Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
penjual buah.


__ADS_3

Arsan mengangkat tubuh salsa lalu merebahkan nya di ranjang rumah sakit, sementara Rika menggendong bayi mereka.


"cakep banget......"


ucap Rika menciumi pipi bayi tersebut.


"nama nya siapa?"


tanya rika pada salsa yang langsung menoleh pada Arsan.


"Al Fatih Dhafir.... Artinya anak laki laki yang mengawali nya hidup nya dengan penuh keberhasilan...." Tutur Arsan tersenyum.


"Bagus juga, tak perlu lah mencantumkan nama belakang mu... cukup Al Fatih Dhafir..."


ujar galih membuat mereka menoleh seketika.


"kenapa A, tak masalah jika menambahkan nama belakang Arsan..."


ucap Salsa memperhatikan galih yang mendekat.


"tidak perlu, As Siddiq itu artinya terpercaya, sementara aku merasa kamu orang yang tidak bisa di percaya...kalian hanya menikah siri, tidak ada buku nikah atau kartu keluarga, kelak Al Fatih akan masuk daftar keluarga kami....!" ucap galih membuat Arsan diam, ia cukup tahu diri semua terjadi karena kini ia tidak memiliki apa-apa.


"ya sudah tidak apa apa, aku memang tidak punya hak...aku hanya melakukan apa yang menjadi kewajiban Ku saja karena kita memang sudah berpisah...!"


salsa tertegun mendengar penuturan Arsan yang membuat nya pilu, bukan itu yang ingin ia dengar.


"ya sudah, tugas mu sudah selesai. ada aku dan keluarga salsa yang akan merawat anak itu.....!"


ucap galih seakan mengusir Arsan untuk segera pergi.


"ya sudah, aku akan kembali ke London..."


tutur Arsan membuat salsa menitikkan air matanya melihat Arsan berbisik di telinga anak mereka.


"baik baik ya, jaga anak kita. aku akan tetap mengirimkan biaya untuk kebutuhan Al...."


ujar Arsan Menatap salsa yang membeku menahan air mata nya.


"bagus lah kalau kamu masih mampu...."


ucap galih semakin menyakitkan, seperti inikah saat seseorang tak memiliki apa apa, orang tak segan menghina dan memandang sebelah mata.


"ya sudah aku pulang ya.... kabari aku jika terjadi sesuatu dengan Al....!"


ucap Arsan mengusap kepala salsa yang membeku, sementara rika terdiam menggendong bayi laki-laki itu.


"Arsan pamit ya Ma, titip Al..."


ucap Arsan mencium pipi Al lama.


"papah pulang ya Soleh...."


ucap Arsan mengusap kepala bayi mungil itu.


Salsa langsung menangis tersedu saat Arsan keluar dari ruangan itu.


"Menangis lah sepuas nya untuk terakhir kalinya...."


ucap galih memeluk adik nya itu.


Arsan berjalan di koridor rumah sakit, kenapa nasib anak nya sama seperti diri nya.


tumbuh dan berkembang tanpa kasih sayang ayah kandung, Robi memang memberi nya makan tapi tidak dengan kasih sayang.


"maafkan papah Al... semoga kelak papah bisa membawa mu bertemu dengan nenek..."


ucap Arsan lalu menyetop mobil menuju hotel, sore itu juga ia akan kembali ke London.


**

__ADS_1


Beberapa hari ini Adis dan Ibra berjalan jalan di negara itu, Adis baru saja turun dari London eye.


seperti halnya kehidupan, terus berputar namun akan kembali pada porosnya. apa akan ada waktu dimana aku dan kamu bertemu dalam keadaan sama seperti dulu, sebelum ada masalah dan kekecewaan lain nya.


"pemandangan kota London begitu indah... membuat ku merasa tak ingin berputar ke bawah, rasanya ingin terus berada di atas untuk menikmati keindahan itu... seperti halnya Aku pernah berharap waktu berhenti berputar saat aku bahagia dengan mu, tapi aku tidak berdaya karena sang pemilik waktu membuat waktu itu cepat berubah..."


gumam Adis dalam hati.


"sudah malam ayo kita pulang...."


ucap ibra merangkul pundak Adis melangkah keluar dari benda bulat itu.


"besok kita pergi main lagi, weekend ini kita pulang..."


ucap Ibra dan di anggukan oleh Adis.


pagi.....


Adis meringkuk kedinginan, meraih nakas untuk mengambil remote AC.


gegas ia mematikan AC di ruangan itu, hari ini rasanya malas beraktifitas. ia kembali tertidur setelah sholat subuh.


"Adis...."


ucap Rahma memanggil adik nya itu.


"Ya kak ....ada apa?"


tanya Adis menoleh.


"kak Ibra ngajak kita keluar untuk cari makan..."


ucap rahma duduk di tepi ranjang.


"malas keluar kak, aku di kamar saja..."


"HM.... ya sudah, kita pergi keluar ya"


Adis mengangguk.


hingga siang hari gadis itu masih betah dengan selimut nya, sesekali memainkan ponselnya lalu kemudian kembali tertidur.


Malam....


"dis , kamu sakit...?"


ucap Ibra saat mereka tengah makan malam.


"enggak.... emang kenapa kak...?"


tanya Adis sambil mengunyah.


"enggak, Mata mu sedikit bengkak....."


"benarkah?" tanya Adis meraba matanya.


tadi siang ia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Arsan. tentu saja hal itu membuat nya sesak hingga menangis.


"mungkin karena terlalu lama tidur...!"


ujar Adis senyum paksa.


"kalau siang kebanyakan tidur, nanti malam kamu enggak ngantuk loh dis...."


ujar Rahma membuat Adis terkekeh.


"dia kan emang suka begadang...."


tutur Ibra membuat Adis menghentikan tawa kecil nya.

__ADS_1


"nah kakak tahu...."


"jangan di biasa kan dis, kamu harus jaga kesehatan..."


ucap Ibra dan di anggukan oleh Adis.


setelah selesai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing, termasuk Adis yang langsung melenggang pergi.


Adis menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk itu, menatap langit langit kamar.


Adis menggigit bibirnya saat benaknya tiba tiba memutar kenangan saat bersama Arsan.


"astaga Adis.... kenapa terus mengingat nya.."


gumam adis menelungkup kan tubuh nya, menyembunyikan wajah nya pada bantal.


namun yang terjadi adalah memori itu memutar semakin kuat, bagaimana Arsan menggoda nya, mencumbu nya.


"Argh....."


sergah adis kesal lalu beranjak dari kasur.


"ya Tuhan boleh kah aku Meminta untuk hilang ingatan Tapi hanya bagian tentang nya saja..."


pinta Adis sambil menghela nafas berat.


waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, tapi ia tidak mengantuk meski sudah beberapa kali mencoba memejamkan matanya.


Adis beranjak keluar dari kamar, lalu mengetuk pintu kamar Ibra namun tak ada Jawaban. netra nya beralih pada Pintu kamar Rahma gegas ia hendak mengetuk namun terhenti teringat sesuatu.


"mungkin saja mereka sudah tidur atau.."


gumam Adis lalu memundurkan tubuhnya.


"argh....."


desah Adis lalu melangkah keluar dari hotel tersebut.


"sungai Thames akan tampak begitu indah saat malam hari.."


ucap Ibra terngiang di telinga Adis, ia langsung beranjak dan menyetop taksi menuju tempat itu, tak jauh dari hotel namun Adis malas jika berjalan sendirian.


Adis turun dari taksi dan berjalan mendekati area sungai tersebut, tempat itu ramai di kunjungi oleh para turis asing dan wisatawan.


udara cukup dingin, untunglah Adis menggunakan jaket tebal.


dari sungai Thames kita dapat melihat london eye berputar dengan warna nya yang indah dan cantik. Adis berjalan mendekati sungai tersebut menatap air yang begitu tenang.


Adis menoleh pada seorang pedagang asongan yang menjual buah buahan dengan bungkusan sedang bersama seorang perempuan yang menggunakan masker nya.


jantung nya berdetak kencang saat melihat sosok pria yang beberapa waktu membuat nya kacau, Adis tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, "benarkah itu kamu bang?"


"tapi apa yang terjadi? kenapa kamu jadi penjual buah buahan?"


Gumam Adis semakin dekat dengan Arsan yang tengah menawarkan dagangannya bersama regina.


Adis mengulur kan tangan nya, mengambil salah satu buah yang tengah Arsan tawarkan.


Arsan tidak akan mengenal Adis yang menggunakan masker dan kaca mata hitam yang menyembunyikan wajahnya.


"Anda mau buah yang mana nona?"


tanya Arsan membuat Adis mengigit bibir nya.


bersambung....


terima kasih yang sudah mampir


Jangan lupa like and komentar ya!😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2