
pagi itu Arsan kembali ke Jakarta untuk menemui ibunya.
Arsan masuk ke dalam apartemen, terlihat salamah tengah duduk di kursi sendiri. tak seperti hari kemarin ada salsa yang menemani nya.
"Bu......"
salamah langsung menoleh menatap Arsan yang mendekati nya.
"Arsan....kamu sudah kembali...!!"
Arsan mengangguk.
"bisa kamu ceritakan semua nya pada ibu, banyak hal yang kamu sembunyikan dari ibu nak...!"
ucap salamah menatap lekat wajah Arsan.
"maaf kan Arsan Bu....!"
ucap Arsan duduk bersimpuh di hadapan Salamah yang terisak.
"sebenernya Arsan sudah menikah dengan seseorang sebelum menikah dengan salsa..."
ucap arsan menceritakan tentang pernikahan nya dengan Adis.
"kenapa kamu tidak cerita....?"
"Arsan bingung bu, karena Arsan menikahi nya hanya karena sebuah kerja sama...
Arsan benar benar buntu, saat perusahaan kita hampir saja bangkrut....!"
ucap Arsan membuat salamah tertegun.
"saat ini dia sakit Kanker, Arsan sangat mencintai nya Bu....!"
ucap Arsan menunduk.
"astaga Arsan, Apa ibu pernah bertemu dengan nya...."
tanya Salamah.
"pernah, dia orang yang menolong ibu di supermarket, adis itu istri arsan bu....!"
ujar Arsan membuat salamah kembali tertegun, mengingat gadis yang pernah menolong nya, jadi perempuan itu menantu nya.
"Arsan tidak bisa mempertahankan salsa karena Arsan tidak mau menyakiti nya Bu, Dia tahu soal ini...!"
"astaghfirullah...jadi hanya ibu yang tidak tahu apa apa?"
tanya Salamah masih tak percaya ia menatap wajah Arsan Tampak pilu.
"maaf kan Arsan Bu, tapi saat ini Arsan Lebih memilih untuk sendiri...."
salamah diam mendengarkan penuturan Arsan, Demi kepentingan keluarga ia menyakiti seseorang.
"ibu tidak percaya dengan semua ini, kenapa kamu harus menerima kerja sama itu nak, kamu berdosa karena sudah mempermainkan pernikahan, kamu sudah menyakiti istri mu..."
ucap Salamah membuat arsan menitikkan air matanya.
"Arsan menyesali semua itu Bu, Arsan ingin memperbaiki semuanya, tapi Adis tidak mau menerima Arsan lagi dan lagi Bastian terus mengancam akan mencelakakan salsa jika Arsan kembali pada Adis, Arsan pikir mungkin salsa akan aman jika bersama keluarga nya Bu..."
ucap Arsan dan di anggukan oleh Salamah.
"maaf kan ibu ya Ar semua karena ibu dan adikmu...tapi ibu lebih memilih jatuh miskin daripada anak ibu menyakiti seseorang demi sebuah kekuasaan..."
ucap Salamah memeluk Arsan.
__ADS_1
"Arsan menyesali semua itu Bu....!"
"ya, ibu paham... sekarang kamu sholat dan meminta Ampun, semoga ada jalan dari permasalahan ini...!" ucap Salamah mengigat waktu duha.
"ya, Bu...Arsan akan memperbaiki semua nya..."
ucap Arsan lalu beranjak pergi dari hadapan Salamah.
"apa hari ini kamu akan pergi ke kantor Ar..."
tanya Salamah saat Arsan keluar dari kamar.
"ya Bu, Arsan akan pergi ke kantor, kemarin Arsan kan enggak ke kantor...!"
ujar Arsan tertegun sedikit heran karena Medina tidak menghubungi nya sama sekali.
gegas ia mengganti pakaian nya, lalu pergi ke kantor.
beberapa jam berlalu, Arsan sampai dibandung dan langsung menuju kantor.
Arsan mengernyitkan dahi nya saat melihat Bastian berada di kantor nya.
"ngapain kamu di sini...."
ucap Arsan menatap tak suka.
"gue disini ya karena sekarang perusahaan ini milik gue.....!"
ucap Bastian membuat Arsan menatap nya tajam.
"apa maksud Lo ...?"
tanya Arsan hendak mendekati namun langkah nya terhenti saat melihat Robi keluar dari lift bersama orang orang Bastian.
"ini perusahaan milik ku, urusan ku mau menjual nya pada siapa...!"
tutur Robi membuat Arsan terperangah.
"jadi ayah menjual perusahaan kita pada Bastian, orang yang di dalam darah dan daging nya bergejolak dendam..."
cibir Arsan menatap Bastian yang tersenyum mengejek.
"tentu saja dia memberikan penawaran pantastis, tidak mungkin aku menolaknya..." ucap Robi tersenyum.
"kenapa ayah tidak menjual nya saat perusahaan ini bangkrut...."
ucap Arsan dengan nafas tersengal, semua orang memperhatikan percakapan mereka.
"aku susah payah membangun nya kembali dan saat perusahaan ini maju kamu malah menjualnya, ayah macam apa anda?"
ucap Arsan dengan gemeretak gigi nya.
"aku bukan ayah mu..."
ucap Robi dengan santainya, ia sengaja berbicara di depan forum agar semua orang tahu siapa Arsan.
"maksud Anda...?"
tanya Arsan dengan rasa sakit di dadanya mendengar penuturan Robi.
"ya, kamu bukan anakku... dengar Arsan tanyakan pada ibu mu Salamah, siapa ayahmu... hanya regina anak ku, jadi aku pikir aku tidak perlu memikirkan seseorang yang bukan darah daging ku.....jika kamu membantu ku memulihkan perusahaan ini, anggap saja itu tanda bakti mu pada ku, karena aku sudah membesar kan mu."
ucap Robi langsung menohok hati Arsan yang tidak pernah tahu rahasia itu.
"sekarang pergilah, Medina sudah membereskan barang-barang mu...."
__ADS_1
ucap Robi beranjak.
"aku bersyukur aku bukan anak mu..!"
ujar Arsan menghentikan langkah Robi.
Bastian sendiri hanya tersenyum memperhatikan interaksi antara Arsan dan Robi. ia memang menuggu situasi dimana arsan jatuh tersungkur karena kenyataan pahit itu.
"aku banyak mengeluh saat kau menjadi ayahku, aku tidak tahu kenapa ibu mau menikah dengan mu....kau menyakiti nya tanpa belas kasih, membuat kami dalam situasi sulit karena hutang hutang mu.... apa lagi terhadap Hans..."
ucap Arsan tanpa menoleh.
"Dasar anak tidak tahu diri, seperti nya aku menyesal membesar kan mu... harus nya memang kamu yang membayar hutang ku karena ibumu sudah menghabiskan uang ku untuk biaya berobat nya, kau pikir dari mana uang itu? jangan salah kan aku jika aku pergi meninggalkan nya, dan satu lagi patut lah kamu menghormati ku karena jika bukan karena aku kamu tidak akan pernah ada di Dunia ini, mungkin kamu sudah mati karena ibu mu meminum racun agar kau tak berkembang biak dalam rahim nya....!"
ucap Robi berbisik lirih di telinga Arsan yang langsung membeku mendengar hal itu.
"itu tanggung jawab mu sebagai seorang suami..."
gumam Arsan menatap Robi tajam.
sakit, perih hampir tak percaya dengan kenyataan pahit ini...
"jadilah seseorang yang tahu berterima kasih, dan satu lagi soal Hans itu urusan ku jangan so ikut campur....!"
ucap Robi pergi meninggalkan Arsan yang mematung sendiri.
"kasihan banget Lo Ar....!
hidup Lo begitu menyedihkan....!"
Cibir Bastian sambil berlalu pergi, kasak kusuk para karyawan mendengar hal itu justru meras iba dengan Arsan, selama ini ia menjadi atasan yang baik pada bawahan nya. terkecuali arid.
"pak Arsan, ini barang barang bapak.
kami sedih karena perusahaan beralih ke tangan orang lain....!"
ucap Medina beserta karyawan lain nya menghampiri.
"ya tidak apa-apa yang terpenting adalah atasan yang baru bisa menjamin kelangsungan hidup kalian di perusahaan ini...aku minta maaf kalau aku pernah melakukan kesalahan...!"
"tidak pak kami senang bekerja dengan pak Arsan, semoga Allah mengganti kan yang hilang dengan yang lebih banyak ya pak...!"
ujar salah satu karyawan.
"terimakasih, kembali lah bekerja...!"
ucap Arsan mengambil barang barang nya dan pergi dari gedung itu.
"maaf pak karena mobil aset perusahaan, pak Arsan tidak boleh memakai nya lagi...!"
ujar satpam sambil menunduk.
"ya sudah tidak apa apa....!"
ucap Arsan lalu memberikan kunci.
Arsan berjalan menyusuri trotoar jalan, langkah nya terhenti menoleh ke arah gedung perusahaan nya.
"semua seperti mimpi, aku jatuh dan kehilangan semuanya. namun bukan aku jika Aku tidak bertekad untuk bangkit dan kelak akan menyaingi kalian, dan membuktikan pada kalian yang mencibir ku bahwa aku bisa bangkit.....!"
Tutur Arsan lalu pergi meninggalkan kawasan itu.
bersambung.
terimakasih yang sudah mampir.
__ADS_1