
pagi itu Arsan pergi ke rumah sakit dimana Adis di rawat, dia memberanikan untuk menemui Adis meski Ibra sudah memberikan peringatan untuk tidak menampakkan diri lagi, semalam ia benar benar tidak bisa tidur karena terus memikirkan Adis.
"suster saya ingin bertanya ruangan pasien yang bernama Adis..."
ucap Arsan pada suster yang berada di depan lobi.
"sebentar ya ....."
ucap suster langsung mengecek.
"pasien atas nama Adis sudah keluar tadi pagi...."
ucap suster membuat arsan tertegun.
**
"kita langsung berangkat kak...?"
tanya Adis saat mereka sampai di rumah, terlihat Rahma sudah menyiapkan semua barang yang akan ia bawa.
"ya, lebih cepat lebih baik...!"
ujar Ibra menggenggam tangan Adis.
"coba kamu hubungi arid, katakan kalau kita akan pergi ke Swiss...!"
ucap Ibra yang menyukai arid.
"tidak kak, adis enggak mau mengganggu waktu belajar nya...!"
ucap Adis dan di anggukan oleh Ibra.
"arid baik, dia juga sopan...!"
ucap Ibra senyum.
"ya, tapi Adis menganggap nya hanya seorang kakak...!"
"ya sudah....!"
ucap Ibra lalu memasukkan koper ke dalam mobil.
"hati hati ya kalian di sana, kalau ada apa apa cepat hubungi kakak ya..."
ucap Rahma memeluk Adis.
"ya, kak ...kakak juga baik baik ya sama kak Ilyas...!"
ucap Adis kembali mengingat seseorang yang jauh dari pandangan nya.
"Ali bin Abi Thalib berkata, jika kamu mencintai seseorang biar kan dia pergi, jika ia kembali berarti ia milik mu, dan jika tidak berarti dia bukan milik mu. kamu harus sabar ya de..."
ucap Rahma menghapus air mata yang mengalir di pipi Adis.
"ya kak....."
ucap Adis lalu masuk ke dalam mobil bersama Ibra yang menatap mereka berdua, dua perempuan yang menjadi warisan berarti dari ibunya.
"sudah, jangan mengingat nya lagi. belajar lah untuk ikhlas...."
ucap Ibra mengusap pundak adik nya itu.
Arsan melajukan mobilnya menuju rumah Adis, namun mobil nya terhenti saat melihat mobil ibra keluar dari rumah itu.
tanpa berpikir panjang Arsan mengikuti laju mobil Ibra, hingga beberapa saat Ibra menyadari bahwa sebuah mobil mengikuti mereka.
"kenapa kak.....?"
ucap Adis saat Ibra tiba-tiba menghentikan laju mobil nya.
"kak.....!"
ucap Adis melihat Ibra langsung keluar dari mobil.
__ADS_1
Arsan tertegun saat Ibra keluar dari mobil dan menghampiri nya.
"keluar Lo....?"
titah Ibra dengan geram pada Arsan.
Adis yang mendengar hal itu langsung keluar dari mobil, dan terperangah saat melihat Arsan yang keluar dari mobil.
"maksud Lo apa ngikutin kita?"
ucap Ibra menarik kerah kemeja milik Arsan.
"kak.......!"
ucap Adis menarik tangan Ibra. sementara Arsan diam menatap wajah yang begitu ia rindukan.
"mau apa lagi bang... bukan kah kita udah enggak ada urusan?"
ucap Adis karena perceraian Wira yang mengurus nya.
"dis......!"
ujar Ibra menghalangi Arsan yang hendak mendekati.
"enggak apa apa kak, biarkan Adis selesai kan masalah ini....!"
ucap Adis menggeser posisi Ibra.
Arsan menatap lekat wajah perempuan itu, air mata tak mampu ia bendung lagi.
"maaf kan Abang de....!"
ucap Arsan menunduk.
"kenapa kamu enggak pernah cerita kalau kamu sakit....?"
ucap Arsan hendak meraih tangan Adis namun Adis menepisnya.
"mana ada waktu, bukan kah kamu sibuk merencanakan untuk meninggalkan aku...."
"maaf kan Abang Adis, demi tuhan Abang menyesal...."
"Adis terima semua nya bang, Adis rela kalau hal itu bisa membuat Abang mempertahankan harta yang Abang miliki..."
ucap Adis menitikkan air matanya.
"Abang enggak mau pisah sama kamu, Abang enggak peduli dengan semua itu dis....kamu lebih berharga dari apa pun....!"
ucap Arsan meraih tangan Adis yang menangis tersedu.
"semua sudah terlambat, semua sudah hancur...!"
ucap Adis menyentuh dadanya.
"Apa tidak ada kesempatan untuk Abang dis, Abang janji akan berubah....!"
Adis menggeleng kan kepala nya.
Ibra memalingkan wajahnya melihat hal itu, Jujur ia tak tega, perpisahan adalah hal yang menyakitkan.
"Abang emang salah karena mempermainkan rumah kita, tapi Abang sayang sama kamu..."
ucap Arsan menatap wajah Adis dengan pilu.
"Abang enggak mau pisah sama kamu...."
"maaf bang, Adis enggak bisa...ini udah jalan kita, Adis harus pergi...Adis enggak bisa menerima Abang lagi....!"
ucap Adis lalu memeluk Arsan membuat nya membeku.
"kamu memang melukai ku, tapi bagi ku kamu adalah hal terindah yang pernah Adis miliki bang...."
ucap adis melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"maaf kan Abang dis...!"
"Adis sudah memaafkan, tapi Adis enggak Bisa mengulang waktu seperti dulu lagi...
lupakan semua nya bang, anggap tak pernah terjadi apapun di antara kita...."
ucap adis memundurkan tubuhnya menjauh dari Arsan yang masih memegang tangan nya erat.
dari jauh seseorang memperhatikan itu, salsa sengaja mengikuti Arsan yang ternyata hendak menemui Adis.
Adis melepaskan genggaman tangan Arsan lalu pergi meninggalkan nya sendiri, Ibra pun gegas masuk ke dalam mobil.
"jalan kak.....!"
ucap Adis menghapus air matanya.
"kamu pasti kuat de..."
ucap Ibra mengusap kepala adiknya itu.
Adis tak menjawab ia memperhatikan kaca spion yang menampakkan Arsan yang masih terpaku menatap kepergian nya.
"aku pikir ini yang terbaik untuk kita bang...."
gumam Adis dalam hati memejamkan mata nya yang basah.
Arsan memperhatikan mobil Adis yang semakin jauh, bersandar pada mobil.
teringat pertama kali mereka bertemu, Arsan terhenyak saat menyadari berada di tempat yang sama dengan saat pertama mereka bertemu.
Arsan tidak menyangka jika di tempat ini menjadi saksi pertemuan dan perpisahan mereka.
Arsan masuk ke dalam mobil lalu bersandar pada kursi, ia tahu bahwa Adis masih mencintainya, namun keadaan yang membuat nya tak bisa bersama seperti dulu lagi karena Arsan yang sudah melakukan kesalahan patal, mungkin kah ada masa dimana keadaan berubah dan kedua nya bisa bersama lagi?
Arsan melajukan mobilnya menuju apartemen, terlihat Salamah duduk di sofa sendiri.
"Bu, salsa mana?"
tanya Arsan melihat raut wajah Salamah tampak sendu.
"ada di kamar, kamu temui saja dia...!"
ucap Salamah masuk ke dalam kamar.
Arsan tertegun melihat salsa yang tengah membereskan baju baju nya ke dalam koper.
"sa, kamu mau kemana?"
tanya Arsan mendekat.
"aku mau pulang? aku ingin kita bercerai setelah bayi ini lahir....!"
ucap salsa membuat Arsan membeku.
"aku enggak mau menjadi panghalang kebahagiaan kamu, sekarang aku sadar.
cinta kamu memang telah beralih pada Adis, dan bertahan hanya akan membuat ku sakit...
aku rela kalau dengan kembali nya Adis Bisa membuat kamu bahagia Ar....!"
ucap salsa menunduk menyeka air matanya.
"maafkan aku sal, aku enggak mau menyakiti kamu...aku benar-benar minta maaf!"
ucap Arsan memeluk salsa yang menangis tersedu.
"pulang kan aku ke rumah orang tua ku..."
ucap salsa membuat Arsan tertegun.
"kamu tidak perlu khawatir aku akan baik baik saja tanpa kamu... aku tidak akan berbuat bodoh lagi, karena saat ini aku memiliki seorang yang akan menguatkan ku...."
ucap salsa mengusap perutnya.
__ADS_1
bersambung.