
sebelum nya....
Adis termenung sendiri di dalam kamar menatap seseorang yang tengah berbicara dengan seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi roda, Adis mengernyitkan alisnya saat melihat Hans lah yang berbicara dengan perempuan itu, Hans tampak berbeda karena ia memakai jas berwarna putih.
"apa selain mafia dia juga seorang dokter?"
gumam adis dalam benaknya, lalu memalingkan wajahnya saat melihat Hans menatap ke arah jendela nya, meski belum tentu Hans melihat ke arah nya karena banyak jendela di bangunan tersebut.
Adis Duduk di ranjang menatap cincin putih melingkar di jari manis nya, cincin putih pernikahan nya dengan Arsan.
"i love you......"
ucap Arsan mencium tangan nya, ingatan itu memutar dan masih jelas dalam ingatan.
air mata tak lagi dapat ia bendung, meringkuk sendiri mengingat semua kenangan indah yang ternyata hanya sebuah sandiwara.
"aku masih tidak percaya Dengan semua ini,,boleh kah aku berharap jika semua ini hanya mimpi...aku rindu kamu bang..."
ucap adis terisak.
"aku tidak boleh terus berada di tempat ini, aku harus pulang....!"
ucap Adis beranjak mencabut infus lalu melangkah keluar.darah terus menetes bekas jarum infus.
Adis terperangah saat Hans melihat nya hendak kabur.
"Adis........"
teriak Hans berlari mengejar Adis yang berlari cepat menuruni tangga.
langkah nya terhenti saat di belokan ia menabrak brankar yang membawa pasien.
"ah......!"
ucap Adis terhempas jatuh namun cepat Hans menangkap tubuh Adis yang hendak mencapai keramik.
"Adis....!"
"lepas Hans....!"
ucap adis beranjak dari pegangan tangan Arsan.
"kamu mau kemana? lihat tangan kamu...!"
"dokter Hans, pasien ini mengidap kanker hati....!"
ucap suster membuat Adis dan Hans tertegun.
"bawa ke ruang pemeriksaan, aku menyusul..."
suster tersebut mengangguk.
Adis tertegun melihat wanita tersebut di dorong oleh suster menuju ruang pemeriksaan.
"Adis lihat darah mu, ayo ikut...!"
"tidak, aku mau pulang...!"
"nanti aku akan mengantarmu pulang...."
ucap Hans menarik tangan Adis yang terus menerus mengeluarkan darah hingga mengenai jas nya yang berwarna putih itu.
"masuk.... aku tidak akan membiarkan mu pulang sendiri...!"
ucap Hans menghempaskan tubuh Adis ke ranjang.
"aku mau pulang Hans, kenapa kamu terus mengurung ku...!"
"Adis apa kamu tidak sadar kalau kamu itu sakit...!"
__ADS_1
ucap Hans menatap wajah Adis yang juga menatap nya tajam.
"bukan urusan mu, aku bisa mengobati nya sendiri, biarkan aku pergi dari tempat ini?"
ucap Adis dengan kesal.
"pergi dari tempat ini?
apa kamu ingin bertemu Arsan?"
tanya Hans membuat Adis tertegun.
"kamu masih memiliki hati untuk nya...?"
"bukan urusan mu, aku hanya ingin pulang!"
ucap Adis lalu terlihat seorang suster berlari menghampiri.
"dokter pasien darurat....!"
mendengar hal itu Hans langsung berlari menarik tangan Adis untuk ikut dengan nya.
"hei....kau..."
ucap Adis terhenti saat melihat seorang wanita yang seperti nya lebih tua darinya tak sadarkan diri.
"suster tolong obati tangan nya..."
titah Hans pada Adis yang mematung memperhatikan Hans dengan sigap memberikan pertolongan.
***
keduanya berjalan di koridor rumah sakit tersebut, Adis sedikit melunak setelah kejadian itu.
"aku akan mengantarmu pulang, asal kamu mau menerima ku untuk membantu mu sembuh dari penyakit itu..."
"aku tidak tahu...."
"apa yang membuat mu tidak semangat, semua pasien yang datang ke sini adalah mereka yang semangat untuk sembuh..."
ucap Hans menunjuk seseorang di bawah dari jendela.
"dia terkena kanker usus, kondisi nya sudah cukup memprihatinkan tapi dia masih memiliki harapan untuk sembuh."
"tapi dia tak seperti aku.....?"
"tersakiti seperti itu?"
ucap Hans terkekeh.
"justru hal itu yang harus membuat mu semangat untuk sembuh, kamu harus tunjukkan pada mereka bahwa kamu bukan perempuan lemah, jangan hiraukan mereka yang tidak menghargai hidup mu tapi lihat mereka yang menyayangi mu..
aku akan membantu mu memberikan Arsan pelajaran...!"
ucap Hans melipat kedua tangannya di atas perut.
"aku tahu kamu mencintai nya, tapi sadarkah bahwa itu hanya akan menyakiti mu.
cinta boleh, tapi Jangan sampai hal itu membuat mu bodoh, karena kamu berhak bahagia....!"
ucap Hans membuat Adis membeku.
"ayah Arsan itu seorang mafia judi.
musuhnya dimana mana karena dia menipu banyak orang, aku ingin menangkap nya agar tak ada lagi yang tertipu.... aku pikir Arsan tak sama seperti Robi tapi ternyata ia tak jauh beda, ia menipu mu demi uang. sadarlah Adis bahwa ia tak pantas mendapatkan cinta sebesar itu dari mu....!"
ucap Hans membuat Adis tertegun.
"aku ingin sendiri....!"
__ADS_1
"baiklah, hubungi aku jika kamu siap bertemu dengan mereka...aku akan membawa mu bertemu dengan mereka...!"
ucap Hans lalu pergi meninggalkan Adis yang termenung sendiri.
Adis menoleh saat seorang suster masuk ke dalam membawa makanan dan obat.
"suster.....!"
"ya, ada apa nona?"
"aku boleh bertanya sesuatu?"
suster mengangguk sambil tersenyum.
"apa rumah sakit ini milik Hans?"
"ya, rumah sakit ini milik dokter Hans, beliau dokter spesialis penyakit dalam.."
"tapi aku belum pernah mendengar rumah sakit ini...?"
"ya, sebenarnya ini rumah sakit khusus untuk keluarga namun dokter Hans membuka rumah sakit ini khusus pasien penderita kanker... beliau juga menggratiskan biaya pada pasien yang tidak mampu, sudah banyak pasien yang datang ke rumah sakit ini. meski tak semua pulang dengan selamat namun kami disini berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan pasien, bagi kami dokter Hans seperti malaikat tak bersayap.
di luar sana mungkin yang tidak tahu tentang ini berpikir bahwa dokter Hans seorang mafia jahat yang berbahaya tapi di balik semua itu ia miliki hati yang tulus..."
ucap suster dan di anggukan oleh Adis.
Adis kembali termenung sendiri setelah suster tersebut pergi..
"Abang punya banyak masalah hingga Abang ragu untuk memperkenalkan kamu dengan keluarga Abang....!"
ucap Arsan terngiang di telinganya.
"Ardan tidak pantas mendapatkan cinta sebesar itu dari mu...!"
ucap Hans membuat kepala nya pening.
Adis teringat pada seseorang yang menjadi dalang dari sandiwara ini, pada orang itulah ia harus tunjukkan bahwa ia gagal membuat nya patah.
Bastian harus tahu bahwa ia salah menilai nya, semua usaha nya sia sia karena semua tidak seperti yang ia harapkan.
Adis menoleh pada Tombol hijau untuk menghubungi Hans.
"ada apa Adis....?" ucap Hans yang langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"aku mau pulang....!"
"bagaimana keputusan nya...!"
"baiklah aku akan menerima mu, tapi bukan pada Arsan.namun Bastian....!"
ucap Adis membuat Hans tertegun, ternyata Adis benar benar mencintai Arsan.
"tapi aku ingin kamu berpura pura mengganti kan posisi Arsan agar Bastian tahu bahwa bagiku Arsan tak ada apa apa nya....!"
ucap Adis membuat Hans tersenyum.
"jangan gede kepala, ini hanya pura-pura...!"
"seberapa besar rasa cinta mu terhadap pria itu...?"
"bukan urusan mu....!"
ucap Adis membuat Hans tersenyum...
bersambung...
terima kasih yang sudah mampir.....
jangan lupa like dan komentar biar author semangat ya😍😍😍😍
__ADS_1