
sore itu Adis bersiap untuk pulang ke Jakarta setelah selesai melakukan pengobatan, Hans juga sudah memberikan nya jadwal untuk kontrol Minggu yang akan datang.
"sebenarnya aku ingin menjadikan mu tahanan di sini...!"
ucap Hans terkekeh melihat ekspresi wajah Adis yang langsung tercengang.
"aku bercanda..!"
ucap Hans tersenyum simpul.
"boleh aku tanya sesuatu?"
"apa itu?" tanya Hans lagi.
"apa alasan mu melakukan ini, aku sempat tidak percaya orang seperti mu bisa sebaik ini..."
ujar Adis membuat Hans tertegun.
"aku yakin ada sesuatu yang mendorong mu melakukan hal ini?"
"ada, tapi aku tidak bisa menceritakan tentang itu pada mu saat ini!"
"kenapa?" tanya Adis sedikit heran.
"tidak apa-apa, aku akan menceritakan semuanya saat kamu sudah bisa move on dari Arsan...!"
Adis terkekeh kecil mendengar penuturan Hans yang bagi nya lucu.
"kenapa tertawa....?"
"berat untuk melakukan hal itu?"
"apa yang membuat mu begitu berat move on dari Arsan....dia sudah menyakiti mu!"
ucap hans menatap wajah Adis yang tampak pucat, teringat Hana yang memang begitu mirip dengan Adis.
"aku tidak akan memberi tahu mu Karena aku sendiri tidak bisa menjelaskan tentang itu...
seperti halnya perasaan mu, tak mampu kamu jelaskan bukan!"
ucap Adis beranjak dari duduknya.
"aku memang sakit, tapi aku tidak mau terlihat sakit..aku ingin hidup layak nya mereka yang sehat meski mungkin nanti jika aku mati orang akan menganggap ku mati mendadak..."
"kami tidak akan mati, kamu akan sembuh!"
ucap Hans menatap netra indah milik Adis lalu menunduk, ia khawatir tak bisa mengendalikan diri.
"semoga saja, untuk seterusnya aku tidak ingin memikirkan buah manis yang akan aku tuai, karena mungkin saja aku juga akan merasakan pahitnya buah yang akan aku tuai kelak, seperti saat ini....!"
ucap Adis termenung mengingat rumah tangga nya yang hancur berantakan.
seketika ia menjadi janda saat Arsan mengatakan bahwa ia akan menceraikan nya.
__ADS_1
begitu memprihatinkan ia menjadi janda di usia nya yang masih sangat muda, ia pikir delapan belas tahun akan menjadikan nya Mama muda, tapi ternyata janda muda.
Adis terkekeh sendiri memikirkan hal itu, betapa besar cinta nya terhadap Arsan.
tapi justru orang yang ia cintai lah yang menorehkan luka.
"setiap yang bernyawa pasti mati, tapi kita sebagai hamba Nya wajib berusaha, saat hati mampu menerima keadaan yang ada di situ semesta yakin bahwa kamu mampu melewati setiap ujian yang Allah berikan....!"
"dokter Hans, apa anda seorang muslim..aku tidak tahu!"
"ya, aku seorang muslim...
tapi aku bukan muslim yang jauh dari kata taat, aku hanya seorang pendosa yang berupaya untuk memperbaiki diri."
ucap Hans terkekeh.
"aku ini seorang mafia mana pantas seperti ini di depan mu...apa kamu tidak takut pada ku?"
"tidak, aku hanya takut kepada Tuhan..."
"bagus...ini Obat mu, jangan lupa untuk kembali, jangan lari dari ku...!"
"HM, bukan hal yang sulit untuk ku lari.. tapi saat ini aku hanya lari dari kenyataan.." ucap Adis menghela nafas, untuk kedepannya ia harus terbiasa tanpa pria itu.
"kenapa, apa itu karena Arsan?"
Adis diam tak menjawab.
"banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang nya..."
ucap Adis lalu melangkah kan kaki nya keluar dari ruangan itu, terlihat Ibra tengah bicara dengan Wira di luar.
"sudah siap untuk pulang...??"
tanya Ibra meraih pundak Adis.
"kamu harus membawa Adis Minggu depan..."
ujar Hans berjabat tangan dengan Ibra.
"terima kasih Hans...aku akan urus biaya nya.."
"tidak perlu, semua yang datang ke tempat ini atas izin ku tak perlu memikirkan hal itu..."
"terima kasih, semoga Allah membalas kebaikan mu..."
ucap Ibra tersenyum.
benar jika ada seseorang yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menilai seseorang dari penampilan nya, mungkin saja yang terlihat baik justru tidak baik dan begitu pun sebaliknya.
ia mengingat Arsan, pria itu hampir sempurna dengan tata bicara nya yang ramah serta adab yang ia miliki jauh dari kata buruk tapi ternyata ia memiliki berbagai macam permasalahan dalam hidup nya hingga ia tega melakukan kesepakatan itu demi uang, Bastian pasti membayar mahal untuk hal itu.
sementara Hans yang sudah terdengar bagaimana image buruknya justru memiliki kebaikan tak di sangka sangka.
__ADS_1
"aku pulang, aku akan tetap meminta kakak untuk membayar mu, jangan menolak.
anggap saja uang dari kakak ku untuk membantu pasien yang lain nya..."
ucap Adis membuat Hans tertegun lalu pergi meninggalkan nya, meraih tangan Ibra untuk melangkah menjauh.
"see you again Adis..."
ucap Hans lalu berbalik badan masuk ke dalam ruangan.
"kamu yang hadir memang masih kamu yang sakit, tapi bukan seperti hati mu yang condong pada ku...."
gumam Hans dalam hati memperhatikan mobil Ibra yang keluar dari gerbang rumah sakit itu.
*
"langsung pulang, atau kita ambil barang barang mu di rumah Arsan...?"
tanya Ibra membuat Adis tertegun, tak banyak barang barang nya di rumah itu, namun ponsel nya berada di rumah itu.
"Ambil hand phone Adis saja kak sama berkas lain nya, untuk sementara waktu Adis akan berhenti kuliah, Adis akan mengulang nya tahun depan...!"
ucap Adis dengan perencanaan nya karena ia tidak akan tinggal di kota kembang itu lagi.
"ya sudah kita ke rumah Arsan sekarang?"
titah Ibra pada Wira yang tengah menyetir.
tak berapa lama mereka sampai di rumah itu, Adis melihat rumah itu tampak sepi.
"kakak sudah menghubungi Arsan agar dia datang membawa kunci karena aku yakin rumah ini di kunci...!"
ucap Ibra lalu membuka mobil sementara Adis membeku mendengar penuturan Ibra.
terlihat mobil Arsan berhenti di belakang mobil nya, pria itu keluar.
masih dengan wajah tampan nya, Adis sendiri memilih untuk diam di mobil, ia memang rindu tapi tak sanggup bertemu dalam keadaan seperti ini.
Arsan menoleh ke arah mobil Ibra, kaca mobil itu tak menampakkan bahwa Adis berada di dalam mobil itu, Adis sendiri memalingkan wajahnya saat Arsan menoleh ke arah kaca.
"gue mau Lo beresin semua berkas adik gue, karena Adis akan pulang ke Jakarta hari ini juga...!"
ucap Ibra berjalan di depan masuk ke dalam kamar.
"ini gue udah beresin...!"
ucap arsan yang memang sudah membereskan semua barang Adis karena ia tahu Ibra pasti datang untuk mengambil nya, "lalu kemana Adis?
apa ia masih bersama Hans?"
gumam Arsan dalam hati lalu memberikan ponsel beserta Beberapa strip pil KB.
"Lo tahu Ar, perempuan itu memiliki insting yang kuat, gue yakin Adis melakukan hal ini karena dia tahu bahwa Lo itu enggak pantas menjadi ayah dari anaknya... berpisah tanpa keturunan itu jauh lebih baik, dengan itu tak ada alasan untuk bertemu apa lagi melepaskan rindu...!"ucap Ibra lalu membuang strip obat itu ke dalam sampah.
__ADS_1
bersambung....
terima kasih sudah mampir.....😍😍😍😍