Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
merengkuh.


__ADS_3

Di kantor.....


Arsan berjalan memasuki kantor bersama Yuda yang kini menjadi asisten nya, awalnya harun tidak mengerti kenapa Arsan justru memilih Yuda untuk menjadi Asisten nya.


"dia itu disiplin dan tegas, Arsan tahu itu.


Arsan tidak akan memecat nya karena masalah tempo hari, dia punya keluarga dan anak yang harus ia nafkahi. Arsan yakin ia akan berubah dan memperbaiki sikap.


kalau tidak ya kita lihat saja nanti....."


ujar Arsan saat itu dan Yuda sangat bersyukur akan hal itu, Ia berpikir Arsan akan memecat nya setelah perlakuan tidak baik nya terhadap Arsan, namun tidak Arsan justru menjadi kan assisten pribadi nya. Yuda juga sudah meminta maaf atas sikap nya yang kurang menyenangkan padanya.


"pak Yuda tolong jadwal saya di kurangi ya, saya butuh waktu luang..."


ujar Arsan dan di anggukan oleh Yuda.


beberapa hari ini ia mencoba untuk fokus tapi ia juga butuh waktu untuk mengurus masalah nya dengan Adis.


"saya pulang duluan ya pak Yuda..."


"baik tuan muda....."


ujar yuda sambil membungkuk.


tak berapa lama Arsan sampai di rumah, ia melihat regina yang tengah duduk sendiri di kursi belakang dekat kolam renang.


"re ...."


ucap Arsan menghampiri regina.


"A Arsan udah pulang!?"


tanya regina tersenyum kecil.


"ya, kita pergi jalan jalan yuk..."


"kemana kak....?"


tanya regina mendongak.


"kita pergi jalan jalan ke sungai Thames,kita pergi membagikan buah buahan untuk pengunjung di sana!"


ucap Arsan dan di anggukan oleh regina dengan antusias.


"A, apa A tidak berpikir untuk menemui Adis.."


tanya regina menatap wajah Arsan.


"sedang Aa pikirkan re..."


ucap Arsan lalu melangkah bersama regina.


**


Adis menoleh kearah Rey yang berjalan beriringan bersama nya menyusuri sungai Thames, Adis Tidak percaya Rey benar-benar datang ke kediaman nya.


"kamu tahu dari mana kalau aku disini...?"


tanya Adis saat mereka masih di rumah.


"awalnya enggak tahu, tapi aku enggak sengaja lihat kamu di sungai Thames...aku ikutin kamu ke sini....!"


ucap Rey menatap wajah Adis lekat.


perempuan itu semakin cantik dengan pasmina yang selalu membalut rambutnya, meski sedikit pucat, Rey mengamati hal itu.


"kenapa kamu berani datang Rey...."


tanya Adis tanpa menoleh.


"aku berani karena kamu tidak terikat oleh siapapun..."


"kamu tahu dari siapa soal itu...?"


tanya Adis, apa selama ini ia mencari informasi tentang dirinya.

__ADS_1


"rindu yang cerita sama aku dis, kamu enggak suka ya aku datang!?"


tanya Rey, netra perempuan itu sudah berbeda. tak ada cinta yang tersirat seperti dulu. Adis bahkan terkesan dingin.


"aku enggak ngerti kenapa rindu cerita soal itu sama kamu Rey...."


tanya Adis dingin membuat Rey membeku.


Rey menghela nafas panjang, Adis sudah benar benar berubah.


"kita enggak sengaja ngobrol.....aku masih sayang sama kamu dis, apa rasa itu sudah benar benar lenyap dalam hati kamu...!"


ucap Rey langsung bertanya.


"aku akan menerima kamu jika kamu datang sebagai teman, tapi aku tidak bisa menerima kalau kamu datang untuk menanyakan sesuatu yang sudah hilang....aku minta maaf Rey...!"


ucap adis mendesah.


Rey mengangguk mencoba untuk mengerti, ternyata tidak mudah meraih lagi cinta nya.


"ya sudah, aku datang sebagai teman. aku mau ajak kamu keluar... kita jalan jalan yuk..."


ucap Rey dan di anggukkan oleh Adis yang beranjak dari duduknya.


**


"kamu mau jajan apa dis...?"


tanya Rey melihat beberapa pedagang kaki lima yang berjajar di sekitar lokasi sungai Thames.


"aku enggak laper....!"


jawab Adis duduk di kursi.


"ya udah, kita duduk di sini aja....!"


ucap Rey menoleh ke arah Adis yang tampak sendu.


"dis...apa yang terjadi? apa yang dia lakukan?"


"aku enggak mau bahas itu, aku datang ke sini untuk melupakan nya tapi kamu malah....."


ucap Adis menghentikan ucapannya, rasanya jengah membicarakan tentang itu.


"maaf kan aku dis...."


ucap Rey lalu mengambil sesuatu dalam tas nya, kemudian menyodorkan sebatang cokelat pada Adis.


"untuk kamu dis....aku boleh enggak ngelukis disini ..."


ucap Rey menatap wajah Adis yang terlihat pucat.


"boleh Rey, aku tidak tahu sejak kapan kamu bisa melukis...?"


"sejak aku melukis seseorang tanpa harus melihat Poto nya....!"


ucap Rey tersenyum lalu mengambil kertas putih dari dalam tas nya.


"Rey, jangan berharap pada ku....!!"


ucap Adis membuat Rey menoleh kearah nya.


"kenapa? apa kamu berharap bisa kembali dengan suami mu....?"


ucap Rey sambil menggores tinta pada kertas putih itu.


"apa hatimu seperti kertas putih ini, hanya ada dia tanpa mengizinkan yang lain singgah.."


ucap Rey menunjukkan wajah Arsan tergambar pada kertas putih itu, membuat Adis terpaku lalu menoleh pada seseorang yang tengah menatap nya bersama Regina.


Adis beranjak dari duduknya menatap Arsan yang juga tengah menatap nya, Rey sendiri tampak biasa dan tetap duduk di kursi tersebut.


"dis.....!"


ujar regina karena Arsan sejak tadi hanya diam menatap Adis.

__ADS_1


regina menghampiri Adis yang mematung, ia sendiri sudah tahu siapa Rey, pria itu saudara tiri nya.


regina tersenyum meraih tangan adis untuk ikut dengan nya, namun adis tetap pada tempatnya.


"maaf re, aku enggak Bisa karena aku enggak mau menghampiri seseorang yang tak membutuhkan aku.....!"


ucap Adis membuat Arsan tertegun.


rey beranjak dari duduknya lalu menarik tangan Adis untuk pergi namun cepat arsan melangkah menarik tangan Adis satunya lagi.


Adis tertegun saat kedua pria itu menarik tangan nya, Arsan menatap Adis yang juga menatap nya beralih ke Rey.


"lepas....."


ucap Adis menepis tangan kedua pria itu.


"kalian tuh keterlaluan ya....!" ucap Adis dengan nafas memburu.


"dis....!" ujar keduanya bersamaan.


"aku mau pulang....."


ujar Adis berlari meninggalkan mereka bertiga yang menatap punggung Adis yang menjauh.


"apa sih Lo ar ..?"


tanya Rey kesal.


"kalau Adis cinta sama kamu, aku akan merelakan nya tapi kalau enggak aku akan tetap memperjuangkan nya...."


"Lo sadar enggak sih Lo tuh udah nyakitin dia..."


"ya aku tahu, tapi aku akan memperbaiki semua nya....!"


ucap Arsan meninggalkan Rey dengan gemeretak gigi nya.


Harun menghela nafas panjang saat mendengar laporan dari orang kepercayaan nya bahwa kedua putranya memperebutkan seorang perempuan.


"cari tahu tentang perempuan itu....."


titah Harun pada anak buahnya.


"baik tuan....."


***


Adis masih berlari kecil menjauh dari tempat tadi, Nafas nya terengah menunduk menghentikan langkahnya.


Adis terpaku mengigit bibirnya saat darah keluar dari hidung nya, air mata mengucur membasahi pipinya.


"apa kamu yakin aku bisa sembuh dengan pengobatan tersebut, m...?"


tanya Adis pada Hans yang langsung menoleh. percakapan terakhir saat Adis hendak berangkat ke London.


"aku harap seperti itu, kamu harus semangat!


ikuti apa kata hati mu.... karena hal itu yang akan menjauh kan mu dari rasa sesak...."


ucap Hans membuat Adis terisak.


"aku benci sama kamu bang....."


ucap Adis menatap salju turun membuat nya semakin dingin.


"kenapa kamu Setega itu sama aku..... Arsan.."


gumam adis Sendiri.


wajah nya semakin pucat, tubuhnya kembali sakit seperti saat pertama gejala itu datang.


Arsan berdiri tak jauh dari Adis berdiri Sambil terisak, Arsan melangkah semakin dekat merengkuh tubuh lemah itu.


bersambung.......


terima kasih yang masih setia.....😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2