Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
kalah.


__ADS_3

Ibra memperhatikan Adis yang terlelap dalam tidur nya, raut kesedihan tergurat dari garis wajah nya yang lelah.


"andai bisa di ganti, Kakak rela mengganti kan posisi kamu, kenapa kamu yang harus sakit?"


ucap Ibra mengelus kepala Adis yang berbalut pasmina.


Rahma dan Ilyas duduk di sofa memperhatikan Ibra yang tengah berbicara sendiri.


"halo Ra....!"


ucap Ibra menelpon Wira yang sudah pulang.


"ada apa bos..?"


"kosongkan jadwal ku untuk sepekan yang akan datang, aku akan pergi ke Eropa bersama Adis....!"


ucap Ibra lalu mematikan ponsel nya.


"kak Ibra mau ke Eropa, ajak Adis berobat?"


tanya Rahma mendekati.


"untuk Liburan, kalau disana ada pengobatan yang memang bagus kenapa tidak, Adis harus sembuh....!"


ucap Ibra yakin Adis pasti bertemu dengan Arsan sebelum kejadian itu, Adis sempat menyebut nama Arsan saat ia tak sadarkan diri.


Ibra berpikir untuk menemui Arsan, Ibra tahu dia pasti berada di Jakarta.


"aku keluar sebentar de, kamu tunggu Adis ya!"


"mau kemana kak?"


tanya Rahma melihat Ibra beranjak.


"aku mau ketemu seseorang....!"


"ini sudah malam kak, apa kak Ibra butuh bantuan Ku...!"


ujar Ilyas yang khawatir dengan kakak ipar nya itu.


"tidak usah, kamu temani Rahma saja...!"


ucap Ibra lalu pergi keluar dari ruang perawatan itu.


Hans memperhatikan Ibra yang keluar dari kamar dengan tergesa sambil menghubungi seseorang.


**


Arsan tertegun saat Ibra menghubungi nya, bergegas ia menggeser tombol hijau.


"gue mau ketemu sekarang..."


ucap Ibra lalu memutuskan panggilan Tersebut kemudian memberi kan tempat dimana mereka akan bertemu.


"Ar kamu mau kemana?" tanya salsa


saat tengah membuat susu hamil untuk nya.


"aku ada urusan sebentar....!"


"ini sudah malam Ar...!"


"aku tidak akan lama...!"


ucap Arsan lalu pergi meninggalkan salsa dengan segelas susu hangat nya.


Ibra Duduk di kursi dengan segelas kopi hitam di hadapan nya, beberapa kali mencoba menenangkan diri dan mendinginkan hatinya yang tampak panas karena kegeraman nya terhadap Arsan.


tak berapa lama Arsan sampai di kafe tersebut, tempat itu sudah sepi karena waktu juga sudah larut.


"sebenarnya gue males ketemu Lo lagi..."

__ADS_1


ucap Ibra yang langsung menghantam Arsan dengan pukulan yang mengenai wajah Arsan hingga terhempas.


Arsan sendiri paham dengan kemarahan Ibra, hingga ia memilih memalingkan wajahnya sambil mengusap bibirnya yang sedikit perih.


"bra, Lo harus tenang...!" ujar Wira yang menemani Ibra.


"apa belum cukup dengan semua rasa sakit yang Lo berikan untuk adis...apa sih mau Lo?"


ucap Ibra dengan gemeretak Gigi nya.


"gue minta maaf, tapi gue beneran sayang sama dia...!"


"sayang Lo bilang...!


dasar pecundang Lo..."


ucap Ibra dengan tatapan nanar.


"gue tahu gue emang salah karena niat gue dari awal emang udah enggak bener, tapi sumpah demi tuhan gue cinta sama adik Lo..."


ujar Arsan dengan gemeretak gigi nya, ia pun mencoba untuk tenang.


"cinta Lo bilang, makan tuh cinta..


Lo cuma kasih empedu pahit untuk adik gue, bukan hati Lo...!"


ucap ibra dengan tatapan nanar.


"maafin gue bra, tapi gue beneran sayang sama adis..."


"Lo cuma bikin adik gue sakit, jangan pernah Lo temuin Adis lagi, Lo cuma bikin kondisi tambah parah...gue ingetin lagi sama Lo, jangan ganggu Adis lagi..."


"Lo yakin kalau gue ganggu, keadaan yang membuat parah adalah karena dia jauh dari gue, adis cinta sama gue.."


ucap Arsan membuat Ibra mengepalkan tangannya.


"sabar bos...."


"awas kalau Lo berani menampakkan diri, gue mungkin akan berbuat lebih. demi tuhan gue nyesel udah percaya sama Lo..."


"apa Lo enggak sadar semua terjadi karena Lo bra, gue tahu gue salah tapi kalau masalah perasaan gue benar benar sayang sama adis...."


ucap Arsan membuat Ibra menatap tajam ke arah Arsan.


"Lo enggak tahu apa apa jadi Lo enggak usah banyak komentar, gue cuman mau ingetin Lo.


jangan pernah temui adik gue lagi...."


"kita saling mencintai, gue yakin Lo tahu apa yang gue dan Adis rasakan....!"


"ya gue tau tapi gue bukan pecundang kaya Lo....Lo memanfaatkan kesempatan hanya untuk keuntungan pribadi Lo...gue enggak akan pernah memberikan kesempatan untuk orang seperti Lo....!"


"gimana kalau Adis yang minta....!"


"jangan mimpi, adik gue juga punya perasaan..."


ucap Ibra kemudian pergi meninggalkan Arsan yang mematung sendiri.


**


"kak....."


ucap Adis saat ia terjaga dari tidurnya, Rahma tersenyum menghampiri.


"kamu udah Sadar dis...."


ucap Rahma memeluk adiknya itu.


Adis tak menjawab pertanyaan tersebut, ia menangis di pelukan Rahma.


"kamu sabar ya, yakin lah Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba Nya...kakak yakin kamu akan sembuh...."

__ADS_1


ucap Rahma yang ikut menangis memeluk erat tubuh lemah itu, teringat pesan terakhir ibu nya.


"Rahma, ibu titip Adis.


kamu harus memaklumi sikap manja nya, jangan mengekang nya tanya apa yang ia suka..."


ucap Yuni sebelum ia pergi meninggalkan mereka, entah dimana ayah nya berada. hampir sepuluh tahun mereka tidak pernah bertemu.


"kemana kak Ibra...?"


tanya Adis melihat ke sekeliling.


"keluar, ada perlu sebentar...kakak juga tidak tahu..."


ucap Rahma menghapus air mata di pipi Adis.


"apa kamu lapar?"


"enggak kak, rasanya mual dan ingin muntah..."


ucap Adis memejamkan matanya merasakan rasa mual yang membuat tenggorokan nya pahit.


"Kakak panggilkan dokter ya..."


Adis mengangguk.


Adis tertegun saat melihat Hans masuk ke dalam ruangan, Adis yakin jika ini bukan rumah sakit nya.


"kenapa ada di Sini....?!"


tanya Adis saat Hans mendekati.


"kamu heran? aku juga?"


ucap Hans membuat Adis mengernyitkan dahi nya.


"sebenarnya sore ini aku pulang ke Bandung setelah menghadiri acara pertemuan dengan beberapa dokter, tapi tiba-tiba pasien ku masuk rumah sakit padahal saat pulang kondisi nya cukup baik...."


ucap Hans membuat Adis tertegun sembari membiarkan Hans memeriksa keadaan nya.


"apa yang membuat kondisi mu drop...?"


tanya Hans menatap wajah Adis yang pucat.


"aku tidak apa-apa, hanya merasa sedikit pusing..."


ucap Adis menunduk.


"apa yang kamu rasakan sekarang?"


ucap Hans membuat Adis kembali tertegun.


dalam hati ia begitu ingin Arsan lah menanyakan keadaan nya, hal itu membuat nya meneteskan air mata, semakin lama ia justru semakin sakit jauh dari pria itu, kenapa orang yang ia cintai justru membuat nya semakin sakit.


"mengapa kah perpisahan terjadi dalam cinta ku? ketika ku memerlukan diri mu?


kota kembang itu menjadi kenangan terindah sekaligus terperih yang terpatri dalam benaknya.


"Adis...kamu bilang ingin menunjukkan pada mereka kalau mereka gagal membuat mu jatuh tapi kenapa kamu sudah kalah sebelum kita memulai..."


ucap hans membuat Adis mendongak menyeka air matanya.


"justru aku tak ingin lagi bertemu dengan nya, saat ini aku hanya ingin menjauh pergi.... fokus dengan hidup ku....!"


ucap Adis dengan tatapan kosong.


mungkin awalnya akan terasa begitu menyiksa tapi ia yakin lambat laun akan terbiasa dengan keadaan itu, waktu lah yang akan membuat nya kembali seperti keadaan dimana ia belum mengenal Arsan.


bersambung...


terima kasih yang sudah mampir dan setia dengan novel ini😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2