
Adis memperhatikan tukang yang tengah mengganti kaca rumah itu, Arid berdiri di luar sambil menghubungi seseorang entah siapa.
Adis memeriksa ponsel nya yang berdering setelah Arid masuk kedalam rumah.
"halo.....!"
ucap Adis datar, menerima telepon dari Arsan.
"halo sayang, maaf Abang baru bisa menghubungi mu... ponsel Abang sedikit bermasalah.
weekend nanti Abang akan pulang, tidak ada masalah kan di rumah?" ucap Arsan membuat nya pilu, bermasalah...? benarkah?
"ya tidak apa-apa bang, di rumah tidak ada masalah. kalau pun ada masalah ada Arid yang bisa Adis andalkan..."
ucap Adis menatap Arid yang memalingkan wajahnya dari Adis. ia sebenarnya sedih dengan keadaan ini, Adis yakin jika Arid menghubungi arsan, lalu kenapa ia tidak bisa menghubungi Arsan.
"ya sudah, nanti Abang hubungi kamu lagi...!"
Adis langsung mematikan panggilan tanpa mengatakan apapun pada Arsan yang mematung menatap ponselnya.
"maaf kan Abang dis...."
ucap Arsan menoleh kearah salsa yang terlelap.
"tukang sudah selesai mengganti kaca jendela, aku pulang ya !"
ucap Arid melihat tukang pergi.
"ya terima kasih....maaf aku selalu merepotkan mu, bang...!"
ucap Adis lalu naik ke atas menuju kamar nya. meninggalkan Arid yang mematung sendiri.
Adis menghela nafas saat merasa kan tubuh nya terasa lemas, ia juga merasa pusing.
hal itu kerap kali ia rasakan beberapa waktu ini namun ia tidak pernah mengeluh kan hal itu pada Arsan karena adis pikir hal itu biasa terjadi jika ia kelelahan.
"kenapa aku berpikir kamu yang bermasalah bang, bukan ponsel mu....!"
ucap Adis menarik selimut lalu terlelap.
Waktu menunjukkan pukul setengah dua malam, Adis merasa begitu kepanasan.namun tubuhnya juga menggigil kedinginan, mencoba untuk beranjak namun tubuh nya seperti tak bertulang.
sekuat tenaga Adis merogoh ponsel yang berada di nakas untuk menghubungi Arid karena saat ini hanya Pria itu yang bisa menolong nya. beberapa kali menelpon Arsan namun tak ada jawaban.
"Halo.....!"
ucap Arid mengangkat telpon sambil mengernyitkan alisnya, ada apa malam malam begini Adis menghubungi nya.
"Bang, tolong Aku...!" ucap Adis terengah ia bahkan merasa sesak.
"Adis apa yang terjadi....?"
ucap Arid khawatir mendengar suara perempuan itu, bergegas ia mengambil jaket dan kunci motor nya.
"aku sakit.......dan saat ini aku butuh dokter, tolong aku!"
ucap Adis menggigil.
"tunggu Lima belas menit Aku datang..."
ucap Arid langsung melajukan motor sport nya.
Adis Terisak, ia bahkan tak punya kekuatan untuk mengambil gelas yang berada di nakas.
"astaga, kenapa lemas sekali.....!"
ucap Adis, ia butuh air karena kehausan.
mencoba menghubungi arsan dengan tangan bergetar namun nomor Pria itu tidak aktif.
prang.......
gelas itu jatuh ke bawah, saat itu juga pintu terbuka.
"Non.....!"
ucap pembantu dan Arid yang masuk ke dalam kamar.
"astaga Adis ....!"
__ADS_1
ucap Arid mendekati adis, Arid terperangah melihat darah keluar dari hidung Adis.
"kamu demam, kamu juga mimisan...!"
ucap Arid menyentuh tubuh Adis yang begitu hangat.
tanpa berkata lagi Arid langsung mengangkat tubuh perempuan itu.
"Ayo kita ke rumah Sakit bi...."
ucap Arid bergegas membawa Adis ke dalam mobil.
"kamu Kenapa baru hubungi Aku?"
ucap Arid mendudukkan Adis di mobil namun Adis langsung tergeletak, Adis terisak menarik tangan Arid yang dingin.Arid terpaku saat tangan Adis menggenggam tangan nya.
"kamu sabar ya....!"
ucap arid gegas naik ke kursi kemudi.
"bi...ayo ikut ,kita kerumah sakit sekarang..cepat!"
ucap Arid menyuruh pembantu untuk naik ke dalam mobil, Arid menghela nafas panjang sambil fokus menyetir,,
entah bagaimana pikiran Arsan? bisa bisa nya ia melakukan hal itu? Arid sendiri tahu apa yang sebenarnya terjadi.
'Arsan pergi untuk menikah lagi....'
Arid melaju kan mobil nya.
dengan kecepatan penuh, Lima belas kemudian mereka sampai, Arid mengangkat tubuh Adis ke atas brankar di ikuti oleh suster yang langsung membawa Adis ke dalam ruang pemeriksaan.
nafasnya tersengal menahan amarahnya atas kelakuan atasan nya itu, rasa iba menyeruak ke dalam rongga hatinya melihat kondisi Adis lunglai tak berdaya.
Arid mengusap wajah nya lalu cepat menghubungi Arsan untuk memberi tahu keadaan Adis.
***
"Ada apa Ar..?"
tanya salsa yang masih betah dengan selimut tebal berwarna putih nya.
"aku ikut dengan mu..."
ucap salsa menarik tangan Arsan.
"di sini saja dulu, tunggu sampai keadaan nya stabil...kamu tahu kan kalau ada yang mengamati ku..."
"ya sudah..."
ucap Salsa menurut. bergegas Arsan memesan pesawat pagi itu juga meninggalkan salsa di ranjang.
***
Arid memperhatikan perempuan yang kini terlelap, suhu tubuh nya sudah kembali normal setelah dokter memberikan obat.
Arid benar benar kasihan pada Adis, ia akan hancur jika mengetahui tentang pernikahan Arsan dengan Salsa.
Arid sendiri mengetahui hal itu dari seseorang, entah siapa yang mengirimkan foto Arsan tengah Melakukan Ijab Kabul bersama Salsa, Arsan awalnya menutupi hal itu namun saat Arid mengirimkan foto itu arsan tak bisa mengelak.
"apa pun urusan ku bukan menjadi urusan mu, urus saja apa yang menjadi tugas mu.dan kamu tidak perlu ikut campur urusan ku. kamu akan berurusan dengan ku jika kamu berani memberi tahu soal ini pada istri ku.."
ucap Arsan saat itu.
Arid merasa jengah bekerja dengan Arsan, saat ini ia tengah mencari pekerjaan lain, namun hati nya terasa berat melangkah melihat kondisi adis, entah apa yang terjadi pada nya.
mungkin kah ia jatuh?
gadis ini begitu berbeda, ia baik dan bersikap ramah pada siapa pun, ia tak pernah bosan untuk mengajak nya bicara, padahal arid tak pernah menghiraukan nya.
"kamu punya pacar enggak bang?"
arid menggeleng cepat.
"kamu tuh seperti kak Ibra, cuek sama cewek...jadi mana ada yang mau kalau seperti itu?"
"enggak apa-apa, aku enggak Takut enggak laku karena Allah pasti sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk ku..."
"tumben ngomong nya banyak bang, good.."
__ADS_1
ucap Adis sambil terkekeh, Arid tertegun melihat Adis yang tertawa kecil.
"gitu dong bang, kamu tuh irit kalau ngomong!"
ucap Adis senyum.
semua kenangan bersama gadis itu memutar di benak nya, membuat arid sesak, ia bahkan merasa aneh jika tidak bertemu dengan perempuan itu.
"ada temen ku yang naksir kamu bang?"
"siapa?" tanya arid.
"nanti aku kenalin ya...!"
ucap gadis itu menaikan kaki nya meringkuk di kursi mobil lalu terlelap.
"bang, apa bang Arsan punya mantan pacar?"
"tanya saja langsung?"
"dia itu sibuk.... enggak Banyak waktu untuk ngobrol seperti ini?"
ucap Adis, kedua nya ngobrol jika Arid mengantar atau menjemput nya dari kampus.
Arid menyadarkan tubuh nya di sofa dekat ranjang, selain lelah ia juga merasa ngantuk. waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi.menoleh sekilas ke arah Adis yang terlelap dalam mimpi nya.
Adis membuka matanya perlahan, terlihat Arid tengah melaksanakan ibadah shalat subuh sendiri di ruangan itu.
air mata nya merembes begitu saja, hati nya terasa pilu kenapa justru orang lain yang bersama dengan nya.
"dimana suami ku?"
Adis menyeka air matanya, mengingat ucapan dokter sebelum ia terlelap.
"kemungkinan anda terkena tipus, dan saya akan memastikan nya dengan pemeriksaan lebih lanjut..."
ucap dokter, Adis merasa takut jika terjadi sesuatu dengan dirinya. beberapa waktu ini ia sering kali mimisan.
Adis kembali menutup mata nya saat Arid selesai sholat dan beranjak menghampiri nya.
"sebenarnya aku merasa jengah bekerja dengan suami mu yang selalu semaunya, tapi aku merasa berat meninggalkan mu....aku iba melihat kondisi mu..."
ucap Arid menuturkan hal itu pada Adis yang memejamkan matanya, Arid tidak tahu jika Adis sudah bangun dan mendengar semua itu.
"jengah? apa karena ia selalu mengurusi ku?"
gumam Adis menggigit bibirnya saat Arid mengusap pucuk kepala nya Pelan lalu pergi.
Arid pergi ke luar untuk membeli sarapan,waktu menunjukkan pukul setengah tujuh Pagi.pembantu sendiri langsung pulang saat kondisi Adis membaik.
Adis membuka matanya dan melihat ponselnya berdering terlihat arsan mengirimkan pesan.
"tunggu Abang sedang di perjalanan, kemungkinan Abang akan sampai jam sebelas di Jakarta..."
ucap Arsan namun Adis mengabaikan pesan itu.
Adis meringkuk sendiri di ranjang itu, jujur ia marah pada Arsan. di saat seperti ini ia malah bersama orang lain. termenung mengingat penuturan Arid tadi.
"apa maksudnya berat meninggalkan?"
tak berapa lama pintu terbuka, terlihat Arid menyembul masuk dengan membawa bungkusan plastik.
"kamu sudah bangun....?
bagaimana keadaan mu...?!"
ucap Arid duduk di sofa. terlihat Adis menatap nya lekat membuat arid membeku.
"sudah membaik, maaf bang... lagi lagi aku merepotkan mu...!"ucap Adis memalingkan wajahnya dari arid.
"tidak apa-apa yang terpenting kamu baik baik saja....!" ucap Arid membuka bungkusan plastik itu.
"makan lah, aku beli bubur untuk kamu...!"
ucap Arid menyodorkan makanan itu.
Adis memperhatikan Arid yang mendekati nya memberikan makanan.
"apa yang memberatkan mu bang? aku yakin kamu tahu sesuatu...!"
__ADS_1
bersambung....