
Arsan tertegun mengingat apa yang Alvin sampai kan tadi saat mereka berdua.
"ya enggak bisa lah Ar, gimana kalau benih Lo itu berkembang? gue enggak bisa kasih Adis obat penunda kehamilan.
lagian Lo itu kenapa sih enggak tahan diri dulu... kalau udah kayak gini mau apa?"
ucap Alvin menggeleng kan kepala nya.
"terus gimana dong gue sebulan ini puasa!?"
tanya Arsan membuat Alvin terkekeh.
"ya kira kira seperti itu...!"
ujar Alvin terkekeh kecil.
**
"bang....."
panggil Adis saat ia keluar dari kamar mandi dengan kimono berwarna biru.
"kenapa de...?"
tanya Arsan menghampiri.
"kenapa sih Adis perhatikan Abang ngelamun terus ?"
tanya Adis menatap netra milik Arsan.
"enggak apa apa sayang, ayo pakai baju, ibu sudah memanggil kita untuk makan malam..."
ucap arsan merangkul pundak Adis masuk ke dalam.
Drtttt......
Arsan menoleh pada ponsel nya yang bergetar. terlihat panggilan masuk dari salsa.
"de, coba kamu angkat?"
ujar Arsan memberikan ponsel nya pada Adis.
"kenapa tidak angkat sendiri Saja..."
ucap Adis lalu menggeser tombol hijau pada layar ponsel.
"Halo Ar.....!"
ucap salsa di seberang.
"ya, aku Adis...."
ucap Adis terbata. Arsan malah memeluk nya dari belakang sambil mendengarkan.
"Adis aku dengar kalian ada di Indonesia..."
"ya, ada apa sal?"
"aku mau minta tolong, sampai kan pada arsan kalau Al sakit panas,di rumah tidak ada mobil karena keluarga sedang keluar kota..."
ucap salsa terdengar panik.
"ya sudah, nanti kami akan ke rumah mu."
ucap Adis lalu salsa mematikan telepon nya.
"Al sakit bang....!"
Arsan mengangguk.
"pergilah bawa ke rumah sakit, ajak ibu..."
ucap Adis melepaskan pelukan Arsan.
"kamu juga ikut....!"
Tutur Arsan menggenggam tangan Adis.
"aku di rumah saja ya bang?"
ucap Adis menghentikan langkah Arsan.
"kenapa?"
__ADS_1
Arsan menoleh.
"tidak, hanya lelah dan ingin beristirahat saja..."
ucap Arsan mengangguk lalu menghampiri Salamah.
"ayo makan dulu Ar...!"
"Bu, Al sakit panas. kita jemput Sekarang dan bawa ke rumah sakit....!"
ucap Arsan dan di anggukan oleh Salamah.
"Adis enggak ikuti?"
tanya Salamah.
"enggak Bu, Adis di rumah saja dengan Rere..."
ucap Adis duduk di kursi makan.
"ya ada Rere ini Bu...!"
"ya sudah....!"
ucap Salamah beranjak bersama Arsan.
"Abang berangkat ya, makan yang banyak!"
ucap Arsan mencium kepala Adis lalu pergi.
bukan karena cemburu melihat salsa dan Al berdekatan dengan Arsan, Adis sendiri percaya pada Arsan kalau ia hanya berusaha bertanggung jawab pada Al saja.
Adis benar-benar lelah dan memilih untuk beristirahat saja di rumah, ia juga sudah jengah dengan bau rumah sakit.
Adis langsung kembali ke kamar setelah ngobrol sebentar dengan regina.
****
Adis merogoh ponsel nya yang berdering, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
"halo....!"
ucap Adis tanpa menoleh ke ponsel.
tutur arsan di telpon membuat Adis menyipitkan matanya.
"kamu sudah tidur?"
tanya Arsan.
"ya sudah tidak apa apa bang,,"
jawab Adis duduk di ranjang.
"ya sudah, kamu istirahat ya!
love you..!"
"ya, to you!"
ucap Adis lalu mematikan ponselnya.
Adis kembali terlelap tak ingin berpikir macam-macam saat ia terjaga.
lusa ia akan kembali ke Jakarta untuk menghadiri acara pernikahan Ibra dengan Lidia.
ke esok kan harinya.
Adis pergi berolahraga raga bersama regina, kedua nya lari pagi menuju taman komplek perumahan tersebut, Arsan sendiri masih berada di rumah sakit karena panas Al masih belum reda. terpaksa arsan tinggal bersama Salamah karena Al terus menangis.
Adis menghentikan langkahnya saat tali sepatu nya lepas, Adis berjongkok membetulkan tali sepatunya dan saat beranjak ia melihat seorang pria berada di hadapan nya.
Adis menatap wajah pria itu dengan Santai, pertemuan pertama karena sebelumnya Adis Hanya mengetahui pria itu lewat handphone.
tampan dan gagah itu lah Bastian.
"Bastian?"
ucap Adis.
"ya, aku Bastian....!"
perusahaan nya bangkrut setelah kepergian ibu tercinta.
__ADS_1
saat ini ia bertahan dengan satu perusahaan yang menopang hidup nya, Bastian menatap wajah cantik Adis. mata nya yang indah membuat Bastian tak karuan.
"kamu mau apa?"
tanya Adis menatap tajam.
"kenapa? kamu takut?"tanya Bastian.
perempuan itu terlihat lebih cantik dari yang di Poto.
"kenapa harus takut? kamu bukan hantu...?" jawab Adis, terlihat regina menghampiri mereka.
"jadi kamu takut hantu..."
tanya Bastian terkekeh.
"tidak juga, aku lebih Takut dengan seseorang yang menggenggam kebencian....!"
ucap Adis membuat Bastian menatap nya tajam.
"apa kamu masih berharap aku mati, atau gila....?"tanya Adis membuat Bastian menyunggingkan senyumnya.
"itu tidak akan terjadi karena kalian kembali bersatu, aku tidak menyangka Arsan benar benar menghianati ku..." ucap Bastian.
"Arsan atau kamu? kenapa kamu lempar batu sembunyi tangan?" tutur Adis malas melihat Bastian.
"kau tidak tahu apa apa, Arsan itu tak seperti yang kau pikirkan...?"
ujar Bastian.
"apa lagi, jangan coba menghasut ku..."
ucap Adis dengan gemeretak gigi nya.
"kamu yakin salsa dan Arsan sudah bercerai?"
ucap Bastian membuat Adis terperangah.
"apa kamu tidak berpikir bahwa selama ini Arsan hanya kasihan dan merasa bersalah saja....dia bahkan rela meninggalkan seseorang yang sebenarnya lebih membutuhkan nya, contoh nya Al ..?"
ucap Bastian tersenyum mengejek.
"oh, ya. lalu aku harus bagaimana? apa aku harus memperdulikan ucapan seseorang yang di hati nya Hanya ada hasud dan benci... sudahlah Bastian apa kamu tidak berpikir bahwa dua hal itu bisa mematikan hati.
apa yang ada di dunia ini bukan milik Kita, tentang jodoh dan kematian dua hal yang sudah tuhan garis kan, apa yang kita lakukan akan mendapatkan balasan, jika kamu masih menginginkan aku mati seperti kak Alya?"
tutur Adis menunduk.
kenapa kisah pilu itu harus kembali di bahas?
"setiap yang bernyawa akan mati hanya berbeda jalan nya saja, kita tidak bisa memastikan hal itu?"
ucap Adis menatap Bastian yang tertegun.
"maaf kan kakak ku...aku begitu menyayangi nya, jika hal itu terjadi pada ku. aku tidak mau jika hal yang sama terjadi, jangan ada lagi dendam dan kebencian. ikhlas kan agar kak Alya juga tenang, dendam hanya akan merusak hati dan pikiran kita....."
ucap Adis dengan tulus menatap Bastian yang bungkam.
Arsan yang melewati jalan tersebut, gegas menghampiri Adis yang tengah berbicara dengan Bastian, regina juga tak jauh dari mereka berdiri.
"dis.....!"
ucap Arsan keluar dari mobil.
Adis menoleh menatap ke arah Arsan yang menatap tajam ke arah Bastian.
"Bastian, apa yang kamu lakukan?"
tanya Arsan yang langsung mendekap erat Adis.
"kenapa Lo setakut itu sama gue..?"
tanya Bastian terkekeh.
"gue bener bener nyesel mempertemukan kalian, kenapa enggak gue aja yang dulu turun tangan. bukan nyuruh seseorang yang hanya jadi pengkhianat..."
ucap Bastian menatap ke arah Arsan yang mendekap erat Adis.
"jangan mengatakan penghianat kalau julukan itu juga pantas tersemat untuk diri sendiri..."
ucap Arsan lalu mengajak adis dan regina untuk masuk ke dalam mobil.
bersambung.....
__ADS_1