Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
DIANA AGRESIF


__ADS_3

Setelah selesai makan malam dan menyelesaikan drama keluarga itu. Mereka semua pun membubarkan diri dan pergi menuju kamar mereka dengan pasangan masing-masing. Termasuk Papa Han dan Mama Rita, setelah melewati banyak drama dan masalah.


Akhirnya Mama Rita sudah tidak cerewet lagi, alias kembali ke satelan pabrik. Ia kembali menjadi Mama yang penyayang dan tidak begitu cerewet seperti saat ia ingin menjodoh-jodohkan Arkan seperti dulu. Ia dan Papa Han juga sudah kembali romantis seperti dulu.


"Papa sama Mama mau ngapain? Kok ikut-ikut kami?"


"Emang nya pasangan muda aja yang boleh masuk kamar jam segini?" tanya balik Papa Han sembari menunjuk jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Enggak juga sih! Gak ada larangan, mau tua mau muda sama aja," kata Arkan. Pria itu menghentikan langkah nya, begitu juga dengan Laras. Mereka membiarkan Papa Han dan Mama Rita menaiki anak tangga rumah itu lebih dulu.


"Gini-gini, papa masih kuat. Biar fisik tua tapi jiwa masih jiwa muda, gak kalah sama kamu dan Erland!" ujar Papa Han dengan begitu percaya diri.


"Iya deh, iya. Udah sana duluan!" usir Arkan pada mama dan papanya.


"Ayok ma, kita coba produksi terus. Siapa tahu, di usia kita yang gak muda lagi. Kita di kasih tuhan kepercayaan kedua dan bisa dapat satu paket sama Arkan dan Laras," kata Papa Han.


Sebenarnya, Papa Han dan Mama Rita ingin sekali memiliki anak lagi. Tapi, sampai mereka menua, mereka tidak juga di berikan tuhan kepercayaan yang kedua kalinya. Bahkan saat mereka mendapatkan Arkan, mereka harus menunggu dan berusaha sampai empat tahun lebih.


Mama Rita dan Papa Han pun segera menaiki anak tangga rumah itu lebih dulu.


Setelah memastikan Papa dan mama nya pergi, Arkan kembali membopong tubuh istrinya. Ia menaiki anak tangga rumah itu dengan perlahan, Laras yang mengalungkan tangannya di leher suaminya di buat begitu terkejut karena Arkan tiba-tiba menyambar bibirnya.


"Eummm!" Laras memukul punggung suaminya itu dengan pelan, agar Arkan menyudahi lum*tanya.


"Huh! Mas jangan iseng deh, nanti kita jatuh ke bawah loh!" sungut Laras. "Gak sadar tempat!" gerutunya.


"Gak akan jatuh, udah tenang aja," kata Arkan. Ia terus tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya.


Sesampainya di dalam kamar, Arkan segera menurunkan tubuh istrinya itu dengan perlahan. Ia membaringkan tubuh Laras, sesaat kemudian ia pun ikut naik ke atas ranjang itu.


Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya itu dan sesaat kemudian tangannya bergerak menekan tombol lampu tidur yang terletak di atas nakas.


Klek!


"Gak usah merem-merem, yank. Mas cuman matiin lampu," kata Arkan pada Laras yang meringis sembari memejamkan matanya. Sepertinya, wanita itu benar-benar takut jika Arkan akan kembali mengajaknya bercinta.


"Laras cuman takut," kata Laras.

__ADS_1


"Iya, mas tau. Mas juga gak mau bikin kamu kecapekan terus sakit," balas Arkan sembari meyentuh pipi istrinya. "Sekarang kita tudur!"


"Makasih ya, mas. Udah mau sabar dan ngertiin," ucap Laras sembari memeluk leher suaminya.


"Harusnya, mas yang begitu terimakasih. Selama ini kamu udah sabar nunggu mas dan selalu mau ngertiin," kata Arkan. Ia pun ikut memeluk pinggang istrinya. Kedua anak manusia itu semakin intim saja.


***


Di kediaman Ramon dan Diana. Diana baru saja kembali ke kamarnya setelah menemani putranya tidur.


"Udah tidur?" tanya Ramon dan Diana mengangguk pelan.


"Beneran udah tidur?" Ramon mengulangi pertanyaan nya.


"Udah kak, udah dari tadi. Sekarang dia udah pulas tidurnya," kata Diana. Ia menuju ranjang dan mendekati Ramon yang bersandar pada sandaran ranjang.


"Sini!" Ramon meminta Diana duduk di sampingnya. "Kamu mau kan?" bukan niat bertanya, tapi lebih tepatnya Ramon meminta izin Diana untuk mengambil hak nya sebagai seorang suami.


Diana mengangguk pelan, Ramon pun tersenyum dan menarik tubuh Diana ke atas tubuhnya.


Kini, Diana pun duduk di atas pangkuannya. Ramon menarik tengkuk leher istrinya dan menyambar bibir Diana dengan lembut.


Tak hanya mencium, Ramon pun mel*mat bibir istrinya dengan lembut.


"Eummm!" leng*h Diana saat suaminya itu melepaskan pagutannya. Ramon tersenyum smirk saat melihat wajah Diana berubah merah seperti terbakar. Sebenarnya memang terbakar, tapi bukan terbakar api melainkan terbakar hasrat.


Ramon sengaja memancing gair*h istrinya itu, ia begitu mengenal Diana yang begitu agresif di atas ranjang. Ia kembali menarik tengkuk leher Diana dan mengecup seluruh wajah itu.


Setelah ia menyapu seluruh wajah Diana dengan bibirnya, ia menghentikan aksinya. Diana yang sudah terlanjut menikmati permainan suaminya, segera mendorong tubuh suaminya itu.


"Dari dulu sampe sekarang, suka banget mainin Dian!" protes Diana dengan deru napas yang naik turun. Ramon hanya menanggapi aksi protes istrinya itu dengan senyuman. "Bikin Dian nunggu lama!"


"Bukan mainin, tapi kan kamu tau sendiri kondisi kakak kayak mana," kata Ramon. Ia sengaja mengatakan alasan dengan dalih kakinya yang belum pulih, agar Diana mau memimpin permainan panas malam itu. Sebenarnya, ia masih mampu jika hanya memimpin permainan ranjang akan tetapi ia ingin memastikan ke agresifan istrinya di atas ranjang seperti dulu.


Mendengar perkataan suaminya, Diana segera membuka baju kaos biru muda yang di kenakan oleh Ramon.


Diana segera menyambar bibir suaminya dengan tidak sabaran, ia mencium dan ******* bibir Ramon dengan rakus. Ramon yang merasakan sensasi liar yang di berikan istrinya itu hanya memejamkan matanya.

__ADS_1


Tak hanya sampai di situ, setelah Diana melepaskan pagutannya. Ia mulai menjelajahi area leher dan tubuh suaminya.


"Ahhhh.. Yank!" des*h Ramon saat Diana meng*c*p lehernya dengan buas.


"Kak," Diana menatap wajah Ramon dengan tatapan mata yang sayu. Bertahun-tahun sudah ia menahan hasratnya, malam ini ia bisa melampiaskan hasratnya itu kepada pria yang memancing hasratnya untuk pertama kalinya dulu, yaitu Ramon Kyle.


Melihat mata istrinya yang sudah berkabut gair*h. Ramon segera membantu melepaskan gaun tidur yang di kenakan Diana. Akhirnya, kedua anak manusia itu pun sama-sama polos.


"Sekarang ya, kak," ucap Diana dengan pelan tanpa malu.


Diana pun segera memulai kembali permainan itu, ia memimpin permainan itu dengan buasnya. Ramon pun serasa gila di buatnya.


Setelah Diana berhasil menggiring milik Ramon kedalam miliknya, ia pun mulai menggerakkan tubuhnya dengan pelan dan lama kelamaan, gerakaannya semakin cepat.


"Aucchh.. Di!" Er*ng Ramon. Itulah yang membuat Ramon begitu menyukai servis dari Diana. Wanita itu selalu bisa membuat dirinya merasa puas.


Tak tinggal diam, Ramon pun menyambar kedua bukit istrinya. Ia memainkan bibirnya di area bukit itu, Diana pun menjadi semakin agresif di buatnya.


Cukup lama kedua anak manusia itu melakukan pergumulan, dan pada akhirnya Ramon mencapai puncaknya bersamaan dengan kl*m*ks Diana yang kesekian kali.


Tubuh Diana melemas, ia enggan sekali untuk turun dari atas tubuh suaminya. Ramon pun membiarkan istrinya itu berada di atas tubuhnya dalam waktu yang lama.


"Capek?" tanya Ramon dan Diana mengangguk pelan.


Ramon mengusap keringat yang membasahi tubuh istrinya dengan lembut. "Makasih ya, kamu emang perempuan yang luar biasa."


"Lagi, ya!" pinta Diana. Ramon kembali tersenyum smirk di buatnya, ternyata istrinya itu benar-benar hyper. Untung saja, istrinya itu hanya Berg*irah jika bersamanya.


Jika Laras dan Hesti di buat lelah dengan pasangan mereka. Maka, terbalik dengan Diana. Jika bermain di atas ranjang, Ramon lah yang akan di buat lelah dan kewalahan olehnya.


.


.


.


Yang belum mampir ke karya Neng yang satu ini! Yuk kepoin!

__ADS_1



__ADS_2