begitu kaget dan panik setelah membaca pesan yang dikirimkan istrinya sekitar 20 menit yang lalu itu.
"Laras!" Ia segera meninggalkan semua alat-alat pekerjaannya dan bergegas pulang. "Bodohnya aku, kalau sampai terjadi sesuatu sama Laras. Aku gak akan memaafkan diri aku sendiri!" gerutunya. Ia benar-benar panik dan menyesal.
Beberapa menit kemudian, mobil Arkan sampai di depan rumahnya.
"Erland, Ramon!" sebutnya saat melihat dua buah mobil yang ada di halaman rumah yang luas itu.
Pria itu segera berlari masuk dan menuju lantai atas. "Laras!" sebutnya sembari masuk kedalam kamar.
Ia melihat Ramon yang sudah tidak berdaya di lantai rumah itu. Sedangkan Erland, pria itu menatap tajam kearahnya yang berada di ambang pintu.
"Er!" sebut Arkan.
Buk! Erland membogem wajah Arkan dengan keras. "Itu hukuman karena tidak mendengar nasehatku!
Buk! "Ini balasan untuk adikku yang kau sakiti!"
Buk! "Ini hukuman atas kebodohan sahabatku!"
Arkan jatuh tersungkur di lantai, tepat di samping Ramon.
"Bangun!" bentak Erland dengan kobaran emosinya.
Arkan bangkit dari lantai itu, ia pasrah meskipun Erland akan membunuhnya. Ia benar-benar menyesal atas kebodohan yang ia lakukan.
Buk! "Ini hadiah untuk kebodohan yang telah kau lakukan!"
"Dan ini, untuk semua rasa sakit yang telah di terima adikku beberapa hari terakhir!" Buk! Erland memukul perut Arkan dengan sangat keras, hingga pria itu kembali tersungkur dengan terbatuk-batuk. Bibirnya mengeluarkan cairan berwarna merah, pukulan yang di terima Arkan hampir sama dengan pukulan yang diterima oleh Ramon. Kedua orang itu sudah sama-sama tidak berdaya di lantai kamar itu.
Laras yang menyaksikan hal itu hanya diam saja sembari menangis.
"Laras!" panggil Erland pada Laras yang duduk di pojokan ruangan dengan kaki, pinggang dan lengan yang lebam.
"Iya, kak!" sahut Laras sembari berjalan mendekat pada Erland.
"Ayo ikut kakak pulang, tinggalkan dua manusia gak berguna ini! Yang satunya bodoh dan yang satunya lagi bejat!" Erland menarik tangan Laras keluar dari kamar itu.
.
.
.
__ADS_1
Mohon maaf🙏 Jika alur semakin tidak jelas!