
Adis duduk di kursi sambil mengelus lututnya yang terasa nyeri, Arid sendiri berdiri di samping perempuan itu.
"nona.... anda baik baik saja kan"
"ya, aku tidak apa-apa.....?"
"Apa kita pulang sekarang.....?"
"ya, kita pulang sekarang....!"
"boleh saya izin sebentar........!" ucap Arid melihat jam yang melingkar di tangan nya.
"kamu mau kemana?"
"saya ke mushola sebentar....!"
Adis tertegun mendengar penuturan Arid.
"ya sudah.....!"
ucap Adis lalu merogoh tas nya dan menghubungi Arsan.
"halo sayang, kamu dimana?"
"masih di mall bang, ini udah mau pulang!"
ucap Adis lalu menceritakan apa yang terjadi pada nya.
Arsan tertegun mendengar penuturan dari istri nya itu.
"ya sudah kamu tunggu Abang kesitu?"
ucap Arsan langsung beranjak dari duduknya.
tak berapa lama Arid menghampiri nya, terlihat Adis duduk sambil memainkan ponselnya.
"kamu udah selesai.....!"
Arid mengangguk.
"sayang.....!"
ucap Arsan datang.
"Rid kamu gimana sih, enggak bisa jagain Adis...."
ucap Arsan dengan tatapan nanar membuat Arid membeku.
"maaf tapi saya juga tidak mengira hal itu akan terjadi?" ujar arid tanpa menatap Arsan.
"dengar, selama ini kamu tidak pernah mengecewakan saya.. tapi hari ini kamu mengecewakan saya...!"
ucap Arsan lalu membopong tubuh istrinya itu. pergi meninggalkan Arid yang mematung sendiri.
"aku ini Asisten mu, bukan bodyguard yang sengaja kamu kirim untuk menjaga perempuan itu? kasihan salsa!"
gumam Arid sendiri.
"bang, kamu enggak boleh marahin bang Arid seperti itu?"
"Apa? bang?"
tanya arsan Menilik wajah Adis lekat.
"ya lalu harus memanggil nya apa?"
"Arid saja....!"
ucap arsan menurunkan Adis di depan mobil.
"ayo pulang.....!"
ucap Arsan mengecup kening istrinya itu, dari jauh seseorang mengepalkan tangan nya melihat hal itu, hati nya kembali hancur.
"lalu bagaimana belanjaan nya?"
"nanti Arid yang bawa ke rumah.....!"
ucap Arsan lalu melaju kan mobil nya.
Arid sendiri membawa beberapa paper bag belanjaan gadis itu lalu masuk ke mobil menghempaskan tubuhnya yang cukup lelah.
tak lama mereka sampai di rumah besar itu, Adis meminta untuk berjalan sendiri.
terlihat Arid keluar dari mobil dan membawa beberapa paper bag.
"bawa masuk....!"
ucap Arsan lalu pintu terbuka oleh seseorang yang baru Adis lihat, dia adalah asisten rumah tangga yang Arsan bicarakan tadi pagi.
"non.....saya umi..... pembantu di rumah ini..!"
ucap perempuan paruh baya itu membantu Arid membawa beberapa belanjaan.
"saya Adis....!"
ucap Adis senyum lalu berjalan menuju ruangan.
__ADS_1
"rid aku mau bicara sebentar....!"
ucap Arsan lalu beranjak dan di ikuti oleh Arid di belakang.
"kamu tahu siapa yang mendorong Adis...."
"ya, saya tahu....!"
"siapa? kenapa kamu membiarkan nya pergi begitu saja?"
"salsa.....dia yang melakukan hal itu, dia langsung berlari setelah melakukan hal itu..."
ucap Arid Menilik wajah Arsan yang langsung menegang.
"Maaf kalau saya lalai dalam menjalankan tugas saya.... seperti nya salsa ada masalah dengan Adis..."
"itu bukan urusan kamu, sekarang kamu boleh pulang!"
ucap Arsan meninggalkan arid sendiri.
"gimana masih sakit...?"
ucap Arsan duduk di samping Istri nya itu.
"Abang marahin Arid lagi...?" tanya Adis.
"enggak sayang, kalau pun ya itu pantas dia dapatkan... karena dia enggak jagain kamu!"
ucap Arsan mengusap kepala istri nya itu.
"lain kali hati hati ya...!"
Adis mengangguk.
beberapa hari berlalu...
hari ini Adis kembali bertemu dengan arid, kedua nya hendak pergi ke universitas yang akan menjadi tempat nya kuliah.
Arid Menoleh sekilas pada Adis yang sibuk dengan ponselnya, setelah kejadian itu mereka baru bertemu lagi.
"maaf soal yang waktu itu ya bang...!"
ucap Adis tanpa menoleh.
"kamu enggak salah...aku emang salah karena enggak bisa jagain kamu!"
"kamu bukan body guard yang harus menjaga ku, Karena kamu hanya seorang asisten.. sudah lupakan, meski aku sendiri penasaran dengan orang yang mendorong ku.."
ucap Adis datar sambil berpikir.
"kamu tidak usah khawatir, kamu pasti di terima di universitas ini...!"
"terimakasih sudah membantu ku, setelah ini aku ingin ke kantor, aku mau tahu kantor bang Arsan..."
ucap Adis duduk di kursi tunggu.
Arid mengurus semua nya seperti perintah Arsan,, beberapa waktu berlalu hingga tiba jam makan siang.
"bang, kita ke kantin belakang saja, aku lapar!"
Arid mengangguk lalu beranjak dari duduknya bersama Adis.
"mau makan apa bang?"
tanya Adis.
"saya tidak makan, nona saja!"
ucap Arif, beberapa orang di tempat itu memperlihatkan mereka.
mahasiswi berbisik memperhatikan Arid yang duduk di samping Adis.
"ya sudah, kamu tidak pernah mau jika aku ajak makan?apa kamu sedang puasa?"
Arid mengangguk kecil.
"oh ......"
ucap Adis lalu melahap makanan nya sendiri.
beberapa hari ini Arid yang mengantar jemput Adis ke kampus, Arid juga membantu mengurus keperluan Adis di kampus. sementara Arsan sibuk dengan pekerjaan nya.
sore hari...
"nona maaf saya izin pulang sebentar, karena dompet saya tertinggal di rumah ibu saya...."
ucap Arid saat hendak mengantar Adis pulang, sudah tiga hari ini ia masuk ospek.
"dimana!? apa jauh dari sini?"
tanya Adis menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
"tidak jauh, sebentar saja karena besok saya akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari jadi kemungkinan saya tidak bisa antar jemput nona..."
ucap Arid sambil fokus menyetir.
"kemana?"
__ADS_1
"Jogyakarta..."
"ya sudah tidak apa-apa, sebenarnya saya juga bisa ke kampus sendiri karena dirumah Juga ada motor"
"ya itu benar, tapi pak Arsan khawatir dengan nona..."
"ya dia memang berlebihan..."
ucap adis sambil senyum.
tak lama Mereka sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, sederhana namun terkesan sejuk dan indah dengan taman bunga mengitari rumah tersebut.
"mau turun atau menunggu di mobil?" tanya Arid saat hendak turun dari mobil.
"aku mau turun."
ucap Adis lalu turun mengikuti langkah Arid.
"Assalamualaikum Bu..."
Arid masuk ke dalam rumah tersebut.
"walaikumsalam........rid, kamu mau ambil dompet?"
ucap seorang wanita paruh baya, senyum menghampiri.
"Ya, Bu....! ketinggalan.
ini Adis Bu, istri pak Arsan...!"
ucap Arid memperkenalkan Adis pada ibunya.
"Adis.... "
ucap Adis tersenyum mengulurkan tangannya.
"kamu cantik sekali, aku Winda ibu nya arid..."
ucap wanita itu sambil tersenyum.
Adis hanya tersenyum menanggapi.
"Arid langsung pulang ya..." ucap arid melihat jam di tangannya.
"hati hati rid...."
Arid mengangguk.
Arid memang terkadang pulang ke apartemen yang dekat dengan kantor.
Adis berpamitan lalu masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Arid di belakang.
Adis duduk di kursi lalu teringat percakapan nya tempo hari dengan Arsan.
"Bang, aku ingin bertemu dengan ibu mu, beliau kan tidak hadir saat kita menikah?.aku belum pernah melihat nya"
ucap Adis membuat Arsan tertegun.
"ya nanti Abang akan atur waktu untuk kita berkunjung ke rumah ibu, untuk saat ini Abang masih sibuk...!" ucap Arsan selalu menjadi kan alasan sibuk untuk mengulur waktu.
Adis malah lebih dulu mengenali keluarga Arid, pria yang tampak cuek tapi begitu dekat dengan ibunya.
tak berapa lama mereka sampai di rumah, Adis langsung turun dari mobil dan melihat mobil arsan sudah terparkir di halaman rumah.
"saya langsung pulang....!"
ucap Arid dan di anggukan oleh Adis yang langsung masuk ke dalam rumah.
"assalamualaikum....!" Adis menghentikan langkahnya saat mendengar Arsan tengah berbicara dengan seseorang di telpon.
"ya, gue tahu kenapa sih harus buru buru, Lo pikir semudah itu?"
ucap Arsan berbicara dengan seseorang di telpon, ia tak mendengar Adis masuk ke dalam rumah.
"udah Lo jangan telpon gue terus...!"
ucap arsan langsung menutup telponnya.
Arsan langsung menoleh sambil tersenyum melihat Adis di cermin.
"sayang, kamu baru pulang?" ucap Arsan langsung mencium dan memeluk istrinya itu.
"capek....hm?"
tanya Arsan menilik wajah Adis tampak letih.
"ya, macet Bang...!
Abang bicara sama siapa?"
"oh itu, teman Abang...!"
ucap arsan lalu merangkul Adis untuk masuk ke dalam kamar.
seseorang yang jauh di sana terus memantau aktivitas Arsan dan Adis, mendesak arsan untuk segera menuntaskan pekerjaan nya.
bersambung...
__ADS_1